Showing posts with label Akhlaq. Show all posts
Showing posts with label Akhlaq. Show all posts

Penghias Langit Bumi

Penghias Langit Bumi

Posted by Unknown  |  at  8:51 AM


Apakah penghias langit dan bumi. Setidaknya dari ajaran para ulama, ada tiga hal yang menjadi penghiasnya. Ketiganya saling bersinergi dan berkesinambungan. Keseimbangan ketiganya menjadi barometer terciptanya harmonisasi dan keseimbangan yang perlu dijaga.

Bila kita perhatikan langit nan biru. Terdapat banyak sekali benda benda-benda angkasa: Matahari, bulan dan bintang. Satu dengan lainnya begitu rapih tertata. Sehingga menjadi indahlah langit itu. Demikian juga ada tiga hiasan memperindah bumi. Keharmonisan akan terjaga jika terus menerus memperhatikan keindahan hiasan itu. Apa saja hiasan langit dan bumi itu? Sepenggal informasi hasil renungan ulama dalam kitab klasik.




Salah satu kitab ulama menulis :

زين الله السماء بثلاثة: الشمس والقمر والنجوم. وزين الله الاض بثلاثة: العالم والمطر وسلطان العادل.

Artinya: “Allah menghiasi langit dengan tiga hal: matahari bulan dan bintang. Demikian pula bumi dihiasi tiga hal: ilmu, hujan dan pemerintah yang adil. “

Hiasan Bumi

Sebagaimana hadits di atas, bumi pun dihiasi oleh tiga hal: ilmu, hujan dan pemerintah yang adil. Bagaimana penjelas ketiga hal ini?

1. Ilmu

Bagaimana ilmu bisa menjadi hiasan bumi sehingga bumi menjadi indah dipandang mata hati dan mata lahir. Hal ini karena seni (hiasan) lahir dari ilmu. Artinya memperindah sesuatu harus berdasarkan ilmuwan. Karena­nya keindahan di bumi tidak terlepas dari bi­dang seni.

Misalnya, seni tata kota akan diatur oleh para arsitek yang membuat bangunan berdasarkan planing dan analisa dampak lingkungan. Kein­dahan hasil produksi diproses oleh pra ilmuwan ang ahli dibidang­nya. Misalnya bagaimana mem­buat desain kendaraan mobil yang nyaman dan aman saat dikendarai. Dibuatlah desain dan tekniknya oleh ahli rancang bangun bidang teknik mesin dan design mobil. Begitu pula hasil produksi lainnya seperti mesin-mesin, perlengkapan rumah dan lain-lain.

2. Hujan

Bagaimana hujan bisa menjadi hiasan bumi?. Fungsi air hujan memberikan kehidupan semua makhluq. Bah­kan asal kehdupan berasal dari air. Firman Allah: “Wajalna minal maa-i kulla syain hay” Kujadikan dari air itu segala sesutu menjadi hidup. “

Seorang ilmuwan yang akan mempercantik bumi mesti cerdas. Kecerdasan membutuhkan gizi dan vitamin. Nutrisi ini tidak bisa didapat kalau tidak ada air. Sebab vitamin, mineral, dan zat makanan lainnya didapat dari tumbuhan yang dihujani.

Dengan adanya hujan maka tumbuhan menghasilkan buah yang bisa dinikmati oleh manusia dan hewan. Hewanpun juga dikonsumsi ilmuwan. Maka jika tidak ada hujan, tidak ada ilmuwan. Sebab mereka memperoleh bahan tumbuh dan bahan kecerdasannya.

3. Sultonul Adil

Sulton yang adil artinya pemerintah yang adil. Menata dan mengatur kehidupan rakyat sesuai porsinya masing-masing. Kemmapuan meng­atur ini hanya dimiliki oleh pemerintah dan segenap komponennya. Lalu bagaimana sultonul adil berkontribusi sebagai hisasan bumi?

Keharmonisan sultonul adil maksud­nya adalah untuk mengatur ilmuwan. Misalnya, seorang ilmuan ahli melebur baja, besi dan plastik. Maka mesti diatur oleh oleh sulton agar baja, besi dan plastik ini menjadi indah.

Demikian pula perintah dengan sega­la kebijakannya, pelaksanaan di lapangan dijalankan oleh ilmuwan. Misalnya pemerintah ingin mem­produksi pesawat dan mobil sendiri. Maka ilmuwan teknolog itu yang menjalankannya. Mereka hanya mendesain sesuai dengan pesanan. Sedangkan bagaimana menjual dan bagaimana mengatur distrubusinya, maka pemerintah yang mengarnya kemudian. Karena itu pemerintah perlu adil dan bijaksana. Di sinilah maka, ilmuwan harus bekerja sebagu smunkgin, dan pemerintah harus konsisten dan mampu mengaturnya.

Pucaknya, pemerintah bisa mengatur benda dan mengatur manusia. Jika peran ini tidak diambil, maka para ilmuwan akan berjalan sendiri-sen­diri dan merasa sok pinter sendiri. Maka teknologi tidak menjadi sesuatu karya yang diakui dan ber­kem­bang luas karena kurang dukungan peme­rintah. Akhirnya, negara yang mam­pu mengatur ilmuwan biasanya berjaya. Sebaliknya, negara yang tak mampu mengatur ilmuwan manjadi terpuruk.

Akirnya, jikalau keindahan itu tidak ada. Teknologi tidak mampu berkembang. Maka boro-boro memikirkan perhiasan memikirkan makanan saja susah sekali. Adanya perhiasan (keindahan) karena adanya fadlam minallahi wanikmah, wamaghfira­taw­arahmah, ya wasial maghfirah. Maksudnya, adanya hiasan karena ada fadlan. Suatu ketika fadlan (karunia) diambil Allah, maka tinggal rakhmat saja. Tinggal satu benteng rakhmat. Manusia sudah putus asa tinggal rakhmat Allah yang ada.



Wallahu a’lam.
Oleh: Muhamad Kurtubi

Sumber: santribuntet

Perjalanan Spiritual Iwan Fals di Buntet Pesantren

Perjalanan Spiritual Iwan Fals di Buntet Pesantren

Posted by Unknown  |  at  6:12 AM

Iwan Fals mengadakan kunjungan Perjalanan Spiritual di Buntet Pesantren, Cirebon, Rabu (9/3). Dalam suasana yang meriah masyarakat dan warga muda pecinta musisi yang sarat menyuarakan keprihatinan masyarkat itu disambut meriah.

Buntet Pesantren belum pernah kedatangan musisi apalagi menggelar konser. Namun baru tahun ini, seorang musisi yang banyak penggemarnya ini datang dalam tema "perjalanan spiritual". Ratusan massa mendatangi perhelatan konser yang meriah ini disambut gembira, karena memang belum pernah ada konser musik di kampung ini.



Sempat Ricuh
Kalau saja tidak diantisipasi oleh aparat keamanan, maka kerusuhan kecil bisa menyulut kerusuhan lebih besar lagi. Berdasarkan pantauan di lapangan, sempat terjadi kerusuhan menyusul adanya dorongan antar penonton.

Dalam pentas yang berkolaborasi dengan santri tersebut awalnya penonton disuguhi lantunan lagu dan musik Timur Tengah seperti ballasik dan kasidah yang disampaikan Lukman dan kawan-kawan. Selanjutnya grup musik komunitas Orang Indonesia (OI) Cirebon. Namun, ketika lagu kedua dilantunkan, kekisruhan antarpenonton terjadi.

Aksi saling lempar sandal, botol air mineral, bahkan batu kecil dan kayu mengacaukan suasana pentas. Kekisruhan terhenti ketika pantia melerai dan mengambil kayu yang dijadikan pengikat bendera. Dan untuk mendinginkan suasana yang memanas, salah seorang sesepuh Pondok Pesantren Buntet, KH. Zaelani dan dai'i muda KH. Dr. Abbas Billi Yachsie, memberikan tausiah dan berdoa.

KH. Abbas Billi mengajak penonton untuk menciptakan suasana kondusif. Apalagi, sangat tidak pantas apabila terjadi keributan di lokasi yang masih di kawasan pesantren. Menurut dia, Imam Syafi'i dan Imam Al-Ghazali yang sangat dihormati umat Islam merupakan ulama besar yang juga menyenangi kesenian. Musik merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.

Babas (sapaan kiyai Abbas Billi-red) juga menyambut baik penyanyi legendaris Iwan Fals dalam rangka mengunjungi pesantren-pesantren di Indonesia. "Niat baik Iwan Fals harus kita dukung bersama sebagai syiar Islam dan memadukan antara seni serta spritual," katanya.

Beberapa penonton yang diamankan mengalami luka lebam dan pendarahan pada bagian hidung setelah saling serang. "Mereka yang ribut dan berkelahi dibawah pengaruh minuman keras. Ketahuan dari bau minuman dari mulut mereka," kata salah seorang pengasuh pondok pesantren yang juga anggota DPRD Kab. Cirebon,. M. Nouval. Setelah kekisruhan bisa dikendalikan, selanjutnya Iwan Fals melantunkan beberapa lagu yang mampu menghipnotis para penggemarnya.

Menurut M. Nouval, Iwan Fals tiba di Buntet Pesantren sejak Selasa (8/3) kemarin. Pada pagi harinya melakukan penanaman pohon secara simbolis bersama pejabat daerah di lingkungan pesantren. Kunjungan Iwan Flash ke Buntet merupakan yang ke -33. Sesuai rencana, penyanyi yang awalnya melejit lewat lagu "Umar Bakri" itu akan mengunjungi sebanyak 99 pondok pesantren di Nusantara. (A-146/C-17/das)***

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/node/137589
www.kurtubi.com

Sebagian Lagu-lagu Iwan di Buntet Pesantren:


Tabarruk itu tidak Bidah

Tabarruk itu tidak Bidah

Posted by Unknown  |  at  4:10 AM

Tabarruk adalah mashdar (asal kata) dari tabarroka, akar kata dari albarokah. Albarokah sendiri berarti: Ziyadatulkhoir al ilahy (tambahan kebaikan dari Tuhan). Lalau diartikan ke bahasa kita mungkin berarti "ngalap barokah" atau mencari keberkahan (mencari kebaikan Tuhan, red). Memang semua tahu bahwa al fail fil haqiqoh hua Allah swt (pelaku sebenarnya adalah Allah), seperti dalam alquran surat al mulk ayat satu:tabarokalladzi biyadihi almulku(maha berkah Allah swt...)

Namun dlm bhs Arab kita mengenal dua arti dari satu lafadz.Arti haqiqat dan arti majaz.Sekarang mari kita telusuri majaz.Mungkin 40% dari bhs manusia terdiri dari majaz(idiom)dan kita menganggap sbg hal yg wajar2 saja.Contoh:kyai Zaid adalah Alim.Kata alim atau pandai pada Zaid itu majaz,sbb yg alim sebenarnya adalah Allah swt dan manusia siapapun orang nya adalah BODOH sekalipun itu mujaddid.Contoh lagi:Nabi saw pemberi petunjuk kpd kita,itu juga majaz dan diakui oleh qur'an sendiri..."wa innaka latahdii ilaa shirotin mustaqiim"(sungguh engkau Muhammad adalah org yg memberi petunjuk kpd jalan lurus),tentu ayat ayat ini tdk ta'arud dg ayat "wallahu alhady ila sawaissabiil" Allah adalah pemberi petunjuk kpd jalan yg lurus.Sebab ayat pertama berma'na majaz dan yg ke dua berma'na haqiqat,pemberi petunjuk sebenarnya adalah ALLAH swt.Sekalipun kita tidak boleh menuduh orang sbg MUSYRIK lantaran ia berucap Nabi saw adalah pemberi petunjuk,sbb qur'an sendiri menyatakan demikian spt yg diatas.

DI MANAKAH BAROKAH..?

Kita tahu Allah swt maha pemberi barokah,kalau kata albarokah kita artikan alkhoirulkatsiir(kebaikan yg banyak)spt apa yg terdapat di berbagai kamus Arab,maka sudah tentu letak barokah itu terdapat di Makhluq Allah swt,sekalipun asalnya tentu dari Allah swt yg maha memberkati.Dan adanya barokah itu pada makhluq Allah swt tdk DIPUNGKIRI Alqur'an,Allah swt berfirman;Alladzi baarokna haulahu..(al isro' ayat 1)yg kami barokahi sekelilingnya.Tentu tidak MUSYRIK bukan..?Kalau ada org bermukim di Makkah atau Palestina dg tujuan tabarruk dg tanah yg diberkati Allah swt.Dalam ayat lain Allah swt berfirman: inna anzalnaahu fi lailatin mubarokah(addukhon ayat 3)kami turunkan alqur'an pada malam yg penuh barokah.Tentu sangat bodoh kalau kita menganggap bid'ah kpd orang yg tabarruk atau mencari keberkahan malam Ramadhan atu lailatulqadr dg beribadah,bermunajat,tadarus dan lain2.

Fiman Allah yg lain:....Min Syajarotin mubarokatin...(annur 35)dari pohon yg diberkahi.Maka kita tahu pohon Zaitun menjadi barokah krn Allah swt.

Alhasil ma'na barokah itu banyak,dan dapat diartikan berbeda2 sesuai maqamnya yg pantas.Lafadz barokah bagi makhluq Allah swt dalam teks2 hadits sangat banyak kita jumpai.Misalkan ada sebuah hadits Shohih masyhur: inna filghonami la barokatan(sungguh dlm kambing trdpt barokah)maka jgn sekali2 kita mengkafirkan org islam yg memelihara kambing krn mencari keberkahan usahanya (tabarruk)karena menjalankan dan percaya kpd petunjuk Nabi saw,kecuali org yg dungu saja yg beranggapan spt itu....

Begitulah, kalau kita telusuri lafadz barokah dari teks2 qur'an dan hadits banyak terdapat pada "dzat"atau materi yg mempunyai keutamaan,seperti makanan,minuman,tempat,harta,anak2 sesuai yg terdapat dalam sebuah do'a yg ma'tsur:Allahumma barik fi maalihi wa aulaadihi wa umrihi (ya Allah berkatilah pada Hartanya,anak2nya dan umurnya).

Kalau kt cermati di kitab2 hadits apalagi bab al ath'imah beragam lafadz barokah dapat kt temukan baik secara eksplsit maupun implisit.Tentunya ada perbedaan yg jelas atara barokah Allah swt sang Khaliq dg barokah yg ada pada makhluqNya.Sebab barokah sang Kholiq bersifat "dzaty" ya'ni ada dg sendirinya,sedangkan pada Makhluq bersifat a'rodhy atau musta'aar(diadakan atau pinjaman).

TRADISI(sunnah)TABARRUK pada SALAFUSSHOLIH...

Tentu sebagai kaum Ahlussunnah waljama'ah kita masyarakat pesantren,tidak mau melakukan perbuatan yg dilarang ajaran Agama,maka dalam berbagai hal kita mesti menteladani al-salaf al-shalih ya'ni para Shahabat,ulama dari kalangan Tabi'ien,aimmatul Madzahib dan murid2 mereka.Supaya jangan terjebak di lingkaran "bid'ah munkaroh" atau bid'ah qobihah.

Contoh bertabarruk:

1-bertabarruk dg rambut RosuliLLAH saw:

dari utsman bin Abdillah bin Mauhib dia berkata;kelurga menyuruhku untuk mengambil wadah air ke Ummu Salamah ra,maka dia datang dg membawa semangkuk perak berisi rambut Rosulillah saw,dan adalah jika ada seseorang terkena penyakit ain atau suatu penyakit diberikannya wadah air tadi(untuk minum),kemudian aku melihat wadah tsb terdapat beberapa rambut merah(hr.al Bukhory,kitab allibas).2.Tabarruk dg keringat Nabi saw:

suatu hari Nabi saw masuk ke rumah kami dan beliau tidur siang,kemudian ibuku(umu sulem)datang dg membawa botol dan mewadahi keringatnya dg botol tsb,lalu Nabi saw terbangun dan Nabi berkata:sedang apa hai Ummu Sulem,dia menjawab;ini keringatmu mau kami campurkan dg minyak wangi.Ternyata minyak wangi tsb terwangi dr yg lainya(hr.Muslim)

bersambung....


Pesantren sebagai Cerminan Etika dan Politik Masyarakat

Pesantren sebagai Cerminan Etika dan Politik Masyarakat

Posted by Unknown  |  at  2:43 AM

Perjalanan panjang pesantren dalam pembangunan etika kemasyarakatan mempunyai kontribusi yang cukup besar . Terlebih Mengingat Pemilu 2009 yang tinggal menunggu waktu, maka peranan pesantren  seyogianya menjadi tolak ukur dan cerminan kepada semua elemen masyarakat terutama etika berpolitik.

“Ada beberapa peran vital yang perlu kami florkan terhadap masyarakat, bagaimana kontribusi pesantren terhadap masyarakat, khususnya kontribusi etika politik,” ungkap Khoirul Anam, Ketua Pelaksana Kegiatan Sarasehan dan Seminar yang diselenggarakan oleh INSAN BPC DIY, di Gedung DEPSOS, Sabtu (03/05) kemarin.  

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Ikatan Santri dan Alumni Buntet Pesantren Daerah Istimewa Yogyakarta ( INSAN BPC DIY) itu dihadiri 71 peserta dari pelbagai elemen masyarakat yang siap berdiskusi dengan beberapa pembicara yaitu Mbah Dien (KH. Nahduddien Royandi Abbas), Muhammad Mustafied (IPNU Yogyakarta) dan Drs. Nur Haris (Dewan Komisi A DPRD DIY).





 


Copyright © 2013 Blog Backup Buntet Pesantren. WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
back to top