Showing posts with label Akhlak. Show all posts
Showing posts with label Akhlak. Show all posts

Kiat Menanggulangi Kecanduan Narkoba Secara Spiritual

Kiat Menanggulangi Kecanduan Narkoba Secara Spiritual

Posted by Unknown  |  at  2:13 PM

Oleh H. Tb. Ahmad Rifqi Chowas

Dalam pandangan hukum Islam, pada awalnya, jenis narkoba seperti ecstasy, putaw, shabu-shabu, morphin, dan semacamnya belum dikenal, kecuali hanya istilah hasyisy. Oleh karena itu, yang banyak diperbincangkan seputar hukumnya adalah mengenai hasyisy, kalau hasyisy dihukumkan haram, maka ecstasy, shabu-shabu, putaw, morphin, dan yang semacamnya juga haram, karena benda-benda tersebut merupakan bagian atau sama dengan narkotika.

Namun, lebih lanjut dalam istilah fiqih kontemporer dikenal dengan istilah “al mukhaddirat” yang berarti narkotika, (Inggris:narcotics). Menurut Syekh Wahbah al-Zuhaili Narkoba adalah segala sesuatu yang membahayakan tubuh dan akal (kullu maa yadhurru al-jism wa al-‘aql).

Syekh Nashr bin Muhammad bin Ibrahim as-Samarqandy dalam kitab “Tanbiihul Ghafilin” menjelaskan, paling tidak ada 10 keburukan Narkoba antara lain: seperti orang gila dan menjadi bahan ketawaan anak-anak; menghabiskan harta dan meng­hancurkan akal; memicu per­musuhan antara saudara dan te­man sendiri; dan menghalangi seseorang mengingat Allah dan mendirikan shalat.

Bahaya narkoba bagi kesehatan memang banyak sekali, berbagai penyakit dan kecanduan serta disfungsi berbagai organ tubuh yang mematikan siap mengintai. Antara lain narkoba merusak fungsi otak; merusak fungsi hati; berbahaya bagi paru-paru, jantung dan alat reproduksi; serta dapat merusak fungsi syaraf. 

Cara Menghindari Narkoba
Beberapa tips yang bisa digunakan untuk menghindari narkoba seperti dikutip dari Humas Polda Metro Jaya :
  1. Jangan pernah mencobanya, walaupun untuk iseng atau untuk alasan lain, kecuali perintah dokter/alasan medis.
  2. Kuatkan iman, mantapkan pribadi, pakailah rasio (pemikiran, pertimbangan) lebih banyak dari pada emosi.
  3. Jangan menghindar dari problem, tetapi hadapi dan atasi persoalan sampai tuntas, bila tak mampu konsultasi pada ahli.
  4. Pilihlah pergaulan yang aman jangan yang berbahaya.
  5. Pilih kegiatan yang sehat, tak merugikan diri sendiri ataupun orang lain, ikutilah klub olah raga, organisasi sosial. Lakukan hobi bersama teman dan keluarga.
  6. Gunakan waktu dan tempat yang aman, jangan keluyuran malam-malam. Bersantailah dengan keluarga, berkaraoke, piknik, makan bersama, masak bersama, beres-beres bersama nonton bersama keluarga.
  7. Selalu berusaha menjadi pribadi yang baik, bertindak positif, bertanggungjawab, jadilah figure/sosok yang diteladani.
  8. Berusahalah “saling mendengar”, saling mengingatkan dan saling memaafkan agar semakin mendewasakan pribadi masing-masing.
  9. Buatlah keluarga, rumah tangga, menjadi tempat yang paling menyenangkan, paling menenangkan sehingga membuat “betah” tinggal bersama “sahabat”.
  10. Selalu ingatkan, bahwa ancaman hukuman untuk penyalah guna Narkoba, apalagi bagi pengedar Narkoba adalah Lembaga Pemasyarakatan.
  11. Ingatkan bahwa Narkoba akan merusak kerja otak, susunan syaraf pusat, merusak ginjal, lever dan sebagainya.
Lebih baik mencegah daripada harus mengobatinya. Karena untuk proses pengobatan dan penyembuhan tidaklah mudah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Penanggulangan Kecanduan Narkoba Secara Spiritual 
1. Muraqabah
    Muraqabah berarti kewaspadaan konteplatif dan perenungan kontenplatif. Jadi muraqabah adalah konsetrasi penuh, waspada, dengan segenap kekuatan jiwa, pikiran dan imajinasi serta pemerikasaan yang denganya sang hamba dapat mengawasi dirinya sendiri dengan cermat. Dalam muraqabah manusia akan selalu merasa dimanapun dia berada maka dia akan selalu merasakan kehadiran Allah.
    Dengan begitu melalui jalan muraqabah maka pecandu dapat disembuhka, karena dalam muraqabah pecandu dapat dibimbing untuk melakukan kontemplasi, sehingga dia dapat brkonsentrasi penuh untuk melakukan pemeriksaan terhadap dirinya dan apa yang dilakukannya. Dengan dibimbing mengunakan cara muraqabah ini maka pecandu akan dapat dipastikan secara beragsur-angsur akan dapat disembuhkan, karena dia dapat mengawasi dirinya. Karena pecandu selalu merasakan kehadiran Allah, maka ia akan selalu merasa bersalah atas dosa yang telah ia lakukan, sehingga ada keinginan untuk meninggalkan. Dari perasaannya ini dia akan semakin kuat keinginanya untuk sembuh.

    2. Muhasabah
    Muhasabah merupakan kata Arab yang berasal dari suatu akar yang mencakup konsep-konsep, sperti menata, perhitungan, mengundang untuk melakukan perhitungan, mengenapkan dan menetapkan seseorang untuk bertangung jawab. Jadi Muhasabah dapat juga diartikan sbagai menghitung, tata buku, dan dalam teologi dan tasawuf disebut sebagai pemeriksaan kesadaran. Implementasi muhasabah adalah tobat kepada Allah, tobat didahului oleh muhasabah.

    Dengan jalan muhasabah maka pecandu akan dapat disembuhkan, karena dalam muhasabah ini pecandu akan dibimbing bagaimana cara memunculkan kesadarnya dalam dirinya bahwa apa yang dia lakukan yaitu menggunakan narkoba adalah suatu kesalahan besar. Dengan munculnya kesadaranya maka dia akan tahu bahwa betapa besarnya nikmat Allah yang dia dapatkan, sehingga dia secara bertahap dapat disembuhkan.

    Kesadaran akan nikmat Allah yang maha luas akam membuat pecandu tersebut makin menyadari kesalahanya, sehingga ada usaha untuk tidak melakukannya lagi. Di dalam muhasabah ini pecandu harus juga dibantu denga doa dan dzikir untuk memberikan aura positif dengan asma Allah, dan merasakan diri kita rendah di hadapan Allah.

    3. Tafakur
      Tafakur berarti teringat, terkenang, refleksi atau perenungan tentang sesuatu. Tafakur berkaitan dengan nama-nama Allah, bukan zatnya karena akar seluruh wujud adalah nam-nama Allah yang maha indah.Tafakur juga dapat dikatakan merenugkan ciptaan Allah, kekuasaan-Nya yang nyata dan tersembunyi serta kebesarn-Nya diseluruh langit dan bumi. Tafakur mengenai nikmat Allah akan mendorong kita untuk selalu mensyukuri dan menyibukkan diri dengan ibadah dan amal soleh sebagai wujud cinta kita kepada Allah, sehingga tidak ada lagi pikiran untuk menggunakan narkoba.
      Kita juga dianjurkan untuk tafakur supaya kita tidak lalai akan mendorong kita untuk selalu beribadah takut meninggalkan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semakin menigkatnya ibadah kita kepada Allah maka semakin menyebuhkan kecanduan terhadap narkoba. Tafakur juga dapat meningkatkan sifat zuhud kepada dunia dan kecintaan kepada akhirat. Dengan zuhudnya kita kepada dunia makan kita akan semakin dekat dengan Allah, dan memulai dengan kehidupan spiritual yang baru. Tafakur juga dapat di gabung dengan doa, wirid, muhasabah, zikir, uzlah dan lain-lain.

      4. Dzikir
        Dzikir berarti mengingat, menyebut, mengucapkan, mengagungkan dan menyucikan Allah dengan mengulang salah satu naman-Nya atau kalimat keagunganya. Dzikir adalah menyebut Allah dengan membaca tasbih (Subhanallaah), membaca tahlil (Laa ilaaha illallaah), membaca tahmid (Alhamdulillaah), membaca taqdis (Qudduusun), membaca takbir (Allaahu Akbar), membaca haugalah (Laa haula wala quwwata illaa billah), membaca hasabalah (Hasbiyallaah), membaca basmalah (Bismillaahirrahmaanirrahiim), membaca Al Qur'anul Karim dan membaca doa-doa yang mat'sur (yang diterima atau yang bersumber) dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

        Dinamakan dzikir, mengerjakan segala tugas agama yang diwajibkan Allah dan menjauhi segala larangan yang sudah diperintahkan-Nya hamba untuk meninggalkannya. Karena itu membaca Al-Qur'an, mempelajari Al-Hadits, mempelajari ilmu-ilmu agama, melaksanakan shalat tathawwu' dinamakan juga dzikir. Yang dikehendaki dengan sebutan lidah (berdzikir dengan lidah) ialah, menyebut kata-kata yang menunjuk kepada tasbih (mensucikan Allah), kepada tahmid (memuji Allah), kepada tamjid (memuliakan/membesarkan Allah). Adapun yang dimaksud dengan ingatan hati ialah, memikirkan dalil-dalil tentang adanya Allah, dalil-dalil sifat-Nya, dalil-dalil perintah dan larangan-Nya, untuk diketahui hukum-hukum dan rahasia-rahasia ang tersembunyi dalam penciptaan alam ini.

        Yang dikehendaki dengan dzikir anggota, ialah mempergunakan segala anggota untuk melaksanakan ketaatan (dengan segala bentuk/manifestasinya). Itulah sebabnya maka shalat Juma'at di dalam Al-Qur'an dinamakan dzikrullah. Dzikir kepada Allah itu bukan hanya lafazh yang dilafazhkan dengan lidah saja, tetapi kesadaran yang terdapat di dalam hati dilafazhkan atau tidak dilafazkan dan merasa dengan Allah dan wujudNya. Kesadaran dan perasaan yang demikian menimbulkan kesan atau pengaruh yang membawa kepada ketaan pada batasnya yang paling dekat. Maka dengan dzikir itulah kita akan dapat mengembalikan kesadaran, maka sangatlah cocok untuk terapi pecandu narkoba karena dengan dzikir pecandu akan bias kembak kesadaranya. Dalam dzikir yang disebut-sebut adalah nama Allah dan kalimat yang baik akan membantu kesadaranya serta Allah-pun ikut membantu karena namanya selalu di sebut.

        5. Doa
          Doa berarti permintaan atau permohonan, yaitu manusia kepada Allah untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan keselamatan di akhirat. Doa merupakan kesempatan manusia untuk mencurahkan hatinya kepada Allah, menyatakan kerinduan, ketakutan dan kebutuhan manusia kepada Allah.

          Doa berperan dalam kesembuhan, karena Doa yang banyak diartikan sebagai dialog, penyerahan, dan permohonan tulus kepada Allah, penting dilakukan supaya terjadi sinergi yang melibatkan Allah, pecandu, penyembuh, dan ilmu pengetahuan demi kesembuhan total. Keadaan psikologis yang tidak normal akibat kecanduan narkoba merupakan faktor sangat penting untuk diatasi dalam proses penyembuhan.

          6. Uzlah
            Uzlah adalah mengasingkan diri, yaitu mengasingkan diri dari pergaulan dengan masyarakat yaitu menghindari maksiat dan kejahatan serta melatih jiwa dengan ibadah, zikir, doa, dan tafakur tentang kebesaran Allah dalam mendekatkan diri kepada-Nya. Uzlah dilakukan untuk memperoleh kejernihan tentang diri dan masyarakat sekitar, sehingga kita tidak terlibat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu kita akan mampu merenung tentang diri dan masyarakat secara jujur. Uzlahyang didefinisikan dengan “Al-Tafarruq ‘an al-Khalqi” (memisahkan diri dari mahluk lain), ketika pecandu ingin disembuhkan maka dia harus di pisahkan dari dunia narkoba agar dia tidak lagi menggunakan narkoba kembali.

            Pemisahan diri ini bertujuan untuk untuk menjauhkan mata rantai narkoba tersebut agar tidak menggubakan kembali. Setelah kita membahas tentang definisi uzlah, dapatlah ditarik kesimpulan hubungannya dengan penyembuhan kecanduan narkoba. Dalam uzlah ini kita mengasingkan diri untuk mendekatkatkan diri kepada Allah, dengan berdzikir dan berdoa memohon kepada Allah. Semakin banyak kita memohon kepada Allah maka kecanduan yang di rasakan oleh pecandu akan hilang secara perlahan. Karena tubuh kita apabila semakin banyak kita menyebut kalimat yang baik maka akan ada respon positif dari tubuh kita agar bisa sembuh secara spiritual.

            H. Tb. Ahmad Rifqi Chowas, Pengasuh Pesantren Daarussalam, Buntet Pesantren Cirebon

            Kyai Ahmad Tidjani Umar Anas

            Kyai Ahmad Tidjani Umar Anas

            Posted by Unknown  |  at  7:47 PM

            Buntet Pesantren dengan umurnya yang sudah mencapai beberapa generasi membuatnya telah mencetak para ulama ‘alim, salah satunya adalah Kyai Anas yang tak lain merupakan adik kandung dari Kyai Abbas, sesepuh Buntet Pesantren saat itu (Sesepuh Buntet Pesantren yang ke 4). Beliau bersama Kyai-Kyai yang lain yang masih kerabatnya bahu membahu membantu sesepuh Buntet Pesantren dalam mengembangkan Pesantren yang didirikan oleh Mbah Muqoyyim ini.

            Bapa Ahmad Zaeni Hasan, Ayah dari Bapak Helmi Faisal Zaeni (Mentri Pemberdayaan Daerah Tertinggal) dalam buku “Perlawanan dari Tanah Pengasingan Kyai Abbas, Pesantren Buntet dan Bela Negara (Jakarta: eLSAS, 2000) menganalogikan waktu itu “sinar” Kyai Abbas benar-benar terang sehingga Kyai-Kyai yang lain tampak kurang/tidak bersinar. Lebih lanjut Bapa Zaeni Hasan menyebutkan bahwa salah satu Kyai yang sebenarnya “bersinar terang” adalah Kyai Anas. Kyai Anas dikenal begitu tawadlu, beliau lebih memilih menjadi “orang di balik layar” kesuksesan Buntet Pesantren dibanding menjadi yang tampil di muka. Bahkan akhirnya beliau lebih memilih uzlah, menyingkir dari Buntet Pesantren dan mendirikan Pesantren Sidamulya di daerah yang berbatasan dengan Buntet Pesantren,

            Permalink gambar yang terpasang
            Kyai Ahmad Tidjani beserta istri saat ziarah di Panjalu,
            beberapa hari sebelum beliau wafat
            Sifat-sifat Kyai Anas yang ‘alim dan tawadlu ternyata menurun ke anak cucunya, salah satunya adalah Kyai Ahmad Tidjani bin Kyai Umar bin Kyai Anas, yang satu pekan kemarin dipundut Allah SWT.
            Jasa-jasa Kyai Ahmad Tidjani untuk Buntet Pesantren sudah tidak terhitung, beliau menjadi pengasuh Pondok Darul Hijroh, beliau juga menjadi pengurus YLPI Buntet Pesantren selama beberapa periode dan salah satu yang dapat dengan jelas terlihat adalah Gedung MTs NU Putra 1 Buntet Pesantren yang sekarang berdiri megah, beliaulah salah satu orang yang begitu gedubugan demi terwujudnya renovasi gedung sekolah yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan saat itu.

            Sewaktu Buntet Pesantren dipimpin oleh Kyai Dulah, beliaulah salah satu “tangan kanan” Kyai Dulah. Sifat Kyai Ahmad yang jujur dan ikhlas membuat Kyai Dulah begitu mempercayakan banyak hal dan urusan kepada Kyai Ahmad Tidjani. Sifatnya yang benar-benar tawadlu dan tidak mau “tampil” mungkin membuat banyak orang kurang faham dengan peran beliau yang sangat vital untuk Buntet Pesantren.

            Setiap ada acara besar atau tamu besar yang datang, hampir bisa dipastikan Kyai Ahmad tidak ada di tengah-tengah acara tersebut atau turut menemui tamu tersebut. Kalaupun datang, mungkin beliau sengaja kari-karian agar tidak “tersorot” oleh khalayak.

            Suatu kali, Buntet Pesantren kedatangan Hamzah Haz dan saat itu diantara yang nuai Pengurus Yayasan adalah Kang Soleh Suaedi Busyrol Karim (Kang Ale) dan Kyai Ahmad Tidjani. Karena itu, Kang Ale yang faham dengan sifat Kyai Ahmad -yang tidak mau tampil- berinisiatif ngampiri Kyai Ahmad Tidjani. Berbagai argumen dikeluarkan oleh Kang Ale untuk membujuk Kyai Ahmad agar berkenan turut serta menyambut kedatangan Hamzah Haz, dan berbagai alasan pula yang diungkapkan Kyai Ahmad agar Kang Ale pergi duluan (pergi tanpa bersamanya).

             “Kulae dereng siram, dereng siap-siap”. Ujar Kyai Ahmad sebagai salah satu alasan agar beliau tidak perlu ikut dengan Kang Ale.

            Ketika Kyai Nahdudin, sesepuh Buntet Pesantren yang sekarang rawuh di Buntet, beliau enggan untuk singgah di ndalemnya yang lama karena ndalem tersebut begitu dekat dengan ndalem Kyai Nahdudin. Sekali lagi, beliau tidak ingin “tampil” di sekitar pamannya (Kyai Nahdudin) saat banyak tamu mengunjungi Kyai Nahdudin.

            Yang masih terkini, beberapa saat sebelum diadakan Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Cirebon, salah satu bakal calon datang ke ndalem Kyai Ahmad. Seperti biasa, bakal calon tersebut showan, minta petunjuk, restu, dan (mungkin juga) dukungan. Namun dari sejak bakal calon tersebut datang sampai bakal calon tersebut mau pamit, Kyai Ahmad tidak berkenan menemui tamu tersebut dan lebih memilih diam di kamarnya.

            Semua kehilangannya
            Kepergian Kyai Ahmad menghadap Sang Kholiq membuat begitu banyak kalangan kehilangannya. Beliau dikenal begitu ngladeni terhadap santri dan jamaahnya. Saat isyhad jenazah Nyai Ghumaeshoh (satu hari setelah Jenazah Kyai Ahmad dikebumikan), Kyai Hasanudin Kriyani menuturkan bahwa Kyai Ahmad kapanpun dan kemanapun beliau selalu memenuhi permintaan siapapun orang/jamaah yang minta dipimpin ziarah oleh beliau. Beberapa hari sebelum wafat, beliau memimpin rombongan ibu-ibu yang rutin mengikuti pengajiannya ke Panjalu dan Pamijahan. Bahkan Hanya beberapa jam, belum sampai satu hari (24 jam) setibanya dari ziarah Panjalu-Pamijahan, beliau berziarah ke daerah Sumber.

            Beliau juga dikenal begitu menjaga ukhuwah dan silaturrahim baik kepada keluarga, rekan-rekan guru, bahkan para santri dan/atau alumninya kerap beliau kunjungi. Beberapa hari sebelum berangkat ziarah ke Panjalu dan Pamijahan, beliau masih menyempatkan diri ke Tegal untuk menemui para alumninya. Kalaupun tidak sanggup bertatap muka secara langsung, beliau pasti akan menghubunginya lewat telpon.

            “Ya syukur ari sehat sih, nyongan jeh beli pernah kedeleng, dadi ya biasa bae “wong tua” sih kelangan”. Ucap Kyai Ahmad kepada salah satu rekan guru -yang menceritakan kepada kami- yang ditelponnya. Beliau menganggap dirinya adalah orang tua yang punya tanggung jawab terhadap orang-orang di sekitarnya.

            Para santrinya yang sudah tidak mondok (alumni) juga rutin dihubungi oleh beliau. Beliau menanyakan kualitas, kuantitas, dan intensitas ibadah santri-santrinya.
            “Priben sholat bengie? Masih rutin kan? Dongana bapa keding”
            “Lamon bisa dirutinna puasa sunnah, apa senen-kemis, apa Nabi Daud.”
            Hal-hal di atas, diantara yang diucapkan Kyai Ahmad saat menelpon santrinya, seperti yang dituturkan oleh salah satu alumni santri Darul Hijroh II (Al Arifah)
            Kepada keluarga, beliau begitu ngaku dan menjaga ikatan silaturrahim. Menurut Ust. Syauqi (Kang Ugi), sejak Ibunya yaitu Nyai Maesoh jatuh sakit, Kyai Ahmad rutin menjenguk dan mendoakan beliau. Bahkan sampai malam jum’at seminggu yang lalu, atau satu malam sebelum Kyai Ahmad kembali ke sisi Allah, Kyai Ahmad masih menyempatkan diri melakukan rutinitas malam jumatnya. Padahal kamis dini hari, beliau baru sampai dari ziarah Pamijahan-Panjalu, dan hari kamis itu, beliau juga ada agenda ziarah ke Sumber.
            Kegiatan pembacaan Manaqib At-tijani yang di pelopori oleh KH. Abdullah Toha (Pengasuh PonPes Raudlatul 'Ulum) dan KH. Ahmad Tidjani yang dilaksanakan di Pondok PonPes Raudlatul 'Ulum, Terisi Indramayu yang rutin dilaksanakan stiap bulan -malam jum'at minggu terakhir- dan di pelopori oleh KH. Abdullah Toha (Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul 'Ulum) dan KH. Ahmad Tidjani Umar Anas.
            Thoriqot tijani berkembang di Indonesia,salah satunya di Buntet dan dirintis oleh Kakek K. Ahmad :K. Anas
            Rasa tanggung jawabnya terhadap tugas dan jamaahnya membuat beliau terus beramal baik sampai akhir umurnya. Dengan aktifitas yang begitu padat (Tegal, Pamijahan-Panjalu, Ziarah ke Sumber, Menjenguk Nyai Maesoh), Jum’at pagi beliau masih memenuhi tanggung jawabnya sebagai guru di salah satu sekolah, beliau mengajar murid-muridnya meskipun tidak “penuh”. Kepada murid-muridnya, beliau merasakan kurang enak badan, kemudian beliau pamit, semua muridnya pun menyalaminya saat itu. Dengan badan yang tidak fit, beliau masih memenuhi kewajibannya menjalankan sholat Jum’at. Selepas sholat Jum’at, beliau dibawa ke Rumah Sakit Ciremai dan langsung masuk ruang ICU hingga wafat di sana. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rooji’un.

            Nasihat-nasihat Kyai Ahmad Tidjani
            Selain memiliki sifat yang mirip dengan kakeknya, banyak kerabat dan kolega yang mengatakan bahwa beliau memiliki sifat mirip pamannya, Kyai Abdullah Abbas yang sangat irit bicara, karena itu perkataan-perkataan yang keluar dari lisannya hampir semuanya adalah kebaikan baik ilmu, nasihat, motivasi, dan sebagainya. Bahkan menurut Pa Ubed (salah satu teman seperjuangannya) guyonan yang sesekali keluar juga gaya guyonnya sangat mirip dengan gaya guyonnya Kyai Abdullah Abbas.
            Berikut, kami cantumkan beberapa nasihat-nasihat beliau yang kami dapat dari anaknya, Ust. Nemi Mu’tashim Billah. Dari beberapa nasihat ini, kita juga dapat melihat sedikit sosok Kyai Ahmad Tidjani Umar Anas.

            1.      “Nggak perlu gila jabatan. karena jabatan itu sifatnya sementara”.

            2.      “Nggak perlu kirim-kirim Proposal. Proposal utama yg perlu diajukan adalah proposal ke Allah SWT”.

            3.      “Iqra' tidak hanya membaca buku tapi juga membaca diri”.

            4.      “Memelihara silaturrahim jauh lebih susah daripada membangunnya”.

            5.      “Bapa tidak membutuhkan sertifikasi Guru. Bapa lebih membutuhkan Sertifikasi Allah SWT”.

            6.      “Apa yg benar menurut kita, belum tentu benar menurut orang lain”.

            7.      “Orang-orang itu berhak utk memeluk Agamanya sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing”.

            8.      “Biarlah mereka meyakini surga menurut versi mereka sendiri. Kita tidak boleh memaksakan kehendak soal keyakinan masing2”.

            9.      “Apa yg terjadi pada diri kita itu adalah karena perilaku kita sendiri”.

            10.   “Orang itu tidak semua senang (ke kita) tidak semua benci (ke kita”.

            11.   “Ciri-ciri ikhlas itu adalah ketika kita bisa tersenyum kepada orang yg kita benci”.

            12.   "Janganlah menjadi seperti lilin yg bisa memberi manfaat kepada lainnya tapi tidak bisa bermanfaat untuk diri sendiri".

            13.   "Kebaikan jangan diucapkan tapi cukup untuk di dalam hati saja".

            14.   “Hati adalah singgasana yg diperebutkan oleh ilham Allah dan ilham setan”.

            15.    “Tapi jika hati dikuasai ilham setan maka niscaya orang menjadi fasiq”.

            16.   “Ingin agar doa itu di kabul Allah... 1. Jangan su'udzon kepada Allah 2. Jangan suka berbohong”.

            17.   “Bersyukur itu ada 2 1. Bersyukur qouliyah dan bersyukur fi'liyah”.

            AWAS MENCONTEK MENJADI KEBIASAAN ANAK ANDA!!

            AWAS MENCONTEK MENJADI KEBIASAAN ANAK ANDA!!

            Posted by Unknown  |  at  5:39 PM


            Semester ganjil sudah usai, putra-putri bapak /ibu  sudah  menerima buku rapor yang menunjukkan hasil prestasi belajar selama 1 semester. Demikian pula dengan saya,  saya sudah  menerima rapor dari anak saya yang pertama, Alhamdulillah sekarang di tahun pertama semester pertama ini, Zabrina Nahdiah Mumtazah, mendapatkan peringkat ke 3 di sekolahnya.

            Saya sering kali bertanya kepada anak saya bahwa apakah dia menemukan beberapa teman yang mencontek ataukah anak saya sendiri yang mencontek. Saya bersyukur kepada Tuhan YME sekalligus berterima kasih kepada istri saya, Siti Fathonah S.Pd.I, yang telah menanamkan prinsip-prinsip kejujuran dan belajar dengan sungguh-sungguh. Sehingga saya mendapatkan jawaban bahwa Taza, nama kecil anak saya, tidak mencontek tetapi justru membantu dengan memberikan jalan keluar bagi temannya yang akan mencontek pada dirinya.

            Mencontek, adalah sebuah kata yang sama sekali tidak asing di kalangan pelajar. Mencontek merupakan salah satu prilaku menyimpang yang menjadi  salah satu jalan singkat bagi sisaw/i yang menginginkan nilai atau prestasi baik, yang kemudian akan diperlihatkan kepada teman, saudara dan juga yang pasti orang tuanya.

            Mencontek adalah prilaku yang mematahkan semangat berkompetisi di kalangan pelajar. Sebut saja, Olip, salah satu anak teman saya yang sekarang ini sedang menempuh pendidikan di salah satu SMA terbaik. Dia mengatakan bahwa teman satu kelasnya tetap saja menontek meskipun HP, buku, tas, lembaran kertas, bahkan tepak pinsil karena HP tercanggihnya tetap berada di saku mereka sementara HP jadul dikumpulkan.

            HP menjadi salah satu media canggih yang mereka gunakan untuk mencontek. Belum lagi keberanian temannya untuk meminta jawaban secara langsung kepada kawan lainnya. Kegiatan mencontek ini bahkan terjadi secara merata dan tidak dapat dihindari.

            Siswa pun mengakui bahwa mencontek adalah cara tercepat untuk mengnalahkan siswa berprestasi di kelasnya atau mereka yang mencontek beranggapan bahwa temannya yang pintar pun tetap mencontek.

            Hal tersebut menjadi pemandangan yang agak lazim untuk beberapa sekolah namun berbeda sekali dengan tempat saya mengajar. Karena kami menganggap bahwa mencontek adalah salah satu prilaku keji dan pembodohan sekaligus menunjukkan pribadi yang tidak jujur. Kami tidak segan untuk tidak memberikan nilai kepada siswa yang mencontek atau kami menggugurkan ulangannya dengan menggantinya dengan remedial dengan syarat nilai minimal 80, dan terkadang teman kami memberikan ulangan tambahan secara lisan. Belum lagi ada resiko dipermalukan di depan temannya manakala ada siswa/i yang mencontek. Wal hasil, siswa/i kami menganggap bahwa mencontek sebagai salah satu cikal bakal tindakan kriminal atau jahat.

            Siswa/i yang mencontek biasanya hanya terjadi pada dua bulan pertama pada saat panen ulangan harian. Sebagian siswa yang belum mengenal betul karakter sekolah kami atau mempunyai keberanian untuk mencontek biasanya mereka akan memberanikan diri untuk mncoba nyontek di saat ulangan harian. Namun, ketika beberapa siswa/i mendapatkan hadiah pembelajaran yang saya sebutkan sebelumnya, maka berita tersebut akan segera menyebar dan sekaligus menjadi peringatan bagi yang lainnya. Belum lagi, penanaman kejujuran yang kami terapkan di dalam masjid. Insya Allah, penanaman kejujuran pada pribadi siswa/i akan terus menuai  manfaat di kemudian hari. Hal tersebut sangat dirasakan betul oleh beberapa alumni yang datang ke sekolah di saat liburan ini, seperti Yunisa yang baru saja lulus dari ITB farmasi, Andri yang baru lulus dari UPI Bandung, Anto yang masih berkuliah di UNPAD manajemen, IGA yang masih berkuliah di ITB arsitek, Ditia yang berkuliah di UGM, Setio di Undip dan lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. 

            Nurturing Tolerance in Pesantren

            Nurturing Tolerance in Pesantren

            Posted by Unknown  |  at  7:16 AM


            Back five years ago in a pesantren (Islamic boarding school) in the small city of Jombang, East Java, amidst a tranquil crack of dawn a congregation of male santris (students of pesantren) was performing their morning prayer in the mosque. While they were absorbed in the rituals, a Dutch Catholic priest who had spent the previous night at the pesantren was observing them from behind. Sitting cross-legged at the outer part of the mosque, he was attentively watching them perform the rituals and patiently waiting for a dialogue with some santris to be scheduled after the prayer.

            Later on that day, after a dialogue with santris, the priest had a warm, friendly conversation in the Arabic language with the kyai (leader of pesantren) on various religious and humanitarian issues. The Catholic priest, upon returning to his country, wrote that his stay at the pesantren and dialogues with the santris and kyai was one of the most beautiful moments in his life. He thanked the kyai and santris for their hospitality and warm welcome.

            Three years later, the pesantren hosted a multi-religious delegation from a Norway-based inter-faith organization that came to Indonesia to see how religious pluralism is internalized and practiced here. The dialogue between the delegation and the santris was warm, open and sometimes filled with bursts of laughter. The santris enjoyed not only stories about far away life especially among its teenagers, but also the opportunity to practice their English. They had no prejudice at all to the delegation, moreover because one of them who happened to be the leader was a Norwegian Muslim lady with a headgear. The santris and the European guests exchanged views and perspectives on different topics especially relating to the lives of Muslims and Christians in Europe.

            The above stories are just two ‘episodes’ in the activities of many pesantrens in Indonesia, including Jombang which is known as a city of thousand pesantrens. Countless Western and non-Muslim researchers and activists have visited and even lived in pesantren for different purposes. Some of them conducted anthropological studies using the popular method of participant observation; some others taught English, while others were interested in learning deeper about Islam. These direct encounters with ‘outsiders’ have been an invaluable experience for santris which has nurtured awareness and appreciation of differences and diversities. It is not surprising, therefore, that pesantrens in Indonesia have produced broad-minded and tolerant personalities and alumni such as Abdurrahman Wahid or Nurcholis Madjid, two out of quite a few Muslim intellectuals and scholars widely reputed for their integrity in religious pluralism.

            When asked about religious justification on their openness to outsiders, including non-Muslims, some santris immediately referred to the Prophet Muhammad’s saying that whoever believes in God and in the hereafter, s/he has to respect her/his guest. This prophetic saying (hadith) is a strong religious basis for santris to be confident in respecting their non-Muslim guests. There is no limitation in this hadith as to whom the respect should be addressed in terms of religion, for example to Muslim guests only. The limitation applies in terms of time, which is three days. To a visitor of more than three days, the host is not obligated to give a special treatment.

            Another santri refers to the teaching on brotherhood that is prevalent among members or followers of Nahdlatul Ulama or NU (Resurgence of Ulemas), the so-called largest Muslim organization in Indonesia. The teaching advocates three levels of brotherhood that need to be uplifted in pursuing peaceful coexistence of all humankind. First, is brotherhood among Muslims (ukhuwwah Islamiyah); second, is brotherhood among people of the same nation (ukhuwwah wathoniyah), and third, brotherhood among all human beings (ukhuwwah basyariyah) regardless of their race, ethnicity, religion and nationality.
            The above illustration of tolerance and pluralism in pesantren might sound ‘awkward’ amongst the emerging stigmatization against pesantren in the aftermath of the JW Marriot bombing. The suicide bomber, Amsar, reportedly was an alumnus of a pesantren, the Al-Mukmin in Ngruki, which is led by the alleged cleric Abu Bakar Ba’asyir. This association of pesantren with a suicide bomber can obviously ruin the image of moderate and tolerant santris in thousands of pesantrens who have demonstrated these traits as their built-in characters as illustrated in the examples above. From outside, judged from the names or physical appearance, these two types of pesantren may look alike. But in terms of teachings and moral values nurtured they are completely contradictory, just like night and day. In a pesantren like Ngruki, a dialogue with ‘the other’ (people with different interpretations of Islam or those who are non Muslim) would not be possible. These people are regarded as ‘kafir’ or infidels and there is no point in dialoguing with them. Their blood is even considered ‘halal,’ meaning that it is allowable to shed their blood. So, one should never make any generalization when talking about pesantren. There are thousands of moderate pesantrens, but there are radical pesantrens, as few as five according to Sidney Jones, that appear like, to borrow the term used by Bassam Tibi in his book The Challenge of Fundamentalism, ‘a horse of another colour.’

            One unique characteristic of moderate pesantrens which has enabled them to produce tolerant and pluralistic people is their balance in teaching Islamic legal aspects (Fikih) and the spirituality (Sufism). This approach can be traced back to derive from the nine saints (wali songo) who spread Islam on the island of Java peacefully. This spirituality dimension is what probably missing in radical pesantrens, who prefer to stand in a binary position: right/wrong, halal/haram, me/the other, heaven/hell, etc. As a result, they produce people with an exclusionary stance who see the world as black and white and who lack the beauty and inner meaning of the religion: peace, tolerance, respect, love and care for others, and other esoteric and humanitarian traits.

            This type of Islam is not typical Indonesian. Islam in Indonesia has been known as tolerant, pluralistic and adaptable to local cultures. But the last three decades have witnessed the growing phenomenon of Islamic fundamentalism that tends to practice religious teachings in a rigid and exclusive way. Moderate pesantrens should be alert of this and enhance their teachings on pluralism to their santris.

            Lily Zakiyah Munir 
            Center for Pesantren and Democracy Studies (CePDeS)
            From The Jakarta Post, 5 September 2003









            Tabarruk itu tidak Bidah

            Tabarruk itu tidak Bidah

            Posted by Unknown  |  at  4:10 AM

            Tabarruk adalah mashdar (asal kata) dari tabarroka, akar kata dari albarokah. Albarokah sendiri berarti: Ziyadatulkhoir al ilahy (tambahan kebaikan dari Tuhan). Lalau diartikan ke bahasa kita mungkin berarti "ngalap barokah" atau mencari keberkahan (mencari kebaikan Tuhan, red). Memang semua tahu bahwa al fail fil haqiqoh hua Allah swt (pelaku sebenarnya adalah Allah), seperti dalam alquran surat al mulk ayat satu:tabarokalladzi biyadihi almulku(maha berkah Allah swt...)

            Namun dlm bhs Arab kita mengenal dua arti dari satu lafadz.Arti haqiqat dan arti majaz.Sekarang mari kita telusuri majaz.Mungkin 40% dari bhs manusia terdiri dari majaz(idiom)dan kita menganggap sbg hal yg wajar2 saja.Contoh:kyai Zaid adalah Alim.Kata alim atau pandai pada Zaid itu majaz,sbb yg alim sebenarnya adalah Allah swt dan manusia siapapun orang nya adalah BODOH sekalipun itu mujaddid.Contoh lagi:Nabi saw pemberi petunjuk kpd kita,itu juga majaz dan diakui oleh qur'an sendiri..."wa innaka latahdii ilaa shirotin mustaqiim"(sungguh engkau Muhammad adalah org yg memberi petunjuk kpd jalan lurus),tentu ayat ayat ini tdk ta'arud dg ayat "wallahu alhady ila sawaissabiil" Allah adalah pemberi petunjuk kpd jalan yg lurus.Sebab ayat pertama berma'na majaz dan yg ke dua berma'na haqiqat,pemberi petunjuk sebenarnya adalah ALLAH swt.Sekalipun kita tidak boleh menuduh orang sbg MUSYRIK lantaran ia berucap Nabi saw adalah pemberi petunjuk,sbb qur'an sendiri menyatakan demikian spt yg diatas.

            DI MANAKAH BAROKAH..?

            Kita tahu Allah swt maha pemberi barokah,kalau kata albarokah kita artikan alkhoirulkatsiir(kebaikan yg banyak)spt apa yg terdapat di berbagai kamus Arab,maka sudah tentu letak barokah itu terdapat di Makhluq Allah swt,sekalipun asalnya tentu dari Allah swt yg maha memberkati.Dan adanya barokah itu pada makhluq Allah swt tdk DIPUNGKIRI Alqur'an,Allah swt berfirman;Alladzi baarokna haulahu..(al isro' ayat 1)yg kami barokahi sekelilingnya.Tentu tidak MUSYRIK bukan..?Kalau ada org bermukim di Makkah atau Palestina dg tujuan tabarruk dg tanah yg diberkati Allah swt.Dalam ayat lain Allah swt berfirman: inna anzalnaahu fi lailatin mubarokah(addukhon ayat 3)kami turunkan alqur'an pada malam yg penuh barokah.Tentu sangat bodoh kalau kita menganggap bid'ah kpd orang yg tabarruk atau mencari keberkahan malam Ramadhan atu lailatulqadr dg beribadah,bermunajat,tadarus dan lain2.

            Fiman Allah yg lain:....Min Syajarotin mubarokatin...(annur 35)dari pohon yg diberkahi.Maka kita tahu pohon Zaitun menjadi barokah krn Allah swt.

            Alhasil ma'na barokah itu banyak,dan dapat diartikan berbeda2 sesuai maqamnya yg pantas.Lafadz barokah bagi makhluq Allah swt dalam teks2 hadits sangat banyak kita jumpai.Misalkan ada sebuah hadits Shohih masyhur: inna filghonami la barokatan(sungguh dlm kambing trdpt barokah)maka jgn sekali2 kita mengkafirkan org islam yg memelihara kambing krn mencari keberkahan usahanya (tabarruk)karena menjalankan dan percaya kpd petunjuk Nabi saw,kecuali org yg dungu saja yg beranggapan spt itu....

            Begitulah, kalau kita telusuri lafadz barokah dari teks2 qur'an dan hadits banyak terdapat pada "dzat"atau materi yg mempunyai keutamaan,seperti makanan,minuman,tempat,harta,anak2 sesuai yg terdapat dalam sebuah do'a yg ma'tsur:Allahumma barik fi maalihi wa aulaadihi wa umrihi (ya Allah berkatilah pada Hartanya,anak2nya dan umurnya).

            Kalau kt cermati di kitab2 hadits apalagi bab al ath'imah beragam lafadz barokah dapat kt temukan baik secara eksplsit maupun implisit.Tentunya ada perbedaan yg jelas atara barokah Allah swt sang Khaliq dg barokah yg ada pada makhluqNya.Sebab barokah sang Kholiq bersifat "dzaty" ya'ni ada dg sendirinya,sedangkan pada Makhluq bersifat a'rodhy atau musta'aar(diadakan atau pinjaman).

            TRADISI(sunnah)TABARRUK pada SALAFUSSHOLIH...

            Tentu sebagai kaum Ahlussunnah waljama'ah kita masyarakat pesantren,tidak mau melakukan perbuatan yg dilarang ajaran Agama,maka dalam berbagai hal kita mesti menteladani al-salaf al-shalih ya'ni para Shahabat,ulama dari kalangan Tabi'ien,aimmatul Madzahib dan murid2 mereka.Supaya jangan terjebak di lingkaran "bid'ah munkaroh" atau bid'ah qobihah.

            Contoh bertabarruk:

            1-bertabarruk dg rambut RosuliLLAH saw:

            dari utsman bin Abdillah bin Mauhib dia berkata;kelurga menyuruhku untuk mengambil wadah air ke Ummu Salamah ra,maka dia datang dg membawa semangkuk perak berisi rambut Rosulillah saw,dan adalah jika ada seseorang terkena penyakit ain atau suatu penyakit diberikannya wadah air tadi(untuk minum),kemudian aku melihat wadah tsb terdapat beberapa rambut merah(hr.al Bukhory,kitab allibas).2.Tabarruk dg keringat Nabi saw:

            suatu hari Nabi saw masuk ke rumah kami dan beliau tidur siang,kemudian ibuku(umu sulem)datang dg membawa botol dan mewadahi keringatnya dg botol tsb,lalu Nabi saw terbangun dan Nabi berkata:sedang apa hai Ummu Sulem,dia menjawab;ini keringatmu mau kami campurkan dg minyak wangi.Ternyata minyak wangi tsb terwangi dr yg lainya(hr.Muslim)

            bersambung....


            Pesantren sebagai Cerminan Etika dan Politik Masyarakat

            Pesantren sebagai Cerminan Etika dan Politik Masyarakat

            Posted by Unknown  |  at  2:43 AM

            Perjalanan panjang pesantren dalam pembangunan etika kemasyarakatan mempunyai kontribusi yang cukup besar . Terlebih Mengingat Pemilu 2009 yang tinggal menunggu waktu, maka peranan pesantren  seyogianya menjadi tolak ukur dan cerminan kepada semua elemen masyarakat terutama etika berpolitik.

            “Ada beberapa peran vital yang perlu kami florkan terhadap masyarakat, bagaimana kontribusi pesantren terhadap masyarakat, khususnya kontribusi etika politik,” ungkap Khoirul Anam, Ketua Pelaksana Kegiatan Sarasehan dan Seminar yang diselenggarakan oleh INSAN BPC DIY, di Gedung DEPSOS, Sabtu (03/05) kemarin.  

            Kegiatan yang diselenggarakan oleh Ikatan Santri dan Alumni Buntet Pesantren Daerah Istimewa Yogyakarta ( INSAN BPC DIY) itu dihadiri 71 peserta dari pelbagai elemen masyarakat yang siap berdiskusi dengan beberapa pembicara yaitu Mbah Dien (KH. Nahduddien Royandi Abbas), Muhammad Mustafied (IPNU Yogyakarta) dan Drs. Nur Haris (Dewan Komisi A DPRD DIY).





             


            Copyright © 2013 Blog Backup Buntet Pesantren. WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
            Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
            back to top