Showing posts with label Nasehat Kyai. Show all posts
Showing posts with label Nasehat Kyai. Show all posts

Mengenang Sang Kyai - Haul 2 Tahun Kyai Abdullah Syifa Akyas

Mengenang Sang Kyai - Haul 2 Tahun Kyai Abdullah Syifa Akyas

Posted by Unknown  |  at  7:37 AM

Belum habis dari ingatan kita, saat pagi hari yang diwarnai hujan, Kita dikejutkan dengan sebuah kabar yang Kita harap itu tidak benar, entah Kita salah dengar atau apapun. Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un, sesepuh Kita, KH. Abdullah Syifa Akyas yang merupakan milikNya dan kekasihNya, telah kembali kepadaNya.

Beliau adalah seorang  ‘alim yang santun,  tawadhu, dan bersahaja.  Dengan Keilmuwan, loyalitas, kepemimpinan, dan jasa-jasa serta banyak hal dari Beliau membuat beliau dipercaya oleh para Kiai menjadi salah satu dari Dewan Sesepuh (Pembina) bersama KH. Hasanudin Kriyani dan KH. Abdul Hamid Anas serta KH. Nahdudin Royandi Abbas selaku Ketua Dewan Sesepuh.

Setiap tahunnya, beliau senantiasa istiqomah memimpin tahlil pada acara Ziarah umum pada haul Buntet Pesantren. Ini merupakan sebuah pengakuan yang luar biasa dari masyarakat Buntet khusunya Para Kiai akan ke'aliman beliau. Sudah belasan atau mungkin puluhan tahun beliau rutin mengimami Tahlil pada Haul termasuk Haul dua tahun lalu, tahun 2013, Beliau masih menjadi Imam dari ribuan peziarah yang hadir di Maqbaroh Buntet Pesantren, dan siapa yang menyangka bahwa Haul tahun itu adalah Haul terakhir kita bersama Beliau.

Rasanya baru kemarin kita masih diayomi oleh sosok yang begitu ikhlas dan tak kenal lelah dalam berdakwah dan beribadah bahkan hingga akhir hayatnya. Menurut salah satu anggota keluarganya, malam hari sebelum wafatnya, beliau masih memimpin tawassul (doa) di salah satu selametan puputan di rumah tetangganya, setelah itu Beliau juga masih sempat berkumpul dan bercengkrama (rapat) dengan sepupunya, Sesepuh Buntet Pesantren, KH. Nahdudin Royandi Abbas beserta para Kyai Buntet yang lain di ndalem Kyai Nahdudin. Subuh keesokan harinya,beliau mengimami sholat di pondoknya, Al Inayah Buntet Pesantren. Tak ada isyarat yang gamblang bahwa Beliau akan “pergi” dari kita. Namun setelah mengimami, Beliau merasakan sesak nafas dan tidak sanggup untuk nguruk ngaji sehingga beliau mengamanahkan kepada salah satu putranya untuk membadalkan Beliau.

Siapa  yang menyangka kalau tahun 2012, saat Kita semua melepas keberangkatan haji beliau adalah momen terakhir kita melepas keberangkatan Haji beliau, hanya beberapa bulan sebelum beliau yang “jujur lan wani” meninggalkan kita.

Kyai Syifa yang sehari-hari lisannya seakan tidak pernah berhenti menyebut nama Allah dan bersholawat, Kyai Syifa yang istiqomah menjalankan puasa sunnah Senin Kamis dan Solat malam serta solat dhuha, Kyai Syifa yang selalu menjaga wudhu, silaturrahim dan ukhuwah,  Kyai Syifa yang begitu telaten mengajari kita Sholawat Fatih, serta amalan-amalan Thoriqoh Tijaniyah, Kyai Syifa yang selalu memimpin harapan-harapan (doa-doa) kita telah kembali kepada yang dikasihinya, Kyai Syifa yang selalu ikhlas ngeladeni semua kalangan tanpa pandang bulu, Kyai Syifa  . . .  Kita semua dan semua amal sholihmu akan menjadi isyhad bahwa Kau adalah benar-benar kekasihNya.
Kurang lebih dua tahun lalu, beberapa saat sebelum Engkau kembali kepadaNya engkau berpesan kepada salah satu anakmu agar selalu menyempatkan “mampir” ke maqbaroh gurumu, KH. M. Ma’shoem Ahmad Lasem setiap kali ziarah  Wali Songo. Kami menganggap pesan itu juga untuk kami semua, para muridmu. Insya Allah Kyai, kami akan sering mengunjungi  tempat peristirahatan terakhirmu...

Mari sama-sama berdoa dan mengirim fatihah untuk beliau . . .

Halal Bihalal Bani Muta'ad

Halal Bihalal Bani Muta'ad

Posted by Unknown  |  at  6:29 AM

Buntet Pesantren, Jum’at, 8 Agustus 2014 – Sekumpulan pemuda dan pemudi Buntet yang merupakan keturunan (Bani) Kiai Mutaad bin Kiai Raden Muridin mengadakan Halal Bihalal. Seperti yang sudah kita sama-sama ketahui bahwa selepas Mbah Muqooyim, Pondok Buntet Pesantren diasuh oleh Mbah Mutaad yang tak lain merupakan cucu menantu dari Mbah Muqooyim. Mbah Mutaad adalah keturunan ke 17 dari Syekh Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati, namun Mbah Mutaad begitu menekankan kepada anak cucunya untuk rendah hati dan menanggalkan gelar kebangsawanan (Raden).

Image preview

Acara yang diinisiasi oleh Moh. Akmal Abbas S. dan kawan-kawan ini sukses mengumpulkan sekitar 80 orang yang notabene masih satu keluarga dan kelak akan meneruskan perjuangan para sesepuh pondok Buntet Pesantren khususnya Mbah Mutaad. Tujuan diadakannya acara tersebut adalah agar sesama zurriyah bisa saling mengenal dan terus menjaga hubungan silaturrahim.

Acara yang dimulai Ba’da Isya ini dihadiri oleh KH. Ade Nasihul Umam yang secara gamblang, detil dan runtut memaparkan dinamika Buntet dari masa ke masa serta peran Buntet Pesantren dalam mengembangkan Pondok-pondok lain, tercatat Pondok-pondok seperti Gedongan, Benda Kerep, Balerante Tebu Ireng, Lirboyo, dan lain-lain tidak terlepas dari ikhtiar beberapa Kiai dari Buntet Pesantren. Selain itu, KH. Ade juga menekankan bahwa Pondok Buntet yang sudah berdiri sejak zaman Pangeran Diponegoro lahir atau tepatnya pada tahun 1758 M bisa tetap bertahan sampai sekarang karena adanya harmoni atau kerjasama antara para Kiai sepuh dan generasi muda. Beliau mencontohkan semasa LPI (sekarang YLPI) dipimpin oleh KH. Junaedi Anas, KH. Junaedi Anas dan para Kiai sepuh saat itu dibantu dan disokong betul oleh para Kiai muda seperti KH. Maufur, KH. Zuhdi, KH. Hisyam Mansyur, dan lain-lain. Oleh karena itu, peran generasi muda Buntet Pesantren khususnya yang hadir pada acara tersebut begitu diharapkan demi kebaikan ma’haduna, Ma’had Buntet Pesantren, tambah KH. Ade.

Meski malam sudah semakin larut, selepas pemaparan sejarah Buntet oleh KH. Ade, sejumlah orang yang tengah berkumpul di ruang pertemuan YLPI Buntet Pesantren masih antusias mendengarkan motivasi dari KH. Salman. KH. Salman menyampaikan sebuah cerita yang mengandung pesan moral bahwa tidak akan menyelesaikan masalah kalau kita hanya bisa berbicara atau menggerutu kesana kemari, yang dibutuhkan adalah action bersama agar masalah tersebut bisa selesai dengan cepat. KH. Salman juga mendorong agar semua yang hadir kelak akan melanjutkan dan menghidupkan kembali Ikatan Keluarga Asrama Pondok Buntet Pesantren yang akan mengadakan Musyawarah Besar pada pekan depan.



Sebelum acara diakhiri dengan foto bersama dan salam-salaman, KH. Nahdudin Royandi Abbas yang sudah rawuh di tengah-tengah peserta sejak awal acara berpesan agar para keturunan Kiai Mutaad agar Tawadlu. Menurut KH. Nahdudin, tawadlu kepada siapapun jaminannya adalah siapapun juga akan tawadlu atau hormat kepada kita. Selain berpesan agar tawadhu, KH. Nahdudin juga menantang semua yang hadir agar bisa lebih baik dari beliau. Beliau telah membuktikan bahwa beliau mampu “menaklukkan” dunia, berkelana dari mulai Timur Tengah sampai di London, Inggris dengan tujuan untuk belajar, belajar, dan terus belajar. Beliau juga berharap bahwa acara tersebut akan diadakan kembali di masa mendatang dan kelak Beliau akan menceritakan pengalaman-pengalamannya selama Beliau melanglangbuana ke berbagai tempat di belahan dunia.

Seusai foto bersama dan salam-salaman, diadakan diskusi yang intinya untuk menguatkan komitmen bersama bahwa IKAPB adalah tanggung jawab kita bersama, begitupun dengan Pondok yang sudah hidup ratusan tahun ini adalah menjadi ladang tempat kita berjuang bersama. Bismillah . . .

Kyai Ahmad Tidjani Umar Anas

Kyai Ahmad Tidjani Umar Anas

Posted by Unknown  |  at  7:47 PM

Buntet Pesantren dengan umurnya yang sudah mencapai beberapa generasi membuatnya telah mencetak para ulama ‘alim, salah satunya adalah Kyai Anas yang tak lain merupakan adik kandung dari Kyai Abbas, sesepuh Buntet Pesantren saat itu (Sesepuh Buntet Pesantren yang ke 4). Beliau bersama Kyai-Kyai yang lain yang masih kerabatnya bahu membahu membantu sesepuh Buntet Pesantren dalam mengembangkan Pesantren yang didirikan oleh Mbah Muqoyyim ini.

Bapa Ahmad Zaeni Hasan, Ayah dari Bapak Helmi Faisal Zaeni (Mentri Pemberdayaan Daerah Tertinggal) dalam buku “Perlawanan dari Tanah Pengasingan Kyai Abbas, Pesantren Buntet dan Bela Negara (Jakarta: eLSAS, 2000) menganalogikan waktu itu “sinar” Kyai Abbas benar-benar terang sehingga Kyai-Kyai yang lain tampak kurang/tidak bersinar. Lebih lanjut Bapa Zaeni Hasan menyebutkan bahwa salah satu Kyai yang sebenarnya “bersinar terang” adalah Kyai Anas. Kyai Anas dikenal begitu tawadlu, beliau lebih memilih menjadi “orang di balik layar” kesuksesan Buntet Pesantren dibanding menjadi yang tampil di muka. Bahkan akhirnya beliau lebih memilih uzlah, menyingkir dari Buntet Pesantren dan mendirikan Pesantren Sidamulya di daerah yang berbatasan dengan Buntet Pesantren,

Permalink gambar yang terpasang
Kyai Ahmad Tidjani beserta istri saat ziarah di Panjalu,
beberapa hari sebelum beliau wafat
Sifat-sifat Kyai Anas yang ‘alim dan tawadlu ternyata menurun ke anak cucunya, salah satunya adalah Kyai Ahmad Tidjani bin Kyai Umar bin Kyai Anas, yang satu pekan kemarin dipundut Allah SWT.
Jasa-jasa Kyai Ahmad Tidjani untuk Buntet Pesantren sudah tidak terhitung, beliau menjadi pengasuh Pondok Darul Hijroh, beliau juga menjadi pengurus YLPI Buntet Pesantren selama beberapa periode dan salah satu yang dapat dengan jelas terlihat adalah Gedung MTs NU Putra 1 Buntet Pesantren yang sekarang berdiri megah, beliaulah salah satu orang yang begitu gedubugan demi terwujudnya renovasi gedung sekolah yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan saat itu.

Sewaktu Buntet Pesantren dipimpin oleh Kyai Dulah, beliaulah salah satu “tangan kanan” Kyai Dulah. Sifat Kyai Ahmad yang jujur dan ikhlas membuat Kyai Dulah begitu mempercayakan banyak hal dan urusan kepada Kyai Ahmad Tidjani. Sifatnya yang benar-benar tawadlu dan tidak mau “tampil” mungkin membuat banyak orang kurang faham dengan peran beliau yang sangat vital untuk Buntet Pesantren.

Setiap ada acara besar atau tamu besar yang datang, hampir bisa dipastikan Kyai Ahmad tidak ada di tengah-tengah acara tersebut atau turut menemui tamu tersebut. Kalaupun datang, mungkin beliau sengaja kari-karian agar tidak “tersorot” oleh khalayak.

Suatu kali, Buntet Pesantren kedatangan Hamzah Haz dan saat itu diantara yang nuai Pengurus Yayasan adalah Kang Soleh Suaedi Busyrol Karim (Kang Ale) dan Kyai Ahmad Tidjani. Karena itu, Kang Ale yang faham dengan sifat Kyai Ahmad -yang tidak mau tampil- berinisiatif ngampiri Kyai Ahmad Tidjani. Berbagai argumen dikeluarkan oleh Kang Ale untuk membujuk Kyai Ahmad agar berkenan turut serta menyambut kedatangan Hamzah Haz, dan berbagai alasan pula yang diungkapkan Kyai Ahmad agar Kang Ale pergi duluan (pergi tanpa bersamanya).

 “Kulae dereng siram, dereng siap-siap”. Ujar Kyai Ahmad sebagai salah satu alasan agar beliau tidak perlu ikut dengan Kang Ale.

Ketika Kyai Nahdudin, sesepuh Buntet Pesantren yang sekarang rawuh di Buntet, beliau enggan untuk singgah di ndalemnya yang lama karena ndalem tersebut begitu dekat dengan ndalem Kyai Nahdudin. Sekali lagi, beliau tidak ingin “tampil” di sekitar pamannya (Kyai Nahdudin) saat banyak tamu mengunjungi Kyai Nahdudin.

Yang masih terkini, beberapa saat sebelum diadakan Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Cirebon, salah satu bakal calon datang ke ndalem Kyai Ahmad. Seperti biasa, bakal calon tersebut showan, minta petunjuk, restu, dan (mungkin juga) dukungan. Namun dari sejak bakal calon tersebut datang sampai bakal calon tersebut mau pamit, Kyai Ahmad tidak berkenan menemui tamu tersebut dan lebih memilih diam di kamarnya.

Semua kehilangannya
Kepergian Kyai Ahmad menghadap Sang Kholiq membuat begitu banyak kalangan kehilangannya. Beliau dikenal begitu ngladeni terhadap santri dan jamaahnya. Saat isyhad jenazah Nyai Ghumaeshoh (satu hari setelah Jenazah Kyai Ahmad dikebumikan), Kyai Hasanudin Kriyani menuturkan bahwa Kyai Ahmad kapanpun dan kemanapun beliau selalu memenuhi permintaan siapapun orang/jamaah yang minta dipimpin ziarah oleh beliau. Beberapa hari sebelum wafat, beliau memimpin rombongan ibu-ibu yang rutin mengikuti pengajiannya ke Panjalu dan Pamijahan. Bahkan Hanya beberapa jam, belum sampai satu hari (24 jam) setibanya dari ziarah Panjalu-Pamijahan, beliau berziarah ke daerah Sumber.

Beliau juga dikenal begitu menjaga ukhuwah dan silaturrahim baik kepada keluarga, rekan-rekan guru, bahkan para santri dan/atau alumninya kerap beliau kunjungi. Beberapa hari sebelum berangkat ziarah ke Panjalu dan Pamijahan, beliau masih menyempatkan diri ke Tegal untuk menemui para alumninya. Kalaupun tidak sanggup bertatap muka secara langsung, beliau pasti akan menghubunginya lewat telpon.

“Ya syukur ari sehat sih, nyongan jeh beli pernah kedeleng, dadi ya biasa bae “wong tua” sih kelangan”. Ucap Kyai Ahmad kepada salah satu rekan guru -yang menceritakan kepada kami- yang ditelponnya. Beliau menganggap dirinya adalah orang tua yang punya tanggung jawab terhadap orang-orang di sekitarnya.

Para santrinya yang sudah tidak mondok (alumni) juga rutin dihubungi oleh beliau. Beliau menanyakan kualitas, kuantitas, dan intensitas ibadah santri-santrinya.
“Priben sholat bengie? Masih rutin kan? Dongana bapa keding”
“Lamon bisa dirutinna puasa sunnah, apa senen-kemis, apa Nabi Daud.”
Hal-hal di atas, diantara yang diucapkan Kyai Ahmad saat menelpon santrinya, seperti yang dituturkan oleh salah satu alumni santri Darul Hijroh II (Al Arifah)
Kepada keluarga, beliau begitu ngaku dan menjaga ikatan silaturrahim. Menurut Ust. Syauqi (Kang Ugi), sejak Ibunya yaitu Nyai Maesoh jatuh sakit, Kyai Ahmad rutin menjenguk dan mendoakan beliau. Bahkan sampai malam jum’at seminggu yang lalu, atau satu malam sebelum Kyai Ahmad kembali ke sisi Allah, Kyai Ahmad masih menyempatkan diri melakukan rutinitas malam jumatnya. Padahal kamis dini hari, beliau baru sampai dari ziarah Pamijahan-Panjalu, dan hari kamis itu, beliau juga ada agenda ziarah ke Sumber.
Kegiatan pembacaan Manaqib At-tijani yang di pelopori oleh KH. Abdullah Toha (Pengasuh PonPes Raudlatul 'Ulum) dan KH. Ahmad Tidjani yang dilaksanakan di Pondok PonPes Raudlatul 'Ulum, Terisi Indramayu yang rutin dilaksanakan stiap bulan -malam jum'at minggu terakhir- dan di pelopori oleh KH. Abdullah Toha (Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul 'Ulum) dan KH. Ahmad Tidjani Umar Anas.
Thoriqot tijani berkembang di Indonesia,salah satunya di Buntet dan dirintis oleh Kakek K. Ahmad :K. Anas
Rasa tanggung jawabnya terhadap tugas dan jamaahnya membuat beliau terus beramal baik sampai akhir umurnya. Dengan aktifitas yang begitu padat (Tegal, Pamijahan-Panjalu, Ziarah ke Sumber, Menjenguk Nyai Maesoh), Jum’at pagi beliau masih memenuhi tanggung jawabnya sebagai guru di salah satu sekolah, beliau mengajar murid-muridnya meskipun tidak “penuh”. Kepada murid-muridnya, beliau merasakan kurang enak badan, kemudian beliau pamit, semua muridnya pun menyalaminya saat itu. Dengan badan yang tidak fit, beliau masih memenuhi kewajibannya menjalankan sholat Jum’at. Selepas sholat Jum’at, beliau dibawa ke Rumah Sakit Ciremai dan langsung masuk ruang ICU hingga wafat di sana. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rooji’un.

Nasihat-nasihat Kyai Ahmad Tidjani
Selain memiliki sifat yang mirip dengan kakeknya, banyak kerabat dan kolega yang mengatakan bahwa beliau memiliki sifat mirip pamannya, Kyai Abdullah Abbas yang sangat irit bicara, karena itu perkataan-perkataan yang keluar dari lisannya hampir semuanya adalah kebaikan baik ilmu, nasihat, motivasi, dan sebagainya. Bahkan menurut Pa Ubed (salah satu teman seperjuangannya) guyonan yang sesekali keluar juga gaya guyonnya sangat mirip dengan gaya guyonnya Kyai Abdullah Abbas.
Berikut, kami cantumkan beberapa nasihat-nasihat beliau yang kami dapat dari anaknya, Ust. Nemi Mu’tashim Billah. Dari beberapa nasihat ini, kita juga dapat melihat sedikit sosok Kyai Ahmad Tidjani Umar Anas.

1.      “Nggak perlu gila jabatan. karena jabatan itu sifatnya sementara”.

2.      “Nggak perlu kirim-kirim Proposal. Proposal utama yg perlu diajukan adalah proposal ke Allah SWT”.

3.      “Iqra' tidak hanya membaca buku tapi juga membaca diri”.

4.      “Memelihara silaturrahim jauh lebih susah daripada membangunnya”.

5.      “Bapa tidak membutuhkan sertifikasi Guru. Bapa lebih membutuhkan Sertifikasi Allah SWT”.

6.      “Apa yg benar menurut kita, belum tentu benar menurut orang lain”.

7.      “Orang-orang itu berhak utk memeluk Agamanya sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing”.

8.      “Biarlah mereka meyakini surga menurut versi mereka sendiri. Kita tidak boleh memaksakan kehendak soal keyakinan masing2”.

9.      “Apa yg terjadi pada diri kita itu adalah karena perilaku kita sendiri”.

10.   “Orang itu tidak semua senang (ke kita) tidak semua benci (ke kita”.

11.   “Ciri-ciri ikhlas itu adalah ketika kita bisa tersenyum kepada orang yg kita benci”.

12.   "Janganlah menjadi seperti lilin yg bisa memberi manfaat kepada lainnya tapi tidak bisa bermanfaat untuk diri sendiri".

13.   "Kebaikan jangan diucapkan tapi cukup untuk di dalam hati saja".

14.   “Hati adalah singgasana yg diperebutkan oleh ilham Allah dan ilham setan”.

15.    “Tapi jika hati dikuasai ilham setan maka niscaya orang menjadi fasiq”.

16.   “Ingin agar doa itu di kabul Allah... 1. Jangan su'udzon kepada Allah 2. Jangan suka berbohong”.

17.   “Bersyukur itu ada 2 1. Bersyukur qouliyah dan bersyukur fi'liyah”.

Perbedaan Hisab Rukyat di Indonesia “Menganalisis Mengenai Perbadaan Penentuan Awal Bulan Qomariyah”

Perbedaan Hisab Rukyat di Indonesia “Menganalisis Mengenai Perbadaan Penentuan Awal Bulan Qomariyah”

Posted by Unknown  |  at  6:49 AM

 Oleh : K.H. Ahmad Manshur
KH. Ahmad Manshur yang duduk di tengah
dengan Baju Koko Hitam
saat Munas Hisab-Rukyat
(Pengasuh Pon-Pes Falak Al-Maufuri, Buntet Pesantren)

A. Perbedaan Penentuan awal Bulan Qomariah
Pada dasarnya persoalan hisab rukyah tidak hanya persoalan penentuan awal bulan qomariyah (dalam hal ini penentuan awal Ramadhan, Syawal, Dzulhijjah). Namun karena persoalan penentuan awal Bulan qomariyah ini lebih mempunyai "Greget" – lebih berpotensi menimbulkan perbedaan – maka wajar jika ia lebih mendapatkan perhatian dan lebih dikenal sebagai persoalan hisab rukyah dari pada persoalan lainnya.

Muara perbedaan pemikiran Hisab Rukyah di Indonesia pada dasarnya tidak berbeda dengan muara perbedaan pemikiran para fuqaha (terdahulu) yakni pada perbedaan pemahaman hadis-hadis hisab rukyah. Hanya saja dalam wacana pemikiran hisab rukyah di Indonesia, ragam pemikirannya lebih majemukj disbanding ragam pemikiran dalam wacana hisab rukyah pada kalangan fuqaha (terdahulu).

Hal ini karena sentuhan Islam sebagai Great tradition dan budaya lokal atau little tradition yang sering menimbulkan corak budaya tersendiri yang diluar dugaan. Dalam konteks ini disebut sebagai paham keislaman yang bersifat lokal.

B. Madzhab Hisab Rukyah Di Indonesia
Pemikiran-pemikiran Hisab Rukyah Di Indonesia diantaranya :

Madzhab Tradisional Islam Jawa
Pemikiran Hisab Rukyah atau madzhab tradisional ala Islam Jawa ini sering disebut pemikiran “aboge” atau “asapon” yakni cara penentuan awal romadhon, syawal dan dzulhijjah dengan berdasarkan pada perhitungan tahun jawa lama (khuruf Aboge atau Khuruf Asapon)

Dalam pemikiran “aboge” ada beberapa prinsip utama, yakni : pertama, prinsip penentuan tanggal selain berdasarkan kalender Hindu-Muslim-Jawa, adalah “dina niku tukule enjing lan ditanggal dalu” (hari itu lahirnya pagi dan diberi tanggal pada malam harinya).
Kedua, bahwa jumlah hari dari bulan puasa menurut cara perhitungan “Aboge” selalu genap 30 hari, tidak pernah 29 hari seperti pada cara perhitungan hari falak (versi pemerintah).

Madzhab Rukyah
Dalam wacana pemikiran Hisab Rukyah di Indonesia “Madzhab” ini selalu diidentikan dengan pemikiran Hisab Rukyah NU. Namun pengidentikan ini kiranya tidak dapat diterima seratus persen kebenarannya. Karena pada dasarnya dalam “Madzhab Rukyah” terdapat madzhab-madzhab kecil yang mempunyai perbedaan-perbedaan yang prinsipil, dan NU sendiri termasuk salah satu dari Madzhab kecil tersebut.

Dalam Pemahaman Mathla’ ada yang berpendapat bahwa hasil Rukyah di suatu tempat berlaku untuk seluruh dunia. Dengan argumentasi bahwa hadis-hadis hisab rukyah khitbahnya ditujukan pada seluruh umat Islam di dunia, tidak dibedakan oleh perbedaan geografis dan batas-batas daerah kekuasaan. Pemikiran inilah yang terkenal dengan “rukyatul Internasional yang dipegang oleh Komisi Penyatuan Kalender Internasional, dimana dalam konteks ke – Indonesia-an adalah kelompok Hizbut Tahrir.

Disamping itu, adapula yang berpendapat bahwa hasil rukyah di suatu tempat hanya berlaku bagi suatu daerah kekuasaan hakim yang mengisbatkan hasil Rukyah tersebut. Pemikiran ini terkenal dengan “rukyah fi wilayatil hukmi” sebagaimana pemikiran yang selama ini dipegangi oleh Nahdlatul Ulama secara institusi.

Madzhab Hisab
Di Indonesia sistem Hisab yang berkembang pada dasarnya banyak sekali, hanya saja jika ditilik dari dasar pijakannya terbagi dalam dua macam yakni hisab urfi dan hisab hakiki. Hisab Urfi adalah system hisab penentuan awal bulan qomariyah yang didasarkan pada waktu rata-rata peredaran bulan. Hisab Hakiki adalah system hisab yang didasarkan pada peredaran bulan dan bumi yang sebenarnya.

Hisab Urfi dalam konteks ke – Indonesia – an sebagaimana dalam pemikiran hisab rukyah “madzhab” tradisional ala Islam Jawa yang terekam dalam sistem aboge dan sistem asapon. Sedangkan mengenai hisab hakiki dapat dipilah pada pendirian yang mendasarkan pada ijtima’ yakni system yang berpendapat bahwa hakekat bulan Qomariyah itu sejak dimulai terjadinya ijtima’. Dalam kalangan pemikir hisab terkenal dengan istilah “ijtima’un Nayyirain Isbatun Bainasy-Syahrain”, yang sesuai dengan ketentuan astronomi bahwa konjungsi merupakan batas antar dua lunar months. Oleh karena itu ijtima’ itu hanya terjadi sekali dalam sebulan dan tidak ada hubungannya dengan tempat-tempat dimuka bumi, maka saat ijtima’ dialami secara berlainan menurut perhitungan waktu setempat. Ijtima’ dialami secara berlainan menurut perhitungan waktu setempat. Ijtima; bias terjadi pada siang hari pada suatu tempat, yang dalam waktu bersamaan saat itu sedang siang hari atau malam hari ditempat lain.
Sistem hisab yang mendasarkan pada posisi hilal, yakni penentuan awal Bulan qomariyah tidak hanya didasarkan pada ijtima’ melainkan harus diperhatikan posisi hilal diatas ufuk saat terbenam setelah terjadinya ijtima’.

Dalam sistem ini terbagi menjadi tiga, yakni :
Sistem yang berpedoman pada ufuk hakiki yakni ufuk yang berjarak 900 dari titik zenith. Prinsip utama dalam system ini adalah sudah termasuk bulan baru, bila hasil hisab menyatakan hilal sudah diatas ufuk hakiki (positif) walaupun tidak imkanurukyah. Sehingga system ini ini dikenal dengan hisab wujudul hilal sebagaimana prinsip yang dipegang oleh Muhamadiyah secara institusi. (Pimpinan Pusat Muhamadiyah, Himpunan Putusan Majlis Tarjih : Muhamadiyah, Cet. III, hal 291-292.)

Sistem yang berpedoman pada ufuk mar’I yakni ufuk hakiki dengan mempertimbangkan refleksi (bias cahaya) dan tinggi tempat observasi.

Sistem yang berpedoman pada imkanurrukyah dalam posisi hilal sudah wujud diatas ufuk hakiki atau mar’I, maka awal bulan Qomariyah masih tetap belum dapat ditetapkan, kecuali apabila hilal sudah mencapai posisi yang dinyatakan dapat dilihat.

C. Menyamakan Persepsi Penentuan Awal Romadhon
Menyikapi masalah perbedaan mengenai penetapan awal bulan Qomariyah, pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama berusaha untuk menengahi dengan menjadi hakim terhadap keputusan-keputusan dari berbagai pihak Ormas – Ormas Islam dan lembaga/instansi terkait. Untuk untuk mengantisipasi mengenai perbedaan penentuan awal bulan qomariyah, pemerintah sebagai Agent of Control memberikan suatu jaminan mengenai kisruh perbedaan tersebut, diantaranya :

Merevitalisasi badan yang selama ini menangani hisab dan rukyat (BHR) agar lebih legitimated sehingga keputusannya mempunyai daya ikat kepada ormas yang diwakilinya.
Melakukan tindak lanjut kajian secara intensif untuk melakukan upaya pendekatan di wilayah pandangan dan metode sehingga tercapai satu kriteria bersama dengan melibatkan pakar dan fuqoha.

Melakukan penelitian observasi hilal secara kontinyu untuk kepentingan kriteria penetapan awal bulan qomariyah.

Mengadakan musyawarah bersama secara intensif untuk menetapkan Takwim secara musyawarah mufakat.

Selama kesatuan takwim itu belum tercapai, semua pihak hendaknya bisa menahan diri untuk menjaga kemaslahatan umat dengan mengedepankan toleransi.

Berkangen-kangenan dengan Hadrotus Syaikh

Berkangen-kangenan dengan Hadrotus Syaikh

Posted by Unknown  |  at  6:21 PM

Ungkapan saya “berkangen-kangenan” mungkin kurang tepat, meskipun sekedar imajiner, karenanya saya beri tanda kutip. Soalnya yang kangen hanya saya dan saya tidak menangi (red. pernah bertemu.) tokoh yang saya kangeni itu.

Dari apa yang saya dengar tentang Hadratussyeikh dan rekaman-rekaman buah pikiran beliau yang berhasil saya kumpulkan sampai saat ini, saya memperoleh gambaran yang demikian jelas mengenai bapak NU ini sehingga seolah-olah saya menangi beiau.

Hadratussyaikh Kyai Muhammad Hasyim bin Kyai Asy'ari
Dan ketika saya, baru-baru ini dihadiahi oleh Kyai Muchit Muzadi copy kitab susunan Sayyid Muhammad Asad Syihab (cetakan Bairut) berjudul “Al ‘Allamah Muhammada Hasyim Asy’ari Waadli’u Labinati Istiqlaalli Indonesia” (Maha Kyai Muhammad Hasyim Asy’ari peletak batu pertama kemerdekaan Indonesia) dan dua khutbah Hadratussyeikh, kangen saya pun kian menjadi-jadi.

Keiginan untuk melakukan wawancara imajiner dengan beliau pun tidak bisa saya empet (red. tahan). Tiba-tiba saya sudah berada dalam majlis yang luar biasa itu. Suatu Halaqoh raksasa yang menebarkan wibawa bukan main mendebarkan. Kalau saja tidak karena senyum-senyum lembut yang memancar dari wajah-wajah jernih sekalian yang hadir, niscaya saya tak akan tahan duduk di majelis ini.

Mereka yang duduk berhalaqoh dengan anggun di sekeliling saya tampak bagaikan sekelompok gunung yang memberikan rasa teduh dan damai. Sehingga rasa ngeri dan gelisah saya berkurang karenanya. Begitu banyak wajah ratusan atau bahkan ribuan memancarkan cahaya, menyinari majelis, ada yang sudah saya kenal secara langsung atau melalui foto dan cerita-cerita, ada yang sebelumnya hanya saya kenal namanya, dan masih banyak lagi yang namanya pun tidak saya ketahui. “Itu tentu kyai Abdul Wahab Hasbullah!”

Wajahnya yang kecil masih tetap berseri-seri menyembunyikan kekuatan yang tak terhingga. Duduk disampingnya Kyai Bishri Syansuri, Kyai Raden Asnawi Kudus, Kyai Nawawi Pasuruan, Kyai Ridwan Semarang, Kyai Maksum Lasem, Kyai Nahrowi Malang, Kyai Ndoro Munthah Bangkalan, Kyai Abdul Hamid Faqih Gresik, Kyai Abdul Halim Majalengka (salah seorang perintis PUI), Kyai Ridwan Abdullah, Kyai Mas Alwi Abdul Azis, dan Kyai Abdullah Ubaid dari Surabaya. Yang pakai torpus tinggi itu tentu Syeikh Ahmad Ghanaim Al-Misri dan yang di sampingnya itu Syeikh Abdul ‘Alim Ash-Shiddiqi. Oh, itu Kyai Saleh Darat, Kyai Subki Parakan, Kyai Abbas Abdul Jamil Buntet, Kyai Ma’ruf Kediri, Kyai Baidlowi lasem, Kyai Dalhar Magelang, Kyai Amir Pekalongan, Kyai Mandur Temanggung!” kembali batinku memekik.

Yang asyik berbisik-bisik itu pastilah Kyai Abdul Wahid Hasyim dan Kyai Mahfudz Shiddiq, Kyai Dahlan dan Kyai Ilyas.

Saya melihat juga Kyai Sulaiman Kurdi Kalimantan, Sayyid Abdullah Gathmyr Palembang, Sayyid Ahmad Al-Habsyi Bogor, Kyai Djunaidi dan Kyai Marzuki Jakarta, Kyai Raden Adnan dan Kyai Masyud Sala, Kyai Mustain Tuban, Kyai Hambali dan Kyai Abdul Jalil Kudus, Kyai Yasin Banten, Kyai Manab Kediri, Kyai Munawir Jogja, Kyai Dimyati Termas, Kyai Cholil Lasem, Kyai Cholil Rembang, Kyai Saleh Tayu, Kyai Machfud Sedan, Kyai Zuhdi Pekalongan, Kyai Maksum Seblak, Kyai Abu Bakar Palembang, Kyai Dimyati Pemalang, Kyai Faqihuddin Sekar Putih, Kyai Abdul Latif Cibeber, Haji Hasan Gipo,Haji Mochtar Banyumas, Kyai Said, dan Kyai Anwar Surabaya, Kyai Muhammadun Pondohan, Kyai Sirajd Payaman, Kyai Chudlori Tegalrejo, Kyai Abdul Hamid Pasuruan, Kyai Badruddin Honggowongso Salatiga, Kyai Machrus Ali Lirboyo, kyai, kyai . . . Di tengah-tengah lautan kyai dan tokoh-tokoh NU itu, Hadlratussyeikh bersila dengan agung, dengan wajah teduh yang senantiasa tersenyum.

Namun, betapapun jernih wajah-wajah mereka, saya masih melihat sebersit keprihatinan yang getir. Karenanya pertanyaan pertama yang saya ajukan setelah berhasil mengalahkan rasa rendah diri yang luar biasa adalah, “Hadratussyeikh saya melihat Hadratusyeikh dan sekalian masyayikh yang berada di sini begitu murung. Bahkan di kedua mata Hadratussyekh yang teduh, saya melihat air mata yang menggenang. Apakah dalam keadaan yang damai dan bahagia begini, masih ada sesuatu yang membuat Hadatussyeikh dan sekian masyayikh berprihatin? Apakah gerangan yang diprihatinkan?"

Hampir serentak, Hadratussyeikh dan sekian masyayikh tersenyum. Senyum yang sulit saya ketahui maknanya. Tampaknya Kyai Abdul Wahab Hasbullah sudah akan menjawab pertanyaan saya, tapi buru-buru Hadratussyeikh memberi isyarat dengan lembut. Ditatapnya saya dengan senyum yang masih tersungging, seolah-olah beliau hendak membantu mengikis kegelisahan saya akibat wibawa yang mengepung dari segala jurusan. Baru kemudian beliau berkata dengan suara lunak namun jelas.

“Cucuku, kau benar. Kami semua disini, Alhamdulillah hidup dalam keadan damai dan bahagia. Seperti yang kau lihat, kami tidak kurang suatu apa. Kalau ada yang memprihatinkan kami, itu justru keadaan kalian. Kami selalu mengikuti terus apa yang kamu lakukan dengan dan dalam jam’iyyah yang dulu kami dirikan. Kami sebenarnya berharap, setelah kami, jam’iyyah ini akan semakin kompak dan kokoh. Akan semakin berkembang. Semakin bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Semakin mendekati cita-citanya. Untuk itu kami telah meninggalkan bekal yang cukup. Ilmu yang lumayan, garis yang jelas, dan tuntunan yang gamblang.”

“Jam’iyyah dulu kami dirikan untuk mempersatukan ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah dan pengikutnya, tidak saja dalam rangka memelihara, melestarikan, mengembangkan, dan mengajarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, tetapi juga bagi khidmah kepada bangsa, negara, dan umat manusia.”
“Sebenarnya kami sudah bersyukur bahwa khittah kami telah berhasil dirumuskan dengan jelas dan rinci sehingga generasi yang datang belakangan tidak kehilangan jejak para pendahulunya.

Sehingga langkah-langkah perjuangan semakin mantap. Tapi kenapa rumusan itu tidak dipelajari dan dihayati secara cermat untuk diamalkan? Kenapa kemudian malah banyak warga jam’iyyah yang kaget, bahkan seperti lepas kendali? Satu dengan yang lain, saing bertengkar dan saling mencerca. Tidak cukup sekedar berbeda pendapat (ikhtilaf), saling ungkur-ngkuran (tadaabur), bahkan saling memutuskan hubungan (taqaathu’). Padahal mereka, satu dengan yang lain bersaudara. Sebangsa. Setanah air. Se-agama. Se-ahlusunah wal jama’ah. Se-jam’iyyah.”

“Laa haula wala quwwata illa billah …”, gumam semua yang hadirin serempak, membuat tunduk saya semakin dalam.

Saya merasakan berpasang-pasang mata menghujam ke diri saya bagai pisau-pisau yang panas. Sementara Hadratussyeikh melanjutkan masih dengan nada yang lembut, penuh kebapakan.
“Yang sedang bertikai itu sebenarnya masing-masing sedang membela kemuliaan apa? Mampertahankan prinsip Islam apa? Sehingga begitu ringan mengorbankan prinsip persaudaraan yang agung?”
“Sejak awal saya kan sudah memperingatkan, baik dalam muqoddimah Al-Qonuun Al-Asasi maupun di banyak kesempatan yang lain, akan bahayanya perpecahan dan pentingnya menjaga persatuan. Dengan perpecahan tak ada sesuatu yang bias dilakukan dengan baik. Sebaliknya dengan persatuan, tantangan yang bagaimanapun beratnya Insya Allah akan dapat diatasi.”

“Perbedaan pendapat mungkin dapat meluaskan wawasan, tetapi tabaahguudl, tahaaasud, tadaabur, dan taqoothu’ apapun alasannya hanya membuahkan kerugian yang besar dan dilarang oleh agama kita.” “Kalau di dalam organisasi, tabaahguudl, tahaaasud, tadaabur, dan taqoothu’ itu merupakan malapetaka. Maka apapula itu namanya jika terjadi dalam tubuh organisasi ulama’ dan para pengikutnya?”

Hadratussyekh menarik nafas panjang, diikuti serentak oleh ribuan gunung kyai. Suatu tarikan nafas yang disusul gemuruh dzikir dalam nada keluhan, “Laa haula walaa quwwata illa billah …” Saya sedang menggumpulkan kebenaran untuk mengatakan kepada Hadratussyeikh bahwa warga jam’iyyah baik-baik saja kalaupun ada sedikit ketegangan itu wajar, kini sudah membaik tak perlu ada yang perlu diprihatinkan ketika beliau berkata, “Engkau tidak perlu menutup-nutupi keadaan yang sebenarnya. Kami tahu semuanya. Mungkin keadaan yang sebenarnya tidak separah yang tampak oleh Kami. Namun yang tampak itu sudah membuat kami prihatin. Kami ingin khidmah dan yang dilakukan oleh jam’iyyah ini sebanding dengan kebesarannya.”

“Lalu apa nasehat Hadratussyeikh?” pertanyaan ini meluncur begitu saja tanpa saya sadari.
“Nasehatku, lebih mendekatlah kepada Allah. Bacalah lagi lebih cermat dan khittah jam’iyyah. Pahami dan hayati maknanya, lalu amalkan! Waspadalah terhadap provokasi kepentingan sesaat! Itu saja.”

Mendengar nasehat singkat itu, tanpa saya sadari, saya melayangkan ke wajah-wajah jernih berwibawa di sekeliling saya. Semuanya mengangguk lembut seolah-olah meyakinkan saya bahwa nasehat Hadaratussyeikh itu tidaklah sesederhana yang saya duga.

“Dan belajarlah berbeda pendapat!” seru sebuah suara yang ternyata adalah suara Kyai Abdul Wahid Hasyim. Berbeda pendapat dengan saudara adalah wajar. Yang tidak wajar dan sangat kekanak-kanakan adalah jika perbedaan pendapat menyebabkan permusuhan di antara sesama saudara.”

Sekali lagi semuanya mengangguk-angguk lembut. Saya tidak bisa dan tidak ingin lagi meneruskan wawancara. Saya hanya menunggu. Ingin lebih banyak lagi nasehat. Tapi yang saya dengar kemuadian adalah ayat Al-Qur’an yang dibaca dengan khusyu’ oleh –masya Allah– Kyai Abdul Wahab Hasbullah. “Washbir nafsaka ma’alladziina yad’uuna Robbahum bil ghodaati wal ‘asyiyi yuriiduuna wajhahu walaa ta’du ‘ainaka ‘anhum turiidu ziinatal hayaatid-dunya wala tuthi’ man aghfalnaa qolbahu ‘an dzikriNaa wattaba’a hawaahu wakaana amruhu furuuthaa.”

Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi dan petang hari mengharapkan keridloan-Nya dan jangan palingkan kedua matamu dari mereka karena mengharap gemerlap kehidupan dunia ini dan jangan ikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami dan menuruti hawa nafsunya serta adalah keadannya melampaui batas. Dan dengan berakhirnya bacaan ayat 28 Al-Kahfi itu, saya tak mendengar lagi kecuali dzikir dan dzikir yang gemuruhya serasa hendak mengoyak langit.

oleh KH. A. Musthofa Bisri bin KH. Bishri Mushtofa bin KH. Mushtofa
(dengan perubahan seperlunya)



























Tabarruk itu tidak Bidah

Tabarruk itu tidak Bidah

Posted by Unknown  |  at  4:10 AM

Tabarruk adalah mashdar (asal kata) dari tabarroka, akar kata dari albarokah. Albarokah sendiri berarti: Ziyadatulkhoir al ilahy (tambahan kebaikan dari Tuhan). Lalau diartikan ke bahasa kita mungkin berarti "ngalap barokah" atau mencari keberkahan (mencari kebaikan Tuhan, red). Memang semua tahu bahwa al fail fil haqiqoh hua Allah swt (pelaku sebenarnya adalah Allah), seperti dalam alquran surat al mulk ayat satu:tabarokalladzi biyadihi almulku(maha berkah Allah swt...)

Namun dlm bhs Arab kita mengenal dua arti dari satu lafadz.Arti haqiqat dan arti majaz.Sekarang mari kita telusuri majaz.Mungkin 40% dari bhs manusia terdiri dari majaz(idiom)dan kita menganggap sbg hal yg wajar2 saja.Contoh:kyai Zaid adalah Alim.Kata alim atau pandai pada Zaid itu majaz,sbb yg alim sebenarnya adalah Allah swt dan manusia siapapun orang nya adalah BODOH sekalipun itu mujaddid.Contoh lagi:Nabi saw pemberi petunjuk kpd kita,itu juga majaz dan diakui oleh qur'an sendiri..."wa innaka latahdii ilaa shirotin mustaqiim"(sungguh engkau Muhammad adalah org yg memberi petunjuk kpd jalan lurus),tentu ayat ayat ini tdk ta'arud dg ayat "wallahu alhady ila sawaissabiil" Allah adalah pemberi petunjuk kpd jalan yg lurus.Sebab ayat pertama berma'na majaz dan yg ke dua berma'na haqiqat,pemberi petunjuk sebenarnya adalah ALLAH swt.Sekalipun kita tidak boleh menuduh orang sbg MUSYRIK lantaran ia berucap Nabi saw adalah pemberi petunjuk,sbb qur'an sendiri menyatakan demikian spt yg diatas.

DI MANAKAH BAROKAH..?

Kita tahu Allah swt maha pemberi barokah,kalau kata albarokah kita artikan alkhoirulkatsiir(kebaikan yg banyak)spt apa yg terdapat di berbagai kamus Arab,maka sudah tentu letak barokah itu terdapat di Makhluq Allah swt,sekalipun asalnya tentu dari Allah swt yg maha memberkati.Dan adanya barokah itu pada makhluq Allah swt tdk DIPUNGKIRI Alqur'an,Allah swt berfirman;Alladzi baarokna haulahu..(al isro' ayat 1)yg kami barokahi sekelilingnya.Tentu tidak MUSYRIK bukan..?Kalau ada org bermukim di Makkah atau Palestina dg tujuan tabarruk dg tanah yg diberkati Allah swt.Dalam ayat lain Allah swt berfirman: inna anzalnaahu fi lailatin mubarokah(addukhon ayat 3)kami turunkan alqur'an pada malam yg penuh barokah.Tentu sangat bodoh kalau kita menganggap bid'ah kpd orang yg tabarruk atau mencari keberkahan malam Ramadhan atu lailatulqadr dg beribadah,bermunajat,tadarus dan lain2.

Fiman Allah yg lain:....Min Syajarotin mubarokatin...(annur 35)dari pohon yg diberkahi.Maka kita tahu pohon Zaitun menjadi barokah krn Allah swt.

Alhasil ma'na barokah itu banyak,dan dapat diartikan berbeda2 sesuai maqamnya yg pantas.Lafadz barokah bagi makhluq Allah swt dalam teks2 hadits sangat banyak kita jumpai.Misalkan ada sebuah hadits Shohih masyhur: inna filghonami la barokatan(sungguh dlm kambing trdpt barokah)maka jgn sekali2 kita mengkafirkan org islam yg memelihara kambing krn mencari keberkahan usahanya (tabarruk)karena menjalankan dan percaya kpd petunjuk Nabi saw,kecuali org yg dungu saja yg beranggapan spt itu....

Begitulah, kalau kita telusuri lafadz barokah dari teks2 qur'an dan hadits banyak terdapat pada "dzat"atau materi yg mempunyai keutamaan,seperti makanan,minuman,tempat,harta,anak2 sesuai yg terdapat dalam sebuah do'a yg ma'tsur:Allahumma barik fi maalihi wa aulaadihi wa umrihi (ya Allah berkatilah pada Hartanya,anak2nya dan umurnya).

Kalau kt cermati di kitab2 hadits apalagi bab al ath'imah beragam lafadz barokah dapat kt temukan baik secara eksplsit maupun implisit.Tentunya ada perbedaan yg jelas atara barokah Allah swt sang Khaliq dg barokah yg ada pada makhluqNya.Sebab barokah sang Kholiq bersifat "dzaty" ya'ni ada dg sendirinya,sedangkan pada Makhluq bersifat a'rodhy atau musta'aar(diadakan atau pinjaman).

TRADISI(sunnah)TABARRUK pada SALAFUSSHOLIH...

Tentu sebagai kaum Ahlussunnah waljama'ah kita masyarakat pesantren,tidak mau melakukan perbuatan yg dilarang ajaran Agama,maka dalam berbagai hal kita mesti menteladani al-salaf al-shalih ya'ni para Shahabat,ulama dari kalangan Tabi'ien,aimmatul Madzahib dan murid2 mereka.Supaya jangan terjebak di lingkaran "bid'ah munkaroh" atau bid'ah qobihah.

Contoh bertabarruk:

1-bertabarruk dg rambut RosuliLLAH saw:

dari utsman bin Abdillah bin Mauhib dia berkata;kelurga menyuruhku untuk mengambil wadah air ke Ummu Salamah ra,maka dia datang dg membawa semangkuk perak berisi rambut Rosulillah saw,dan adalah jika ada seseorang terkena penyakit ain atau suatu penyakit diberikannya wadah air tadi(untuk minum),kemudian aku melihat wadah tsb terdapat beberapa rambut merah(hr.al Bukhory,kitab allibas).2.Tabarruk dg keringat Nabi saw:

suatu hari Nabi saw masuk ke rumah kami dan beliau tidur siang,kemudian ibuku(umu sulem)datang dg membawa botol dan mewadahi keringatnya dg botol tsb,lalu Nabi saw terbangun dan Nabi berkata:sedang apa hai Ummu Sulem,dia menjawab;ini keringatmu mau kami campurkan dg minyak wangi.Ternyata minyak wangi tsb terwangi dr yg lainya(hr.Muslim)

bersambung....


Tabarruk itu tidak Bid'ah

Tabarruk itu tidak Bid'ah

Posted by Unknown  |  at  4:10 AM

Tabarruk adalah mashdar (asal kata) dari tabarroka, akar kata dari albarokah. Albarokah sendiri berarti: Ziyadatulkhoir al ilahy (tambahan kebaikan dari Tuhan). Lalau diartikan ke bahasa kita mungkin berarti "ngalap barokah" atau mencari keberkahan (mencari kebaikan Tuhan, red). Memang semua tahu bahwa al fail fil haqiqoh hua Allah swt (pelaku sebenarnya adalah Allah), seperti dalam alquran surat al mulk ayat satu:tabarokalladzi biyadihi almulku(maha berkah Allah swt...)

 

Namun dlm bhs Arab kita mengenal dua arti dari satu lafadz.Arti haqiqat dan arti majaz.Sekarang mari kita telusuri majaz.Mungkin 40% dari bhs manusia terdiri dari majaz(idiom)dan kita menganggap sbg hal yg wajar2 saja.Contoh:kyai Zaid adalah Alim.Kata alim atau pandai pada Zaid itu majaz,sbb yg alim sebenarnya adalah Allah swt dan manusia siapapun orang nya adalah BODOH sekalipun itu mujaddid.Contoh lagi:Nabi saw pemberi petunjuk kpd kita,itu juga majaz dan diakui oleh qur'an sendiri..."wa innaka latahdii ilaa shirotin mustaqiim"(sungguh engkau Muhammad adalah org yg memberi petunjuk kpd jalan lurus),tentu ayat ayat ini tdk ta'arud dg ayat "wallahu alhady ila sawaissabiil" Allah adalah pemberi petunjuk kpd jalan yg lurus.Sebab ayat pertama berma'na majaz dan yg ke dua berma'na haqiqat,pemberi petunjuk sebenarnya adalah ALLAH swt.Sekalipun kita tidak boleh menuduh orang sbg MUSYRIK lantaran ia berucap Nabi saw adalah pemberi petunjuk,sbb qur'an sendiri menyatakan demikian spt yg diatas.

 

DI MANAKAH BAROKAH..?

 

Kita tahu Allah swt maha pemberi barokah,kalau kata albarokah kita artikan alkhoirulkatsiir(kebaikan yg banyak)spt apa yg terdapat di berbagai kamus Arab,maka sudah tentu letak barokah itu terdapat di Makhluq Allah swt,sekalipun asalnya tentu dari Allah swt yg maha memberkati.Dan adanya barokah itu pada makhluq Allah swt tdk DIPUNGKIRI Alqur'an,Allah swt berfirman;Alladzi baarokna haulahu..(al isro' ayat 1)yg kami barokahi sekelilingnya.Tentu tidak MUSYRIK bukan..?Kalau ada org bermukim di Makkah atau Palestina dg tujuan tabarruk dg tanah yg diberkati Allah swt.Dalam ayat lain Allah swt berfirman: inna anzalnaahu fi lailatin mubarokah(addukhon ayat 3)kami turunkan alqur'an pada malam yg penuh barokah.Tentu sangat bodoh kalau kita menganggap bid'ah kpd orang yg tabarruk atau mencari keberkahan malam Ramadhan atu lailatulqadr dg beribadah,bermunajat,tadarus dan lain2.

 

Fiman Allah yg lain:....Min Syajarotin mubarokatin...(annur 35)dari pohon yg diberkahi.Maka kita tahu pohon Zaitun menjadi barokah krn Allah swt.

 

Alhasil ma'na barokah itu banyak,dan dapat diartikan berbeda2 sesuai maqamnya yg pantas.Lafadz barokah bagi makhluq Allah swt dalam teks2 hadits sangat banyak kita jumpai.Misalkan ada sebuah hadits Shohih masyhur: inna filghonami la barokatan(sungguh dlm kambing trdpt barokah)maka jgn sekali2 kita mengkafirkan org islam yg memelihara kambing krn mencari keberkahan usahanya (tabarruk)karena menjalankan dan percaya kpd petunjuk Nabi saw,kecuali org yg dungu saja yg beranggapan spt itu....

 

Begitulah, kalau kita telusuri lafadz barokah dari teks2 qur'an dan hadits banyak terdapat pada "dzat"atau materi yg mempunyai keutamaan,seperti makanan,minuman,tempat,harta,anak2 sesuai yg terdapat dalam sebuah do'a yg ma'tsur:Allahumma barik fi maalihi wa aulaadihi wa umrihi (ya Allah berkatilah pada Hartanya,anak2nya dan umurnya).

 

Kalau kt cermati di kitab2 hadits apalagi bab al ath'imah beragam lafadz barokah dapat kt temukan baik secara eksplsit maupun implisit.Tentunya ada perbedaan yg jelas atara barokah Allah swt sang Khaliq dg barokah yg ada pada makhluqNya.Sebab barokah sang Kholiq bersifat "dzaty" ya'ni ada dg sendirinya,sedangkan pada Makhluq bersifat a'rodhy atau musta'aar(diadakan atau pinjaman).

 

TRADISI(sunnah)TABARRUK pada SALAFUSSHOLIH...

 

Tentu sebagai kaum Ahlussunnah waljama'ah kita masyarakat pesantren,tidak mau melakukan perbuatan yg dilarang ajaran Agama,maka dalam berbagai hal kita mesti menteladani al-salaf al-shalih ya'ni para Shahabat,ulama dari kalangan Tabi'ien,aimmatul Madzahib dan murid2 mereka.Supaya jangan terjebak di lingkaran "bid'ah munkaroh" atau bid'ah qobihah.

 

Contoh bertabarruk:

 

1-bertabarruk dg rambut RosuliLLAH saw:

 

dari utsman bin Abdillah bin Mauhib dia berkata;kelurga menyuruhku untuk mengambil wadah air ke Ummu Salamah ra,maka dia datang dg membawa semangkuk perak berisi rambut Rosulillah saw,dan adalah jika ada seseorang terkena penyakit ain atau suatu penyakit diberikannya wadah air tadi(untuk minum),kemudian aku melihat wadah tsb terdapat beberapa rambut merah(hr.al Bukhory,kitab allibas).2.Tabarruk dg keringat Nabi saw:

 

suatu hari Nabi saw masuk ke rumah kami dan beliau tidur siang,kemudian ibuku(umu sulem)datang dg membawa botol dan mewadahi keringatnya dg botol tsb,lalu Nabi saw terbangun dan Nabi berkata:sedang apa hai Ummu Sulem,dia menjawab;ini keringatmu mau kami campurkan dg minyak wangi.Ternyata minyak wangi tsb terwangi dr yg lainya(hr.Muslim)

 

3.Kejadian Ummu Aiman:

Kyai Annas Abdul Jamil

Kyai Annas Abdul Jamil

Posted by Unknown  |  at  10:49 AM

Kyai Annas Abdul Jamil

Tulisan ini untuk mengenang beliau sehubungan haul yang diselenggarakan pada pekan lalu di pesantrennya Sidamulya dan Buntet Pesantren. peringatan Haul kyai Anas Abdul Jamil diselenggarakan. POndok Pesantren Sidamulya sebagai basis binaan pesantren beliau dan makbaroh Gajah Ngambung Buntet Pesantren ramai dikunjungi para kerabat, santri dan para  maysarakat lainnya.

Siapakah kyai Anas dan apa saja kiprah beliau dalam membangun komunitas pesantren di Buntet dan pengaruh beliau di luar buntet. Kita bisa temui tulisan berikut hasil wawancara dengan Tubagus Ahmad Rifqi Khan sesaat setelah haul berlangsung.


Keturunan
Beliau bernama KH. Annas putra dari KH. Abdul Jamil bin Kyai Muta'ad dan seterusnya ke atas, yang bila dirunut, menurut silsilah dari Buntet Pesantren bersambung ke Syarif Hidayatullah.

Kyai Abdul Jamil memiliki putra yang berakhiran "AS": Kyai Abbas, Kyai Anas, Kyai Ilyas dan Kyai Akhyas. Jadi, Kyai Annas merupakan adik kandung dari Kyai Abbas.  

Tarekat
Kyai Annas Abdul Jamil adalah pembawa tarekat Tijaniah  yang langsung didapat dari Tanah Suci. Dari Buntet Pesantren Cirebon inilah kemudian menyebar ke ke daerah-daerah lainnya. Seperti dikutip dalam sebuah tulisan :

Perkembangan tarekat Tijaniyah di Cirebon mulanya berpusat di Pesantren Buntet di Desa Mertapada Kulon. Pesantren ini dipimpin oleh lima bersaudara diantaranya adalah K.H Abbas sebagai saudara tertua yang menjabat sebagai ketua Yayasan dan Sesepuh Pesantren dan KH Anas sebagai adik kandungnya.

Atas perintah KH Abbas pada 1924 , KH Anas pergi ke tanah suci untuk mengambil talqin tarekat Tijaniyah dan bermukim disana selama 3 tahun. Pada bulan Muharram 1346 H/Juli1927 M KH Anas kembali pulang ke Cirebon. Kemudian, pada bulan Rajab 1346 H/Desember 1927, atas izin KH Abbas kakaknya, KH Anas menjadi guru tarekat Tijaniyah. KH Anas-lah yang membawa, merintis dan memperkenalkan tarekat Tijaniyah di Cirebon…K.H Anas mengambil talqin dari Syaikh Alfahasyim di Madinah. K.H Abbas yang semula menganut tarekat Syattariyah setelah berkunjung ke Madinah, berpaling kepada tarekat Tijaniyah dengan mendapat talqin dari Syaikh Ali bin Abd Allah at-Thayyib yang juga mendapat talqin dari Syaikh Alfahasyim di Madinah” (dikutip dari buku Mengenal dan Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia : DR Hj.Sri Mulyati et.al)


Kyai Annas Abdul Jamil

Kyai Annas Abdul Jamil

Posted by Unknown  |  at  10:49 AM

Kyai Annas Abdul Jamil

Tulisan ini untuk mengenang beliau sehubungan haul yang diselenggarakan pada pekan lalu di pesantrennya Sidamulya dan Buntet Pesantren. peringatan Haul kyai Anas Abdul Jamil diselenggarakan. POndok Pesantren Sidamulya sebagai basis binaan pesantren beliau dan makbaroh Gajah Ngambung Buntet Pesantren ramai dikunjungi para kerabat, santri dan para  maysarakat lainnya.

Siapakah kyai Anas dan apa saja kiprah beliau dalam membangun komunitas pesantren di Buntet dan pengaruh beliau di luar buntet. Kita bisa temui tulisan berikut hasil wawancara dengan Tubagus Ahmad Rifqi Khan sesaat setelah haul berlangsung.


Keturunan
Beliau bernama KH. Annas putra dari KH. Abdul Jamil bin Kyai Muta'ad dan seterusnya ke atas, yang bila dirunut, menurut silsilah dari Buntet Pesantren bersambung ke Syarif Hidayatullah.

Kyai Abdul Jamil memiliki putra yang berakhiran "AS": Kyai Abbas, Kyai Anas, Kyai Ilyas dan Kyai Akhyas. Jadi, Kyai Annas merupakan adik kandung dari Kyai Abbas.  

Tarekat
Kyai Annas Abdul Jamil adalah pembawa tarekat Tijaniah  yang langsung didapat dari Tanah Suci. Dari Buntet Pesantren Cirebon inilah kemudian menyebar ke ke daerah-daerah lainnya. Seperti dikutip dalam sebuah tulisan :

Perkembangan tarekat Tijaniyah di Cirebon mulanya berpusat di Pesantren Buntet di Desa Mertapada Kulon. Pesantren ini dipimpin oleh lima bersaudara diantaranya adalah K.H Abbas sebagai saudara tertua yang menjabat sebagai ketua Yayasan dan Sesepuh Pesantren dan KH Anas sebagai adik kandungnya.

Atas perintah KH Abbas pada 1924 , KH Anas pergi ke tanah suci untuk mengambil talqin tarekat Tijaniyah dan bermukim disana selama 3 tahun. Pada bulan Muharram 1346 H/Juli1927 M KH Anas kembali pulang ke Cirebon. Kemudian, pada bulan Rajab 1346 H/Desember 1927, atas izin KH Abbas kakaknya, KH Anas menjadi guru tarekat Tijaniyah. KH Anas-lah yang membawa, merintis dan memperkenalkan tarekat Tijaniyah di Cirebon…K.H Anas mengambil talqin dari Syaikh Alfahasyim di Madinah. K.H Abbas yang semula menganut tarekat Syattariyah setelah berkunjung ke Madinah, berpaling kepada tarekat Tijaniyah dengan mendapat talqin dari Syaikh Ali bin Abd Allah at-Thayyib yang juga mendapat talqin dari Syaikh Alfahasyim di Madinah” (dikutip dari buku Mengenal dan Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia : DR Hj.Sri Mulyati et.al)


Mengukur Posisi Diri di Hadapan Allah S.W.T

Mengukur Posisi Diri di Hadapan Allah S.W.T

Posted by Unknown  |  at  4:27 AM


Renungan Jum'at oleh Kyai Buntet Pesantren
 
Manakala anda ingin melihat posisi anda di sisiNya, maka lihatlah bagaimana Allah memposisikan dirimu (saat ini). Allah menjadikan makhluknya menjadi dua kelompok besar. Kelompok celaka dan kelompok bahagia. Saat ini dimana posisi anda diantara dua kelompok tersebut, apakah anda masuk dalam kelompok celaka yang paling celaka, atau kelompok bahagia paling bahagia. Lihatlah dan refleksikan dimana hati anda saat itu.




Bila anda masuk dalam posisi sedang taat dan penuh ubudiyah, berarti Allah sedang meninggikan derajat anda. Bila anda sedang maksiat dan mengingkari perintahNya, berarti Allah sedang menghinakan anda.
Bila anda bersemangat untuk taubat, berarti Allah sedang mengampuni anda. Bila anda mengulur-ulur taubat anda berarti Allah belum mengampuni diri anda.



Jika hati anda terus menerus membenarkan wujud Tuhanmu dan Dialah Satu-satuNya yang berkuasa dan Diraja, serta diri anda meneladani jejak RasulNya, maka anda berada dalam golngan orang-orang yang mendapatkan limpahan kebajikan. Sebaliknya jika anda mengingkari semua itu, anda tergolong paling celaka ketika itu.




Apabila anda masuk golongan hamba yang berbahagia, tetapi anda ingin melihat posisi anda, apakah tergolong ahlul Qurbi (kalangan yang dekat dengan Allah) atau ahlul Bu'di (kalangan yang jauh dari Allah) maka coba anda tengok hati anda: Kalau anda mengenal Allah melalui makhluk-makhlukNya di semesta raya ini, maka anda tergolong kelompok yang jauh dari Allah. Tetapi kalau anda mengenal Allah melalui Allah, maka anda tergolong kaum yang dekat dengan Allah.




Anda yang menuju Allah tetapi masih melalui perantara semesta makhluk ini anda belum menemukan Allah, dan anda sulit selamat - kecuali Rahmat Allah --, melainkan anda harus ditolong oleh seorang Mursyid yang Kamil- Mukammil yang bisa mengantar anda di hadapan Allah.




Bila anda tergolong Ahlul Yamin, dan ingin mengetahui posisi anda apakah tergolong orang yang mulia atau tergolong yang terhina: Lihatlah apakah anda tergolong orang yang menjalankan perintahnya atau justru melanggar laranganNya.

Kalau anda melanggar perintahNya meremehkan ajaranNya, maka anda tergolong orang ang terhinakan. Termasuk terhinakan pula posisi anda manakala, adalah ketika anda malas-malasan beribadah, anda menerjang larangan dan memusuhi para waliNya.

Demikian yang diuraikan panjang lebar oleh Ibnu Ajibah al-Hasani dalam Syarah al-Hikam.



Copyright © 2013 Blog Backup Buntet Pesantren. WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
back to top