Hukum Pajak dalam Perspektif Islam oleh KH. Tb. Ahmad Rifqi Chowas
Hukum Pajak dalam Perspektif Islam oleh KH. Tb. Ahmad Rifqi Chowas


melalui pasukan Muslim.” (Allen, 2006: 6
.
melalui pasukan Muslim.” (Allen, 2006: 6
.
Oleh: Muhammad Kurtubi
Rasulullah saw bersabda: “90% Rezeki itu dipegang pedagang dan petani.” Sabda Nabi saw yang pendek itu tertera dalam buku “Etika hidup dan beragama” terbitan Kairo, Mesir. Rupanya, pesan pendek Nabi saw itu justru diikuti oleh negara-negara yang kini menggiati perdagangan dan pertanian meskipun tanahnya tak sesubur tanah Nusantara. Sementara negara yang banyak majlis ta'limnya ini rupanya lebih tertarik pada masalah “asesoris” agama. Padahal kan bisa beli sih ngaji karo macul ?
Pernyataan “big bos” kita ini siapa yang berani menentangnya. Sebab kenyataan sehari-hari memang demikian adanya. Bahwa pribadi atau bangsa secara komunal, bila memiliki kemampuan ilmu dagang atau bertani kemudian dijalankan, tidak heran kemudian bangsa dan negaranya berkelimpahan rezeki.
Negara yang memiliki alam yang subur tidak menjamin pada kemakmuran rakyatnya. Misalanya negara Indonesia tidak banyak memberikan kemakmuran bagi bangsanya. Padahal, seperti kekaguman turis Asing dari Arab saat melintas perkebunan Bogor, ia berujar: “subhanallah, surga dunia ada di sini.”
Demikian pula tidak sedikit negara yang memiliki tanah yang kering kerontang, justru rezekinya berlimpah ruah. Contohnya Jepang, Belanda, China, India dan lain-lain. Negara-negara ini pun diakui tumbuh pesat perekonomiannya.
Dengan demikian, bertani dan berdagang ternyata tidak harus memiliki tanah yang subur atau lokasi yang strategis. Sebab bukankah Indonesia memiliki tanah dan pulau yang amat strategis baik untuk pelayaran maupun pertanian? Tetapi sudahlah, seperti yang saya katakan di atas, letak yang strategis atau tanah yang subur tidak berkorelasi langsung terhadap kemajuan bangsanya.
Dengan demikian maka faktor manusialah yang bisa menentukan bertani atau berdagang secara efektif. Arab Saudi dengan kekayaan minyaknya yang berlimpah ruah mampu mengeksplorasi tanpa bercapai-capai. Karena yang melakukan teknik dan montase eksplorasi adalah teknokrat seperti Amerika. Sementara para pebisnisnya hidup tenang berkelimpahan harta. Ini berarti meskipun bangsa Arab di sana tidak menguasai teknologi minyak tetapi ia mampu mengatur para insyinyur Amerika agar bekerja dan memenuhi keinginannya.
Begitupula negara Jepang dengan kekuatan budaya kerja kerasnya, ia mampu bangkit setelah didera penderitaan tanah air yang kering kerontang akibat di bom atom. Negara lain seperti India, China dan korea kini bangkit dan menggeliat bagaikan raksasa yang bangun dari tidurnya. Membuat negara lain “ketakutan” akan kekuatan ekonominya.
Akhirnya, jika secara tidak langsung banyak negara kaya itu mampu mengaplikasikan ungkapan Nabi saw yang sangat sederhana itu, lantas bagaimana dengan sebagian besar umat Muslim yang hidup di negara berkembang. Contohnya negara kita sendiri. Rupanya, isyarat Rasulullah saw ini kurang diperhatikan dengan serius oleh umat Muslim sendiri. Sementara agama lain dan komunitas negara lain begitu konsisten menekuni kedua bidang ini. Jadi agaknya, kesan saya, umat Muslim di negara ini masih banyak yang hanya eforia dalam ”kulit” agama. Giliran kalah dalam perolehan rezeki paling-paling hanya bisa gigit jari…
Duh Gusti, wallahu a'lam bae lah....
Sumber: Foto 1 , foto 2, foto 3
Muhammad Kurtubi, lulusan MANU Buntet Pesantren Cirebon
Oleh: Muhammad Kurtubi
Rasulullah saw bersabda: “90% Rezeki itu dipegang pedagang dan petani.” Sabda Nabi saw yang pendek itu tertera dalam buku “Etika hidup dan beragama” terbitan Kairo, Mesir. Rupanya, pesan pendek Nabi saw itu justru diikuti oleh negara-negara yang kini menggiati perdagangan dan pertanian meskipun tanahnya tak sesubur tanah Nusantara. Sementara negara yang banyak majlis ta'limnya ini rupanya lebih tertarik pada masalah “asesoris” agama. Padahal kan bisa beli sih ngaji karo macul ?
Pernyataan “big bos” kita ini siapa yang berani menentangnya. Sebab kenyataan sehari-hari memang demikian adanya. Bahwa pribadi atau bangsa secara komunal, bila memiliki kemampuan ilmu dagang atau bertani kemudian dijalankan, tidak heran kemudian bangsa dan negaranya berkelimpahan rezeki.
Negara yang memiliki alam yang subur tidak menjamin pada kemakmuran rakyatnya. Misalanya negara Indonesia tidak banyak memberikan kemakmuran bagi bangsanya. Padahal, seperti kekaguman turis Asing dari Arab saat melintas perkebunan Bogor, ia berujar: “subhanallah, surga dunia ada di sini.”
Demikian pula tidak sedikit negara yang memiliki tanah yang kering kerontang, justru rezekinya berlimpah ruah. Contohnya Jepang, Belanda, China, India dan lain-lain. Negara-negara ini pun diakui tumbuh pesat perekonomiannya.
Dengan demikian, bertani dan berdagang ternyata tidak harus memiliki tanah yang subur atau lokasi yang strategis. Sebab bukankah Indonesia memiliki tanah dan pulau yang amat strategis baik untuk pelayaran maupun pertanian? Tetapi sudahlah, seperti yang saya katakan di atas, letak yang strategis atau tanah yang subur tidak berkorelasi langsung terhadap kemajuan bangsanya.
Dengan demikian maka faktor manusialah yang bisa menentukan bertani atau berdagang secara efektif. Arab Saudi dengan kekayaan minyaknya yang berlimpah ruah mampu mengeksplorasi tanpa bercapai-capai. Karena yang melakukan teknik dan montase eksplorasi adalah teknokrat seperti Amerika. Sementara para pebisnisnya hidup tenang berkelimpahan harta. Ini berarti meskipun bangsa Arab di sana tidak menguasai teknologi minyak tetapi ia mampu mengatur para insyinyur Amerika agar bekerja dan memenuhi keinginannya.
Begitupula negara Jepang dengan kekuatan budaya kerja kerasnya, ia mampu bangkit setelah didera penderitaan tanah air yang kering kerontang akibat di bom atom. Negara lain seperti India, China dan korea kini bangkit dan menggeliat bagaikan raksasa yang bangun dari tidurnya. Membuat negara lain “ketakutan” akan kekuatan ekonominya.
Akhirnya, jika secara tidak langsung banyak negara kaya itu mampu mengaplikasikan ungkapan Nabi saw yang sangat sederhana itu, lantas bagaimana dengan sebagian besar umat Muslim yang hidup di negara berkembang. Contohnya negara kita sendiri. Rupanya, isyarat Rasulullah saw ini kurang diperhatikan dengan serius oleh umat Muslim sendiri. Sementara agama lain dan komunitas negara lain begitu konsisten menekuni kedua bidang ini. Jadi agaknya, kesan saya, umat Muslim di negara ini masih banyak yang hanya eforia dalam ”kulit” agama. Giliran kalah dalam perolehan rezeki paling-paling hanya bisa gigit jari…
Duh Gusti, wallahu a'lam bae lah....
Sumber: Foto 1 , foto 2, foto 3
Muhammad Kurtubi, lulusan MANU Buntet Pesantren Cirebon
Oleh: Hambali Aselih
Suatu hari ada seorang pemburu yang pulang berburu sambil memanggul hewan buruannya yang sudah diikat. Ketika pemburu itu lewat dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tanpa terduga hewan itu mengadu kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan berkata, "Ya, Rasulullah! Aku mempunyai anak yang sekarang lagi kelaparan dan kehausan, aku takut anakku akan mati kelaparan dan kehausan.
Tolonglah aku, ya Rasulullah! Mintalah sama pemburu ini untuk melepaskan aku dan mengizinkan aku untuk memberi makan dan menyusui anakku, nanti setelah anakku kenyang dan tidak dahaga lagi, aku berjanji akan kembali lagi, aku rela diikat kembali dan dibawa pulang oleh pemburu ini."
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pun balik bertanya kepada hewan itu, "Bila nanti kamu berbohong dan tidak kembali lagi." Sang hewan pun menjawab, "Ya, Rasulullah! Bila aku tidak kembali lagi, aku rela dilaknat dan dikutuk oleh Allah Subhanahu Wata’ala sama seperti Allah Subhanahu Wata’ala melaknat dan mengutuk orang yang mendengar namamu disebutkan namun ia tidak mengucapkan sholawat kepadamu.
Lantas Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam pun meminta kepada pemburu tersebut untuk melepaskan hewan buruannya. Bahkan Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam rela dirinya menjadi jaminan hingga kembalinya hewan tersebut. Lalu pemburu tersebut melepaskan hewan buruannya dan menunggunya kembali. Dan tak lama kemudian, hewan tersebut kembali. [diiterjemahkan dari kitab Irsyadul Ibad, halaman 62 tentang keutamaan membaca sholawat]***
Oleh: Hambali Aselih
Suatu hari ada seorang pemburu yang pulang berburu sambil memanggul hewan buruannya yang sudah diikat. Ketika pemburu itu lewat dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tanpa terduga hewan itu mengadu kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan berkata, "Ya, Rasulullah! Aku mempunyai anak yang sekarang lagi kelaparan dan kehausan, aku takut anakku akan mati kelaparan dan kehausan.
Tolonglah aku, ya Rasulullah! Mintalah sama pemburu ini untuk melepaskan aku dan mengizinkan aku untuk memberi makan dan menyusui anakku, nanti setelah anakku kenyang dan tidak dahaga lagi, aku berjanji akan kembali lagi, aku rela diikat kembali dan dibawa pulang oleh pemburu ini."
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pun balik bertanya kepada hewan itu, "Bila nanti kamu berbohong dan tidak kembali lagi." Sang hewan pun menjawab, "Ya, Rasulullah! Bila aku tidak kembali lagi, aku rela dilaknat dan dikutuk oleh Allah Subhanahu Wata’ala sama seperti Allah Subhanahu Wata’ala melaknat dan mengutuk orang yang mendengar namamu disebutkan namun ia tidak mengucapkan sholawat kepadamu.
Lantas Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam pun meminta kepada pemburu tersebut untuk melepaskan hewan buruannya. Bahkan Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam rela dirinya menjadi jaminan hingga kembalinya hewan tersebut. Lalu pemburu tersebut melepaskan hewan buruannya dan menunggunya kembali. Dan tak lama kemudian, hewan tersebut kembali. [diiterjemahkan dari kitab Irsyadul Ibad, halaman 62 tentang keutamaan membaca sholawat]***
Oleh: Hayat Fakhrurrozi
Tidak seperti biasanya, hari itu sayyidina Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu pulang lebih awal menjelang ashar. Sayyidatina Fatimah Radhiallahu Anha putri Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyambut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu sayyidina Ali Radhiallahu Anhu membawa uang lebih banyak karena keperluan di rumah makin besar. Sesudah melepas lelah, sayyidina Ali Radhiallahu Anhu berkata kepada sayyidatina Fatimah Radhiallahu Anha. "Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun."
Sayyidatina Fatimah Radhiallahu Anha menyahut sambil tersenyum, "Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Subhanahu Wata'ala." Sayyidina Ali Radhiallahu Anhu pun menjawab, "Terima kasih." Dan sepertinya mata beliau memberat lantaran isterinya begitu tawakal. Padahal keperluan dapur sudah habis sama sekali. Walau demikian sayyidatina Fatimah Radhiallahu Anha, tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.
Sayyidina Ali Radhiallahu Anhu, lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan shalat berjamaah. Sepulang dari shalat, di jalan beliau dihentikan oleh seorang lelaki tua. "Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?" sayyidina Ali Radhiallahu Anhu pun menjawab dengan heran. "Ya betul. Ada apa, Tuan?" Orang tua itu mencari kedalam kantongnya sesuatu seraya berkata: "Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar upahnya, tapi ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya." Dengan gembira sayyidina Ali Radhiallahu Anhu mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.
Kabar ini tentu saja membuat sayyidatina Fatimah Radhiallahu Anha sangat gembira ketika mendengar cerita kejadian ini. Lantas beliau pun menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari. Tak lama kemudian, sayyidina Ali Radhiallahu Anhu pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, beliau melihat seorang fakir menadahkan tangan, sambil berucap, "Siapakah yang mau menghutangkan hartanya karena Allah Subhanahu Wata'ala, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan." Tanpa berfikir panjang, sayyidina Ali Radhiallahu Anhu pun memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.
Pada waktu beliau pulang, tentu saja, sayyidatina Fatimah Radhiallahu Anha keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa. Lalu sayyidina Ali Radhiallahu Anhu menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya. Sayyidatina Fatimah Radhiallahu Anha, masih dalam senyum dan berkata, "Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta karena Allah Subhanahu Wata'ala daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan yang menutup pintu syurga untuk kita." Pertanyaannya, mampukah kita meniru hal demikian??
Oleh: Hayat Fakhrurrozi
Tidak seperti biasanya, hari itu sayyidina Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu pulang lebih awal menjelang ashar. Sayyidatina Fatimah Radhiallahu Anha putri Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyambut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu sayyidina Ali Radhiallahu Anhu membawa uang lebih banyak karena keperluan di rumah makin besar. Sesudah melepas lelah, sayyidina Ali Radhiallahu Anhu berkata kepada sayyidatina Fatimah Radhiallahu Anha. "Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun."
Sayyidatina Fatimah Radhiallahu Anha menyahut sambil tersenyum, "Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Subhanahu Wata'ala." Sayyidina Ali Radhiallahu Anhu pun menjawab, "Terima kasih." Dan sepertinya mata beliau memberat lantaran isterinya begitu tawakal. Padahal keperluan dapur sudah habis sama sekali. Walau demikian sayyidatina Fatimah Radhiallahu Anha, tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.
Sayyidina Ali Radhiallahu Anhu, lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan shalat berjamaah. Sepulang dari shalat, di jalan beliau dihentikan oleh seorang lelaki tua. "Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?" sayyidina Ali Radhiallahu Anhu pun menjawab dengan heran. "Ya betul. Ada apa, Tuan?" Orang tua itu mencari kedalam kantongnya sesuatu seraya berkata: "Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar upahnya, tapi ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya." Dengan gembira sayyidina Ali Radhiallahu Anhu mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.
Kabar ini tentu saja membuat sayyidatina Fatimah Radhiallahu Anha sangat gembira ketika mendengar cerita kejadian ini. Lantas beliau pun menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari. Tak lama kemudian, sayyidina Ali Radhiallahu Anhu pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, beliau melihat seorang fakir menadahkan tangan, sambil berucap, "Siapakah yang mau menghutangkan hartanya karena Allah Subhanahu Wata'ala, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan." Tanpa berfikir panjang, sayyidina Ali Radhiallahu Anhu pun memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.
Pada waktu beliau pulang, tentu saja, sayyidatina Fatimah Radhiallahu Anha keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa. Lalu sayyidina Ali Radhiallahu Anhu menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya. Sayyidatina Fatimah Radhiallahu Anha, masih dalam senyum dan berkata, "Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta karena Allah Subhanahu Wata'ala daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan yang menutup pintu syurga untuk kita." Pertanyaannya, mampukah kita meniru hal demikian??
Pergulatan Intlektual Imam al-Ghazali

Orang "Hebat" yang Terpuruk tetap harus Dihormati
Memoar Santri Buntet Pesantren
Memoar Santri Buntet Pesantren
Unsur Islam Dalam Pewayangan
Seri Mengenang Tokoh Buntet (4) : KH. Hamim
Hirarki Kewalian
Khaerul Anam, Santri Buntet yang Terobsesi pada Einstein
Mengenang KH. Mahfudz Bakri
Inilah Pidato Sambutan Ketua Yayasan pada Haul Buntet Pesantren 2014
KH. Lutfi El-Hakim bin KH. Fuad Hasyim Wafat



