Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Kiat Menanggulangi Kecanduan Narkoba Secara Spiritual

Kiat Menanggulangi Kecanduan Narkoba Secara Spiritual

Posted by Unknown  |  at  2:13 PM

Oleh H. Tb. Ahmad Rifqi Chowas

Dalam pandangan hukum Islam, pada awalnya, jenis narkoba seperti ecstasy, putaw, shabu-shabu, morphin, dan semacamnya belum dikenal, kecuali hanya istilah hasyisy. Oleh karena itu, yang banyak diperbincangkan seputar hukumnya adalah mengenai hasyisy, kalau hasyisy dihukumkan haram, maka ecstasy, shabu-shabu, putaw, morphin, dan yang semacamnya juga haram, karena benda-benda tersebut merupakan bagian atau sama dengan narkotika.

Namun, lebih lanjut dalam istilah fiqih kontemporer dikenal dengan istilah “al mukhaddirat” yang berarti narkotika, (Inggris:narcotics). Menurut Syekh Wahbah al-Zuhaili Narkoba adalah segala sesuatu yang membahayakan tubuh dan akal (kullu maa yadhurru al-jism wa al-‘aql).

Syekh Nashr bin Muhammad bin Ibrahim as-Samarqandy dalam kitab “Tanbiihul Ghafilin” menjelaskan, paling tidak ada 10 keburukan Narkoba antara lain: seperti orang gila dan menjadi bahan ketawaan anak-anak; menghabiskan harta dan meng­hancurkan akal; memicu per­musuhan antara saudara dan te­man sendiri; dan menghalangi seseorang mengingat Allah dan mendirikan shalat.

Bahaya narkoba bagi kesehatan memang banyak sekali, berbagai penyakit dan kecanduan serta disfungsi berbagai organ tubuh yang mematikan siap mengintai. Antara lain narkoba merusak fungsi otak; merusak fungsi hati; berbahaya bagi paru-paru, jantung dan alat reproduksi; serta dapat merusak fungsi syaraf. 

Cara Menghindari Narkoba
Beberapa tips yang bisa digunakan untuk menghindari narkoba seperti dikutip dari Humas Polda Metro Jaya :
  1. Jangan pernah mencobanya, walaupun untuk iseng atau untuk alasan lain, kecuali perintah dokter/alasan medis.
  2. Kuatkan iman, mantapkan pribadi, pakailah rasio (pemikiran, pertimbangan) lebih banyak dari pada emosi.
  3. Jangan menghindar dari problem, tetapi hadapi dan atasi persoalan sampai tuntas, bila tak mampu konsultasi pada ahli.
  4. Pilihlah pergaulan yang aman jangan yang berbahaya.
  5. Pilih kegiatan yang sehat, tak merugikan diri sendiri ataupun orang lain, ikutilah klub olah raga, organisasi sosial. Lakukan hobi bersama teman dan keluarga.
  6. Gunakan waktu dan tempat yang aman, jangan keluyuran malam-malam. Bersantailah dengan keluarga, berkaraoke, piknik, makan bersama, masak bersama, beres-beres bersama nonton bersama keluarga.
  7. Selalu berusaha menjadi pribadi yang baik, bertindak positif, bertanggungjawab, jadilah figure/sosok yang diteladani.
  8. Berusahalah “saling mendengar”, saling mengingatkan dan saling memaafkan agar semakin mendewasakan pribadi masing-masing.
  9. Buatlah keluarga, rumah tangga, menjadi tempat yang paling menyenangkan, paling menenangkan sehingga membuat “betah” tinggal bersama “sahabat”.
  10. Selalu ingatkan, bahwa ancaman hukuman untuk penyalah guna Narkoba, apalagi bagi pengedar Narkoba adalah Lembaga Pemasyarakatan.
  11. Ingatkan bahwa Narkoba akan merusak kerja otak, susunan syaraf pusat, merusak ginjal, lever dan sebagainya.
Lebih baik mencegah daripada harus mengobatinya. Karena untuk proses pengobatan dan penyembuhan tidaklah mudah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Penanggulangan Kecanduan Narkoba Secara Spiritual 
1. Muraqabah
    Muraqabah berarti kewaspadaan konteplatif dan perenungan kontenplatif. Jadi muraqabah adalah konsetrasi penuh, waspada, dengan segenap kekuatan jiwa, pikiran dan imajinasi serta pemerikasaan yang denganya sang hamba dapat mengawasi dirinya sendiri dengan cermat. Dalam muraqabah manusia akan selalu merasa dimanapun dia berada maka dia akan selalu merasakan kehadiran Allah.
    Dengan begitu melalui jalan muraqabah maka pecandu dapat disembuhka, karena dalam muraqabah pecandu dapat dibimbing untuk melakukan kontemplasi, sehingga dia dapat brkonsentrasi penuh untuk melakukan pemeriksaan terhadap dirinya dan apa yang dilakukannya. Dengan dibimbing mengunakan cara muraqabah ini maka pecandu akan dapat dipastikan secara beragsur-angsur akan dapat disembuhkan, karena dia dapat mengawasi dirinya. Karena pecandu selalu merasakan kehadiran Allah, maka ia akan selalu merasa bersalah atas dosa yang telah ia lakukan, sehingga ada keinginan untuk meninggalkan. Dari perasaannya ini dia akan semakin kuat keinginanya untuk sembuh.

    2. Muhasabah
    Muhasabah merupakan kata Arab yang berasal dari suatu akar yang mencakup konsep-konsep, sperti menata, perhitungan, mengundang untuk melakukan perhitungan, mengenapkan dan menetapkan seseorang untuk bertangung jawab. Jadi Muhasabah dapat juga diartikan sbagai menghitung, tata buku, dan dalam teologi dan tasawuf disebut sebagai pemeriksaan kesadaran. Implementasi muhasabah adalah tobat kepada Allah, tobat didahului oleh muhasabah.

    Dengan jalan muhasabah maka pecandu akan dapat disembuhkan, karena dalam muhasabah ini pecandu akan dibimbing bagaimana cara memunculkan kesadarnya dalam dirinya bahwa apa yang dia lakukan yaitu menggunakan narkoba adalah suatu kesalahan besar. Dengan munculnya kesadaranya maka dia akan tahu bahwa betapa besarnya nikmat Allah yang dia dapatkan, sehingga dia secara bertahap dapat disembuhkan.

    Kesadaran akan nikmat Allah yang maha luas akam membuat pecandu tersebut makin menyadari kesalahanya, sehingga ada usaha untuk tidak melakukannya lagi. Di dalam muhasabah ini pecandu harus juga dibantu denga doa dan dzikir untuk memberikan aura positif dengan asma Allah, dan merasakan diri kita rendah di hadapan Allah.

    3. Tafakur
      Tafakur berarti teringat, terkenang, refleksi atau perenungan tentang sesuatu. Tafakur berkaitan dengan nama-nama Allah, bukan zatnya karena akar seluruh wujud adalah nam-nama Allah yang maha indah.Tafakur juga dapat dikatakan merenugkan ciptaan Allah, kekuasaan-Nya yang nyata dan tersembunyi serta kebesarn-Nya diseluruh langit dan bumi. Tafakur mengenai nikmat Allah akan mendorong kita untuk selalu mensyukuri dan menyibukkan diri dengan ibadah dan amal soleh sebagai wujud cinta kita kepada Allah, sehingga tidak ada lagi pikiran untuk menggunakan narkoba.
      Kita juga dianjurkan untuk tafakur supaya kita tidak lalai akan mendorong kita untuk selalu beribadah takut meninggalkan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semakin menigkatnya ibadah kita kepada Allah maka semakin menyebuhkan kecanduan terhadap narkoba. Tafakur juga dapat meningkatkan sifat zuhud kepada dunia dan kecintaan kepada akhirat. Dengan zuhudnya kita kepada dunia makan kita akan semakin dekat dengan Allah, dan memulai dengan kehidupan spiritual yang baru. Tafakur juga dapat di gabung dengan doa, wirid, muhasabah, zikir, uzlah dan lain-lain.

      4. Dzikir
        Dzikir berarti mengingat, menyebut, mengucapkan, mengagungkan dan menyucikan Allah dengan mengulang salah satu naman-Nya atau kalimat keagunganya. Dzikir adalah menyebut Allah dengan membaca tasbih (Subhanallaah), membaca tahlil (Laa ilaaha illallaah), membaca tahmid (Alhamdulillaah), membaca taqdis (Qudduusun), membaca takbir (Allaahu Akbar), membaca haugalah (Laa haula wala quwwata illaa billah), membaca hasabalah (Hasbiyallaah), membaca basmalah (Bismillaahirrahmaanirrahiim), membaca Al Qur'anul Karim dan membaca doa-doa yang mat'sur (yang diterima atau yang bersumber) dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

        Dinamakan dzikir, mengerjakan segala tugas agama yang diwajibkan Allah dan menjauhi segala larangan yang sudah diperintahkan-Nya hamba untuk meninggalkannya. Karena itu membaca Al-Qur'an, mempelajari Al-Hadits, mempelajari ilmu-ilmu agama, melaksanakan shalat tathawwu' dinamakan juga dzikir. Yang dikehendaki dengan sebutan lidah (berdzikir dengan lidah) ialah, menyebut kata-kata yang menunjuk kepada tasbih (mensucikan Allah), kepada tahmid (memuji Allah), kepada tamjid (memuliakan/membesarkan Allah). Adapun yang dimaksud dengan ingatan hati ialah, memikirkan dalil-dalil tentang adanya Allah, dalil-dalil sifat-Nya, dalil-dalil perintah dan larangan-Nya, untuk diketahui hukum-hukum dan rahasia-rahasia ang tersembunyi dalam penciptaan alam ini.

        Yang dikehendaki dengan dzikir anggota, ialah mempergunakan segala anggota untuk melaksanakan ketaatan (dengan segala bentuk/manifestasinya). Itulah sebabnya maka shalat Juma'at di dalam Al-Qur'an dinamakan dzikrullah. Dzikir kepada Allah itu bukan hanya lafazh yang dilafazhkan dengan lidah saja, tetapi kesadaran yang terdapat di dalam hati dilafazhkan atau tidak dilafazkan dan merasa dengan Allah dan wujudNya. Kesadaran dan perasaan yang demikian menimbulkan kesan atau pengaruh yang membawa kepada ketaan pada batasnya yang paling dekat. Maka dengan dzikir itulah kita akan dapat mengembalikan kesadaran, maka sangatlah cocok untuk terapi pecandu narkoba karena dengan dzikir pecandu akan bias kembak kesadaranya. Dalam dzikir yang disebut-sebut adalah nama Allah dan kalimat yang baik akan membantu kesadaranya serta Allah-pun ikut membantu karena namanya selalu di sebut.

        5. Doa
          Doa berarti permintaan atau permohonan, yaitu manusia kepada Allah untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan keselamatan di akhirat. Doa merupakan kesempatan manusia untuk mencurahkan hatinya kepada Allah, menyatakan kerinduan, ketakutan dan kebutuhan manusia kepada Allah.

          Doa berperan dalam kesembuhan, karena Doa yang banyak diartikan sebagai dialog, penyerahan, dan permohonan tulus kepada Allah, penting dilakukan supaya terjadi sinergi yang melibatkan Allah, pecandu, penyembuh, dan ilmu pengetahuan demi kesembuhan total. Keadaan psikologis yang tidak normal akibat kecanduan narkoba merupakan faktor sangat penting untuk diatasi dalam proses penyembuhan.

          6. Uzlah
            Uzlah adalah mengasingkan diri, yaitu mengasingkan diri dari pergaulan dengan masyarakat yaitu menghindari maksiat dan kejahatan serta melatih jiwa dengan ibadah, zikir, doa, dan tafakur tentang kebesaran Allah dalam mendekatkan diri kepada-Nya. Uzlah dilakukan untuk memperoleh kejernihan tentang diri dan masyarakat sekitar, sehingga kita tidak terlibat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu kita akan mampu merenung tentang diri dan masyarakat secara jujur. Uzlahyang didefinisikan dengan “Al-Tafarruq ‘an al-Khalqi” (memisahkan diri dari mahluk lain), ketika pecandu ingin disembuhkan maka dia harus di pisahkan dari dunia narkoba agar dia tidak lagi menggunakan narkoba kembali.

            Pemisahan diri ini bertujuan untuk untuk menjauhkan mata rantai narkoba tersebut agar tidak menggubakan kembali. Setelah kita membahas tentang definisi uzlah, dapatlah ditarik kesimpulan hubungannya dengan penyembuhan kecanduan narkoba. Dalam uzlah ini kita mengasingkan diri untuk mendekatkatkan diri kepada Allah, dengan berdzikir dan berdoa memohon kepada Allah. Semakin banyak kita memohon kepada Allah maka kecanduan yang di rasakan oleh pecandu akan hilang secara perlahan. Karena tubuh kita apabila semakin banyak kita menyebut kalimat yang baik maka akan ada respon positif dari tubuh kita agar bisa sembuh secara spiritual.

            H. Tb. Ahmad Rifqi Chowas, Pengasuh Pesantren Daarussalam, Buntet Pesantren Cirebon

            MAKNA SANTRI

            MAKNA SANTRI

            Posted by Unknown  |  at  11:47 PM

            Oleh : Mariyah Ulfah
            Umumnya kata santri diidentikkan bagi seseorang yang tinggal di pondok pesantren yang kesehariannya mengkaji kitab-kitab salaf atau kitab kuning,dengan tubuh dibungkussarung,peci, serta pakaian kokomenjadi pelengkap ataumenambah ciri khas tersendiri bagi mereka. Asal-usul kata santri sendiri menurut Nur Kholis Majid sekurang kurangnya ada 2 pendapat yang dapat di jadikan bahan acuhan. Pertama, berasal dari bahasa sangsekerta, yaitu "sastri", yang berarti orang yang melek huruf. Kedua, berasal dari bahasa jawa, yaitu "cantrik", yang berarti seseorang yang mengikuti kiai di mana pun ia pergi dan menetap untuk menguasai suatu keahlian tersendiri.
            Berbeda menurut Dr. KH. MA. Sahal Mahfud yang justru kata santri dijadikan menjadi bahasa Arab, yaitu dari kata "santaro", yang mempunyai jama' (plural) sanaatiir (beberapa santri). Di balik kata santri tersebut yang mempunyai 4 huruf arab (sin, nun, ta', ra'), KH. Abdullah Dimyathy (alm) dari Pandegelang - Banten, mengimplementasikan kata santri sesuai dengan fungsi manusia. Adapun 4 huruf tersebut yaitu : Sin. Yang artinya "satrul al aurah" (menutup aurat) sebagaimana selayaknya kaum santri yang mempunyai ciri khas dengan sarung, peci, pakaian koko, dan sandal ala kadarnya sudah barang tentu bisa masuk dalam golongan huruf sin ini, yaitu menutup aurat. Namun pengertian menutup aurat di sini mempunyai 2 pengertian yang keduanya saling ta'aluq atau berhubungan. Yaitu menutup aurat secara tampak oleh mata (dhahiri) dan yang tersirat atau tidak tampak (bathini). Menutup aurat secara dhahiri gambarannya susuai dengan gambaran yang telah ada menurut syari'at Islam. Mulai dari pusar sampai lutut bagi pria dan seluruh tubuh kecuali tangan dan wajah bagi wanita. Gambaran tersebut merupakan gambaran yang sudah tersurat atau aturan aturan yang sudah jelas dalam syari'at. Namun satu sisi yang kaitannya makna yang tersirat (bathini) terlebih dahulu kita harus mengetahui apa sebenarnya tujuan dari perintah menutup aurat. Manusia sebagai mahluk yang mulia yang diberikan nilai lebih oleh Allah berupa akal menjadikan posisi manusia sebagai mahluk yang sempurna.
            dibandingkan yang lain. Dengan akal tersebutlah akan terbentuk suatu custom atau habitual yang tentu akan dibarengi dengan budi dan naluri, yang nantinya manusia akan mempunyai rasa malu jikalau dalam perjalanannya tidak sesuai dengan rel–rel yang telah di tentukan oleh agama dan habitual action atau hukum adab setempat.
            Yang kaitannya dengan hal ini, tujuan utama manusia menutup aurat tak lain adalah menutupi kemaluan yang dianggap fital yang berharga. Andaikata manusia sudah tidak dapat lagi menutup kemaluannya yang fital dan berharga itu, berarti sudah dapat ditanyakan kemanusiaannya antara manusia dan mahluk yang lain semisal hewan. Hal yang terpenting di sini adalah bagaimana manusia menutupi dan mempunyai rasa malu dalam hal sifat dan perilaku secara dhahiri atau bathini. Sebagimana disinggung dalam salah satu hadits : "Alhaya' minal iman", malu sebagian dari iman. Tentunya hal ini sudah jelas betapa besar pengaruhnya haya' atau malu dalam kacamata religius (agama) maupun sosial kemasyarakatan. Nun. Yang berarti "na'ibul ulama" (wakil dari ulama). Dalam koridor ajaran Islam dikatakan dalam suatu hadits bahwa : "al ulama waratsatul anbiya' (ulama adalah pewaris nabi). Rasul adalah pemimpin dari ummat, begitu juga ulama. Peran dan fungsi ulama dalam masyarakat sama halnya dengan rasul, sebagai pengayom atau pelayan ummat dalam segala dimensi. Tentunya di harapakan seorang ulama mempunyai kepekaan kepekaan sosial yang tahu atas problematika dan perkembangan serta tuntutan zaman akibat arus globalisasi dan modernisasi, serta dapat menyelesaikannya dengan arif dan bijak atas apa yang terjadi dalam masyarakatnya. Kaitannya dengan na'ibul ulama seorang santri di tuntut mampu aktif, merespon, sekaligus mengikuti perkembangan masyarakat yang diaktualisasikan dalam bentuk sikap dan perilaku yang bijak. Minimal dalam masyarakat kecil yang ada dalam pesantren. Sebagaimana yang kita tahu, pesantren merupakan sub-kultur dari masyarakat yang majemuk. Dan dengan didukung potensi yang dimiliki kaum santri itulah yang berfungsi sebagai modal dasar untuk memberikan suatu perubahan yang positif sesuai dengan yang di harapkan Islam. Ta'. Yang artinya "tarku al ma'shi" (meninggalkan kemaksiatan). 
            Dengan dasar yang dimiliki kaum santri, khususnya dalam mempelajari syari'at, kaum santri diharapkan mampu memegang prinsip sekaligus konsisten terhadap pendirian dan nilai-nilai ajaran Islam serta hukum adab yang berlaku di masyarakatnya selagi tidak keluar dari jalur syari'at. Kaitannya hal tersebut yaitu seberapa jauh kaum santri mengaplikasikan apa yang telah mereka dapatkan dan sejauh mana pula ia memegang hubungan hablum minallah dan hablum minannas, hubungan horizontal dan vertikal dengan sang khaliq dan sosial masyarakat. Karena tarku al ma'ashi tidak hanya mencakup pelanggaran-pelanggaran hukum yang telah ditetapkanNya, tetapi juga hubungan sosial dengan sesama mahluk, baik manusia ataupun yang lain. Ra'. Yang artinya "raisul ummah" (pemimpin ummat). Manusia selain diberi kehormatan oleh Allah sebagai mahluk yang paling sempurna dibanding yang lain. Manusia juga diangkat sebagai khalifatullah di atas bumi ini. Sebagaimana diterangkan dalam firmanNya "inni ja'ilun fil ardhi khalifah" (QS. Al-Baqarah : 30), yang artinya "Sesungguhnya aku ciptakan di muka bumi ini seorang pemimpin."
            Kemuliaan manusia itu ditandai dengan pemberianNya yang sangat mempunyai makna untuk menguasai dan mengatur apa saja di alam ini, khususnya ummat manusia. Selain itu pula peranan khalifah mempunyai fungsi ganda. Pertama, ibadatullah (beribadah kepada allah) baik secara individual maupun sosial, dimana sebagai mahluk sosial dalam komunitas berbangsa, ummat Islam juga dituntut memberikan manfaat kepada orang lain dalam kerangka ibadah sosial. Kedua, 'imaratul ardhi, yaitu membangun bumi dalam arti mengelola, mengembangkan, dan melestarikan semua yang ada. Jika hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan manusia itu hukumnya wajib. Maka melestarikan, mengembangkan, serta mengelola pun hukumnya wajib. Sebagaimana di jelaskan dalam salah satu kaidah fiqih; "ma la yatimmu bi hi wajib fahuwa wajib", sesuatu yang menjadikan kewajiban maka hukumnya pun wajib. Gambaran di atas merupakan suatu peran serta tanggung jawab seorang santri, dalam hal pengembangan. Di situlah diperlukan suatu mentalitas religius serta totalitas kesandaran, karena kaum santrilah yang dapat dijadikan harapan dalam mengembalikan konsep-konsep ajaran Islam dan di sini muncullah beberapa pertanyaan. Bagaimana keadaan dan perkembangan kita sebagai seorang santri? Sudah sesuaikah seperti gambaran di atas?Dan layakkah kita disebut sebagai santri? Dengan merubah diri kita dululah, maka kita akan dapat menghasilkan perubahan.
            Versi lain Arti Santri condong kepada arti “kebaikan”. SANTRI dimaknai SA (sin sm alif)= SATIRUL UYUB (penutup kejelekan) N(nun)= Naibus Syuyukh (penerus ulama) T(ta')=Tarikul Ma’ashi (menjauhi larangan/maksiat) R(ro')=Roghibul Al khoirot (menyukai kabaikan) I(hamzah kasroh)= Ikhlasun fil 'amal (ihlas dalam beramal) ..semoga bermanfaat.

            MELURUSKAN REKAYASA GAMBAR BEBERAPA ULAMA’ YANG BEREDAR DI MASYARAKAT

            MELURUSKAN REKAYASA GAMBAR BEBERAPA ULAMA’ YANG BEREDAR DI MASYARAKAT

            Posted by Unknown  |  at  5:50 PM

            DSC01241 - Copy - Copy
            KH. AHMAD SADID JAUHARI
              Oleh: KH. A. Sadid Jauhari Pengasuh PP. Assunniyah Kencong Jember


            Temanku pernah terpojokkan oleh pertanyaan teman kerjanya:”Eh….Nabimu yang kamu sanjung itu kayak siapa?. Kalau Tuhanku Yesus khan ada gambarnya. Jadi kami lebih mantap dan khusyu’ ketika menyembahnya”.
            Suatu saat temanku tanya kepadaku tentang pertanyaan temannya yang sama-sama kerja di pabrik gula Semboro itu. “Wahai kiai, memang kenapa kok Nabi Muhammad tidak ada gambarnya. Kenapa kiai?”. Wah bikin PR juga orang ini, batin saya. Sebab kalau diterangkan secara global tentu tidak puas, maka perlu diterangkan secara rinci juga temanku ini.
            Pertama-tama kujelaskan bahwa menggambar sesuatu yang bernyawa memang dilarang menurut agama. Banyak hadits Nabi yang menjelaskan larangan ini, sehingga para shahabat ketika melihat sebahagian tabi’in yang hobinya menggambar maka diarahkan agar menggambar pepohonan atau pemandangan alam saja. Maksudnya jangan menggambar binatang yang bernyawa.
            Disisi lain, awal mula orang mulai musyrik menyembah berhala karena mereka sangat menyanjung salah seorang tokoh. Karena kelewat mengkultuskannya sehingga ketika sang tokoh tersebut wafat maka dibuatlah gambar orang tersebut di makamnya. Eh… lama-lama gambar tersebut disembahnya, maka musyriklah mereka
            Kami tidak tahu apakah umat Kristiani juga begitu. Mereka sangat mengkultuskan Isa Al-Masih kemudian melukisnya, tahu-tahu akhirnya mereka menyembahnya dan menuhankannya. Padahal konon Al-Masih tidak pernah menyuruh umatnya agar menyembah Dia. Al-Masih hanya mengajak umatnya agar menyembah kepada Tuhan yang Maha Kuasa dan Esa.
            Di Indonesia yang mayoritas muslim ini juga mau terkontaminasi tradisi ini. Sehingga banyak tokoh-tokoh legendaris yang dilukis photo-photonya kemudian dijual di banyak tempat terutama di kaki lima. Padahal gambar/photo itu belum bisa diyakini otentisitasnya. Contoh real yang banyak kita temui diantaranya:
            1.Gambar Hadlrotus syeikh KH.Hasyim Asy’ari yang menghadap seperti pas photo (dengan wajah menghadap ke depan) ternyata jauh berbeda dengan photo beliau yang menghadap kesamping kanan. Memang konon photo yang seperti pas photo itu adalah hasil lukisan abstrak dari salah seorang pengagumnya yang mungkin pernah melihat sekilas wajahnya. Jadi bukan melukis photo karena konon beliau memang tidak senang diphoto. Sementara photo yang menoleh kesamping kanan adalah hasil dokumen pemerintah kolonial Belanda ketika mbah Hasyim dipanggil menghadap ke pengadilan kolonial.
            Hasyim_Asy'arikh-hasyim-asyari
            2.Photo syaikhona Kholil Bangkalan yang konon orangnya sangat ganteng dengan bukti cucu-cucu beliau yang ganteng-ganteng sesuai keturunan genetiknya. Tetapi photo-photo beliau yang banyak dipajang di kaki lima sangat jauh berbeda dengan wajah asli beliau. Diceritakan bahwa ada salah seorang  murid beliau yang dikaruniai usia panjang, ketika melihat gambar gurunya yang kurang ganteng itu maka dia berkomentar: “Lho… Ini bukan gambar syaikhona Kholil. Yang aku tau ada tetangga beliau yang wajahnya mirip seperti ini, namanya juga H. Kholil”. Owalah !.
            foto kh muh-kholil-madura
            syaikhona-kholil3. Mirip kasus gambar syaikhona Kholil adalah gambar Syeikh Abd. Qodir al-Jilaniy. Gambar beliau yang dijual belikan di pingir-pingir jalan itu adalah gambar Abd. Qodir al-Jazairiy, seorang pahlawan nasional dari Aljazair ketika melawan kolonial Perancis atau Italia. Gambar di kamus Munjid cetakan yayasan katolik Lebanon itu rupanya diambil oleh salah seorang yang usil kemudian dicetak diperbesar dan digandakan dan ditulis dibawahnya Syeikh Abd.Qodir al-Jilaniy. Kasihan teman-teman ahli thoriqoh yang sama membeli gambar yang jelas-jelas dipalsukan itu. Memang nama al-Jilaniy dan al-Jazairiy itu berdampingan/berurutan di kamus Munjid.
            shaykh abdul qadir jilani 2 syekh-abdul-qodir1
            4.Demikan juga gambar Imam Ghozali yang juga diambil dari kamus Munjid, itu adalah gambar fiktif, sebagaimana gambar fiksinya Buroq yang berbentuk kuda dengan kepala manusia perempuan yang berparas cantik, Konon itu rekayasa Yahudi!.
            Dan masih banyak lagi gambar-gambar fiktif yang menjadi sumber rizkinya pedagang kaki lima, seperti gambar wali songo, 4 shahabat khulafa al-rasyidin dll. Sehingga Syeikh Muhammad bin Ismail Zein yang dari Makkah itu berkomentar: “Hanya gambar rosululloh saja yang orang Indonesia tidak (berani) melukisnya”.
            SAKSI PHOTO
             Pernah majlis kajian bahtsul masail di jam’iyah NU dan pesantren mendiskusikan gagasan bagaimana seandainya photo itu dijadikan saksi kriminal seperti zina dsb. Majlis dengan aklamasi tidak menyetujui gagasan itu. Sebab bagaimanapun juga yang menjadi saksi, khususnya zina, harus 4 orang lelaki yang adil. Walaupun kala itu photo nyaris sebagai bukti yang tidak bisa bohong atau dikamuflase/-direka-reka. Untung saja majlis memutuskan seperti itu. Sebab seandainya photo bisa dibuat saksi maka bagaimana dengan kondisi sekarang yang dengan canggih bisa mereka-reka photo sehingga di internet ada photo telanjang dengan wajah seorang seleberitis terkemuka.
            GAMBAR YESUS
            Bila gambar-gambar tokoh yang sering dipajang di dinding rumah-rumah orang muslim banyak bermasalah ternyata gambar-gambar idola di rumah-rumah orang nasrani juga bermasalah. Di masa Yesus belum ada photo atau pelukis yang benar-benar dipercaya. Gambar Yesus yang mereka kultuskan adalah hasil kesepakatan diantara mereka. Karena penganut terbesar orang nasrani adalah orang barat maka gambar Yesus pun mirip orang barat. Sementara ada gambar Yesus yang lain di kalangan orang Indian Amerika berbentuk lukisan mirip orang Indian yang berkulit merah, sebagaimana gambar Yesus dikalangan orang Negro juga mirip orang Negro dengan tampang yang berambut keriting, Maka teman saya, LS Syaukani Mokogintang yang mantan katolik membuat sayembara: “Barang siapa yang bisa membuktikan mana gambar Yesus yang asli akan dia beri hadiah 10 juta rupiah”. Wow !. 
            WALLAHU ‘ALAM BIS SHOWAB
            kumpulan-gambar-yesus-misterius
            Foto Yesus ala Indian
            Copy of kumpulan-gambar-yesus-misterius
            Foto Yesus ala Negro
            Copy (2) of kumpulan-gambar-yesus-misterius
            Yesus ala Barat


            dari 
            MELURUSKAN REKAYASA GAMBAR BEBERAPA ULAMA’ YANG BEREDAR DI MASYARAKAT

            Siapakah "kyai"? Apa yang kau ketahui tentang "kyai"?

            Siapakah "kyai"? Apa yang kau ketahui tentang "kyai"?

            Posted by Unknown  |  at  9:02 PM


            Hari Minggu, 25 Agustus 2013, Gus Mus melalui akun @gusmusgusmu menyiarkan serangkaian twit yang menarik --dalam khazanah twitter lazim disebut TL, yang mana saya sendiri tidak tahu itu singkatan apa.

            "Sering kita TIDAK (bisa) MEMBEDAKAN sesuatu yg BERBEDA dan tidak jarang kita MEMBEDAKAN sesuatu yang (sebenarnya) SAMA", demikian Gus Mus membuka TL-nya. Kemudian beliau memberikan contoh-contoh, "USTADZ dan DA'I tidak sama. Malah USTADZ dengan GURU itu semakna... USTADZ dan KIAI itu berbeda sebagaimana KIAI dan ULAMA itu tidak sama...", dan seterusnya... --silahkan telusuri sendiri akun twitter beliau.

            Dalam berbagai kesempatan, Gus Mus juga kerap membeberkan hasil penelitian beliau menyangkut kategorisasi kyai,

            "Ada kyai rekomendasi masyarakat, seperti Kyai Mimoen Zubair; ada kyai rekomendasi Pemerintah, yakni MUI", beliau merinci, "ada kyai rekomendasi media massa, contohnya saya sendiri; ada kyai dukungan dunia maya...; ada kyai artis..."

            Jadi, siapakah kyai?

            Di kalangan masyarakat pesantren, gelar "kyai" pada mulanya disematkan kepada sesiapa yang diakui keunggulan ilmunya dan diyakini kematangan ruhaninya serta mengasuh pondok pesantren. Sedemikian krusialnya gelar itu sampai-sampai pada sekitar tahun 1930-an pernah diadakan bahtsul masail diantara para ulama Indonesia yang bermukim di Makkah pada waktu itu, dengan pokok bahasan: "Bolehkah memanggil atau memberi gelar 'kyai' kepada orang tidak berhak?" Jawaban hasil pembahasannya: "Tidak boleh"!

            Tapi penetapan hasil bahtsul masail di Makkah itu tidak lama pengaruhnya. Makin lama, kriteria ke-kyai-an cenderung makin longgar. Di kampung-kampung, orang yang dituakan asalkan sudah bisa memimpin tahlil, dipanggillah ia kyai. Semua muballigh dipanggil kyai, tak perduli kalaupun profesi utamanya yang asli adalah penyanyi atau pelawak. Bahkan ada yang dipanggil kyai hanya karena "kepaten bapak" (ditinggal mati bapaknya). Contohnya saya sendiri. Begitu ayah saya meninggal, sekelompok orang langsung memanggil saya "kyai", tanpa "fit and proper test" sama sekali!

            Dalam jam'iyyah Nahdlatul Ulama sendiri, orang yang walaupun bukan ahli agama tapi bisa menjabat Ketua Tanfidziyah dalam waktu cukup lama, bisa lantas dipanggil kyai. Maka dewasa ini tak sedikit kita jumpai mantan Ketua Tanfidziyah di berbagai tingkatan yang sesudah habis masa baktinya kemudian masuk jajaran Syuriyah, bahkan menjadi Rois! 

            Yah... disebut dengan panggilan "kyai" memang menyenangkan, walaupun kau sendiri menyadari belum maqom-mu. Apalagi kalau kemudian orang-orang berebut menciumi tanganmu bolaik-balik. Hanya yang sungguh-sungguh orang baik saja yang merasa jengah karenanya.

            Barangkali hanya ada satu orang di dunia fana ini yang walaupun sudah menjadi Ketua Tanfidziyah PBNU sekaligus pengurus MUI pusat tapi justru sakit hati kalau dipanggil dengan embel-embel kyai. Yaitu: Pak Slamet (Drs. H. Slamet Efendi Yusuf).

            Adapun yang sekedar enggan saja tapi tidak sampai sakit hati juga ada. Yakni: Gus Dur. Menurut Gus Mus, sebutan "gus" itu aslinya diperuntukkan bagi putera kyai yang belum pantas disebut kyai. Tapi Gus Dur yang sudah jauh melebihi batas kepantasan pun tetap saja dipanggil dengan "Gus".

            Akino Wewe meriwayatkan, suatu kali salah seorang pengasuh Ponsok Pesantren Lirboyo, Kediri, menanyakan langsung kepada Gus Dur tentang hal itu. Apa jawaban Gus Dur?

            "Saya sih lebih seneng dipanggil 'Gus'! Sebutan 'kyai' terlalu berat buat saya. Kyai itu kan harus kuat tirakat: makan sedikit, tidur sedikit, ngomongnya juga sedikit... Nggak kuat saya.... Enakan jadi gus saja: dikit-dikit makan, dikit-dikit tidur, dikit-dikit ngomong..."



            disadur dari fanpage terong gosong

            Perbedaan Hisab Rukyat di Indonesia “Menganalisis Mengenai Perbadaan Penentuan Awal Bulan Qomariyah”

            Perbedaan Hisab Rukyat di Indonesia “Menganalisis Mengenai Perbadaan Penentuan Awal Bulan Qomariyah”

            Posted by Unknown  |  at  6:49 AM

             Oleh : K.H. Ahmad Manshur
            KH. Ahmad Manshur yang duduk di tengah
            dengan Baju Koko Hitam
            saat Munas Hisab-Rukyat
            (Pengasuh Pon-Pes Falak Al-Maufuri, Buntet Pesantren)

            A. Perbedaan Penentuan awal Bulan Qomariah
            Pada dasarnya persoalan hisab rukyah tidak hanya persoalan penentuan awal bulan qomariyah (dalam hal ini penentuan awal Ramadhan, Syawal, Dzulhijjah). Namun karena persoalan penentuan awal Bulan qomariyah ini lebih mempunyai "Greget" – lebih berpotensi menimbulkan perbedaan – maka wajar jika ia lebih mendapatkan perhatian dan lebih dikenal sebagai persoalan hisab rukyah dari pada persoalan lainnya.

            Muara perbedaan pemikiran Hisab Rukyah di Indonesia pada dasarnya tidak berbeda dengan muara perbedaan pemikiran para fuqaha (terdahulu) yakni pada perbedaan pemahaman hadis-hadis hisab rukyah. Hanya saja dalam wacana pemikiran hisab rukyah di Indonesia, ragam pemikirannya lebih majemukj disbanding ragam pemikiran dalam wacana hisab rukyah pada kalangan fuqaha (terdahulu).

            Hal ini karena sentuhan Islam sebagai Great tradition dan budaya lokal atau little tradition yang sering menimbulkan corak budaya tersendiri yang diluar dugaan. Dalam konteks ini disebut sebagai paham keislaman yang bersifat lokal.

            B. Madzhab Hisab Rukyah Di Indonesia
            Pemikiran-pemikiran Hisab Rukyah Di Indonesia diantaranya :

            Madzhab Tradisional Islam Jawa
            Pemikiran Hisab Rukyah atau madzhab tradisional ala Islam Jawa ini sering disebut pemikiran “aboge” atau “asapon” yakni cara penentuan awal romadhon, syawal dan dzulhijjah dengan berdasarkan pada perhitungan tahun jawa lama (khuruf Aboge atau Khuruf Asapon)

            Dalam pemikiran “aboge” ada beberapa prinsip utama, yakni : pertama, prinsip penentuan tanggal selain berdasarkan kalender Hindu-Muslim-Jawa, adalah “dina niku tukule enjing lan ditanggal dalu” (hari itu lahirnya pagi dan diberi tanggal pada malam harinya).
            Kedua, bahwa jumlah hari dari bulan puasa menurut cara perhitungan “Aboge” selalu genap 30 hari, tidak pernah 29 hari seperti pada cara perhitungan hari falak (versi pemerintah).

            Madzhab Rukyah
            Dalam wacana pemikiran Hisab Rukyah di Indonesia “Madzhab” ini selalu diidentikan dengan pemikiran Hisab Rukyah NU. Namun pengidentikan ini kiranya tidak dapat diterima seratus persen kebenarannya. Karena pada dasarnya dalam “Madzhab Rukyah” terdapat madzhab-madzhab kecil yang mempunyai perbedaan-perbedaan yang prinsipil, dan NU sendiri termasuk salah satu dari Madzhab kecil tersebut.

            Dalam Pemahaman Mathla’ ada yang berpendapat bahwa hasil Rukyah di suatu tempat berlaku untuk seluruh dunia. Dengan argumentasi bahwa hadis-hadis hisab rukyah khitbahnya ditujukan pada seluruh umat Islam di dunia, tidak dibedakan oleh perbedaan geografis dan batas-batas daerah kekuasaan. Pemikiran inilah yang terkenal dengan “rukyatul Internasional yang dipegang oleh Komisi Penyatuan Kalender Internasional, dimana dalam konteks ke – Indonesia-an adalah kelompok Hizbut Tahrir.

            Disamping itu, adapula yang berpendapat bahwa hasil rukyah di suatu tempat hanya berlaku bagi suatu daerah kekuasaan hakim yang mengisbatkan hasil Rukyah tersebut. Pemikiran ini terkenal dengan “rukyah fi wilayatil hukmi” sebagaimana pemikiran yang selama ini dipegangi oleh Nahdlatul Ulama secara institusi.

            Madzhab Hisab
            Di Indonesia sistem Hisab yang berkembang pada dasarnya banyak sekali, hanya saja jika ditilik dari dasar pijakannya terbagi dalam dua macam yakni hisab urfi dan hisab hakiki. Hisab Urfi adalah system hisab penentuan awal bulan qomariyah yang didasarkan pada waktu rata-rata peredaran bulan. Hisab Hakiki adalah system hisab yang didasarkan pada peredaran bulan dan bumi yang sebenarnya.

            Hisab Urfi dalam konteks ke – Indonesia – an sebagaimana dalam pemikiran hisab rukyah “madzhab” tradisional ala Islam Jawa yang terekam dalam sistem aboge dan sistem asapon. Sedangkan mengenai hisab hakiki dapat dipilah pada pendirian yang mendasarkan pada ijtima’ yakni system yang berpendapat bahwa hakekat bulan Qomariyah itu sejak dimulai terjadinya ijtima’. Dalam kalangan pemikir hisab terkenal dengan istilah “ijtima’un Nayyirain Isbatun Bainasy-Syahrain”, yang sesuai dengan ketentuan astronomi bahwa konjungsi merupakan batas antar dua lunar months. Oleh karena itu ijtima’ itu hanya terjadi sekali dalam sebulan dan tidak ada hubungannya dengan tempat-tempat dimuka bumi, maka saat ijtima’ dialami secara berlainan menurut perhitungan waktu setempat. Ijtima’ dialami secara berlainan menurut perhitungan waktu setempat. Ijtima; bias terjadi pada siang hari pada suatu tempat, yang dalam waktu bersamaan saat itu sedang siang hari atau malam hari ditempat lain.
            Sistem hisab yang mendasarkan pada posisi hilal, yakni penentuan awal Bulan qomariyah tidak hanya didasarkan pada ijtima’ melainkan harus diperhatikan posisi hilal diatas ufuk saat terbenam setelah terjadinya ijtima’.

            Dalam sistem ini terbagi menjadi tiga, yakni :
            Sistem yang berpedoman pada ufuk hakiki yakni ufuk yang berjarak 900 dari titik zenith. Prinsip utama dalam system ini adalah sudah termasuk bulan baru, bila hasil hisab menyatakan hilal sudah diatas ufuk hakiki (positif) walaupun tidak imkanurukyah. Sehingga system ini ini dikenal dengan hisab wujudul hilal sebagaimana prinsip yang dipegang oleh Muhamadiyah secara institusi. (Pimpinan Pusat Muhamadiyah, Himpunan Putusan Majlis Tarjih : Muhamadiyah, Cet. III, hal 291-292.)

            Sistem yang berpedoman pada ufuk mar’I yakni ufuk hakiki dengan mempertimbangkan refleksi (bias cahaya) dan tinggi tempat observasi.

            Sistem yang berpedoman pada imkanurrukyah dalam posisi hilal sudah wujud diatas ufuk hakiki atau mar’I, maka awal bulan Qomariyah masih tetap belum dapat ditetapkan, kecuali apabila hilal sudah mencapai posisi yang dinyatakan dapat dilihat.

            C. Menyamakan Persepsi Penentuan Awal Romadhon
            Menyikapi masalah perbedaan mengenai penetapan awal bulan Qomariyah, pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama berusaha untuk menengahi dengan menjadi hakim terhadap keputusan-keputusan dari berbagai pihak Ormas – Ormas Islam dan lembaga/instansi terkait. Untuk untuk mengantisipasi mengenai perbedaan penentuan awal bulan qomariyah, pemerintah sebagai Agent of Control memberikan suatu jaminan mengenai kisruh perbedaan tersebut, diantaranya :

            Merevitalisasi badan yang selama ini menangani hisab dan rukyat (BHR) agar lebih legitimated sehingga keputusannya mempunyai daya ikat kepada ormas yang diwakilinya.
            Melakukan tindak lanjut kajian secara intensif untuk melakukan upaya pendekatan di wilayah pandangan dan metode sehingga tercapai satu kriteria bersama dengan melibatkan pakar dan fuqoha.

            Melakukan penelitian observasi hilal secara kontinyu untuk kepentingan kriteria penetapan awal bulan qomariyah.

            Mengadakan musyawarah bersama secara intensif untuk menetapkan Takwim secara musyawarah mufakat.

            Selama kesatuan takwim itu belum tercapai, semua pihak hendaknya bisa menahan diri untuk menjaga kemaslahatan umat dengan mengedepankan toleransi.

            Pahlawan-Pahlawan Dari Pesantren

            Pahlawan-Pahlawan Dari Pesantren

            Posted by Unknown  |  at  10:00 AM

            Oleh : Sobih Adnan
            Kiprah dan peran pesantren dalam sejarah perjuangan kemerdekaan tidak dapat disangsikan lagi, pun dalam mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Beberapa catatan sejarah pesantren dapat dijadikan kunci kuat keabsahan perlawanan mereka terhadap kaum penjajah, atau terhadap siapapun yang juga dapat mengancam keberadaan bangsa dan negara.

            Lebih dari itu, dalam sejarahnya, beberapa pesantren justru dibangun berdasarkan respon dan reaksi perlawanan terhadap segala bentuk penindasan, oleh karena itu tak jarang jika keberadaan pesantren dinilai sebagai simbol perlawanan paling diperhitungkan oleh bangsa penjajah, termasuk Pesantren Buntet, Cirebon, Jawa Barat. Semenjak berdirinya, pesantren ini diwarnai dengan pelbagai peristiwa yang bersinggungan dengan perjuangan kaum sarungan untuk  mewujudkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

            “Kisah-kisah dari Buntet Pesantren” adalah pilihan tepat untuk menelusuri peta perjuangan para kiai dan santri. Dalam buku ini, dimuat banyak catatan menarik mengenai tokoh-tokoh kunci dalam beberapa peristiwa penting sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia, selain itu, buku ini juga menceritakan tentang simpul-simpul jaringan pesantren, serta mengupas segenap ciri khas dunia pesantren seperti istilah karomah, berkah, laduni, dan sisi-sisi lain dunia pesantren yang wajib diketahui oleh para pembaca secara umum, bisa dikatakan, selain berupa catatan sejarah pesantren, buku ini juga dapat dijadikan semacam kamus untuk mengetahui lebih banyak tentang dunia pesantren dan segala identitas lainnya.

            Pesantren Buntet Cirebon didirikan oleh seorang ulama bernama Kiai Muqayyim, sosok yang arif ini secara ikhlas melepas status sosialnya yang dinilai bergengsi pada saat itu, demi melakukan perlawanan keras terhadap segala bentuk ketidak-adilan yang dilakukan oleh penjajah Belanda.

            “Maka dengan kebencian dan kekesalan yang mendalam terhadap penjajah Belanda, pada tahun 1770 Kiai Muqayyim meninggalkan Keraton Kanoman dan pergi ke bagian Cirebon Timur Selatan untuk mencari perkampungan yang cocok dengan hati nuraninya”. (Hal. 5).

            Selain kisah perlawanan dan perjuangan Kiai Muqayyim, dalam buku ini juga dimunculkan tentang sosok kunci terjadinya peristiwa “10 November 1945” di Surabaya. Dalam peristiwa tersebut dikisahkan “Menurut Hadaratussyekh KH Hasyim Asy’ari, perlawanan akan dimulai nanti kalau sudah datang ulama dari Cirebon”. Dan ulama yang dimaksud adalah KH. Abbas Abdul Jamil, penerus Kiai Muqayyim dalam mengasuh dan mengembangkan Pondok Pesantren Buntet, Cirebon, saat itu. (Hal.49).

            Dalam jati diri pesantren, perjuangan tidak hanya berupa melancarkan perlawanan terhadap bangsa penjajah, namun juga kepada gerakan apapun yang dinilai dapat mengancam persatuan dan kesatuan negara. Oleh karena itu, “Ketika DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) mengadakan pemberontakan dan hendak mendirikan negara di wilayah Negara Republik Indonesia, Buntet Pesantren termasuk pesantren yang menentang DI/TII dan harus diperangi karena dihukumi bughat (makar). (Hal. 58).

            Kisah-kisah kepahlawanan kiai sepuh pesantren Buntet terus berlangsung, kepahlawanan dimaknai secara tak terbatas, dalam arti, perjuangan untuk kepentingan umat dan bangsa menjadi muatan penuh dalam sejarah panjang pesantren ini. Buku ini juga mengenalkan tentang bentuk perjuangan dan kepahlawanan yang dilakukan oleh para kiai meski dalam keadaan negara yang sudah merdeka.

            Buku setebal 94 halaman ini akan mengenalkan pembaca kepada tokoh-tokoh penting lain seperti  Kiai Kriyan, Kiai Mujahid, Kiai Imam, Kiai Akyas, hingga Kiai Fuad Hasyim dengan segala keistimewaan dan bentuk-bentuk perjuangannya.

            Sayangnya, dalam membaca buku ini akan dijumpai beberapa kekurangan, diantaranya adalah pendeskripsian peristiwa yang dapat dinilai kurang begitu menggoda dan tanpa menggunakan pendekatan sastra sama sekali, karena penarasian buku ini cenderung menggunakan tradisi penulisan berita juga pemaparan hasil wawancara dengan pelbagai sumber. Namun hal tersebut dirasa tidak mengurangi pentingnya keberadaan buku ini; sebagai salah satu dari sejuta cara untuk mencintai pesantren, para kiai, dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Selamat membaca.

            Judul: Kisah-kisah Dari Buntet Pesantren
            Penulis: Munib Rowandi Amsal Hadi
            Penerbit: KALAM (Komunikatif dan Islami)
            Tahun : II, 2012
            Tebal: x + 94 Halaman
            Harga : Rp. 25.000,-
            Peresensi: Sobih Adnan, Santri Pondok Pesantren Buntet dan Kempek, Cirebon.

            Sumber sobihadnan.net sebelumnya dimuat di NU Online

            AWAS MENCONTEK MENJADI KEBIASAAN ANAK ANDA!!

            AWAS MENCONTEK MENJADI KEBIASAAN ANAK ANDA!!

            Posted by Unknown  |  at  5:39 PM


            Semester ganjil sudah usai, putra-putri bapak /ibu  sudah  menerima buku rapor yang menunjukkan hasil prestasi belajar selama 1 semester. Demikian pula dengan saya,  saya sudah  menerima rapor dari anak saya yang pertama, Alhamdulillah sekarang di tahun pertama semester pertama ini, Zabrina Nahdiah Mumtazah, mendapatkan peringkat ke 3 di sekolahnya.

            Saya sering kali bertanya kepada anak saya bahwa apakah dia menemukan beberapa teman yang mencontek ataukah anak saya sendiri yang mencontek. Saya bersyukur kepada Tuhan YME sekalligus berterima kasih kepada istri saya, Siti Fathonah S.Pd.I, yang telah menanamkan prinsip-prinsip kejujuran dan belajar dengan sungguh-sungguh. Sehingga saya mendapatkan jawaban bahwa Taza, nama kecil anak saya, tidak mencontek tetapi justru membantu dengan memberikan jalan keluar bagi temannya yang akan mencontek pada dirinya.

            Mencontek, adalah sebuah kata yang sama sekali tidak asing di kalangan pelajar. Mencontek merupakan salah satu prilaku menyimpang yang menjadi  salah satu jalan singkat bagi sisaw/i yang menginginkan nilai atau prestasi baik, yang kemudian akan diperlihatkan kepada teman, saudara dan juga yang pasti orang tuanya.

            Mencontek adalah prilaku yang mematahkan semangat berkompetisi di kalangan pelajar. Sebut saja, Olip, salah satu anak teman saya yang sekarang ini sedang menempuh pendidikan di salah satu SMA terbaik. Dia mengatakan bahwa teman satu kelasnya tetap saja menontek meskipun HP, buku, tas, lembaran kertas, bahkan tepak pinsil karena HP tercanggihnya tetap berada di saku mereka sementara HP jadul dikumpulkan.

            HP menjadi salah satu media canggih yang mereka gunakan untuk mencontek. Belum lagi keberanian temannya untuk meminta jawaban secara langsung kepada kawan lainnya. Kegiatan mencontek ini bahkan terjadi secara merata dan tidak dapat dihindari.

            Siswa pun mengakui bahwa mencontek adalah cara tercepat untuk mengnalahkan siswa berprestasi di kelasnya atau mereka yang mencontek beranggapan bahwa temannya yang pintar pun tetap mencontek.

            Hal tersebut menjadi pemandangan yang agak lazim untuk beberapa sekolah namun berbeda sekali dengan tempat saya mengajar. Karena kami menganggap bahwa mencontek adalah salah satu prilaku keji dan pembodohan sekaligus menunjukkan pribadi yang tidak jujur. Kami tidak segan untuk tidak memberikan nilai kepada siswa yang mencontek atau kami menggugurkan ulangannya dengan menggantinya dengan remedial dengan syarat nilai minimal 80, dan terkadang teman kami memberikan ulangan tambahan secara lisan. Belum lagi ada resiko dipermalukan di depan temannya manakala ada siswa/i yang mencontek. Wal hasil, siswa/i kami menganggap bahwa mencontek sebagai salah satu cikal bakal tindakan kriminal atau jahat.

            Siswa/i yang mencontek biasanya hanya terjadi pada dua bulan pertama pada saat panen ulangan harian. Sebagian siswa yang belum mengenal betul karakter sekolah kami atau mempunyai keberanian untuk mencontek biasanya mereka akan memberanikan diri untuk mncoba nyontek di saat ulangan harian. Namun, ketika beberapa siswa/i mendapatkan hadiah pembelajaran yang saya sebutkan sebelumnya, maka berita tersebut akan segera menyebar dan sekaligus menjadi peringatan bagi yang lainnya. Belum lagi, penanaman kejujuran yang kami terapkan di dalam masjid. Insya Allah, penanaman kejujuran pada pribadi siswa/i akan terus menuai  manfaat di kemudian hari. Hal tersebut sangat dirasakan betul oleh beberapa alumni yang datang ke sekolah di saat liburan ini, seperti Yunisa yang baru saja lulus dari ITB farmasi, Andri yang baru lulus dari UPI Bandung, Anto yang masih berkuliah di UNPAD manajemen, IGA yang masih berkuliah di ITB arsitek, Ditia yang berkuliah di UGM, Setio di Undip dan lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. 

            Pesona Sastra dan Tradisi Berfikir Nahdliyin

            Pesona Sastra dan Tradisi Berfikir Nahdliyin

            Posted by Unknown  |  at  11:59 AM

            Arus corak Realisme-Magis dalam Sastra Kontemporer


            Oleh : Sobih Adnan *


            “ Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata yang berarti mengambalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya kata adalah kata. Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera. “


            ( Sutardji Calzaum Bachri. Bandung, 30 Maret 1973 )



            Penggalan akhir Kredo Puisi : Sutardji Calzaum Bachri mencoba mengajak para penikmat sastra untuk sedikit bertamasya tentang puisi dari titik awal embrionya, tentang kelahiran puisi, pembebasan kata, dan yang paling menarik adalah tentang genetika kata-kata yang menurut Sutardji berasal dari mantera-mantera. Sutardji mencoba menawarkan paparan dan kesemangatan bahwa sesederhana apapun dari bentuk dan wujud kata pasti memiliki kekuatan lebih yang terkandung di dalamnya, yang tentunya lebih dari sekedar pengantar sebuah pengertian.


            Penempatan serta penyuntikan pemaparan tentang kekuatan yang dimiliki oleh sebuah kata seperti ini memang terkadang tidak terperhatikan. Penyair yang dalam kacamata awam hanya memiliki kegemaran mengeksploitasi kata untuk menciptakan sebuah karya ternyata memiliki konsep tersendiri tentang pengamatan karakter serta watak dari setiap kata yang dijajarkannya, jika tidak seperti ini, maka bagaimana jika kodrat dari kata tersebut hanya sebuah konjungsi, penghubung, atau kata yang harus didongkrak maupun mendongkrak kawan kata lainnya untuk menimbulkan sebuah pengertian?. Tidak juga sebatas itu, kadang kata-kata melalui komunitasnya yang naratif dapat menghadirkan sebuah keajaiban dan pemaknaan baru tentang ketidak-mungkinan, kadang bersifat mistik, tetapi tetap bergerak pada gambaran kenyataan bahkan dalam wacana keseharian. Ketika terkemas dalam wilayah sastra kotretan tersebut lazim disebut dengan realisme-magis atau magis-realis.


            Kutipan secara sederhana tentang realisme magis di atas agak membawa kita pada tradisi konsep berfikir kaum nahdliyin. Kemasan sastra ini akan sangat mewakili dengan tema-tema penghormatan dan pembebasan manusia yang telah di miliki oleh Islam dan NU sebagai bagian di dalamnya. Konsep aliran realisme-magis akan mengemas narasi secara apik pesona karomah para ulama yang telah dipegang dalam sejarah ke-NU-an Indonesia.


            Sekilas Tentang Pem”bidan”an Realisme-magis


            Secara lunak realisme-magis didefinisikan sebagai gaya estetika atau mode di mana elemen magis ini dicampur ke dalam suasana realistis untuk mengakses pemahaman yang lebih dalam kenyataan. Unsur-unsur magis tersebut dijelaskan eperti kejadian normalyang disajikan secara langsung dan unembellished yang memungkinkan “real” dan “fantastis” untuk dapat diterima dalam aliran pemikiran yang sama. Telah banyak digunakan dalam kaitannya dengan sastra, seni, dan film.


            Penggunaan istilah relisme-magis dimunculkan oleh krtikus seni Franz Roh pada tahun 1925 untuk melihat kembalinya pelukis kepada realisme sesudah banyak sekali yang berkarya dengan lukisan-lukisan abstrak. Roh melihat pada karya-karya pelukis seperti Dix Otto dan Giorgio di Chirio, realisme tidak tampil sebagai realisme semata, tetapi terdapat elemen magis di dalamnya. elemen magis ini intuitif dan tak terjelaskan.


            Dalam perjalanan seni, sampai tahun 1955 istilah relisme-magis tidak diperkenalkan, hingga kemudian kritikus sastra meminjam istilah ini untuk melihat karya sastrawan Amerika Latin seperti Marquez, Borges, dan Isabel Allende. Para kritikus sastra terkejut melihat karya-karya Marquez dan Borges yang pada dasarnya mirip karya realis, tetapi mengandung elemen-elemen magis yang intuitif. Para penulis ini melihat kenyataan sehari-hari sebagaimana kenyataan sehari-hari yang biasa terlihat dan sesuatu yang sangat luar biasa di balik kenyataan itu. Relisme-magis ini diterjemahkan dari Lo Real Maravilosso yang artinya Kenyataan yang Ajaib.


            Ketika beribicara tentang kekhasan dan keunikan dari relisme-magis adalah tentang keunggulannya untuk mengajukan sebuah dunia magis, dunia penuh keajaiban yang tak bisa dicerna akal sehat yang mendahului pengalaman sehari-hari manusia namun manusia luput untuk melihatnya. Realisme-magis berusaha memunculkan hal magis itu atau melihat dalam kenyataan sehari-hari. Itu sebabnya, dalam karya-karya para sastrawan realisme-magis seperti Borges, Marquez, Okri, atau Allende kerap muncul peristiwa, tokoh, makhluk, lokasi, dan situasi yang ajaib dan magis. Semua keajaiban itu terjadi dalam kenyataan, bukan mistik yang mengingkari kenyataan.


            Cuaca Relisme-magis dalam Kesusasteraan Indonesia


            Di Indonesia kesan realisme-magis justru menguasai dalam gaya penulisan novel, Cerpen dan fiksi. Baru kemudian mengalir dan tergagas menjadi beberapa film dan sajak. Untuk novel situasi dan gaya realisme- magis sangat terasa dalam karya Eka Kurniawan dengan judul Cantik Itu Luka ( CIL ). Sejak terbitnya, yakni tahun 2002, banyak pembaca CIL memuntahkan kebingungannya. Dengan pembacaan yang tak terputus, di tengah senggalan tarikan nafas, mereka dibingungkan oleh teks di depannya : cerita silat, folklore, roman sejarah, atau kisah perjuangan. Realisme-magis mungkin sudah hadir berpuluh tahun sebelum terbitnya CIL, beriringan dengan angkatan 1970, namun garapan Eka Kurniawan ini berhasil mengambil identitas realisme-magis dengan lebih kuat.


            Salah satu keunikan realisme-magis ditambahkan dengan kekhasan alur logis rasio barat, seperti dialog tokoh utama Dewi Ayu dan Kakeknya ketika ia tahu bahwa ibunya kabur di suatu pagi :


            “ Mereka petualang-petualang sejati,” katanya pada Tad Stammler.


            “Kau terlalu banyak buku cerita, Nak” kata kakeknya. “ mereka orang-orang religius” katanya lagi. “ di dalam kitab suci diceritakan seorang ibu membuang anaknya ke sungai Nil “/“itu berbeda.”/” ya, memang. Aku dibuang di depan pintu. “ ( Halaman 43 ).


            Dari penggalan dialog tersebut apalagi ketika melihat pilar-pilar penyangga bangun tutur dan cerita CIL, ditambah pohon silsilah tokoh utama Dewi Ayu di bagian belakang sudah pasti akan terbawa pada Gabriel Garcia Marquez dan kawan-kawannya dari Amerika selatan. Di mana deskripsi rasional realitas dipadu dengan deskripsi cara pandang lain atas realitas yang selama ini dilewatkan karena dianggap tidak rasional, tidak logis, dan supernatural, dan tidak bersambut gayung dengan hukum alam.


            Dalam tubuh perfilman, darah realisme-magis hampir meresap penuh ke sebuah film yang berjudul Banyu Biru. Karena, beberapa hal yang tak masuk akal dalam film itu bisa ditafsirkan berasal dari dunia bawah sadar tokoh Banyu (Tora Sudiro). Misalnya ketika pemakalah (Butet Kertaredjasa) dan para peserta seniman tiba-tiba bernyanyi dan menari mengelilingi Banyu yang duduk sendirian di tengah-tengah mereka. Namun peluang ke-realisme magis-an film ini patah oleh pengalaman Banyu dalam film ini sebagai mimpi. Mungkin film ini lebih dengan kekhasan realis yang biasa saja.


            Sedangkan untuk wilayah penulisan cerpen, realisme magis telah dibangun secara total oleh cerpenis Agus Noor dalam judul “ Dzikir Sebutir Peluru “ yang merupakan bagian dari antologi cerpen Kompas tahun 1995. Cerpen yang sangan membutuhkan kesiapan pembaca untuk memahami setting dan penokohan benda mati ini mampu menjadikan realisme-magis sebagai arwah utama penggerak ceritanya.


            “ Kita adalah makhluk terdzolimi, aku tak mau menembus dada bocah-bocah mahasiswa itu, apalagi diisalah sasarkan “.. ujar Peluru 1. Dan banyak dialog-dialog lain yang terus mengalir dan merupakan kumpulan beberapa keajaiban yang masih terkurung dalam wajah real (nyata).


            Realisme-magis dalam nadi puisi dan sajak


            Tiba-tiba Izrail lenyap digantikan oleh sekuntum malaikat lain yang berbeda. Tubuh malaikat yang muncul tiba-tiba itu berubah-ubah bentuknya, dari mawar, lalu melati, kemudian kenanga, lantas bunga matahari, lalu berubah lagi menjadi anggrek putih dengan sejumlah noktah berwarna violet hijau dan oranye. Kembang-kembang itu ukurannya lebih besar ketimbang manusia, kadang mekar besar sekali memenuhi angkasa.


            …. ternyata kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tak terbatas luas bagai cakrawala, mengapa harus ditangisi?


            ( Danarto, Kacapiring:2008 )


            Danarto, mungkin adalah salah satu dari sekian penyair Indonesia yang sering bermain-main dengan kerumitan realisme-magis. Dalam kumpulan puisi Kacapiring hampir setiap judul usungannya menggunakan pendekatan realisme-magis, walaupun tak bisa dipungkiri kadang beliau juga merefresh sajak-sajak berikutnya dengan aroma yang lain.


            Realisme-magis dikhaskan oleh Danarto melalui naskah-naskah puisi religi yang bebas, real, namun memiliki kekuatan-kekuatan tertentu yang semakin menghantarkan dirinya sebagai penyair yang mengutamakan kecerdasan. Tilik saja pada bait puisi Berburu Ayat-Ayat Suci tahun 2005 :


            Di antara reruntuhan negara yang roboh, para pemulung, pengemis, gelandangan, preman, saling berbagi dan tukar tambah ayat-ayat suci dengan ramai, menyimpannya di bawah tikar bobrok yang menyelamatkan hidup mereka


            Sapardi Djoko Damono mencoba menghadirkan unsur realisme magis dengan lebih detail, menancap, namun tetap menawarkan realitas yang kuat. Seperti yang telah beliau tulis dalam kumpulan sajak Perahu Kertas tahun 1982 :


            Waktu mereka membakar gubuknya awal subuh itu ia baru saja bermimpi tentang mata air. Mereka berteriak, “Jangan bermimpi!” dan ia terkejut tak mengerti.


            Sejak di kota itu ia tak pernah sempat bermimpi. Ia ingin sekali melihat kembali warna hijau dan mata air, tetapi ketika untuk pertama kalinya. Ia bermimpi subuh itu, mereka membakar tempat tinggalnya.


            “Jangan bermimpi!” gertak mereka.


            Suara itu terpantul di bawahjembatan dan tebing-tebing sungai. Api menyulut udara lembar demi lembar, lalu meresap ke pori-pori kulitnya. Ia tak memahami perintah itu dan mereka memukulnya, “Jangan bermimpi! ”


            Ia rubuh dan kembali bermimpi tentang mata air dan …..


            Aliran sastra realisme-magis ini dapat mewakili corak pemikiran kaum nahdliyin tentang budaya pembebasan manusia dari keterkungkungan, penjagaan tradisi, dan penegasan terhadap berbagai geliat karomah para ulama dalam kemasan berupa sastra.


            Walaupun realisme – magis masih terbilang asing dalam sastra Indonesia, namun suasana keajaiban tersebut semakin menguat dengan munculnya penyair-penyair muda yang mencoba menganut corak langka ini, sebut saja Nirwan Dewanto, Mashuri, dan masih banyak lagi yang tak lain adalah para pesastra dari generasi muda NU .


            * Penulis adalah Ketua Umum ASJAP Institute Mahasiswa ISIF Cirebon dan Direktur Pesantren Baca- Cirebon.

            Pesona Sastra dan Tradisi Berfikir Nahdliyin

            Pesona Sastra dan Tradisi Berfikir Nahdliyin

            Posted by Unknown  |  at  11:59 AM

            Arus corak Realisme-Magis dalam Sastra Kontemporer


            Oleh : Sobih Adnan *


            “ Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata yang berarti mengambalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya kata adalah kata. Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera. “


            ( Sutardji Calzaum Bachri. Bandung, 30 Maret 1973 )



            Penggalan akhir Kredo Puisi : Sutardji Calzaum Bachri mencoba mengajak para penikmat sastra untuk sedikit bertamasya tentang puisi dari titik awal embrionya, tentang kelahiran puisi, pembebasan kata, dan yang paling menarik adalah tentang genetika kata-kata yang menurut Sutardji berasal dari mantera-mantera. Sutardji mencoba menawarkan paparan dan kesemangatan bahwa sesederhana apapun dari bentuk dan wujud kata pasti memiliki kekuatan lebih yang terkandung di dalamnya, yang tentunya lebih dari sekedar pengantar sebuah pengertian.


            Penempatan serta penyuntikan pemaparan tentang kekuatan yang dimiliki oleh sebuah kata seperti ini memang terkadang tidak terperhatikan. Penyair yang dalam kacamata awam hanya memiliki kegemaran mengeksploitasi kata untuk menciptakan sebuah karya ternyata memiliki konsep tersendiri tentang pengamatan karakter serta watak dari setiap kata yang dijajarkannya, jika tidak seperti ini, maka bagaimana jika kodrat dari kata tersebut hanya sebuah konjungsi, penghubung, atau kata yang harus didongkrak maupun mendongkrak kawan kata lainnya untuk menimbulkan sebuah pengertian?. Tidak juga sebatas itu, kadang kata-kata melalui komunitasnya yang naratif dapat menghadirkan sebuah keajaiban dan pemaknaan baru tentang ketidak-mungkinan, kadang bersifat mistik, tetapi tetap bergerak pada gambaran kenyataan bahkan dalam wacana keseharian. Ketika terkemas dalam wilayah sastra kotretan tersebut lazim disebut dengan realisme-magis atau magis-realis.


            Kutipan secara sederhana tentang realisme magis di atas agak membawa kita pada tradisi konsep berfikir kaum nahdliyin. Kemasan sastra ini akan sangat mewakili dengan tema-tema penghormatan dan pembebasan manusia yang telah di miliki oleh Islam dan NU sebagai bagian di dalamnya. Konsep aliran realisme-magis akan mengemas narasi secara apik pesona karomah para ulama yang telah dipegang dalam sejarah ke-NU-an Indonesia.


            Sekilas Tentang Pem”bidan”an Realisme-magis


            Secara lunak realisme-magis didefinisikan sebagai gaya estetika atau mode di mana elemen magis ini dicampur ke dalam suasana realistis untuk mengakses pemahaman yang lebih dalam kenyataan. Unsur-unsur magis tersebut dijelaskan eperti kejadian normalyang disajikan secara langsung dan unembellished yang memungkinkan “real” dan “fantastis” untuk dapat diterima dalam aliran pemikiran yang sama. Telah banyak digunakan dalam kaitannya dengan sastra, seni, dan film.


            Penggunaan istilah relisme-magis dimunculkan oleh krtikus seni Franz Roh pada tahun 1925 untuk melihat kembalinya pelukis kepada realisme sesudah banyak sekali yang berkarya dengan lukisan-lukisan abstrak. Roh melihat pada karya-karya pelukis seperti Dix Otto dan Giorgio di Chirio, realisme tidak tampil sebagai realisme semata, tetapi terdapat elemen magis di dalamnya. elemen magis ini intuitif dan tak terjelaskan.


            Dalam perjalanan seni, sampai tahun 1955 istilah relisme-magis tidak diperkenalkan, hingga kemudian kritikus sastra meminjam istilah ini untuk melihat karya sastrawan Amerika Latin seperti Marquez, Borges, dan Isabel Allende. Para kritikus sastra terkejut melihat karya-karya Marquez dan Borges yang pada dasarnya mirip karya realis, tetapi mengandung elemen-elemen magis yang intuitif. Para penulis ini melihat kenyataan sehari-hari sebagaimana kenyataan sehari-hari yang biasa terlihat dan sesuatu yang sangat luar biasa di balik kenyataan itu. Relisme-magis ini diterjemahkan dari Lo Real Maravilosso yang artinya Kenyataan yang Ajaib.


            Ketika beribicara tentang kekhasan dan keunikan dari relisme-magis adalah tentang keunggulannya untuk mengajukan sebuah dunia magis, dunia penuh keajaiban yang tak bisa dicerna akal sehat yang mendahului pengalaman sehari-hari manusia namun manusia luput untuk melihatnya. Realisme-magis berusaha memunculkan hal magis itu atau melihat dalam kenyataan sehari-hari. Itu sebabnya, dalam karya-karya para sastrawan realisme-magis seperti Borges, Marquez, Okri, atau Allende kerap muncul peristiwa, tokoh, makhluk, lokasi, dan situasi yang ajaib dan magis. Semua keajaiban itu terjadi dalam kenyataan, bukan mistik yang mengingkari kenyataan.


            Cuaca Relisme-magis dalam Kesusasteraan Indonesia


            Di Indonesia kesan realisme-magis justru menguasai dalam gaya penulisan novel, Cerpen dan fiksi. Baru kemudian mengalir dan tergagas menjadi beberapa film dan sajak. Untuk novel situasi dan gaya realisme- magis sangat terasa dalam karya Eka Kurniawan dengan judul Cantik Itu Luka ( CIL ). Sejak terbitnya, yakni tahun 2002, banyak pembaca CIL memuntahkan kebingungannya. Dengan pembacaan yang tak terputus, di tengah senggalan tarikan nafas, mereka dibingungkan oleh teks di depannya : cerita silat, folklore, roman sejarah, atau kisah perjuangan. Realisme-magis mungkin sudah hadir berpuluh tahun sebelum terbitnya CIL, beriringan dengan angkatan 1970, namun garapan Eka Kurniawan ini berhasil mengambil identitas realisme-magis dengan lebih kuat.


            Salah satu keunikan realisme-magis ditambahkan dengan kekhasan alur logis rasio barat, seperti dialog tokoh utama Dewi Ayu dan Kakeknya ketika ia tahu bahwa ibunya kabur di suatu pagi :


            “ Mereka petualang-petualang sejati,” katanya pada Tad Stammler.


            “Kau terlalu banyak buku cerita, Nak” kata kakeknya. “ mereka orang-orang religius” katanya lagi. “ di dalam kitab suci diceritakan seorang ibu membuang anaknya ke sungai Nil “/“itu berbeda.”/” ya, memang. Aku dibuang di depan pintu. “ ( Halaman 43 ).


            Dari penggalan dialog tersebut apalagi ketika melihat pilar-pilar penyangga bangun tutur dan cerita CIL, ditambah pohon silsilah tokoh utama Dewi Ayu di bagian belakang sudah pasti akan terbawa pada Gabriel Garcia Marquez dan kawan-kawannya dari Amerika selatan. Di mana deskripsi rasional realitas dipadu dengan deskripsi cara pandang lain atas realitas yang selama ini dilewatkan karena dianggap tidak rasional, tidak logis, dan supernatural, dan tidak bersambut gayung dengan hukum alam.


            Dalam tubuh perfilman, darah realisme-magis hampir meresap penuh ke sebuah film yang berjudul Banyu Biru. Karena, beberapa hal yang tak masuk akal dalam film itu bisa ditafsirkan berasal dari dunia bawah sadar tokoh Banyu (Tora Sudiro). Misalnya ketika pemakalah (Butet Kertaredjasa) dan para peserta seniman tiba-tiba bernyanyi dan menari mengelilingi Banyu yang duduk sendirian di tengah-tengah mereka. Namun peluang ke-realisme magis-an film ini patah oleh pengalaman Banyu dalam film ini sebagai mimpi. Mungkin film ini lebih dengan kekhasan realis yang biasa saja.


            Sedangkan untuk wilayah penulisan cerpen, realisme magis telah dibangun secara total oleh cerpenis Agus Noor dalam judul “ Dzikir Sebutir Peluru “ yang merupakan bagian dari antologi cerpen Kompas tahun 1995. Cerpen yang sangan membutuhkan kesiapan pembaca untuk memahami setting dan penokohan benda mati ini mampu menjadikan realisme-magis sebagai arwah utama penggerak ceritanya.


            “ Kita adalah makhluk terdzolimi, aku tak mau menembus dada bocah-bocah mahasiswa itu, apalagi diisalah sasarkan “.. ujar Peluru 1. Dan banyak dialog-dialog lain yang terus mengalir dan merupakan kumpulan beberapa keajaiban yang masih terkurung dalam wajah real (nyata).


            Realisme-magis dalam nadi puisi dan sajak


            Tiba-tiba Izrail lenyap digantikan oleh sekuntum malaikat lain yang berbeda. Tubuh malaikat yang muncul tiba-tiba itu berubah-ubah bentuknya, dari mawar, lalu melati, kemudian kenanga, lantas bunga matahari, lalu berubah lagi menjadi anggrek putih dengan sejumlah noktah berwarna violet hijau dan oranye. Kembang-kembang itu ukurannya lebih besar ketimbang manusia, kadang mekar besar sekali memenuhi angkasa.


            …. ternyata kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tak terbatas luas bagai cakrawala, mengapa harus ditangisi?


            ( Danarto, Kacapiring:2008 )


            Danarto, mungkin adalah salah satu dari sekian penyair Indonesia yang sering bermain-main dengan kerumitan realisme-magis. Dalam kumpulan puisi Kacapiring hampir setiap judul usungannya menggunakan pendekatan realisme-magis, walaupun tak bisa dipungkiri kadang beliau juga merefresh sajak-sajak berikutnya dengan aroma yang lain.


            Realisme-magis dikhaskan oleh Danarto melalui naskah-naskah puisi religi yang bebas, real, namun memiliki kekuatan-kekuatan tertentu yang semakin menghantarkan dirinya sebagai penyair yang mengutamakan kecerdasan. Tilik saja pada bait puisi Berburu Ayat-Ayat Suci tahun 2005 :


            Di antara reruntuhan negara yang roboh, para pemulung, pengemis, gelandangan, preman, saling berbagi dan tukar tambah ayat-ayat suci dengan ramai, menyimpannya di bawah tikar bobrok yang menyelamatkan hidup mereka


            Sapardi Djoko Damono mencoba menghadirkan unsur realisme magis dengan lebih detail, menancap, namun tetap menawarkan realitas yang kuat. Seperti yang telah beliau tulis dalam kumpulan sajak Perahu Kertas tahun 1982 :


            Waktu mereka membakar gubuknya awal subuh itu ia baru saja bermimpi tentang mata air. Mereka berteriak, “Jangan bermimpi!” dan ia terkejut tak mengerti.


            Sejak di kota itu ia tak pernah sempat bermimpi. Ia ingin sekali melihat kembali warna hijau dan mata air, tetapi ketika untuk pertama kalinya. Ia bermimpi subuh itu, mereka membakar tempat tinggalnya.


            “Jangan bermimpi!” gertak mereka.


            Suara itu terpantul di bawahjembatan dan tebing-tebing sungai. Api menyulut udara lembar demi lembar, lalu meresap ke pori-pori kulitnya. Ia tak memahami perintah itu dan mereka memukulnya, “Jangan bermimpi! ”


            Ia rubuh dan kembali bermimpi tentang mata air dan …..


            Aliran sastra realisme-magis ini dapat mewakili corak pemikiran kaum nahdliyin tentang budaya pembebasan manusia dari keterkungkungan, penjagaan tradisi, dan penegasan terhadap berbagai geliat karomah para ulama dalam kemasan berupa sastra.


            Walaupun realisme – magis masih terbilang asing dalam sastra Indonesia, namun suasana keajaiban tersebut semakin menguat dengan munculnya penyair-penyair muda yang mencoba menganut corak langka ini, sebut saja Nirwan Dewanto, Mashuri, dan masih banyak lagi yang tak lain adalah para pesastra dari generasi muda NU .


            * Penulis adalah Ketua Umum ASJAP Institute Mahasiswa ISIF Cirebon dan Direktur Pesantren Baca- Cirebon.

            Copyright © 2013 Blog Backup Buntet Pesantren. WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
            Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
            back to top