Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

PEKERJAAN PARA KYAI

PEKERJAAN PARA KYAI

Posted by Unknown  |  at  12:21 AM

“Setiap orang punya maqam. Dan dalam setiap maqam, skala prioritas amalnya berbeda dari maqam lainnya,” ujar Kyai Bisri Mustofa.
Bagi orang yang maqamnya ‘alim, yaitu telah (relatif) sempurna pengetahuannya tentang (syariat) agama, mengajar adalah amal paling utama baginya. Yang maqomnya muta’allim (pelajar): ya belajar. Yang maqomnya mutaharrif, yaitu orang yang mempunyai tanggungan nafkah tapi tidak bisa memperoleh penghasilan kecuali dengan bekerja setiap harinya, bekerja (mencari nafkah) adalah amal paling utama baginya.
Pada mulanya, Kyai Ma’shum rahimahullah, ayahanda Kyai Ali Ma’shum, berdagang secara berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya, dengan jadwal yang tetap. Demikian dikisahkan dalam buku biografi beliau, karya M. Luthfi Thomafi. Diantara langganannya adalah pasar-pasar di Cirebon, Demak dan Jombang. Di setiap kota itu Kyai Ma’shum membagi waktu. Usai berdagang di pasar, sejumlah santri telah menunggunya di masjid, untuk memperoleh pengajaran berbagai kitab darinya.
Bertahun-tahun beliau menekuni pola kegiatan itu, dengan maksud menjaga keseimbangan antara mencari nafkah dan mengajarkan ilmu. Sampai akhirnya Kanjeng Nabi Muhammad Saw. datang di salah satu mimpinya dan memerintahkannya berhenti berdagang untuk kemudian membangun pesantren dan mengkhususkan diri dengan mengajarkan ilmu saja. Kyai Ma’shum patuh. Pesantren dibangunnya di Desa Soditan, Lasem, kemudian berhenti berdagang sama sekali dan menghabiskan seluruh waktunya untuk mengajar.
Ada lagi, Kyai Abdul Wahab Husain rahimahullah yang sudah punya tanggungan santri yang cukup banyak di pesantrennya di Desa Kauman, Sulang, Rembang. Tapi Kyai Wahab tetap menekuni pekerjaannya sebagai polangan (pedagang) kambing. Menjelajahi desa-desa untuk membeli kambing-kambing petani adalah pekerjaan beliau sehari-hari. Pada hari pasaran, sendiri pula beliau menggiring kambing-kambing itu ke pasar hewan.
Hari itu, dengan topi laken khas polangan dan pecut di tangan, Kyai Wahab menggiring kambing-kambingnya menyusuri jalan raya. Susah payah ia jaga agar kambing-kambing itu tidak melantur terlalu ke tengah, walaupun jalan raya agak sepi. Tiba-tiba sebuah mobil yang berjalan lambat-lambat dari arah belakang melintasinya. Kurang ajarnya, mobil itu malah sengaja menerjang barisan kambing-kambingnya sehingga kocar-kacir tak karuan. Sudah tentu Kyai Wahab kaget, kelabakan dan berang bukan alang kepalang! Apalagi mobil itu malah lantas berhenti tidak jauh darinya, seolah menantang!
Di kursi belakang terlihat ada seorang penumpang, tapi kurang jelas karena kacanya gelap. Kyai Wahab yang jadhug lagi berangasan tak memperdulikan lagi kambing-kambingnya. Dengan penuh amarah ia hampiri jendela di samping penumpang itu. Ia yakin, itu boss, yang punya mobil. Digebraknya atap mobil dengan garang, sekalian melampiaskan kekesalan. Kaca jendela diturunkan, dan sebuah kepala melongok keluar. Bukan main kagetnya Kyai Wahab, ternyata orang itu adalah Kyai Bisri Mushtofa, gurunya sendiri!
“Sudah jadi kyai, punya pondok, kok santrinya ditinggal polangan wedhus. Pulang sana!” kata Kyai Bisri.

Memuji atau Menyembah Rasulullah

Memuji atau Menyembah Rasulullah

Posted by Unknown  |  at  7:53 PM

Makna puji dan sembah secara bahasa bukan hanya tidak berjauhan, tetapi juga bertetangga samping menyamping. Keduanya akur di dalam kamus. Tetapi ini juga yang bikin kalap sekelompok kecil umat Islam seperti kesurupan kalau ada saudaranya memuji Rasulullah SAW.

Bagi orang Islam berjumlah kecil ini, memuji dan menjunjung Rasulullah SAW dengan bacaan sholawat atau upacara tertentu sederajat dengan penyembahan lazimnya kepada Allah. Mereka menyebut muslim penyanjung dan pemuji Rasulullah mengidap syirik bahkan kafir.

Menanggapi orang kalap itu, Sayid Ahmad Zaini Dahlan seorang mufti yang sangat disegani di Mekah abad 19 itu tidak terpancing geram. Ia cukup duduk di kursinya lalu menulis risalah panjang untuk mematahkan pendapat mereka.

Dalam risalah berjudul Ad-Durorus Saniyyah fir Roddi alal Wahhabiyyah, ulama yang wafat 1886 M ini menyatakan, khayalan mereka itu tidak benar. Masak orang bertawasul dan berziarah ke makam Rasulullah SAW bisa menjadi syirik dan kafir? Padahal Allah sendiri di dalam Al-Quran menyanjung utusan-Nya dengan penghormatan tertinggi dari segala jenis penghormatan yang pernah diberikan-Nya.

Karenanya, kata Syekh Ahmad Zaini Dahlan, kita wajib menakzimkan orang yang ditakzimkan Allah. Dan Dia memerintahkan untuk itu. Semua bentuk ketakziman kepada Rasulullah SAW sama sekali tidak dilarang sejauh menjaga ketentuan syariah dan rambu-rambu keesaan.

نعم يجب علينا ان لا نصفه بشئ من صفات الربوبية و رحم الله الابوصيري حيث قال

دع ما ادعته النصارى في نبيهم * واحكم بما شئت مدحا فيه واحتكم

فليس في تعظيمه بغير صفات الربوبية شئ من الكفر و الاشراك بل ذلك من اعظم الطاعات و القربات و هكذا كل من عظمهم الله تعالى كالانبياء و المرسلين صلوات الله و سلامه عليه و عليهم اجمعين و كالملائكة و الصديقين و الشهداء و الصالحين قال تعالى وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَآئِرَ اللهِ فاِنَّهَا مِنْ تَقوَى الْقُلوبِ .الحج و قال تعالى وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللهِ فهُوَ خَيْرٌ لهُ عِنْدَ رَبِّهِ. الحج.

 و من تعظيمه صّلى الله عليه و سّلم الفرح بليلة ولادته و قراءة المولد و القيام عند ذكر ولادته صلى الله عليه و سلم و اطعام الطعام و غير ذلك مما يعتاد الناس فعله من انواع البرّ فان ذلك كله من تعظيمه صّلى الله عليه و سّلم و قد افردت مسئلة المولد و ما يتعلق ﺑﻬا بالتأليف و اعتنى بذلك كثير من العلماء

“Kalau menyifatkan Rasulullah SAW dengan salah satu sifat ketuhanan, tentu saja kita dilarang. M Said al-Bushairi dalam Qashidah Burdah-nya mengatakan,

‘Tinggalkan dakwaan Nashara untuk nabi mereka * Dan tetapkan sesukamu segala pujian bagi Rasulullah dan bijaklah dalam memujinya’

Sanjungan kepada Rasulullah SAW dengan selain sifat ketuhanan, bukan bentuk syirik dan kafir. Justru itu semua terbilang bakti dan bentuk taqarub terbesar kepada Allah. Demikian juga berlaku kepada mereka yang dimuliakan Allah, seperti para nabi, rasul, malaikat, mereka yang teguh iman, syuhada, dan orang saleh. Dalam surah Al-Haj Allah berfirman, ‘Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar-Nya, maka syiar itu adalah ketakwaan hati.’ Masih di surah yang itu juga, ‘Siapa saja menakzimkan yang dimuliakan Allah, maka tindakannya itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya’.”

Bentuk penakziman kepada Rasulullah SAW antara lain menyatakan kebahagiaan di malam kelahiran beliau, membaca kitab maulid, berdiri ketika disebut saat-saat kelahirannya, memberi makanan yang biasa disebut berkat, dan segala bentuk kebaikan yang biasa dilakukan umat Islam di bulan maulid. Semua itu, kata Sayid Ahmad Zaini, diulas ulama secara khusus pada karya mereka. Ulama memberikan perhatian istimewa pada isu ini.

Setuju 100%! kata Syekh Islam Ibrahim al-Bajuri. Dalam menguraikan syair Burdah al-Bushairi di atas, al-Bajuri mengatakan setiap umat Islam harus menyatakan pujian yang layak kepada Rasulullah SAW sesuai dengan pangkat dan derajatnya yang sangat tinggi dan mulia di sisi Allah. Tentu dengan catatan berikut agar tidak offside.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تطرونى كما أطرت النصارى المسيح ولكن قولوا عبد الله ورسوله

Rasulullah SAW bersabda, “Jangan kalian sanjung aku kelewat batas seperti umat Nashara menyanjung al-Masih. Tetapi sebutlah aku sebagai hamba dan utusan Allah.”

Semua bentuk pemuliaan dan sanjungan tinggi kepada Rasulullah SAW tidak mengandung kebatilan sejauh tidak menempatkannya sebagai Tuhan. Dan warga NU sudah maklum Rasulullah SAW kendati dikaruniakan Allah derajat sangat istimewa, tetap juga posisinya sebagai makhluk. Demikian keterangan al-Bajuri pada Hasyiyatul Bajuri ala Matnil Burdah. Wallahu A’lam (Alhafiz K)

dari NU Online

Kyai Ahmad Tidjani Umar Anas

Kyai Ahmad Tidjani Umar Anas

Posted by Unknown  |  at  7:47 PM

Buntet Pesantren dengan umurnya yang sudah mencapai beberapa generasi membuatnya telah mencetak para ulama ‘alim, salah satunya adalah Kyai Anas yang tak lain merupakan adik kandung dari Kyai Abbas, sesepuh Buntet Pesantren saat itu (Sesepuh Buntet Pesantren yang ke 4). Beliau bersama Kyai-Kyai yang lain yang masih kerabatnya bahu membahu membantu sesepuh Buntet Pesantren dalam mengembangkan Pesantren yang didirikan oleh Mbah Muqoyyim ini.

Bapa Ahmad Zaeni Hasan, Ayah dari Bapak Helmi Faisal Zaeni (Mentri Pemberdayaan Daerah Tertinggal) dalam buku “Perlawanan dari Tanah Pengasingan Kyai Abbas, Pesantren Buntet dan Bela Negara (Jakarta: eLSAS, 2000) menganalogikan waktu itu “sinar” Kyai Abbas benar-benar terang sehingga Kyai-Kyai yang lain tampak kurang/tidak bersinar. Lebih lanjut Bapa Zaeni Hasan menyebutkan bahwa salah satu Kyai yang sebenarnya “bersinar terang” adalah Kyai Anas. Kyai Anas dikenal begitu tawadlu, beliau lebih memilih menjadi “orang di balik layar” kesuksesan Buntet Pesantren dibanding menjadi yang tampil di muka. Bahkan akhirnya beliau lebih memilih uzlah, menyingkir dari Buntet Pesantren dan mendirikan Pesantren Sidamulya di daerah yang berbatasan dengan Buntet Pesantren,

Permalink gambar yang terpasang
Kyai Ahmad Tidjani beserta istri saat ziarah di Panjalu,
beberapa hari sebelum beliau wafat
Sifat-sifat Kyai Anas yang ‘alim dan tawadlu ternyata menurun ke anak cucunya, salah satunya adalah Kyai Ahmad Tidjani bin Kyai Umar bin Kyai Anas, yang satu pekan kemarin dipundut Allah SWT.
Jasa-jasa Kyai Ahmad Tidjani untuk Buntet Pesantren sudah tidak terhitung, beliau menjadi pengasuh Pondok Darul Hijroh, beliau juga menjadi pengurus YLPI Buntet Pesantren selama beberapa periode dan salah satu yang dapat dengan jelas terlihat adalah Gedung MTs NU Putra 1 Buntet Pesantren yang sekarang berdiri megah, beliaulah salah satu orang yang begitu gedubugan demi terwujudnya renovasi gedung sekolah yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan saat itu.

Sewaktu Buntet Pesantren dipimpin oleh Kyai Dulah, beliaulah salah satu “tangan kanan” Kyai Dulah. Sifat Kyai Ahmad yang jujur dan ikhlas membuat Kyai Dulah begitu mempercayakan banyak hal dan urusan kepada Kyai Ahmad Tidjani. Sifatnya yang benar-benar tawadlu dan tidak mau “tampil” mungkin membuat banyak orang kurang faham dengan peran beliau yang sangat vital untuk Buntet Pesantren.

Setiap ada acara besar atau tamu besar yang datang, hampir bisa dipastikan Kyai Ahmad tidak ada di tengah-tengah acara tersebut atau turut menemui tamu tersebut. Kalaupun datang, mungkin beliau sengaja kari-karian agar tidak “tersorot” oleh khalayak.

Suatu kali, Buntet Pesantren kedatangan Hamzah Haz dan saat itu diantara yang nuai Pengurus Yayasan adalah Kang Soleh Suaedi Busyrol Karim (Kang Ale) dan Kyai Ahmad Tidjani. Karena itu, Kang Ale yang faham dengan sifat Kyai Ahmad -yang tidak mau tampil- berinisiatif ngampiri Kyai Ahmad Tidjani. Berbagai argumen dikeluarkan oleh Kang Ale untuk membujuk Kyai Ahmad agar berkenan turut serta menyambut kedatangan Hamzah Haz, dan berbagai alasan pula yang diungkapkan Kyai Ahmad agar Kang Ale pergi duluan (pergi tanpa bersamanya).

 “Kulae dereng siram, dereng siap-siap”. Ujar Kyai Ahmad sebagai salah satu alasan agar beliau tidak perlu ikut dengan Kang Ale.

Ketika Kyai Nahdudin, sesepuh Buntet Pesantren yang sekarang rawuh di Buntet, beliau enggan untuk singgah di ndalemnya yang lama karena ndalem tersebut begitu dekat dengan ndalem Kyai Nahdudin. Sekali lagi, beliau tidak ingin “tampil” di sekitar pamannya (Kyai Nahdudin) saat banyak tamu mengunjungi Kyai Nahdudin.

Yang masih terkini, beberapa saat sebelum diadakan Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Cirebon, salah satu bakal calon datang ke ndalem Kyai Ahmad. Seperti biasa, bakal calon tersebut showan, minta petunjuk, restu, dan (mungkin juga) dukungan. Namun dari sejak bakal calon tersebut datang sampai bakal calon tersebut mau pamit, Kyai Ahmad tidak berkenan menemui tamu tersebut dan lebih memilih diam di kamarnya.

Semua kehilangannya
Kepergian Kyai Ahmad menghadap Sang Kholiq membuat begitu banyak kalangan kehilangannya. Beliau dikenal begitu ngladeni terhadap santri dan jamaahnya. Saat isyhad jenazah Nyai Ghumaeshoh (satu hari setelah Jenazah Kyai Ahmad dikebumikan), Kyai Hasanudin Kriyani menuturkan bahwa Kyai Ahmad kapanpun dan kemanapun beliau selalu memenuhi permintaan siapapun orang/jamaah yang minta dipimpin ziarah oleh beliau. Beberapa hari sebelum wafat, beliau memimpin rombongan ibu-ibu yang rutin mengikuti pengajiannya ke Panjalu dan Pamijahan. Bahkan Hanya beberapa jam, belum sampai satu hari (24 jam) setibanya dari ziarah Panjalu-Pamijahan, beliau berziarah ke daerah Sumber.

Beliau juga dikenal begitu menjaga ukhuwah dan silaturrahim baik kepada keluarga, rekan-rekan guru, bahkan para santri dan/atau alumninya kerap beliau kunjungi. Beberapa hari sebelum berangkat ziarah ke Panjalu dan Pamijahan, beliau masih menyempatkan diri ke Tegal untuk menemui para alumninya. Kalaupun tidak sanggup bertatap muka secara langsung, beliau pasti akan menghubunginya lewat telpon.

“Ya syukur ari sehat sih, nyongan jeh beli pernah kedeleng, dadi ya biasa bae “wong tua” sih kelangan”. Ucap Kyai Ahmad kepada salah satu rekan guru -yang menceritakan kepada kami- yang ditelponnya. Beliau menganggap dirinya adalah orang tua yang punya tanggung jawab terhadap orang-orang di sekitarnya.

Para santrinya yang sudah tidak mondok (alumni) juga rutin dihubungi oleh beliau. Beliau menanyakan kualitas, kuantitas, dan intensitas ibadah santri-santrinya.
“Priben sholat bengie? Masih rutin kan? Dongana bapa keding”
“Lamon bisa dirutinna puasa sunnah, apa senen-kemis, apa Nabi Daud.”
Hal-hal di atas, diantara yang diucapkan Kyai Ahmad saat menelpon santrinya, seperti yang dituturkan oleh salah satu alumni santri Darul Hijroh II (Al Arifah)
Kepada keluarga, beliau begitu ngaku dan menjaga ikatan silaturrahim. Menurut Ust. Syauqi (Kang Ugi), sejak Ibunya yaitu Nyai Maesoh jatuh sakit, Kyai Ahmad rutin menjenguk dan mendoakan beliau. Bahkan sampai malam jum’at seminggu yang lalu, atau satu malam sebelum Kyai Ahmad kembali ke sisi Allah, Kyai Ahmad masih menyempatkan diri melakukan rutinitas malam jumatnya. Padahal kamis dini hari, beliau baru sampai dari ziarah Pamijahan-Panjalu, dan hari kamis itu, beliau juga ada agenda ziarah ke Sumber.
Kegiatan pembacaan Manaqib At-tijani yang di pelopori oleh KH. Abdullah Toha (Pengasuh PonPes Raudlatul 'Ulum) dan KH. Ahmad Tidjani yang dilaksanakan di Pondok PonPes Raudlatul 'Ulum, Terisi Indramayu yang rutin dilaksanakan stiap bulan -malam jum'at minggu terakhir- dan di pelopori oleh KH. Abdullah Toha (Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul 'Ulum) dan KH. Ahmad Tidjani Umar Anas.
Thoriqot tijani berkembang di Indonesia,salah satunya di Buntet dan dirintis oleh Kakek K. Ahmad :K. Anas
Rasa tanggung jawabnya terhadap tugas dan jamaahnya membuat beliau terus beramal baik sampai akhir umurnya. Dengan aktifitas yang begitu padat (Tegal, Pamijahan-Panjalu, Ziarah ke Sumber, Menjenguk Nyai Maesoh), Jum’at pagi beliau masih memenuhi tanggung jawabnya sebagai guru di salah satu sekolah, beliau mengajar murid-muridnya meskipun tidak “penuh”. Kepada murid-muridnya, beliau merasakan kurang enak badan, kemudian beliau pamit, semua muridnya pun menyalaminya saat itu. Dengan badan yang tidak fit, beliau masih memenuhi kewajibannya menjalankan sholat Jum’at. Selepas sholat Jum’at, beliau dibawa ke Rumah Sakit Ciremai dan langsung masuk ruang ICU hingga wafat di sana. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rooji’un.

Nasihat-nasihat Kyai Ahmad Tidjani
Selain memiliki sifat yang mirip dengan kakeknya, banyak kerabat dan kolega yang mengatakan bahwa beliau memiliki sifat mirip pamannya, Kyai Abdullah Abbas yang sangat irit bicara, karena itu perkataan-perkataan yang keluar dari lisannya hampir semuanya adalah kebaikan baik ilmu, nasihat, motivasi, dan sebagainya. Bahkan menurut Pa Ubed (salah satu teman seperjuangannya) guyonan yang sesekali keluar juga gaya guyonnya sangat mirip dengan gaya guyonnya Kyai Abdullah Abbas.
Berikut, kami cantumkan beberapa nasihat-nasihat beliau yang kami dapat dari anaknya, Ust. Nemi Mu’tashim Billah. Dari beberapa nasihat ini, kita juga dapat melihat sedikit sosok Kyai Ahmad Tidjani Umar Anas.

1.      “Nggak perlu gila jabatan. karena jabatan itu sifatnya sementara”.

2.      “Nggak perlu kirim-kirim Proposal. Proposal utama yg perlu diajukan adalah proposal ke Allah SWT”.

3.      “Iqra' tidak hanya membaca buku tapi juga membaca diri”.

4.      “Memelihara silaturrahim jauh lebih susah daripada membangunnya”.

5.      “Bapa tidak membutuhkan sertifikasi Guru. Bapa lebih membutuhkan Sertifikasi Allah SWT”.

6.      “Apa yg benar menurut kita, belum tentu benar menurut orang lain”.

7.      “Orang-orang itu berhak utk memeluk Agamanya sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing”.

8.      “Biarlah mereka meyakini surga menurut versi mereka sendiri. Kita tidak boleh memaksakan kehendak soal keyakinan masing2”.

9.      “Apa yg terjadi pada diri kita itu adalah karena perilaku kita sendiri”.

10.   “Orang itu tidak semua senang (ke kita) tidak semua benci (ke kita”.

11.   “Ciri-ciri ikhlas itu adalah ketika kita bisa tersenyum kepada orang yg kita benci”.

12.   "Janganlah menjadi seperti lilin yg bisa memberi manfaat kepada lainnya tapi tidak bisa bermanfaat untuk diri sendiri".

13.   "Kebaikan jangan diucapkan tapi cukup untuk di dalam hati saja".

14.   “Hati adalah singgasana yg diperebutkan oleh ilham Allah dan ilham setan”.

15.    “Tapi jika hati dikuasai ilham setan maka niscaya orang menjadi fasiq”.

16.   “Ingin agar doa itu di kabul Allah... 1. Jangan su'udzon kepada Allah 2. Jangan suka berbohong”.

17.   “Bersyukur itu ada 2 1. Bersyukur qouliyah dan bersyukur fi'liyah”.

Wong Buntet Pesantren ning London

Wong Buntet Pesantren ning London

Posted by Unknown  |  at  10:49 AM

Assalamualaikum War, Wab.

Hi Adik - adik semua,

Sebetulnya sih, saya sudah lama ingin mengirim berita dari London, tapi saya kira web BuntetPesantren itu sudah tutup sama sekali. Yang terahir saya mendapat berita, bahwa web Buntet Pesantren itu sudah tidak dilanjutkan lagi, karena kekurangan biaya dan tidak ada yang mempunyai waktu lagi untuk mengelolanya. Pada waktu itu, saya merasa kecewa sekali dengan bubarnya web Buntet Pesantren itu, karena, paling tidak saya terasa pulang di Buntet Pesantren, kampung saya lahir kalau membaca beritanya, tapi mungkin itu saya being selfish saja. Tapi ya why not, saya kan jarang sekali datang ke Buntet Pesantren, malah se ingat saya, selama lebih dari 43 tahun saya di London, saya hanya sekali saja menyaksikan Haul  lagi di Buntet Pesantren, yaitu pertengahan tahun delapan puluhan.

Apakah tidak mungkin, demi tidak terjadi kejadian serupa, yaitu penutupan Situs Buntet Pesantren ini, menawarkan kepada perusahaan-perusahaan yang ada baik di Cirebon sendiri atau dimana saja sekitar Indonesia. Untuk mengandfertensikan (mempromosikan) perusahaannya di Situs Buntet Pesantren ini, dengan harapan mereka bersedia membantu terus terbitnya Situs Buntet Pesantren ini. Bukan kah Situs NU sendiri banyak dibantu oleh perusahaan-perusahaan, yang mengadfertensikan perusahaannya pada penerbitan Situs NU. Yang punya Facebook juga, hidup mewahnya itu dari hasil-hasil Advertensi yang ada di Facebook.

Di London, ada evening paper (koran yang terbitnya siang dan sore), namanya Evening Standard, tadinya sih ada lagi yang namanya Evening News, tapi Evening News, sudah lama bangkrut. Jadi sekarang yang masih ada itu Evening Standard saja setahu saya, yang terbitnya siang itu. Evening Standard, terbit tiga kali sehari, yaitu pagi jam 9, siang sekitar jam 1, dan sore sekitar jam 5. Beritanyapun beda diantara tiga penerbitan itu. Yang terbit pagi beritanya, apa yang terjadi sampai hari itu sekitar jam 8, sedang yang terbit siang juga begitu, beritanya apa yang terjadi ampai sekitar jam 12, disamping berita selanjutnya dari berita penerbitan yang pagi, dan yang terbit sore juga begitu selanjutnya. Evening Standard itu sekarang di beli orang Rusia yang kaya, dia memutuskan bahwa koran Evening Standard itu tidak dijual lagi, tapi dikasihkan gratis saja kepada pembacanya yang mau. Yang punya koran itu, sudah banyak menerima uang, dari perusahaan-perusahaan dan orang-orang yang mengadfertensikan pada Evening Standard. Dari hasil uang dari perusahaan-perusahaan dan orang-orang yang mengadfertensikan di Evening Standard itu, lebih dari cukup untuk membayar gaji wartawan-wartawannya, juga biaya untuk memproduksi koran itu.

London banyak mempunyai koran, baik koran-koran lokal (maksudnya yang beritanya banyak mengenai yang terjadi di London saja), maupun koran-koran Nasional (yang terbit untuk semua orang di Inggris Raya), malah ada juga koran-koran International. Bagi saya koran yang biasa saya dan istri saya beli sekarang adalah Dailly Mirror atau The Sun. Waktu saya baru datang di Inggris dan beberapa tahun sesudahnya sih, koran yang suka saya beli ialah The Guardian dan The Daily Telegraph, dan kadang-kadang juga The Times. Tapi akhir-akhir ini, koran-koran seperti itu, terlalu banyak isinya yang untuk saya kurang perlu membacanya dan juga bentuknya terlalu lebar, jadi bagi saya susah untuk membacanya. Tidak seperti The Daily Mirror atau The Sun, yang bentuknya kecilan meskipun tebal.

Dulunya, koran-koran itu kebanyakan di produksi di Fleet Street. Jadi Fleet street itu, terkenal di seluruh dunia sebagai tempat di produksinya berita, baik untuk rakyat Inggris Raya sendiri, maupun untuk berita bagi rakyat di seluruh dunia. Fleet Street itu terletak antara Charring Cross dan St Paul. St Paul itu Gereja Anglican yang besar di London, yang sering dipakai oleh pemerintah dan keluarga kerajaan untuk mengadakan slamatan. Mungkin kakak adik-adik masih ingat waktu Princess Diana kawin dengan Prince Charles, juga di adakan di St Paul. Gereja Anglican besar lainnya, yang malah lebih sering dipergunakan pemerintah dan keluarga kerajaan, ialah Gereja Westminster Abbey, itu mungkin karena letak Westminster Abbey, dekat sekali dari gedung Parlemen dan Buckingham Palace.

Di Inggris, sampai sekarang, wartawan dan orang-orang yang kerja di perusahaan koran, di panggil Fleet Street men, meskipun sekarang ini perusahaan koran itu sudah banyak piundah dari Fleet Street. Beberapa tahun yang lalu, memang perusahaan koran sudah banyak pindah ke daerah yang baru yang lebih luas dari Fleet Street, yaitu daerah baru namanya Canary Wharf. Sekarang Canary Wharf itu menjadi daerah baru di London yang mahal untuk tinggal disitu, karena rumah dan apartment di situ mahal sekali. Bukan hanya perusahaan koran saja yang pindah kesana, tapi juga Bank-bank Inggris dan Internatinal pun pindah kesana yang tadinya di daerah, yang terkenal dengan nama London City.

Tahun 2013 yang akan habis ini, bagi keluarga saya di London, sebagai tahun yang banyak peringatan manis bagi semua kelarga saya di London. Pada hari-hari sebelum orang-orang Inggris yang Kristen meramaikan hari natal, adik istri saya kedua yang terkecil, Miriam Dunggio baserta suaminya Dokter Mohammad Isa Parri dan dua anaknya, berholiday ke London untuk beberapa hari, dan malah mereka sempat pergi ke Belanda dan Paris. Dengan sendirinya, istri saya dan saya pun senang sekali, atas kedatangan saudara sendiri dari Indonesia. Mereka tinggal dengan kami selamna 3 minggu, dan untungnya pada hari-hari selama mereka di London, tidak seharipun turun salju yang lebat, tapi tetap dingin sekali. Menurut saya, kalau mau ke London untuk holiday, janganlah datang antara bulan November sampai bulan awal Maret, kecuali kalau ingin merasakan dinginnya London di musim dingin. Yang baik untuk datang ke London adalah bulan April sampai awal September, Insya Allah, pada bulan itu tidak begitu dingin.

Karena Saudara Isa Parri itu juga supporter of sport, maka dia di antar oleh anak saya Bayu, untuk melihat stadium-stadium sport yang juga terkenal di Indonesia, seperti gedung sepak bola Arsenal dan Chelsea. Juga gedung olah raga tennis di Wimbledon, yang tiap tahun diadakan kejuaraan Inggris Terbuka Tennis, yang terkenal seluruh dunia, di mana pemain-pemain tennis terbaik di Dunia merebutkan kejuaraan itu. Hadiah uangnya pun banyak sekali untuk yang jadi juara. Tahun 2013 ini, untuk juara single tennis di Wimbledon, mendapat 1 setengah juta pounds lebih, baik juara perempuan atau laki-laki. Bayangkan kalau sekarang 1 pound itu sama dengan lebih dari 18000 rupiah. Untuk yang kalah di round pertama saja dapat hadiah 23500 pounds. Sedang menjadi juara badminton, barang kali dapatnya sama dengan pemain tennis yang kalah di round pertama tennis di Wimbledon.

Pada awal bulan Mei adik istri saya yang ke tiga, Masni Dunggio SH, juga datang menengok rumah saya yang kecil di London. Dia juga tinggal bersama kami selama 4 minggu, yah lumayan lama untuk sedikit menghilangkan rindu kami kepada keluarga pada khususnya dan Indoneesia pada umumnya. Masni datang ke London dengan Silk Airline dari Manado, terus ganti Singapore Airline dari Singapore ke London, pulangnyapun begitu juga, dari London menumpang Singapore Airline, dan dari Singapore menumpang Silk Airline.  jadi tidak mampir ke Jakarta sama sekali.

Lalu pada akhir bulan puasa, anak saya yang pertama,  Buyung Nahdi Sastraprawira, well, anaknya Mang Din (KH. Nahduddin Abbas / Sesepuh Buntet Pesantren) sebenarnya sih (tapi waktu kecilnya dia itu saya yang nyebokin dan mengganti pakaiannya), datang ke London beserta istri dan dua anaknya. Dia datang ke London, yang seterusnya mereka ke Perancis untuk katanya berkumpulan dengan Rabets family (Rabets itu nama family ibu Buyung) yang dari Perancis. Katanya, keluarganya mengadakan perkumpulan dengan keluarganya yang tersebar di mana-mana. Setelah selesai, Buyung dan keluarga juga kembali, malah ikut lebaran di rumah duta Indonesia London, yang bagi Buyung juga sebagai kenangan memori waktu dia kecil tiap tahun berlebaran di rumah duta Indonesia, Jadi bagi saya, tahun 2013 itu banyak yang membikin keluarga saya senang. Mudah-mudahan,  tahun yang akan datang juga akan membawa kesenangan untuk kita semua.

Sementara sekian dulu, lain waktu saya akan sambung. Tidak lupa saya meminta doa dari adik-adik semua untuk well being saya sekeluarga, juga mohon di doakan mudah-mudahan saya sempat mengikuti Haul di Buntet Pesantren, yang saya sudah terlalu lama sekali tidak menyaksikan.

Wassalamualaikum War Wab.


Ghozy Mudjahid

MAKNA SANTRI

MAKNA SANTRI

Posted by Unknown  |  at  11:47 PM

Oleh : Mariyah Ulfah
Umumnya kata santri diidentikkan bagi seseorang yang tinggal di pondok pesantren yang kesehariannya mengkaji kitab-kitab salaf atau kitab kuning,dengan tubuh dibungkussarung,peci, serta pakaian kokomenjadi pelengkap ataumenambah ciri khas tersendiri bagi mereka. Asal-usul kata santri sendiri menurut Nur Kholis Majid sekurang kurangnya ada 2 pendapat yang dapat di jadikan bahan acuhan. Pertama, berasal dari bahasa sangsekerta, yaitu "sastri", yang berarti orang yang melek huruf. Kedua, berasal dari bahasa jawa, yaitu "cantrik", yang berarti seseorang yang mengikuti kiai di mana pun ia pergi dan menetap untuk menguasai suatu keahlian tersendiri.
Berbeda menurut Dr. KH. MA. Sahal Mahfud yang justru kata santri dijadikan menjadi bahasa Arab, yaitu dari kata "santaro", yang mempunyai jama' (plural) sanaatiir (beberapa santri). Di balik kata santri tersebut yang mempunyai 4 huruf arab (sin, nun, ta', ra'), KH. Abdullah Dimyathy (alm) dari Pandegelang - Banten, mengimplementasikan kata santri sesuai dengan fungsi manusia. Adapun 4 huruf tersebut yaitu : Sin. Yang artinya "satrul al aurah" (menutup aurat) sebagaimana selayaknya kaum santri yang mempunyai ciri khas dengan sarung, peci, pakaian koko, dan sandal ala kadarnya sudah barang tentu bisa masuk dalam golongan huruf sin ini, yaitu menutup aurat. Namun pengertian menutup aurat di sini mempunyai 2 pengertian yang keduanya saling ta'aluq atau berhubungan. Yaitu menutup aurat secara tampak oleh mata (dhahiri) dan yang tersirat atau tidak tampak (bathini). Menutup aurat secara dhahiri gambarannya susuai dengan gambaran yang telah ada menurut syari'at Islam. Mulai dari pusar sampai lutut bagi pria dan seluruh tubuh kecuali tangan dan wajah bagi wanita. Gambaran tersebut merupakan gambaran yang sudah tersurat atau aturan aturan yang sudah jelas dalam syari'at. Namun satu sisi yang kaitannya makna yang tersirat (bathini) terlebih dahulu kita harus mengetahui apa sebenarnya tujuan dari perintah menutup aurat. Manusia sebagai mahluk yang mulia yang diberikan nilai lebih oleh Allah berupa akal menjadikan posisi manusia sebagai mahluk yang sempurna.
dibandingkan yang lain. Dengan akal tersebutlah akan terbentuk suatu custom atau habitual yang tentu akan dibarengi dengan budi dan naluri, yang nantinya manusia akan mempunyai rasa malu jikalau dalam perjalanannya tidak sesuai dengan rel–rel yang telah di tentukan oleh agama dan habitual action atau hukum adab setempat.
Yang kaitannya dengan hal ini, tujuan utama manusia menutup aurat tak lain adalah menutupi kemaluan yang dianggap fital yang berharga. Andaikata manusia sudah tidak dapat lagi menutup kemaluannya yang fital dan berharga itu, berarti sudah dapat ditanyakan kemanusiaannya antara manusia dan mahluk yang lain semisal hewan. Hal yang terpenting di sini adalah bagaimana manusia menutupi dan mempunyai rasa malu dalam hal sifat dan perilaku secara dhahiri atau bathini. Sebagimana disinggung dalam salah satu hadits : "Alhaya' minal iman", malu sebagian dari iman. Tentunya hal ini sudah jelas betapa besar pengaruhnya haya' atau malu dalam kacamata religius (agama) maupun sosial kemasyarakatan. Nun. Yang berarti "na'ibul ulama" (wakil dari ulama). Dalam koridor ajaran Islam dikatakan dalam suatu hadits bahwa : "al ulama waratsatul anbiya' (ulama adalah pewaris nabi). Rasul adalah pemimpin dari ummat, begitu juga ulama. Peran dan fungsi ulama dalam masyarakat sama halnya dengan rasul, sebagai pengayom atau pelayan ummat dalam segala dimensi. Tentunya di harapakan seorang ulama mempunyai kepekaan kepekaan sosial yang tahu atas problematika dan perkembangan serta tuntutan zaman akibat arus globalisasi dan modernisasi, serta dapat menyelesaikannya dengan arif dan bijak atas apa yang terjadi dalam masyarakatnya. Kaitannya dengan na'ibul ulama seorang santri di tuntut mampu aktif, merespon, sekaligus mengikuti perkembangan masyarakat yang diaktualisasikan dalam bentuk sikap dan perilaku yang bijak. Minimal dalam masyarakat kecil yang ada dalam pesantren. Sebagaimana yang kita tahu, pesantren merupakan sub-kultur dari masyarakat yang majemuk. Dan dengan didukung potensi yang dimiliki kaum santri itulah yang berfungsi sebagai modal dasar untuk memberikan suatu perubahan yang positif sesuai dengan yang di harapkan Islam. Ta'. Yang artinya "tarku al ma'shi" (meninggalkan kemaksiatan). 
Dengan dasar yang dimiliki kaum santri, khususnya dalam mempelajari syari'at, kaum santri diharapkan mampu memegang prinsip sekaligus konsisten terhadap pendirian dan nilai-nilai ajaran Islam serta hukum adab yang berlaku di masyarakatnya selagi tidak keluar dari jalur syari'at. Kaitannya hal tersebut yaitu seberapa jauh kaum santri mengaplikasikan apa yang telah mereka dapatkan dan sejauh mana pula ia memegang hubungan hablum minallah dan hablum minannas, hubungan horizontal dan vertikal dengan sang khaliq dan sosial masyarakat. Karena tarku al ma'ashi tidak hanya mencakup pelanggaran-pelanggaran hukum yang telah ditetapkanNya, tetapi juga hubungan sosial dengan sesama mahluk, baik manusia ataupun yang lain. Ra'. Yang artinya "raisul ummah" (pemimpin ummat). Manusia selain diberi kehormatan oleh Allah sebagai mahluk yang paling sempurna dibanding yang lain. Manusia juga diangkat sebagai khalifatullah di atas bumi ini. Sebagaimana diterangkan dalam firmanNya "inni ja'ilun fil ardhi khalifah" (QS. Al-Baqarah : 30), yang artinya "Sesungguhnya aku ciptakan di muka bumi ini seorang pemimpin."
Kemuliaan manusia itu ditandai dengan pemberianNya yang sangat mempunyai makna untuk menguasai dan mengatur apa saja di alam ini, khususnya ummat manusia. Selain itu pula peranan khalifah mempunyai fungsi ganda. Pertama, ibadatullah (beribadah kepada allah) baik secara individual maupun sosial, dimana sebagai mahluk sosial dalam komunitas berbangsa, ummat Islam juga dituntut memberikan manfaat kepada orang lain dalam kerangka ibadah sosial. Kedua, 'imaratul ardhi, yaitu membangun bumi dalam arti mengelola, mengembangkan, dan melestarikan semua yang ada. Jika hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan manusia itu hukumnya wajib. Maka melestarikan, mengembangkan, serta mengelola pun hukumnya wajib. Sebagaimana di jelaskan dalam salah satu kaidah fiqih; "ma la yatimmu bi hi wajib fahuwa wajib", sesuatu yang menjadikan kewajiban maka hukumnya pun wajib. Gambaran di atas merupakan suatu peran serta tanggung jawab seorang santri, dalam hal pengembangan. Di situlah diperlukan suatu mentalitas religius serta totalitas kesandaran, karena kaum santrilah yang dapat dijadikan harapan dalam mengembalikan konsep-konsep ajaran Islam dan di sini muncullah beberapa pertanyaan. Bagaimana keadaan dan perkembangan kita sebagai seorang santri? Sudah sesuaikah seperti gambaran di atas?Dan layakkah kita disebut sebagai santri? Dengan merubah diri kita dululah, maka kita akan dapat menghasilkan perubahan.
Versi lain Arti Santri condong kepada arti “kebaikan”. SANTRI dimaknai SA (sin sm alif)= SATIRUL UYUB (penutup kejelekan) N(nun)= Naibus Syuyukh (penerus ulama) T(ta')=Tarikul Ma’ashi (menjauhi larangan/maksiat) R(ro')=Roghibul Al khoirot (menyukai kabaikan) I(hamzah kasroh)= Ikhlasun fil 'amal (ihlas dalam beramal) ..semoga bermanfaat.

KELEBIHAN MEMBACA BAET AQIDATUL AWAM

KELEBIHAN MEMBACA BAET AQIDATUL AWAM

Posted by Unknown  |  at  9:47 PM

Diceritakan Dalam sebuah kitab JALAA-UL AFHAM FII SYARHI AQIIDATIL AWAM karangan syaikh ahmad al-marzuki al-maliki alhasani ketika Syech sayyid Ahmad Marzuki al-maliki al-hasani tidur, kemudian beliau bermimpi bertemu dengan Rosululloh saw dan para sahabatnya, dalam mimpi tersebut Rosululloh saw berkata kepada Syaikh Ahmad al marzuki “bacalah manzhuumatut- Tauhid (aqidatul awam)“

syaikh bertanya kpda Rasulullah saw. apa itu manzuumah at-tauhid yaa rosulallah ..??

maka Para sahabat menjawab ” Dengarkan saja apa yang akan Rosululloh saw ucapkan ” . Nabi Muhammad saw berkata ” Ucapkan..
أبـْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ والـرَّحْـمَنِ

Maka Syech Ahmad Marzukipun mengucapkan
أبـْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ والـرَّحْـمَنِ

Sampai dengan akhir Nadzhom yaitu
وَصُحُـفُ الـخَـلِيلِ وَالكَلِيمْ
فِيهَـا كَلامُ الْـحَـكَمِ الْعَلِيمْ

Nabi Muhammad saw pada saat itu mendengarkan bacaan Syaikh Ahmad almarzuki, almaliki alhasani maka saat itupula Syaikh Ahmad al marzuki terbangun dari tidurnya dan Beliau baca apa apa yang terjadi dalam mimpinya, dan ternyata Nadzhom tersebut telah terekam rapi dari awal sampai akhir nadzhom.

1.dalam mimpi tersebut Rasulallah SAW.bersabda;barang siapa yang menghafalnya dia akan masuk surga, cita-citanya kan tercapai dan mendapatkan segala macam kebaikan yang sesuai dengan Al quran dan Sunnah. akan menjadi satu mata rantai bersama rasulullah dan para sahabat .”

stelah mreka membckan baet manzhuumah at-tauhid ini sambl berpngn tngan bersma rasullah dan para sahabat.maka nabi SAW.bersabda:
waffaqallaahu ta'aala limaa yardhiihi wa qobbala minka min dzaalika wa baaroka 'alaika wa 'alaalmukminiin, wa nafa'a bihaa al-'ibaad..AAMIIN..
membacanya minimal minimal 26 ba'et ,
berikut ini nazhomnya yg 26 baet.

أَبـْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ وَالـرَّحْـمَنِ وَبِـالـرَّحِـيـْمِ دَائِـمِ اْلإِحْـسَانِ

فَالْـحَـمْـدُ ِللهِ الْـقَدِيْمِ اْلأَوَّلِ اْلآخِـرِ الْـبَـاقِـيْ بِلاَ تَـحَـوُّلِ

ثُـمَّ الـصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ سَرْمَـدَ ا عَـلَـى الـنَّـبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ وَحَّدَا

وَآلِهِ وَصَـحْـبِهِ وَمَـنْ تَـبِـعْ سَـبِـيْلَ دِيْنِ الْحَقِّ غَيْرَ مُـبْـتَدِعْ

وَبَـعْـدُ فَاعْلَمْ بِوُجُوْبِ الْمَعْرِفَـهْ مِنْ وَاجِـبٍ ِللهِ عِـشْرِيْنَ صِفَـهْ

فَـاللهُ مَـوْجُـوْدٌ قَـدِيْمٌ بَاقِـي مُخَـالِـفٌ لِلْـخَـلْقِ بِاْلإِطْـلاَقِ

وَقَـائِمٌ غَـنِـيْ وَوَاحِـدٌ وَحَيّ قَـادِرٌ مُـرِيـْدٌ عَـالِمٌ بِكُلِّ شَيْ

سَـمِـيْعٌ الْبَـصِيْـرُ والْمُتَكَلِـمُ لَهُ صِفَـاتٌ سَـبْـعَـةٌ تَـنْـتَظِمُ

فَـقُـدْرَةٌ إِرَادَةٌ سَـمْـعٌ بَصَـرْ حَـيَـاةٌ الْـعِلْـمُ كَلاَمٌ اسْـتَمَرْ

وَ جَـائـِزٌ بِـفَـضْـلِهِ وَ عَدْلِهِ تَـرْكٌ لِـكُـلِّ مُمْـكِـنٍ كَفِعْلِهِ

أَرْسَـلَ أَنْـبِيَا ذَوِي فَـطَـانَـهْ بِالصِّـدْقِ وَالـتَّـبْلِـيْغِ وَاْلأَمَانَهْ

وَجَـائِزٌ فِي حَقِّـهِمْ مِنْ عَـرَضِ بِغَـيْـرِ نَقْصٍ كَخَفِيْفِ الْمَـرَضِ

عِصْـمَـتُهُمْ كَسَـائِرِ الْمَلاَئِـكَهْ وَاجِـبَـةٌ وَفَـاضَلُوا الْـمَـلاَئِكَهْ

وَالْـمُسْـتَحِيْلُ ضِدُّ كُـلِّ وَاجِبِ فَـاحْـفَظْ لِخَمْسِيْنَ بِحُكْمٍ وَاجِبِ

تَـفْصِيْـلُ خَمْسَةٍ وَعِشْرِيْـنَ لَزِمْ كُـلَّ مُـكَـلَّـفٍ فَحَقِّقْ وَاغْـتَنِمْ

هُمْ آدَمُ اِدْرِيْسُ نُوْحٌ هُـوْدٌ مَـعْ صَالِـحْ وَإِبْرَاهِـيْـمُ كُـلٌّ مُـتَّبَعْ

لُوْطٌ وَاِسْـمَاعِيْلُ اِسْحَاقٌ كَـذَا يَعْـقُوْبُ يُوْسُفٌ وَأَيـُّوْبُ احْتَذَى

شُعَيْبُ هَارُوْنُ وَمُوْسَى وَالْـيَسَعْ ذُو الْكِـفْلِ دَاوُدُ سُلَيْمانُ اتَّـبَـعْ

إلْـيَـاسُ يُوْنُسْ زَكَرِيـَّا يَحْيَى عِـيْسَـى وَطَـهَ خَاتِمٌ دَعْ غَـيَّا

عَلَـيْـهِـمُ الصَّـلاةُ والسَّـلامُ وآلِهِـمْ مـَـا دَامَـتِ اْلأَيـَّـامُ

وَالْـمَـلَكُ الَّـذِي بِلاَ أَبٍ وَأُمْ لاَ أَكْـلَ لاَ شـُرْبَ وَلاَ نَوْمَ لَهُمْ

تَفْـصِـيْلُ عَشْرٍ مِنْهُمُ جِبْرِيْـلُ مِـيْـكَـالُ اِسْـرَافِيْلُ عِزْرَائِـيْلُ

مُـنْـكَرْ نَـكِـيْرٌ وَرَقِيْبٌ وَكَذَا عَـتِـيْدُ مَالِكٌ وَرِضْوَانُ احْتـَذَى

أَرْبَـعَـةٌ مِنْ كُتُبٍ تَـفْصِيْـلُهَا تَـوْارَةُ مُـوْسَى بِالْهُدَى تَـنْـزِيْلُهَا

زَبُـوْرُ دَاوُدَ وَاِنْـجِـيْـلٌ عَلَى عِيْـسَى وَفُـرْقَانٌ عَلَى خَيْرِ الْمَـلاَ

وَصُحُـفُ الْـخَـلِيْلِ وَالْكَلِيْـمِ فِيْـهَـا كَلاَمُ الْـحَـكَمِ الْعَلِيْـمِ

semoga kita semua bisa mengamalkannya,mendapatkan syafaa'atnya kelak baik syafa'at 'aammah maupun syafa'at khoosshoh
SHOLLUU 'ALAA AN-NABIIY
ALLAAHUMMA SHOLLI 'ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN.
Nb.mhon mf jka ada kehilafan mhon diluruskn
semoga bermanfa'at.
refrnsi kitab Jala-ul afham,karangan sayyid ahmd marzuki almaliki alhasani ,Hal 11.


Pertanyaan Imam Junaid kepada Orang Yang Pulang Haji

Pertanyaan Imam Junaid kepada Orang Yang Pulang Haji

Posted by Unknown  |  at  1:17 AM

Suatu ketika Imam Junaid al-Baghdadi mendapat kunjungan dari seseorang yang baru saja pulang menunaikan haji. Meski ritual haji telah ia jalani, orang ini belum menunjukkan perubahan perilaku apa-apa dalam hidupnya.

“Dari mana Anda?” tanya Imam Junaid.

”Saya baru saja pulang dari ibadah haji ke Baitullah?” orang itu menimpali.

”Jadi, Anda benar-benar telah melaksanakan ibadah haji?”

”Tentu, Imam. Saya telah menunaikan haji.”

”Apakah Anda sudah janji akan meninggalkan dosa-dosa Anda saat meninggalkan rumah untuk pergi haji?”

“Tidak, Imam. Saya tidak pernah memikirkan hal itu.”

“Anda sejatinya tak pernah melangkahkan kaki untuk haji,” tegas Imam Junaid. “Saat Anda berada dalam perjalanan suci dan berhenti di suatu tempat semalaman, apakah Anda memikirkan tentang usaha mencapai kedekatan dengan Allah?”

“Itu semua tak terlintas di benak saya.”

“Berarti Anda tidak pergi menuju Ka’bah, tidak pula pernah mengunjunginya.”

“Saat Anda mengenakan pakaian Ihram dan melepas semua pakaian yang biasa Anda kenakan, apakah Anda sudah berketetapan untuk membuang semua cara dan perilaku buruk Anda, menjadi pribadi lebih baik?” tanya Imam Junaid lagi.

“Tidak, Imam. Saya juga tak pernah berpikir demikian.”

“Berarti Anda tidak pernah mengenakan pakaian ihram,” Imam Junaid menyayangkan. ”Saat Anda Wuquf (berdiam diri) di padang Arafah dan bersimpuh memohon kepada Allah, apakah Anda merasakan bahwa Anda sedang wuquf dalam Kehadiran Ilahi dan menyaksikan-Nya?”

”Tidak. Saya tak mendapat pengalaman (spiritual) apa-apa.”

Imam Junaid sedikit kaget, ”Baiklah, saat Anda datang ke Muzdalifah, apakah Anda berjanji akan menyerahkan nafsu jamaniah.

“Imam, saya pun tak memikirkan hal itu.”

“Berarti Anda sama sekali tak mengunjungi Muzdalifah.” Lantas Imam Junaid bertanya, “O, kalau begitu, ceritakan kepadaku Keindahan Ilahi apa yang Anda tangkap sekilas saat Thawaf, mengitari Ka’bah.”

“Tidak ada, Imam. Sekilas pun saya tak melihat.”

“Sama artinya Anda tidak mengelilingi Ka’bah sama sekali.” Lalu, “Ketika Sa’i, lari-lari kecil antara Shafa dan Marwa, apakah Anda menyadari tentang hikmah, nilai, dan tujuan jerih payah Anda?”

“Tidak.”

“Berarti Anda tidak melakukan Sa’i.” “Saat Anda menyembelih hewan di lokasi pengurbanan, apakah Anda juga mengurbankan nafsu keegoisan untuk menapaki jalan Allah?”

“Tidak. Saya gagal memperhatikan hal itu, Imam.”

“Artinya, secara faktual Anda tidak mengusahakan pengurbanan apa-apa.” “Lalu, ketika Anda melempar Jumrah, apakah Anda bertekad membuang jauh kawan dan nafsu busukmu?”

“Tidak juga, Imam.”

“Berarti Anda sama sekali tidak melempar Jumrah.”

Dengan nada menyesal, Imam Junaid menyergah, “Pergi, tunaikan haji lagi. Pikirkan dan perhatikan seluruh kewajiban yang ada hingga haji Anda mirip dengan ibadah haji Nabi Ibrahim, pemilik keyakinan dan kesungguhan hati sebagaimana ditegaskan al-Qur’an:

Wa ibrahima l-ladzi waffa. Dan Ibrahim yang telah menyempurnakan janji.” (Mahbib Khoiron)



*) Diterjemahkan dari The Meaning of Hajj (www.israonweb.com)
dari NU Online

Copyright © 2013 Blog Backup Buntet Pesantren. WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
back to top