Showing posts with label Khutbah. Show all posts
Showing posts with label Khutbah. Show all posts

Hukum Pajak dalam Perspektif Islam oleh KH. Tb. Ahmad Rifqi Chowas

Hukum Pajak dalam Perspektif Islam oleh KH. Tb. Ahmad Rifqi Chowas

Posted by Unknown  |  at  9:30 PM

Pada Halaqoh Perpajakan kemarin, KH. Tubagus Ahmad Rifqi Chowas memaparkan tulisannya yang berjudul “Hukum Pajak dalam Perspektif Fikih”. Menurut beliau, secara etimologi, pajak dalam islam dikenal dengan istilah Al-Dharibah atau biasa disebut Al-Maks yang artinya adalah pungutan yang ditarik dari rakyat oleh para penarik pajak, sedangkan secara istilah, menurut para ahli keuangan, pajak ialah kewajiban yang ditetapkan terhadap wajib pajak, yang harus disetorkan kepada Negara. Pajak berbeda dengan Jizyah (upeti yang harus dibayarkan ahli kitab kepada pemerintahan islam), Kharaj(pajak bumi yang dimiliki oleh Negara Islam), dan ‘Usyur (Bea cukai bagi para pedagang non muslim yang masuk ke Negara Islam) walaupun semuanya tampak memiliki kemiripan.

Menurut jumhur ulama, menyatakan bahwa pajak boleh diambil dari kaum muslimin, jika memang negara sangat membutuhkan dana. Untuk menerapkan kebijaksanaan inipun, negara tetap harus memenuhi terlebih dahulu beberapa syarat. Diantara para ulama yang membolehkan pemerintahan islam mengambil pajak dari kaum muslimin adalah Imam Al-Juwaini dalam kitab Ghiyats Al-Umam fi Al-tiatsi Al-Zhulami, Imam Al-Ghazali di dalam kitab Al-Mustshfa, Imam Asy-Syatibi di dalam Al-I’tishom, dan beberapa ulama lainnya.
Diperbolehkannya memungut pajak menurut para ulama tersebut di atas adaah alasan utamanya untuk mewujudkan kemaslahatan umat karena dana pemerintah tidak mencukupi untuk membiayai berbagai “pengeluaran” yang jika pengeluaran tersebut tidak dibiayai maka akan timbul kemudharatan sedangkan mencegah kemudharatan adalah suatu kewajiban sebagaimana kaidah ushul fiqih : Ma layatimmu al-wajibu illa bihi fahuwa wajibun (suatu kewajiban jika tidak sempurna kecuali dengan sesuatu maka sesuatu itu hukumnya wajib).

Dalil-dalin syar’i lainnya yang menjadi argumentasi para ulama yang memperbolehkan memungut pajak adalah sebagai berikut :

1.         Firma Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah ayat 177
2.        Adanya kaidah-kaidah umum hukum syara’ yang membolehkan, seperti : Mashalih Mursalah (atsa dasar kepentingan), kaidah mencegah mafsadat itu lebih diutamakan daripada mendatangkan maslahat, kaidah lebih memilih mudharat yang menimpa individu atau kelompok tertentu daripada mudharat yang menimpa manusia secara umum.
3.       Pada dsarnya, tidak ada kewajiban atas harta kekayaan yang dimiliki seorang muslim selain zakat namun jika datang kondisi yang menuntut adanya keperluan tambahan (darurat), maka akan ada kewajiban tambahan lain berupa pajak (dharibah). Pendapat ini sebagaimana yang dikemukana oleh Al-Qadhi Abu Bakar Ibnu Al-Arabi, Imam Malik, Imam Qurtubi, Imam Asy-Syatibi, Mahmud Syaltut, dan lain-lain

Adapun hakikat pajak, terutama yang membedakannya dengan zakat diungkapkan oleh M. Yusuf Qardhawi, yaitu sebagai berikut :

1.         Istilah pajak (Dharibah) diambil dari kata dharaba, yang artinya utang, upeti, dan sebagainya yang tak lain merupakan sesuatu ang mesti dibayar, sesuatu yang menjadi beban.
2.     Pajak merupakan kewajiban dari Negara untuk kemaslahatan umum dan tidak ada hubungan dengan makna ibadah dan pendekatan diri terhadap Allah.
3.  Batas nisab dan ketentuan pajak tergantung pada kebijaksanaan dan kemampuan penguasa baik mengenai objek, persentase, harga, dan ketentuan.
4.      Pajak tidak memiliki sifat yang tetap dan terus menerus baik mengenai jenis, persentase, dan kadarnya semuanya ditetapkan pemerintah melalui pertimbangan para ahli (cendekia).
5.  Pajak dikeluarkan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum negara dan pengaturannya ditetapkan oleh penguasa (pemerintah).
6.         Pajak dipungut oleh Negara dari wajib pajak.
7.      Tujuan pajak ialah untuk menghasilkan pembiayaan (uang) untuk mengisi kas negara demi mencapai tujuan ekonomi dan sosial tertentu.

Para ulama yang membolehkan pemerintahan islam memungut pajak dari kaum muslimin meletakkan beberapa syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu, syarat-syarat tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :

1.         Negara komitmen dalam penerapan syariat islam.
2.         Negara sangat membutuhkan dana untuk keperluan maslahat umum.
3.         Tidak ada sumber lain yang bisa diandalkan oleh negara baik dari zakat, jizyah, al-usyur, dan lain-lain.
4.         Harus ada persetujuan dari para ulama dan tokoh masyarakat.
5.         Pemungutan dan distribusinya harus adil dan merata.
6.         Sifatnya sementara dan tidak terus menrus.
7.         Harus dihilangkan terlebih dahulu pendanaan yang berlebihan dan hanya mengahamburkan uang negara saja.

8.         Besarnya pajak harus sesuai dengan kebutuhan yang mendesak pada waktu itu saja.

Aset Diperoleh Meskipun tanpa Usaha

Aset Diperoleh Meskipun tanpa Usaha

Posted by Unknown  |  at  11:00 AM

hikmahOleh: SantriBuntet

Artinya: "
Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk
(menjadi) rahmat bagi semesta alam."











A



set
adalah kekayaan yang diidam­kan setiap orang. Sebab aset ibarat tabungan yang ber­manfaat
di masa datang.  Aset lahir berupa harta
keka­yaan,  aset batin berbentuk paha­la.
Pada umumnya, orang yang bekerja pas­ti akan memper­oleh aset. Hal itu biasa.
Atau orang bekerja secara maksimal misalnya rajin sholat, puasa shadaqah, rajin
sekali dikerjakan tentu akan menda­patkan aset pahala, itu pun hal yang lumrah.
Namun dalam soal yang satu ini, orang tanpa bekerja, tanpa berkata-kata hanya
diam saja namun aset dari Allah akan diperoleh dengan sendirinya. Mungkinkah
itu?








Hal
itu sangat mungkin terjadi dan bisa dibuk­tikan dalam kehidupan sehari-hari. Baik
dalam kehidupan lahiriah maupun rohani. Kita ambil contoh-contoh seba­gai
berikut:



1. Anak Kecil Memiliki Aset


Contoh
nyata dan gamblang sehari-hari bisa ditemui pada seorang anak kecil yang hidup
ber­sama orang tuanya. Anak kecil ini setiap hari terpenuhi kebu­tuhan­nya
tanpa dikurangi sedikitpun. Kebutuhan yang diperoleh dari orang­tuanya ini
disebut aset. Artinya aset kebutuhan anak kecil ini dengan mudah­nya terpe­nuhi
tanpa dia harus bekerja keras, tanpa berkata-kata, bahkan tanpa me­min­ta. 


Itulah
yang dimaksud aset yang didapat tanpa harus bekerja. Betapa nikmatnya anak itu
tanpa sadar dia memperoleh fasilitas yang diinginkan tanpa harus be­kerja. Itu
adalah contoh nyata dalam ke­hidupan lahiriah. Gambaran aset yang bersifat
rohani­ banyak sekali bisa di­da­pat dalam ucapan-ucapan Rasulullah saw. 



2. Orang Sakit Memperoleh Aset


Terhalang
sakit/bepergian tidak menjadi penghalang mendapatkan aset dari Allah swt. Keuntungan
ini diberikan kepada mereka yang selalu mengerja­kan amal sholeh secara rutin. Rasulullah
saw bersabda:




عن أبي موسى قال سمعت النبي صلى الله عليه وسلم غير
مرة ولا مرتين يقول إذا كان العبد يعمل عملا صالحا فشغله عنه مرض أو سفر كتب له
كصالح ما كان يعمل وهو صحيح مقيم. (سونن ابي داود 2687)






2.1. 
Abi Musa berkata: Aku mendengar Nabi saw berkata
berkali-kali ya­itu: "Apabila seorang hamba me­nger­jakan sebuah amal sholeh
kemudian terha­lang oleh sakit atau bepergian, maka tetap dicatat se­bagai
orang yang me­nger­jakan amal sholeh tersebut." (Dikutip dari Kitab Sunan Abi
Dawud hadis no. 2687)




ما من مرض او وجع يصيب المؤمن الا كان



كفارة لذنوبه حتى شوكة يشاقها او نطبه ينكها (متفق
عليه




2.2.
Siti Aisyah ra berkata: Rasululalah saw
bersabda: "Ba­rang siapa yang sakit yang menim­pa seorang muk­min me­lain­kan
dia mendapatkan ampunan dosa-dosa­nya bahkan tertusuk duri sekali­pun, atau
terke­na kesusahan yang menim­panya." (HR. Bukhari)


 


حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ :
أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا
يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلَا نَصَبٍ وَلَا سَقَمٍ وَلَا حَزَنٍ حَتَّى
الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلَّا كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ



 

2.3.
Artinya: Hadits Abi Sa'id ra. Bahwa­san­nya ia
telah mendengar Ra­sulullah saw bersabda: "Setiap mu­si­bah yang ditimpa
kepada seorang mukmin beru­pa sakit yang berke­panjangan, sakit yang biasa, ter­timpa
kesedihan, bahkan mem­ba­wa kepada kebingungan, maka hal ini merupakan
penghapus dari kesalahan-kesalahannya.
(HR. Bukhari Muslim)


Dari ketiga
hadits di atas sangat nyata sekali kebenaran dari ungkapan rasul. Menurut Rasulullah
saw Allah akan menjamin aset pahala setiap hamba muk­­­min yang berbuat amal
kebaikan kemudian terhalang oleh sakit, tertusuk duri, kesedihan dll sehingga
tidak sem­pat berbuat, namun aset pahal
a tetap
didapatkannya. 


Betapa
jelas dan hebat! Tan­pa mengata­kan sesuatu, tanpa mengerjakan sesuatu bahkan
tanpa mengorban­kan apa-apa. Hanya karena ha­langan seperti tertusuk duri atau
kesusahan maka tidak diku­rangi sedikitpun aset ke­baikan­nya.


 

3. Kehilangan
Barang Jadi Aset



حَدِيثُ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ
غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ
بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
* 


Dari
Anas ra berkata: Rasululullah saw bersabda: "Setiap orang muslim yang
bercocok tanam kemudian hasil ta­naman­nya dimakan oleh binatang atau diambil
manusia, maka tercatat seba­gai shodaqoh."
(HR
Bukhari-Muslim) 



Hadits
di atas menegaskan bahwa orang yang bercocok tanam namun tidak sempat menikmati
hasilnya tetap men­da­pat­kan aset pahala dari Allah karena tanaman yang
diusahakkanya itu dima­kan binatang atau dicuri orang. 




Demikian
pula orang yang memiliki sesuatu namun tiba-tiba hilang karena misalnya diambil
orang tanpa permisi, atau dimakan kucing, tikus, dll tetap akan menjadi sha­daqah.
Artinya aset shadaqah tetap menjadi miliknya. Subhanallah! Betapa hebatnya
Allah memberikan aset kepada hamba-Nya yang mau berbuat baik.  Sebuah aset yang didapat tanpa bekerja tanpa
ber­kata-kata namun dapat dinik­mati dan dimiliki dengan mudahnya.


 

4. Rasul Memuji Perbuatan Orang
Mukmin



بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ مَعَ أَصْحَابِهِ إِذْ ضَحِكَ فَقَالَ
أَلَا تَسْأَلُونِي مِمَّ أَضْحَكُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمِمَّ تَضْحَكُ
قَالَ عَجِبْتُ لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ إِنْ أَصَابَهُ
مَا يُحِبُّ حَمِدَ اللَّهَ وَكَانَ لَهُ خَيْرٌ وَإِنْ أَصَابَهُ مَا يَكْرَهُ
فَصَبَرَ كَانَ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ كُلُّ أَحَدٍ أَمْرُهُ كُلُّهُ لَهُ خَيْرٌ
إِلَّا الْمُؤْمِنُ
(رواه أحمد)



Suatu
ketika Rasulullah saw duduk ber­sa­ma para sahabatnya tiba-tiba terta­wa. Beliau
bertanya: "Ada yang mau tau  mengapa saya tertawa?" Lalu para sahabat bertanya:
"Kenapa Rasu­lullah tertawa?" "Aku kagum de­ngan orang beriman; semua
perbuatannya dijadi­kan kebaikan
: Jika mereka menda­pat­kan
kebaikan (kenikmatan) mereka memuji Allah
; Jika
tekena musi­bah yang tidak disukainya, mereka bersabar, maka jadi kebaik­an
buatnya. Sehingga semua  masalah yang
menim­pa orang-orang mukmin semua­nya menjadi kebaikan."


(Kitab
Sunan Ahmad hadits no. 22804)

 

Hadits
senada yang isinya pujian Nabi saw kepada orang-orang mukmin ini banyak ditemui
di berbagai kitab. Kese­muanya menegaskan bahwa semua perbuatan muslim itu
berpahala. Hal inilah yang membuat  Rasul
saw heran dan takjub. 



Allah
SWT berfirman:

Wamaa arsalnaaka illa
rohmatan lili ‘alaamin.



وما ارسلناك إلا رحمة
للعالمي
ن



Artinya:
"Tidaklah aku utus (Nabi Muhammad saw) semata-mata menjadi rakhmat bagi segenap
alam." (Al Anbiyaa: 107)



Beruntunglah
kita sebagai umat nabi Muhammad saw. Karena Nabi saw men­jamin setiap perbuatan
orang beriman dengan pahala yang berlipat ganda baik dengan perbuatan maupun
tanpa berbuat sama sekali. Aset Allah yang diberikan kepada orang beriman ini merupakan
rakhmat Allah yang harus terus-menerus dicari dan didambakan. Dengan demikian maka
kebenaran ajaran ini berkat Rasulullah saw. Kare­nanya, hukumnya wajib
Mencintai Rasulullah saw. 
Wallahu A'lam (MK)



-----------------------------
Disampaikan dalam khutbah Jum'at, 27 Juni 2008 di Masjid Jami' Al Hidayah Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan. Penulis adalah alumni MANU.


Aset Diperoleh Meskipun tanpa Usaha

Aset Diperoleh Meskipun tanpa Usaha

Posted by Unknown  |  at  11:00 AM

hikmahOleh: SantriBuntet

Artinya: "
Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk
(menjadi) rahmat bagi semesta alam."











A



set
adalah kekayaan yang diidam­kan setiap orang. Sebab aset ibarat tabungan yang ber­manfaat
di masa datang.  Aset lahir berupa harta
keka­yaan,  aset batin berbentuk paha­la.
Pada umumnya, orang yang bekerja pas­ti akan memper­oleh aset. Hal itu biasa.
Atau orang bekerja secara maksimal misalnya rajin sholat, puasa shadaqah, rajin
sekali dikerjakan tentu akan menda­patkan aset pahala, itu pun hal yang lumrah.
Namun dalam soal yang satu ini, orang tanpa bekerja, tanpa berkata-kata hanya
diam saja namun aset dari Allah akan diperoleh dengan sendirinya. Mungkinkah
itu?








Hal
itu sangat mungkin terjadi dan bisa dibuk­tikan dalam kehidupan sehari-hari. Baik
dalam kehidupan lahiriah maupun rohani. Kita ambil contoh-contoh seba­gai
berikut:



1. Anak Kecil Memiliki Aset


Contoh
nyata dan gamblang sehari-hari bisa ditemui pada seorang anak kecil yang hidup
ber­sama orang tuanya. Anak kecil ini setiap hari terpenuhi kebu­tuhan­nya
tanpa dikurangi sedikitpun. Kebutuhan yang diperoleh dari orang­tuanya ini
disebut aset. Artinya aset kebutuhan anak kecil ini dengan mudah­nya terpe­nuhi
tanpa dia harus bekerja keras, tanpa berkata-kata, bahkan tanpa me­min­ta. 


Itulah
yang dimaksud aset yang didapat tanpa harus bekerja. Betapa nikmatnya anak itu
tanpa sadar dia memperoleh fasilitas yang diinginkan tanpa harus be­kerja. Itu
adalah contoh nyata dalam ke­hidupan lahiriah. Gambaran aset yang bersifat
rohani­ banyak sekali bisa di­da­pat dalam ucapan-ucapan Rasulullah saw. 



2. Orang Sakit Memperoleh Aset


Terhalang
sakit/bepergian tidak menjadi penghalang mendapatkan aset dari Allah swt. Keuntungan
ini diberikan kepada mereka yang selalu mengerja­kan amal sholeh secara rutin. Rasulullah
saw bersabda:




عن أبي موسى قال سمعت النبي صلى الله عليه وسلم غير
مرة ولا مرتين يقول إذا كان العبد يعمل عملا صالحا فشغله عنه مرض أو سفر كتب له
كصالح ما كان يعمل وهو صحيح مقيم. (سونن ابي داود 2687)






2.1. 
Abi Musa berkata: Aku mendengar Nabi saw berkata
berkali-kali ya­itu: "Apabila seorang hamba me­nger­jakan sebuah amal sholeh
kemudian terha­lang oleh sakit atau bepergian, maka tetap dicatat se­bagai
orang yang me­nger­jakan amal sholeh tersebut." (Dikutip dari Kitab Sunan Abi
Dawud hadis no. 2687)




ما من مرض او وجع يصيب المؤمن الا كان



كفارة لذنوبه حتى شوكة يشاقها او نطبه ينكها (متفق
عليه




2.2.
Siti Aisyah ra berkata: Rasululalah saw
bersabda: "Ba­rang siapa yang sakit yang menim­pa seorang muk­min me­lain­kan
dia mendapatkan ampunan dosa-dosa­nya bahkan tertusuk duri sekali­pun, atau
terke­na kesusahan yang menim­panya." (HR. Bukhari)


 


حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ :
أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا
يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلَا نَصَبٍ وَلَا سَقَمٍ وَلَا حَزَنٍ حَتَّى
الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلَّا كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ



 

2.3.
Artinya: Hadits Abi Sa'id ra. Bahwa­san­nya ia
telah mendengar Ra­sulullah saw bersabda: "Setiap mu­si­bah yang ditimpa
kepada seorang mukmin beru­pa sakit yang berke­panjangan, sakit yang biasa, ter­timpa
kesedihan, bahkan mem­ba­wa kepada kebingungan, maka hal ini merupakan
penghapus dari kesalahan-kesalahannya.
(HR. Bukhari Muslim)


Dari ketiga
hadits di atas sangat nyata sekali kebenaran dari ungkapan rasul. Menurut Rasulullah
saw Allah akan menjamin aset pahala setiap hamba muk­­­min yang berbuat amal
kebaikan kemudian terhalang oleh sakit, tertusuk duri, kesedihan dll sehingga
tidak sem­pat berbuat, namun aset pahal
a tetap
didapatkannya. 


Betapa
jelas dan hebat! Tan­pa mengata­kan sesuatu, tanpa mengerjakan sesuatu bahkan
tanpa mengorban­kan apa-apa. Hanya karena ha­langan seperti tertusuk duri atau
kesusahan maka tidak diku­rangi sedikitpun aset ke­baikan­nya.


 

3. Kehilangan
Barang Jadi Aset



حَدِيثُ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ
غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ
بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
* 


Dari
Anas ra berkata: Rasululullah saw bersabda: "Setiap orang muslim yang
bercocok tanam kemudian hasil ta­naman­nya dimakan oleh binatang atau diambil
manusia, maka tercatat seba­gai shodaqoh."
(HR
Bukhari-Muslim) 



Hadits
di atas menegaskan bahwa orang yang bercocok tanam namun tidak sempat menikmati
hasilnya tetap men­da­pat­kan aset pahala dari Allah karena tanaman yang
diusahakkanya itu dima­kan binatang atau dicuri orang. 




Demikian
pula orang yang memiliki sesuatu namun tiba-tiba hilang karena misalnya diambil
orang tanpa permisi, atau dimakan kucing, tikus, dll tetap akan menjadi sha­daqah.
Artinya aset shadaqah tetap menjadi miliknya. Subhanallah! Betapa hebatnya
Allah memberikan aset kepada hamba-Nya yang mau berbuat baik.  Sebuah aset yang didapat tanpa bekerja tanpa
ber­kata-kata namun dapat dinik­mati dan dimiliki dengan mudahnya.


 

4. Rasul Memuji Perbuatan Orang
Mukmin



بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ مَعَ أَصْحَابِهِ إِذْ ضَحِكَ فَقَالَ
أَلَا تَسْأَلُونِي مِمَّ أَضْحَكُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمِمَّ تَضْحَكُ
قَالَ عَجِبْتُ لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ إِنْ أَصَابَهُ
مَا يُحِبُّ حَمِدَ اللَّهَ وَكَانَ لَهُ خَيْرٌ وَإِنْ أَصَابَهُ مَا يَكْرَهُ
فَصَبَرَ كَانَ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ كُلُّ أَحَدٍ أَمْرُهُ كُلُّهُ لَهُ خَيْرٌ
إِلَّا الْمُؤْمِنُ
(رواه أحمد)



Suatu
ketika Rasulullah saw duduk ber­sa­ma para sahabatnya tiba-tiba terta­wa. Beliau
bertanya: "Ada yang mau tau  mengapa saya tertawa?" Lalu para sahabat bertanya:
"Kenapa Rasu­lullah tertawa?" "Aku kagum de­ngan orang beriman; semua
perbuatannya dijadi­kan kebaikan
: Jika mereka menda­pat­kan
kebaikan (kenikmatan) mereka memuji Allah
; Jika
tekena musi­bah yang tidak disukainya, mereka bersabar, maka jadi kebaik­an
buatnya. Sehingga semua  masalah yang
menim­pa orang-orang mukmin semua­nya menjadi kebaikan."


(Kitab
Sunan Ahmad hadits no. 22804)

 

Hadits
senada yang isinya pujian Nabi saw kepada orang-orang mukmin ini banyak ditemui
di berbagai kitab. Kese­muanya menegaskan bahwa semua perbuatan muslim itu
berpahala. Hal inilah yang membuat  Rasul
saw heran dan takjub. 



Allah
SWT berfirman:

Wamaa arsalnaaka illa
rohmatan lili ‘alaamin.



وما ارسلناك إلا رحمة
للعالمي
ن



Artinya:
"Tidaklah aku utus (Nabi Muhammad saw) semata-mata menjadi rakhmat bagi segenap
alam." (Al Anbiyaa: 107)



Beruntunglah
kita sebagai umat nabi Muhammad saw. Karena Nabi saw men­jamin setiap perbuatan
orang beriman dengan pahala yang berlipat ganda baik dengan perbuatan maupun
tanpa berbuat sama sekali. Aset Allah yang diberikan kepada orang beriman ini merupakan
rakhmat Allah yang harus terus-menerus dicari dan didambakan. Dengan demikian maka
kebenaran ajaran ini berkat Rasulullah saw. Kare­nanya, hukumnya wajib
Mencintai Rasulullah saw. 
Wallahu A'lam (MK)



-----------------------------
Disampaikan dalam khutbah Jum'at, 27 Juni 2008 di Masjid Jami' Al Hidayah Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan. Penulis adalah alumni MANU.


Iman Mengurus Pribadi, Islam Mengurus Publik

Iman Mengurus Pribadi, Islam Mengurus Publik

Posted by Unknown  |  at  3:33 PM

KHUTBAH JUM'AT



الحمد لله الذي ارسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره
على الدين كله  -  أشهد ان لا اله الاالله وحده لا شريك له واشهد
ان محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده - اللهم صلى وسلم على سيدنا محمد ابن عبدالله
القائم بحقوق الله ماضاقت الا وفرج الله وعلى اله وصحبه وسلم، أمابعد.


فياعباد الله اصيكم وإياي بتقوالله وطاعته لعلكم
تفلحون. واعلموا ان الله قد قال فى القرآن الكريم وهو اصدق القائلين أعوذ بالله من
الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم


إن الذين يتلون كتاب الله واقامواالصلوة وانفقوا
مما رزقناهم سرا وعلانية يرجون تجارة لن تبور. ليوفيهم أجورهم ويزيدهم من فضله انه
غفور  شكور. صدق الله العظيم


وقال رسول الله صلى  الله عليه وسلم إنما الأعمال بالنيـات وإنما
لكل إمرء ما نوى. صدق رسول الله ونحن على ذلك من الشاهدين.





معاشر المؤمنين رحمكم الله




arilah kita
bersyukur.  Mensyukuri kenikmatan yang
kita rasakan adalah dimana kita masih tetap menjadi muslim  dan mukmin. Untuk mempertahankan predikat mukmin
dan muslim adalah dengan cara takwa... la'allakum tattaquun. Mudah-mudahan
menjadi pemenang. 


Shalawat dan
salam semoga Allah curahkan untuk Nabi Muhammad saw, keluarganya, sahabat dan
pengikuktnya. 


Ma'aasyirol
muslimina rohimakumullooh.


Alhamdulillah suara-suara
Al-Qur'an masih dapat kita dengar; tausiah-tausiah Rasul masih kita dengar.
Kedua hal ini  merupakan bekal kita untuk
mencapai dunia akhirat. 


Iman hanyalah
urusan dirinya dengan Allah.  Islam
urusan dirinya dengan orang lain. Karena itulah kita sebagai mukmin adalah
urusan pribadi tetapi sebagai muslim adalah tanggung jawab bersama. 


Karena itulah
sewaktu Nabi Musa as ditegur mana pengabdianmu untuk-Ku kata Allah?  "Ibadahku, puasaku, sedekahku lillaah.
" Bukan! Itu semua kembali kepadamu.  "Fadallanii ya Allah", tunjukilah
kepadaku pinta Nabi Musa. Maka yang Allah perintah cuma satu: Kamu ada rasa tertarik
pada-Ku. 


Itulah wahyu
Allah kepada Nabi Musa as. Sangat relevan sekali untuk kita kaji tentang makna
mahabbah kepada Allah.


Jika tak ada
rasa tertarik kepada Allah bagaimana mungkin akan mengerti ......


المحبة اساس المعرفة         Ketertarikan
adalah dasar ngerti


Kalau tidak
ada rasa tertarik sama sekali tak akan pernah mengerti. 


Itulah dalam
awal khutbah tadi
surat Fatir ayat
29-30 mengisyaratkan:


1.     إن الذين يتلون كتاب الله

"Orang yang selalu membaca kitab-kitab
Allah"


2.     واقاموا الصلوة

"Orang yang menegakkan shalat"

3.     وانفقوا مما رزقناهم سرا
وعلانية


"Orang yang menginfakkan sebagian rezeki."


يرجون تجارة لن تبور


"tiada lain harapan yang dia kerjakan merupakan
perdagangan yang tiada merugi."



Y      Status kita terhadap Allah adalah
sebagai pedagang, status Allah terhadap kita adalah pembeli. Karena itu jika
perdagangannya baik, pasti akan dibeli oleh Allah. Jika segala-galanya karena
Allah pasti dibeli oleh Allah. 


1.     Membaca Al Qur'an 

Kalau
seseorang itu membaca Al Qur'an dan merupakan sebuah kebutuhan, setiap hari
dibaca pasti akan meningkat.  Merupakan  kelezatan membaca Al Qur'an; merupakan
kesenangan membaca Al Qur'an. Akhirnya benar kata mufassir:



يؤثر كلام الله على كلام الخلق


"Mengutamakan kalam Allah ketimbang kalam
makhluq."


Benar-benar
disiapkan waktunya setiap hari.
Ada waktu untuk
membaca Al Qur'an. Itu namanya mahabbah kepada Allah.


Setiap hari
membaca Al Qur'an bukan saja kebutuhan tapi merupakan kesenangan, kelezatan,
kecintaan baru nanti lama-lama akan mengerti bahwa ketertarikan itu sendiri
merupakan dasar untuk mencapai pengertian-pengertian  apa yang ia baca. 


2.     Mendirikan Shalat

"Dirikanlah
shalat"


Makna shalat
di sini adalah :



يؤثر لقاء الله على لقاء الخلق


"Mengutamakan pertamuannya dengan Allah
ketimbang peretemuannya dengan makhluq."


Untuk mencapai
tujuan tersebut apalagi kalau bukan dengan shalat. Karena shalat adalah mi'raajul
mukminin. Shalat adalah mir'ajnya orang-orang mukmin.


Setiap hari
kita shalat di sana da makna pertemuan antara hamba dengan khaliqnya
lebih-lebih ketika kita mengucapkan: 



ألتحيات المباركات الصلوات الطيبات لله


Berarti
bersalam kepada Allah. 


Apalabila
seseorang sudah bisa melakukan shalat bukan saja yang wajib apalagi yang sunah, berarti orang itu mengutamakan
pertemuan antara dirinya  dengan Allah,
ketimbang perte­muannya dengan makhluq. 


Ulama salaf
dahulu menjelaskan di dalam beberapa kitab, mereka sangat hobi sekali, sangat
suka sekali dan sangat cinta sekali melakukan pertemuan dengan Allah lebih-lebih
ketika manusia  pada tidur di malam hari. 


Ma'aasyirol
muslimina rohimakumullooh. 


Wajib adalah
modal, sedangkan sunah adalah keuntungan. Makin banyak sunah-sunah dilakukan
berarti makin banyak keuntungan yang diperolehnya. Jika demikian maka inilah
yang disebut derajatnya makin dekat dengan Allah. 


Kehebatan dan
keistimewaan ulama-ulama salaf  adalah
karena banyaknya melakukan sunah-sunah sehingga apa yang ia ucapakan langsung
didengar oleh Allah. Karena semakin banyak melakukan sunah, semakin banyak
memperoleh keuntungan. 



'Makin banyak sunah-sunah dilakukan makin banyak
memperoleh keutamaan yang dia peroleh."


3.     Menafkahkan Sebagian Rizki


وانفقوا مما رزقناهم سرا وعلانية يرجون تجارة لن تبور



"Orang yang menginfakkan sebagian rezeki. Mereka mengharapkan suatu perdagangan yang tidak
merugi. 


Paling tidak perdagangan itu ada
dua: modal dan management. Iman adalah modal sedangkan ibadah adalah
managementnya. Semakin rajin ibadah semakin hebat imannya. Semakin malas
ibadahnya semakin dikhawatirkan akan keimanannya. Itulah makna yarjuuna
tijarotan lan tabuur. 


Dari
ketiga hal tersebut di atas: membaca  Al
Qur'an, shalat dan menafkahkan sebagian rizki, ditafsirkan sangat luas,
antara lain dari sekian banyak mufassir.



العبادة على خدمة الخلق


 Ibadahnya
ia selalu menjadi pelayan masyarakat. Ibadahnya selalu mengutamakan menjadi
pelayan umat, baru benar-benar cinta Allah. 


Nabi
Musa as bertemu dengan seseorang lalu bertanya: " sudah berapa lama kamu
beribadah", "sudah 40 tahun ya nabi Allah, tapi kenapa doa saya tidak
dikabulkan?" Jawab Nabi Musa: "Kamu pelit! Kamu hanya berdoa untuk
diri sendiri, tidak pernah menjadi pelayan umat, tidak mau menjadi pelayan
masyarakat." 


Karena
itulah ibadah adalah:



أفضل العبادة إدخال السرور على المؤمنين


"Sebaik-baik ibadah adalah memberi kesenangan kepada
orang-orang mukmin."


Jika kita sudah bisa menjadi
pelayan umat, menjadi pelayan manusia, menjadi pelayan masyarakat apapun
profesinya, berarti ketiga unsur di atas telah dimiliki. Yaitu baca Al
Qur'annya, shalatnya dan menjadi pelayan masyarakatnya.  Dan jika ketiga unsur tersebut ada, maka berarti
bahwa  Al Mahabbah asaasul ma'rifah, telah
sampai kepada ketertarikan Islam sehingga pasti ia menjadi manusia yang arif
dan bijaksana. 


Ma'aasyirol mukminiina
rohimakumullooh. 


Ibadah dengan menjadi pelayan
masyarakat itu paling utama. Karena itulah diatur dengan Islam. Sebab Islam itu
untuk kehidupan, sedangkan iman untuk mati. 



الإسلام للحيات والإيمان للممات


Islam adalah untuk mengatur tatanan
kehidupan sedangkan iman untuk  mengatur
persiapan setelah wafat. Karena itulah islam perlu ilmu pengetahuan dan
tekhnologi, islam perlu maju dan berani menata masyarakat.


 Ma'aasyirol mukminiina
rohimakumullooh.


Akhirnya,
mari kita introspeksi apa yang disabdakan Rasulullah saw:


خيركم انفعم للناس

Sebaik-baik kamu adalah yang  paling bermanfaat bagi manusia. 


Hari
ini sudah berapa persen melek saya bagi mansusia. Semenitkah manfaatnya bagi
manusia,  lima menitkah manfaat saya atau
10 menitkah. Sebab nilai manusia dilihat dari kemanfaatannya terhadap manusia
lainya. Jika hari ini saya tidak bermanfaat maka nilai manusianya nol!

Karena
itu mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing: sampai jam segini,
berapa nilai manfaat saya bagi manusia, itulah nilai manusianya.


Akhirnya
benar apa yang disampaikan oleh Imam Al Ghazali bahwa kriteria manusia itu ada
tiga:


1. Apabila kita punya sikap saya
harus bermanfaat di tengah-tengah masyarakat berarti di sana dominan sifat malaikatnya. Karena malaikat ini selalu
menjadi khidmat tbagi makhluq Allah. Mereka siap 24 jam.  Sifat malaikat yang ada di diri manusia adalah
hatinya, jiwawnya, ruhnya, akalnya selalu bertanya bagaimana ingin berkhidmat kepada
manusia; bagaimana ingin selalu menjadi pelayan manusia, bukan hanya memikirkan
dirinya sendiri dari mulai melek hingga tidur hanya dirinya yang dipikirkan.
Itulah apa yang disampaikan oleh nabi Musa dalam riwayatnya.    



2.  Adat manusia itu seperti binatang
ternak dan zaman. Manfaatnya untuk dirinya. Kebaikannya tidak pernah mencapai
selain dirinya. Segala sesuatunya hanya untuk dirinya.



3.   Kriteria ketiga, nauzu
billah
, persis seperti binatang buas. Sifat buasnya ini adalah selalu memikirkan
bagaimana mencari mangsa dan bila dapat langsung dilaahap tanpa memperhatikan
nilai kerugiannya.


Karena
itulah ukuran penghambaan kita kepada Allah adalah setelah mencapai mahabbah
kepada Allah.





اعوذ بالله من الشيطان الرجيم

بسم الله الرحمن الرحيم

والعصر إن الإنسان لفي خسر الا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر  



1.  Demi masa.

2.  Sesungguhnya
manusia itu benar-benar dalam kerugian,


3.  Kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati
supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.




بارك الله لى ولكم فى القرآن الكريم ونفعنى وإياكم
بمافيه من الآيات والذكر الحيم وتقبل منى ومنكم تلاوته فاستغفروه انه هو الغفور
الرحيم

-------------


Mohon diteliti ayat dan hadits serta cara penulisannya.
Khutbah ini disampaikan oleh Alumni Buntet Pesantren di Masjid Habib Ali Kwitang, Jakarta Pusat.


Iman Mengurus Pribadi, Islam Mengurus Publik

Iman Mengurus Pribadi, Islam Mengurus Publik

Posted by Unknown  |  at  3:33 PM

KHUTBAH JUM'AT




الحمد لله الذي ارسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره
على الدين كله  -  أشهد ان لا اله الاالله وحده لا شريك له واشهد
ان محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده - اللهم صلى وسلم على سيدنا محمد ابن عبدالله
القائم بحقوق الله ماضاقت الا وفرج الله وعلى اله وصحبه وسلم، أمابعد.


فياعباد الله اصيكم وإياي بتقوالله وطاعته لعلكم
تفلحون. واعلموا ان الله قد قال فى القرآن الكريم وهو اصدق القائلين أعوذ بالله من
الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم


إن الذين يتلون كتاب الله واقامواالصلوة وانفقوا
مما رزقناهم سرا وعلانية يرجون تجارة لن تبور. ليوفيهم أجورهم ويزيدهم من فضله انه
غفور  شكور. صدق الله العظيم


وقال رسول الله صلى  الله عليه وسلم إنما الأعمال بالنيـات وإنما
لكل إمرء ما نوى. صدق رسول الله ونحن على ذلك من الشاهدين.



 


معاشر المؤمنين رحمكم الله




arilah kita
bersyukur.  Mensyukuri kenikmatan yang
kita rasakan adalah dimana kita masih tetap menjadi muslim  dan mukmin. Untuk mempertahankan predikat mukmin
dan muslim adalah dengan cara takwa... la'allakum tattaquun. Mudah-mudahan
menjadi pemenang. 


Shalawat dan
salam semoga Allah curahkan untuk Nabi Muhammad saw, keluarganya, sahabat dan
pengikuktnya. 


Ma'aasyirol
muslimina rohimakumullooh.


Alhamdulillah suara-suara
Al-Qur'an masih dapat kita dengar; tausiah-tausiah Rasul masih kita dengar.
Kedua hal ini  merupakan bekal kita untuk
mencapai dunia akhirat. 


Iman hanyalah
urusan dirinya dengan Allah.  Islam
urusan dirinya dengan orang lain. Karena itulah kita sebagai mukmin adalah
urusan pribadi tetapi sebagai muslim adalah tanggung jawab bersama. 


Karena itulah
sewaktu Nabi Musa as ditegur mana pengabdianmu untuk-Ku kata Allah?  "Ibadahku, puasaku, sedekahku lillaah.
" Bukan! Itu semua kembali kepadamu.  "Fadallanii ya Allah", tunjukilah
kepadaku pinta Nabi Musa. Maka yang Allah perintah cuma satu: Kamu ada rasa tertarik
pada-Ku. 


Itulah wahyu
Allah kepada Nabi Musa as. Sangat relevan sekali untuk kita kaji tentang makna
mahabbah kepada Allah.


Jika tak ada
rasa tertarik kepada Allah bagaimana mungkin akan mengerti ......


المحبة اساس المعرفة         Ketertarikan
adalah dasar ngerti


Kalau tidak
ada rasa tertarik sama sekali tak akan pernah mengerti. 


Itulah dalam
awal khutbah tadi
surat Fatir ayat
29-30 mengisyaratkan:


1.     إن الذين يتلون كتاب الله

"Orang yang selalu membaca kitab-kitab
Allah"


2.     واقاموا الصلوة

"Orang yang menegakkan shalat"

3.     وانفقوا مما رزقناهم سرا
وعلانية


"Orang 
yang menginfakkan sebagian rezeki."



يرجون تجارة لن تبور


"tiada lain harapan yang dia kerjakan merupakan
perdagangan yang tiada merugi."

 

Y      
Status kita terhadap Allah adalah
sebagai pedagang, status Allah terhadap kita adalah pembeli. Karena itu jika
perdagangannya baik, pasti akan dibeli oleh Allah. Jika segala-galanya karena
Allah pasti dibeli oleh Allah. 


1.     
Membaca Al Qur'an 

Kalau
seseorang itu membaca Al Qur'an dan merupakan sebuah kebutuhan, setiap hari
dibaca pasti akan meningkat.  Merupakan  kelezatan membaca Al Qur'an; merupakan
kesenangan membaca Al Qur'an. Akhirnya benar kata mufassir:



يؤثر كلام الله على كلام الخلق


"Mengutamakan kalam Allah ketimbang kalam
makhluq."


Benar-benar
disiapkan waktunya setiap hari.
Ada waktu untuk
membaca Al Qur'an. Itu namanya mahabbah kepada Allah.


Setiap hari
membaca Al Qur'an bukan saja kebutuhan tapi merupakan kesenangan, kelezatan,
kecintaan baru nanti lama-lama akan mengerti bahwa ketertarikan itu sendiri
merupakan dasar untuk mencapai pengertian-pengertian  apa yang 
ia baca. 


2.     
Mendirikan Shalat

"Dirikanlah
shalat"


Makna shalat
di sini adalah :



يؤثر لقاء الله على لقاء الخلق


"Mengutamakan pertamuannya dengan Allah
ketimbang peretemuannya dengan makhluq."


Untuk mencapai
tujuan tersebut apalagi kalau bukan dengan shalat. Karena shalat adalah mi'raajul
mukminin. Shalat adalah mir'ajnya orang-orang mukmin.


Setiap hari
kita shalat di sana da makna pertemuan antara hamba dengan khaliqnya
lebih-lebih ketika kita mengucapkan: 



ألتحيات المباركات الصلوات الطيبات لله


Berarti
bersalam kepada Allah. 


Apalabila
seseorang sudah bisa melakukan shalat 
bukan saja yang wajib apalagi yang sunah, berarti orang itu mengutamakan
pertemuan antara dirinya  dengan Allah,
ketimbang perte­muannya dengan makhluq. 


Ulama salaf
dahulu menjelaskan di dalam beberapa kitab, mereka sangat hobi sekali, sangat
suka sekali dan sangat cinta sekali melakukan pertemuan dengan Allah lebih-lebih
ketika manusia  pada tidur di malam hari. 


Ma'aasyirol
muslimina rohimakumullooh. 


Wajib adalah
modal, sedangkan sunah adalah keuntungan. Makin banyak sunah-sunah dilakukan
berarti makin banyak keuntungan yang diperolehnya. Jika demikian maka inilah
yang disebut derajatnya makin dekat dengan Allah. 


Kehebatan dan
keistimewaan ulama-ulama salaf  adalah
karena banyaknya melakukan sunah-sunah sehingga apa yang ia ucapakan langsung
didengar oleh Allah. Karena semakin banyak melakukan sunah, semakin banyak
memperoleh keuntungan. 



'Makin banyak sunah-sunah dilakukan makin banyak
memperoleh keutamaan yang dia peroleh."


3.     
Menafkahkan Sebagian Rizki



وانفقوا مما رزقناهم سرا وعلانية يرجون تجارة لن تبور


 
"Orang 
yang menginfakkan sebagian rezeki.
Mereka mengharapkan suatu perdagangan yang tidak
merugi. 


Paling tidak perdagangan itu ada
dua: modal dan management. Iman adalah modal sedangkan ibadah adalah
managementnya. Semakin rajin ibadah semakin hebat imannya. Semakin malas
ibadahnya semakin dikhawatirkan akan keimanannya. Itulah makna yarjuuna
tijarotan lan tabuur. 


Dari
ketiga hal tersebut di atas: membaca  Al
Qur'an, shalat dan menafkahkan sebagian rizki, ditafsirkan sangat luas,
antara lain dari sekian banyak mufassir.



العبادة على خدمة الخلق


 Ibadahnya
ia selalu menjadi pelayan masyarakat. Ibadahnya selalu mengutamakan menjadi
pelayan umat, baru benar-benar cinta Allah. 


Nabi
Musa as bertemu dengan seseorang lalu bertanya: " sudah berapa lama kamu
beribadah", "sudah 40 tahun ya nabi Allah, tapi kenapa doa saya tidak
dikabulkan?" Jawab Nabi Musa: "Kamu pelit! Kamu hanya berdoa untuk
diri sendiri, tidak pernah menjadi pelayan umat, tidak mau menjadi pelayan
masyarakat." 


Karena
itulah ibadah adalah:



أفضل العبادة إدخال السرور على المؤمنين



"Sebaik-baik ibadah adalah memberi kesenangan kepada
orang-orang mukmin."


Jika kita sudah bisa menjadi
pelayan umat, menjadi pelayan manusia, menjadi pelayan masyarakat apapun
profesinya, berarti ketiga unsur di atas telah dimiliki. Yaitu baca Al
Qur'annya, shalatnya dan menjadi pelayan masyarakatnya.  Dan jika ketiga unsur tersebut ada, maka berarti
bahwa  Al Mahabbah asaasul ma'rifah, telah
sampai kepada ketertarikan Islam sehingga pasti ia menjadi manusia yang arif
dan bijaksana. 


Ma'aasyirol mukminiina
rohimakumullooh. 


Ibadah dengan menjadi pelayan
masyarakat itu paling utama. Karena itulah diatur dengan Islam. Sebab Islam itu
untuk kehidupan, sedangkan iman untuk mati. 



الإسلام للحيات والإيمان للممات


Islam adalah untuk mengatur tatanan
kehidupan sedangkan iman untuk  mengatur
persiapan setelah wafat. Karena itulah islam perlu ilmu pengetahuan dan
tekhnologi, islam perlu maju dan berani menata masyarakat.


 Ma'aasyirol mukminiina
rohimakumullooh.


Akhirnya,
mari kita introspeksi apa yang disabdakan Rasulullah saw:

 
خيركم انفعم للناس

Sebaik-baik kamu adalah yang  paling bermanfaat bagi manusia. 


Hari
ini sudah berapa persen melek saya bagi mansusia. Semenitkah manfaatnya bagi
manusia,  lima menitkah manfaat saya atau
10 menitkah. Sebab nilai manusia dilihat dari kemanfaatannya terhadap manusia
lainya. Jika hari ini saya tidak bermanfaat maka nilai manusianya nol!

Karena
itu mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing: sampai jam segini,
berapa nilai manfaat saya bagi manusia, itulah nilai manusianya.


Akhirnya
benar apa yang disampaikan oleh Imam Al Ghazali bahwa kriteria manusia itu ada
tiga:


1. Apabila kita punya sikap saya
harus bermanfaat di tengah-tengah masyarakat 
berarti di sana dominan sifat malaikatnya. Karena malaikat ini selalu
menjadi khidmat tbagi makhluq Allah. Mereka siap 24 jam.  Sifat malaikat yang ada di diri manusia adalah
hatinya, jiwawnya, ruhnya, akalnya selalu bertanya bagaimana ingin berkhidmat kepada
manusia; bagaimana ingin selalu menjadi pelayan manusia, bukan hanya memikirkan
dirinya sendiri dari mulai melek hingga tidur hanya dirinya yang dipikirkan.
Itulah apa yang disampaikan oleh nabi Musa 
dalam riwayatnya.    




2.  Adat manusia itu seperti binatang
ternak dan zaman. Manfaatnya untuk dirinya. Kebaikannya tidak pernah mencapai
selain dirinya. Segala sesuatunya hanya untuk dirinya.




3.   Kriteria ketiga, nauzu
billah
, persis seperti binatang buas. Sifat buasnya ini adalah selalu memikirkan
bagaimana mencari mangsa dan bila dapat langsung dilaahap tanpa memperhatikan
nilai kerugiannya.


Karena
itulah ukuran penghambaan kita kepada Allah adalah setelah mencapai mahabbah
kepada Allah.



 


اعوذ بالله من الشيطان الرجيم

بسم الله الرحمن الرحيم

والعصر إن الإنسان لفي خسر الا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر  




1.  Demi masa.

2.  Sesungguhnya
manusia itu benar-benar dalam kerugian,


3.  Kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati
supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

 


بارك الله لى ولكم فى القرآن الكريم ونفعنى وإياكم
بمافيه من الآيات والذكر الحيم وتقبل منى ومنكم تلاوته فاستغفروه انه هو الغفور
الرحيم

-------------


Mohon diteliti ayat dan hadits serta cara penulisannya.
Khutbah ini disampaikan oleh Alumni Buntet Pesantren di Masjid Habib Ali Kwitang, Jakarta Pusat.




Copyright © 2013 Blog Backup Buntet Pesantren. WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
back to top