Showing posts with label Kyai Buntet. Show all posts
Showing posts with label Kyai Buntet. Show all posts

KH. Lutfi El-Hakim bin KH. Fuad Hasyim Wafat

KH. Lutfi El-Hakim bin KH. Fuad Hasyim Wafat

Posted by Unknown  |  at  7:19 PM





Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun,
Telah Wafat KH. Lutfi El-Hakim bin KH. Fuad Hasyim, Buntet Pesantren Cirebon. Beliau adalah Pengasuh Pondok Pesantren Nadwatul Ummah Buntet Pesantren.
Semoga Allah menerima segala amal ibadah beliau dan menghapuskan segala kesalahan beliau. Kepada segenap alumni untuk bisa menyelenggarakan sholat ghaib di wilayahnya masing-masing.

Beliau wafat pada sekitar pukul 00.00 dinihari tadi di Rumah Sakit Harapan Kita, Jenazah KH.Lutfhi Elhakim Insya Allah akan di sholatkan ba'da dzuhur di Masjid Jami Buntet Pesantren. Untuk para santri,alumni Dan masyarakat semuanya, dimohon untuk bersama memberikan doa dan mengantarkan beliau ke peristirahatan terakhirnya.

Dimohon kepada segenap alumni untuk bisa menyelenggarakan sholat ghaib di wilayahnya masing-masing. Semoga Allah menerima segala amal ibdah beliau dan menghapuskan segala kesalahan beliau. dan dimohon ziyadah do'a untuk beliau dan semoga keluarga beliau diberikan kesabaran. Allahummaghfirlahu, Warkhamhu, Waafihi, Wa'fuanhu. Amin Ya Robbal Alamin. Al-Fatihah.

~ Mohon disebarkan, Terima Kasih



Mengenang Sang Kyai - Haul 2 Tahun Kyai Abdullah Syifa Akyas

Mengenang Sang Kyai - Haul 2 Tahun Kyai Abdullah Syifa Akyas

Posted by Unknown  |  at  7:37 AM

Belum habis dari ingatan kita, saat pagi hari yang diwarnai hujan, Kita dikejutkan dengan sebuah kabar yang Kita harap itu tidak benar, entah Kita salah dengar atau apapun. Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un, sesepuh Kita, KH. Abdullah Syifa Akyas yang merupakan milikNya dan kekasihNya, telah kembali kepadaNya.

Beliau adalah seorang  ‘alim yang santun,  tawadhu, dan bersahaja.  Dengan Keilmuwan, loyalitas, kepemimpinan, dan jasa-jasa serta banyak hal dari Beliau membuat beliau dipercaya oleh para Kiai menjadi salah satu dari Dewan Sesepuh (Pembina) bersama KH. Hasanudin Kriyani dan KH. Abdul Hamid Anas serta KH. Nahdudin Royandi Abbas selaku Ketua Dewan Sesepuh.

Setiap tahunnya, beliau senantiasa istiqomah memimpin tahlil pada acara Ziarah umum pada haul Buntet Pesantren. Ini merupakan sebuah pengakuan yang luar biasa dari masyarakat Buntet khusunya Para Kiai akan ke'aliman beliau. Sudah belasan atau mungkin puluhan tahun beliau rutin mengimami Tahlil pada Haul termasuk Haul dua tahun lalu, tahun 2013, Beliau masih menjadi Imam dari ribuan peziarah yang hadir di Maqbaroh Buntet Pesantren, dan siapa yang menyangka bahwa Haul tahun itu adalah Haul terakhir kita bersama Beliau.

Rasanya baru kemarin kita masih diayomi oleh sosok yang begitu ikhlas dan tak kenal lelah dalam berdakwah dan beribadah bahkan hingga akhir hayatnya. Menurut salah satu anggota keluarganya, malam hari sebelum wafatnya, beliau masih memimpin tawassul (doa) di salah satu selametan puputan di rumah tetangganya, setelah itu Beliau juga masih sempat berkumpul dan bercengkrama (rapat) dengan sepupunya, Sesepuh Buntet Pesantren, KH. Nahdudin Royandi Abbas beserta para Kyai Buntet yang lain di ndalem Kyai Nahdudin. Subuh keesokan harinya,beliau mengimami sholat di pondoknya, Al Inayah Buntet Pesantren. Tak ada isyarat yang gamblang bahwa Beliau akan “pergi” dari kita. Namun setelah mengimami, Beliau merasakan sesak nafas dan tidak sanggup untuk nguruk ngaji sehingga beliau mengamanahkan kepada salah satu putranya untuk membadalkan Beliau.

Siapa  yang menyangka kalau tahun 2012, saat Kita semua melepas keberangkatan haji beliau adalah momen terakhir kita melepas keberangkatan Haji beliau, hanya beberapa bulan sebelum beliau yang “jujur lan wani” meninggalkan kita.

Kyai Syifa yang sehari-hari lisannya seakan tidak pernah berhenti menyebut nama Allah dan bersholawat, Kyai Syifa yang istiqomah menjalankan puasa sunnah Senin Kamis dan Solat malam serta solat dhuha, Kyai Syifa yang selalu menjaga wudhu, silaturrahim dan ukhuwah,  Kyai Syifa yang begitu telaten mengajari kita Sholawat Fatih, serta amalan-amalan Thoriqoh Tijaniyah, Kyai Syifa yang selalu memimpin harapan-harapan (doa-doa) kita telah kembali kepada yang dikasihinya, Kyai Syifa yang selalu ikhlas ngeladeni semua kalangan tanpa pandang bulu, Kyai Syifa  . . .  Kita semua dan semua amal sholihmu akan menjadi isyhad bahwa Kau adalah benar-benar kekasihNya.
Kurang lebih dua tahun lalu, beberapa saat sebelum Engkau kembali kepadaNya engkau berpesan kepada salah satu anakmu agar selalu menyempatkan “mampir” ke maqbaroh gurumu, KH. M. Ma’shoem Ahmad Lasem setiap kali ziarah  Wali Songo. Kami menganggap pesan itu juga untuk kami semua, para muridmu. Insya Allah Kyai, kami akan sering mengunjungi  tempat peristirahatan terakhirmu...

Mari sama-sama berdoa dan mengirim fatihah untuk beliau . . .

Masih Bocah sudah Mempunyai Karomah

Masih Bocah sudah Mempunyai Karomah

Posted by Unknown  |  at  7:29 PM


Sewaktu masih kecil, seumuran anak-anak yang suka telanjang dan bermain layang-layang, Kyai Abbas justu sudah dibiasakan untuk selalu mengaji (belajar) termasuk setiap meminta uang jajan kepada ayahandanya, Kyai Abdul Jamil harus memenuhi syarat yang diberikan. Waktu itu Kyai Abbas kecil harus membacakan nadzam Maqshud (riwayat lain Alfiyah) dengan hafalan di hadapan ayahnya. Dengan segera Kyai Abbas kecil pun membacakannya dengan hafalan di luar kepala, semuanya tanpa tersisa dan tanpa terlewat satu bait pun. Bercampur heran dan takjub, akhirnya uang jajan pun selalu diberikan oleh Kyai Abdul Jamil jika Kyai Abbas kecil meminta.

Waktu demi waktu berlalu, Kyai Abbas yang masih relatif kecil mengutarakan keinginannya kepada sang ayah untuk mondok. Meski ayahnya sendiri adalah seorang Kyai yang alim dan mengajar ke para santri, namun anggapan bahwa belum dikatakan mondok karena belajar kepada orangtuanya sendiri membuat Kyai Abbas yang masih kecil mantap untuk pergi mondok, beliau merasa ingin mencari ilmu dan bertabarruk kepada para Kyai dari pondok-pondok yang lain.

Karena desakan yang besar dari anaknya, akhirnya KH. Abdul Jamil mengabulkan: “Yawis lamon arep mondok, pamita Sira maring dulur ira ning Masjid Agung Cirebon,” Ya sudah kalau kamu ingin mondok, mintalah restu kepada kerabatmu yang ada di Masjid Agung Keraton Cirebon.

Dengan langkah tegap, tatapan tajam ke depan, Abbas kecil berjalan kaki menyusuri rel kereta api berangkat pagi dari rumahnya menuju Masjid Agung Cirebon. Hari itu adalah hari Jum’at. Tepat pukul 12 siang kurang 10 menit, bedug Masjid Agung Cirebon pun berbunyi bersamaan dengan datangnya Kyai Abbas kecil.

Salah seorang habib yang merupakan imam dan khathib Masjid Agung tersebut pun berteriak: “Heh... sapa kuh sing wani-wani nabuh bedug, kurang 10 menit!” Siapa yang berani-beraninya menabuh bedug, (padahal waktu masuk shalat) kurang 10 menit!

Tak ada satu pun jamaah yang hadir yang menjawab, karena memang tidak ada yang merasa menabuh bedug, habib itu pun bertanya di hadapan jamaah: “Siapa saja orangnya yang masuk masjid bersamaan dengan bunyi bedug tadi, suruh dia menghadap saya.”

Para jamaah pun saling menoleh, tidak ada yang merasa masuk masjid berbarengan dengan bedug berbunyi. Tapi salah seorang dari mereka memberanikan diri untuk menjawab: “Maaf, Habib. Ada satu orang yang dimaksud, tapi dia cuma anak kecil, kulitnya hitam, nampak lusuh dan pakaiannya tidak rapi.” 

“Bocah cilik gan bagen,” Biarin, meskipun anak kecil! Jawab sang habib.

Akhirnya Kyai Abbas kecil pun diminta menghadap sang habib, dan ia ditanya: “Sira kuh sapa, sing endi?” Kamu itu siapa dan berasal dari mana?

Dijawab dengan tegas ala anak kecil: “Kula Abbas, putrane Abdul Jamil Buntet.” Saya Abbas, putranya Abdul Jamil Buntet.

Langsung saja sang habib merangkulnya sembari menangis, dan berkata: “Masya Allah, sira kuh arane Abbas, putrae Kyai Abdul Jamil Buntet? Sedulur isun?!” Masya Allah, kamu Abbas putranya Kyai Abdul Jamil Buntet? Keluarga saya?!

Akhirnya Kyai Abbas kecil pun disuruh sang habib untuk naik mimbar, dan berkhutbah. Meski kecil, ia sudah sangat fasih berbicara di hadapan orang banyak. Berkhutbah dengan lancarnya bak khathib yang sudah sangat berpengalaman.

Ada kemungkinan bedug masjid yang berbunyi sendiri itu, sebagai pertanda dan penyambutan ada tamu orang yang besar, KH. Abbas bin KH. Abdul Jamil Buntet. “Mungkin yang menabuh bedug dan menyambut itu adalah para malaikat,” tutup pamandaku, Bapak Ridhwan salah satu santri Buntet Pesantren, mengakhiri kisahnya.

KH. Abbas Abdul Jamil adalah putra sulung dari pasangan KH. Abdul Jamil dan Nyai Qari’ah. Kyai Abdul Jamil memiliki putra-putra dari istri Nyai Qari'ah yang berakhiran “AS”; Kyai Abbas, Kyai Anas, Kyai Ilyas dan Kyai Akyas. KH. Abbas Abdul Jamil, atau orang lebih akrab menyebutnya Kyai Abbas, dilahirkan pada hari Jum’at 24 Dzulhijah 1300 H/1879 atau 1883 M di Desa Pekalangan, Cirebon dan wafat pada hari Ahad waktu Shubuh tanggal 1 Rabi’ul Awwal 1365 H/1946 M.

Dari Fanpage Facebook Kumpulan Foto Ulama dan Habib karangan Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 12 Agustus 2014 Dengan beberapa penyesuaian. 
Mohon koreksinya jika ada kekeliruan dan/atau kekurangan


Kyai Ahmad Tidjani Umar Anas

Kyai Ahmad Tidjani Umar Anas

Posted by Unknown  |  at  7:47 PM

Buntet Pesantren dengan umurnya yang sudah mencapai beberapa generasi membuatnya telah mencetak para ulama ‘alim, salah satunya adalah Kyai Anas yang tak lain merupakan adik kandung dari Kyai Abbas, sesepuh Buntet Pesantren saat itu (Sesepuh Buntet Pesantren yang ke 4). Beliau bersama Kyai-Kyai yang lain yang masih kerabatnya bahu membahu membantu sesepuh Buntet Pesantren dalam mengembangkan Pesantren yang didirikan oleh Mbah Muqoyyim ini.

Bapa Ahmad Zaeni Hasan, Ayah dari Bapak Helmi Faisal Zaeni (Mentri Pemberdayaan Daerah Tertinggal) dalam buku “Perlawanan dari Tanah Pengasingan Kyai Abbas, Pesantren Buntet dan Bela Negara (Jakarta: eLSAS, 2000) menganalogikan waktu itu “sinar” Kyai Abbas benar-benar terang sehingga Kyai-Kyai yang lain tampak kurang/tidak bersinar. Lebih lanjut Bapa Zaeni Hasan menyebutkan bahwa salah satu Kyai yang sebenarnya “bersinar terang” adalah Kyai Anas. Kyai Anas dikenal begitu tawadlu, beliau lebih memilih menjadi “orang di balik layar” kesuksesan Buntet Pesantren dibanding menjadi yang tampil di muka. Bahkan akhirnya beliau lebih memilih uzlah, menyingkir dari Buntet Pesantren dan mendirikan Pesantren Sidamulya di daerah yang berbatasan dengan Buntet Pesantren,

Permalink gambar yang terpasang
Kyai Ahmad Tidjani beserta istri saat ziarah di Panjalu,
beberapa hari sebelum beliau wafat
Sifat-sifat Kyai Anas yang ‘alim dan tawadlu ternyata menurun ke anak cucunya, salah satunya adalah Kyai Ahmad Tidjani bin Kyai Umar bin Kyai Anas, yang satu pekan kemarin dipundut Allah SWT.
Jasa-jasa Kyai Ahmad Tidjani untuk Buntet Pesantren sudah tidak terhitung, beliau menjadi pengasuh Pondok Darul Hijroh, beliau juga menjadi pengurus YLPI Buntet Pesantren selama beberapa periode dan salah satu yang dapat dengan jelas terlihat adalah Gedung MTs NU Putra 1 Buntet Pesantren yang sekarang berdiri megah, beliaulah salah satu orang yang begitu gedubugan demi terwujudnya renovasi gedung sekolah yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan saat itu.

Sewaktu Buntet Pesantren dipimpin oleh Kyai Dulah, beliaulah salah satu “tangan kanan” Kyai Dulah. Sifat Kyai Ahmad yang jujur dan ikhlas membuat Kyai Dulah begitu mempercayakan banyak hal dan urusan kepada Kyai Ahmad Tidjani. Sifatnya yang benar-benar tawadlu dan tidak mau “tampil” mungkin membuat banyak orang kurang faham dengan peran beliau yang sangat vital untuk Buntet Pesantren.

Setiap ada acara besar atau tamu besar yang datang, hampir bisa dipastikan Kyai Ahmad tidak ada di tengah-tengah acara tersebut atau turut menemui tamu tersebut. Kalaupun datang, mungkin beliau sengaja kari-karian agar tidak “tersorot” oleh khalayak.

Suatu kali, Buntet Pesantren kedatangan Hamzah Haz dan saat itu diantara yang nuai Pengurus Yayasan adalah Kang Soleh Suaedi Busyrol Karim (Kang Ale) dan Kyai Ahmad Tidjani. Karena itu, Kang Ale yang faham dengan sifat Kyai Ahmad -yang tidak mau tampil- berinisiatif ngampiri Kyai Ahmad Tidjani. Berbagai argumen dikeluarkan oleh Kang Ale untuk membujuk Kyai Ahmad agar berkenan turut serta menyambut kedatangan Hamzah Haz, dan berbagai alasan pula yang diungkapkan Kyai Ahmad agar Kang Ale pergi duluan (pergi tanpa bersamanya).

 “Kulae dereng siram, dereng siap-siap”. Ujar Kyai Ahmad sebagai salah satu alasan agar beliau tidak perlu ikut dengan Kang Ale.

Ketika Kyai Nahdudin, sesepuh Buntet Pesantren yang sekarang rawuh di Buntet, beliau enggan untuk singgah di ndalemnya yang lama karena ndalem tersebut begitu dekat dengan ndalem Kyai Nahdudin. Sekali lagi, beliau tidak ingin “tampil” di sekitar pamannya (Kyai Nahdudin) saat banyak tamu mengunjungi Kyai Nahdudin.

Yang masih terkini, beberapa saat sebelum diadakan Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Cirebon, salah satu bakal calon datang ke ndalem Kyai Ahmad. Seperti biasa, bakal calon tersebut showan, minta petunjuk, restu, dan (mungkin juga) dukungan. Namun dari sejak bakal calon tersebut datang sampai bakal calon tersebut mau pamit, Kyai Ahmad tidak berkenan menemui tamu tersebut dan lebih memilih diam di kamarnya.

Semua kehilangannya
Kepergian Kyai Ahmad menghadap Sang Kholiq membuat begitu banyak kalangan kehilangannya. Beliau dikenal begitu ngladeni terhadap santri dan jamaahnya. Saat isyhad jenazah Nyai Ghumaeshoh (satu hari setelah Jenazah Kyai Ahmad dikebumikan), Kyai Hasanudin Kriyani menuturkan bahwa Kyai Ahmad kapanpun dan kemanapun beliau selalu memenuhi permintaan siapapun orang/jamaah yang minta dipimpin ziarah oleh beliau. Beberapa hari sebelum wafat, beliau memimpin rombongan ibu-ibu yang rutin mengikuti pengajiannya ke Panjalu dan Pamijahan. Bahkan Hanya beberapa jam, belum sampai satu hari (24 jam) setibanya dari ziarah Panjalu-Pamijahan, beliau berziarah ke daerah Sumber.

Beliau juga dikenal begitu menjaga ukhuwah dan silaturrahim baik kepada keluarga, rekan-rekan guru, bahkan para santri dan/atau alumninya kerap beliau kunjungi. Beberapa hari sebelum berangkat ziarah ke Panjalu dan Pamijahan, beliau masih menyempatkan diri ke Tegal untuk menemui para alumninya. Kalaupun tidak sanggup bertatap muka secara langsung, beliau pasti akan menghubunginya lewat telpon.

“Ya syukur ari sehat sih, nyongan jeh beli pernah kedeleng, dadi ya biasa bae “wong tua” sih kelangan”. Ucap Kyai Ahmad kepada salah satu rekan guru -yang menceritakan kepada kami- yang ditelponnya. Beliau menganggap dirinya adalah orang tua yang punya tanggung jawab terhadap orang-orang di sekitarnya.

Para santrinya yang sudah tidak mondok (alumni) juga rutin dihubungi oleh beliau. Beliau menanyakan kualitas, kuantitas, dan intensitas ibadah santri-santrinya.
“Priben sholat bengie? Masih rutin kan? Dongana bapa keding”
“Lamon bisa dirutinna puasa sunnah, apa senen-kemis, apa Nabi Daud.”
Hal-hal di atas, diantara yang diucapkan Kyai Ahmad saat menelpon santrinya, seperti yang dituturkan oleh salah satu alumni santri Darul Hijroh II (Al Arifah)
Kepada keluarga, beliau begitu ngaku dan menjaga ikatan silaturrahim. Menurut Ust. Syauqi (Kang Ugi), sejak Ibunya yaitu Nyai Maesoh jatuh sakit, Kyai Ahmad rutin menjenguk dan mendoakan beliau. Bahkan sampai malam jum’at seminggu yang lalu, atau satu malam sebelum Kyai Ahmad kembali ke sisi Allah, Kyai Ahmad masih menyempatkan diri melakukan rutinitas malam jumatnya. Padahal kamis dini hari, beliau baru sampai dari ziarah Pamijahan-Panjalu, dan hari kamis itu, beliau juga ada agenda ziarah ke Sumber.
Kegiatan pembacaan Manaqib At-tijani yang di pelopori oleh KH. Abdullah Toha (Pengasuh PonPes Raudlatul 'Ulum) dan KH. Ahmad Tidjani yang dilaksanakan di Pondok PonPes Raudlatul 'Ulum, Terisi Indramayu yang rutin dilaksanakan stiap bulan -malam jum'at minggu terakhir- dan di pelopori oleh KH. Abdullah Toha (Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul 'Ulum) dan KH. Ahmad Tidjani Umar Anas.
Thoriqot tijani berkembang di Indonesia,salah satunya di Buntet dan dirintis oleh Kakek K. Ahmad :K. Anas
Rasa tanggung jawabnya terhadap tugas dan jamaahnya membuat beliau terus beramal baik sampai akhir umurnya. Dengan aktifitas yang begitu padat (Tegal, Pamijahan-Panjalu, Ziarah ke Sumber, Menjenguk Nyai Maesoh), Jum’at pagi beliau masih memenuhi tanggung jawabnya sebagai guru di salah satu sekolah, beliau mengajar murid-muridnya meskipun tidak “penuh”. Kepada murid-muridnya, beliau merasakan kurang enak badan, kemudian beliau pamit, semua muridnya pun menyalaminya saat itu. Dengan badan yang tidak fit, beliau masih memenuhi kewajibannya menjalankan sholat Jum’at. Selepas sholat Jum’at, beliau dibawa ke Rumah Sakit Ciremai dan langsung masuk ruang ICU hingga wafat di sana. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rooji’un.

Nasihat-nasihat Kyai Ahmad Tidjani
Selain memiliki sifat yang mirip dengan kakeknya, banyak kerabat dan kolega yang mengatakan bahwa beliau memiliki sifat mirip pamannya, Kyai Abdullah Abbas yang sangat irit bicara, karena itu perkataan-perkataan yang keluar dari lisannya hampir semuanya adalah kebaikan baik ilmu, nasihat, motivasi, dan sebagainya. Bahkan menurut Pa Ubed (salah satu teman seperjuangannya) guyonan yang sesekali keluar juga gaya guyonnya sangat mirip dengan gaya guyonnya Kyai Abdullah Abbas.
Berikut, kami cantumkan beberapa nasihat-nasihat beliau yang kami dapat dari anaknya, Ust. Nemi Mu’tashim Billah. Dari beberapa nasihat ini, kita juga dapat melihat sedikit sosok Kyai Ahmad Tidjani Umar Anas.

1.      “Nggak perlu gila jabatan. karena jabatan itu sifatnya sementara”.

2.      “Nggak perlu kirim-kirim Proposal. Proposal utama yg perlu diajukan adalah proposal ke Allah SWT”.

3.      “Iqra' tidak hanya membaca buku tapi juga membaca diri”.

4.      “Memelihara silaturrahim jauh lebih susah daripada membangunnya”.

5.      “Bapa tidak membutuhkan sertifikasi Guru. Bapa lebih membutuhkan Sertifikasi Allah SWT”.

6.      “Apa yg benar menurut kita, belum tentu benar menurut orang lain”.

7.      “Orang-orang itu berhak utk memeluk Agamanya sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing”.

8.      “Biarlah mereka meyakini surga menurut versi mereka sendiri. Kita tidak boleh memaksakan kehendak soal keyakinan masing2”.

9.      “Apa yg terjadi pada diri kita itu adalah karena perilaku kita sendiri”.

10.   “Orang itu tidak semua senang (ke kita) tidak semua benci (ke kita”.

11.   “Ciri-ciri ikhlas itu adalah ketika kita bisa tersenyum kepada orang yg kita benci”.

12.   "Janganlah menjadi seperti lilin yg bisa memberi manfaat kepada lainnya tapi tidak bisa bermanfaat untuk diri sendiri".

13.   "Kebaikan jangan diucapkan tapi cukup untuk di dalam hati saja".

14.   “Hati adalah singgasana yg diperebutkan oleh ilham Allah dan ilham setan”.

15.    “Tapi jika hati dikuasai ilham setan maka niscaya orang menjadi fasiq”.

16.   “Ingin agar doa itu di kabul Allah... 1. Jangan su'udzon kepada Allah 2. Jangan suka berbohong”.

17.   “Bersyukur itu ada 2 1. Bersyukur qouliyah dan bersyukur fi'liyah”.

Telah Wafat KH. Ahmad Tijani

Telah Wafat KH. Ahmad Tijani

Posted by Unknown  |  at  5:19 PM

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun.... Telah berpulang ke Rahmatulloh KH. Ahmad Tidjani Anas Pengasuh Asrama Daarul Hijroh Buntet Pesantren Hari Jum'at tangal 6 Desember 2013 pukul 19.00 WIB akibat serangan jantung. Semoga Amal ibadah beliau diterima oleh Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Amin Allahumma Amin....

~Kepada para alumni diharapkan menyelenggarakan sholat ghaib di daerahnya masing-masing
Jenazah KH Ahmad Tijani Anas disemayamkan di Maqbaroh Gajah Ngambung Buntet Pesantren

Suasana penghormatan terakhir jenazah KH Ahmad Tijani di Masjid Agung Buntet Pesantren

Kiai Abdullah Syifa Akyas Wafat

Kiai Abdullah Syifa Akyas Wafat

Posted by Unknown  |  at  8:54 PM

KH. Abdullah Syifa Akyas
Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun. KH.Abdullah Syifa Bin Akyas itu wafat di usia 71 tahun, Senin 22 April 2013 pukul 07.30 WIB. Beliau merupakan salah satu Dewan Sesepuh Pondok Buntet Pesantren Cirebon juga merupakan Moqoddam Thariqat Tijani Indonesia. 

Kiai yang kesehariannya sangat bersahaja ini wafat setelah sebelumnya mengeluh sesak napas sehabis mengimami jamaah subuh di kediamannya. Seperti yang disampaikan Abdul Karim Malik Amrullah Putra bungsu beliau 

" Sehabis mengimami jamaah sholat shubuh, Bapak mengeluh sesak nafas kemudian langsung tidak sadarkan diri dan wafat pukul 07.30 WIB " Jenazah akan dikebumikan di Makbarah Buntet Pesantren Besok Selasa (23/04) pukul 10.00 WIB. 

Segenap Tim Website Buntet Pesantren menyampaikan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian beliau. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala dosa beliau, dan diberikan tempat yang luhur di sisiNya. Amin Ya Rabbal 'Alamin.

Pahlawan-Pahlawan Dari Pesantren

Pahlawan-Pahlawan Dari Pesantren

Posted by Unknown  |  at  10:00 AM

Oleh : Sobih Adnan
Kiprah dan peran pesantren dalam sejarah perjuangan kemerdekaan tidak dapat disangsikan lagi, pun dalam mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Beberapa catatan sejarah pesantren dapat dijadikan kunci kuat keabsahan perlawanan mereka terhadap kaum penjajah, atau terhadap siapapun yang juga dapat mengancam keberadaan bangsa dan negara.

Lebih dari itu, dalam sejarahnya, beberapa pesantren justru dibangun berdasarkan respon dan reaksi perlawanan terhadap segala bentuk penindasan, oleh karena itu tak jarang jika keberadaan pesantren dinilai sebagai simbol perlawanan paling diperhitungkan oleh bangsa penjajah, termasuk Pesantren Buntet, Cirebon, Jawa Barat. Semenjak berdirinya, pesantren ini diwarnai dengan pelbagai peristiwa yang bersinggungan dengan perjuangan kaum sarungan untuk  mewujudkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

“Kisah-kisah dari Buntet Pesantren” adalah pilihan tepat untuk menelusuri peta perjuangan para kiai dan santri. Dalam buku ini, dimuat banyak catatan menarik mengenai tokoh-tokoh kunci dalam beberapa peristiwa penting sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia, selain itu, buku ini juga menceritakan tentang simpul-simpul jaringan pesantren, serta mengupas segenap ciri khas dunia pesantren seperti istilah karomah, berkah, laduni, dan sisi-sisi lain dunia pesantren yang wajib diketahui oleh para pembaca secara umum, bisa dikatakan, selain berupa catatan sejarah pesantren, buku ini juga dapat dijadikan semacam kamus untuk mengetahui lebih banyak tentang dunia pesantren dan segala identitas lainnya.

Pesantren Buntet Cirebon didirikan oleh seorang ulama bernama Kiai Muqayyim, sosok yang arif ini secara ikhlas melepas status sosialnya yang dinilai bergengsi pada saat itu, demi melakukan perlawanan keras terhadap segala bentuk ketidak-adilan yang dilakukan oleh penjajah Belanda.

“Maka dengan kebencian dan kekesalan yang mendalam terhadap penjajah Belanda, pada tahun 1770 Kiai Muqayyim meninggalkan Keraton Kanoman dan pergi ke bagian Cirebon Timur Selatan untuk mencari perkampungan yang cocok dengan hati nuraninya”. (Hal. 5).

Selain kisah perlawanan dan perjuangan Kiai Muqayyim, dalam buku ini juga dimunculkan tentang sosok kunci terjadinya peristiwa “10 November 1945” di Surabaya. Dalam peristiwa tersebut dikisahkan “Menurut Hadaratussyekh KH Hasyim Asy’ari, perlawanan akan dimulai nanti kalau sudah datang ulama dari Cirebon”. Dan ulama yang dimaksud adalah KH. Abbas Abdul Jamil, penerus Kiai Muqayyim dalam mengasuh dan mengembangkan Pondok Pesantren Buntet, Cirebon, saat itu. (Hal.49).

Dalam jati diri pesantren, perjuangan tidak hanya berupa melancarkan perlawanan terhadap bangsa penjajah, namun juga kepada gerakan apapun yang dinilai dapat mengancam persatuan dan kesatuan negara. Oleh karena itu, “Ketika DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) mengadakan pemberontakan dan hendak mendirikan negara di wilayah Negara Republik Indonesia, Buntet Pesantren termasuk pesantren yang menentang DI/TII dan harus diperangi karena dihukumi bughat (makar). (Hal. 58).

Kisah-kisah kepahlawanan kiai sepuh pesantren Buntet terus berlangsung, kepahlawanan dimaknai secara tak terbatas, dalam arti, perjuangan untuk kepentingan umat dan bangsa menjadi muatan penuh dalam sejarah panjang pesantren ini. Buku ini juga mengenalkan tentang bentuk perjuangan dan kepahlawanan yang dilakukan oleh para kiai meski dalam keadaan negara yang sudah merdeka.

Buku setebal 94 halaman ini akan mengenalkan pembaca kepada tokoh-tokoh penting lain seperti  Kiai Kriyan, Kiai Mujahid, Kiai Imam, Kiai Akyas, hingga Kiai Fuad Hasyim dengan segala keistimewaan dan bentuk-bentuk perjuangannya.

Sayangnya, dalam membaca buku ini akan dijumpai beberapa kekurangan, diantaranya adalah pendeskripsian peristiwa yang dapat dinilai kurang begitu menggoda dan tanpa menggunakan pendekatan sastra sama sekali, karena penarasian buku ini cenderung menggunakan tradisi penulisan berita juga pemaparan hasil wawancara dengan pelbagai sumber. Namun hal tersebut dirasa tidak mengurangi pentingnya keberadaan buku ini; sebagai salah satu dari sejuta cara untuk mencintai pesantren, para kiai, dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Selamat membaca.

Judul: Kisah-kisah Dari Buntet Pesantren
Penulis: Munib Rowandi Amsal Hadi
Penerbit: KALAM (Komunikatif dan Islami)
Tahun : II, 2012
Tebal: x + 94 Halaman
Harga : Rp. 25.000,-
Peresensi: Sobih Adnan, Santri Pondok Pesantren Buntet dan Kempek, Cirebon.

Sumber sobihadnan.net sebelumnya dimuat di NU Online

Karomah Mbah Hasan

Karomah Mbah Hasan

Posted by Unknown  |  at  7:39 AM

Mbah Hasan adalah kyai kharismatik  Akhirnya beliau menjadi kyai sepuh dan meninggal dunia ketika beliau
sedang melaksanakan Sholat dalam keadaan bersujud kepada Allah swt.
Kyai Abd Mun'im meninggalkan keturunan para kyai dan ulama dan nyai nyai yg shalihah. Diantaranya adalah MBAH HASAN.

Pada Zaman revolusi fisik, di Buntet pesantren ada seorang Kyai Sepuh
bernama KH.Abdul Mun'im. Beliau adalah adik KH. Abdul Jamil dan mertua
KH.Abbas.


Di masa muda Abd Mun'im kecil melanglang buana menuntut ilmu
diantaranya di Bangkalan Madura di bawah asuhan Syaikhuna Kholil.
Sehingga beliau menjadi ulama besar yg kharismatik dan sempat
menggantikan posisi kakaknya menjadi pengasuh pondok Buntet pesantren
sebelum akhirnya diserahkan kepada keponakannya yg nota bene adalah
menantunya sendiri yaitu : KH.Abbas bin KH.Abdul Jamil.

Akhirnya beliau menjadi kyai sepuh dan meninggal dunia ketika beliau
sedang melaksanakan Sholat dalam keadaan bersujud kepada Allah swt.
Kyai Abd Mun'im meninggalkan keturunan para kyai dan ulama dan nyai nyai yg shalihah. Diantaranya adalah MBAH HASAN.

Beliau semasa kecil dipanggil dg nama Mas'ud, namun sepulang dari Mukim
di tanah suci Mekkah di kenal dg nama Mbah Hasan. Selama Puluhan tahun
beliau menimba ilmu di tanah suci dan praktis tdk bertemu keluarga,pada
akhirnya beliau pulang ke tanah air untuk melepaskan rindu yg terpendam
bertahun tahun. Namun setelah pulang ke Buntet,beliau lebih memilih
tinggal diluar Buntet yg mungkin dirasakan oleh beliau telah banyak
kyai dan ulama di Buntet pesantren. Kemudian Mbah Hasan memilih daerah
Ciledug Cirebon ( _+ 25 km dr Buntet Pesantren) untuk menetap dan
berda'wah.

Di Ciledug,beliau berda'wah dg santun dan sopan dg menggunakan
AKHLAQULKARIMAH,sehingga masyarakat menyambut da'wahnya dg sukacita.
Beliau berda'wah dg halnya yg baik(da'wah bilhal) dan beliau beternak
puluhan ekor sapi. Masyarakat Ciledug pada sa'at itu tidak habis
fikir,mengapa sapi sapi mbah Hasan tidak digembalakan. Bahkan dibiarkan
berkeliaran mencari makan sendiri. Namun anehnya sapi sapi mbah Hasan
cukup beretika dan beradab,dikarenakan tidak pernah memakan dan merusak
tanaman masyarakat,sehingga masyarakat berterima kasih kegirangan bila
melihat sapi sapi Mbah Hasan yg hanya membersihkan rumput rumput yg
mengganggu tanaman.

Beberapa tahun kemudian Mbah Hasan pergi entah kemana,namun sebelum
pergi beliau sempat membagi-bagikan seluruh sapi-sapinya kepada
masyarakat.

Tahun demi tahun berlalu,akhirnya mbah Hasan yg sebaya dg sepupunya
KH.Abbas bin Ky.Abduljamil(wafat th 1947 di usia 60 tahunan) dg
mengejutkan datang di Buntet pesantren. Beberapa orang kyai sempat
cemas dg kedatangan beliau,sbb kedatangannya adalah pertanda akan ada
mushibah(kematian kyai besar atau serangan Belanda) di Buntet. Meskipun
begitu sanak famili dan masyarakat saling berebut cium tangan barokah
mbah Hasan. Mbah Hasan mengunjungi beberapa kyai dan kerabat.
Diantaranya beliau berkunjung ke KH.Anas bin Kyai Abd Jamil kakak
sepupunya. Kyai Anas menyambut gembira dg kedatangan mbah Hasan yg sdh
lama tdk ada khabar beritanya, hingga Kyai Anas mengumpulkan seluruh
anggota keluarga untuk menyambut kedatangannya.

Mbah Hasan, menurut
penuturan para kyai Buntet adalah seorang Kyai yg Shomut(pendiam)
beliau tdk berkata apapun kecuali 2 kata saja: enggih dan boten (ia dan
tidak) meskipun begitu,mulutnya selalu mengulum senyuman yg menyejukkan
hati.


Mbah Hasan bertemu dg kyai Anas sepupunya yg menjadi Muqaddam(guru
besar)thariqah tijaniyah dan org yg pertama kali membawa Thariqah
Tijaniyah di Indonesia,sebuah pertemuan yg mengharukan dan merapatkan
'alaqah ruhiyah dan jasadiyah diantara dua orang wali tsb. Pertemuan
terakhir di dunia.

Saat itu kyai Anas meminta oleh2 kenang2an dr mbah
Hasan,dia berkata "kang Hasan,mana oleh2nya dr Banyu wangi ?,namun mbah
Hasan tdk menjawab sepatah katapun,hanya senyuman san Wali yg menghiasi
wajah mbah Hasan. Ketika Kyai Anas berkali kali memohon,akhirnya mbah
Hasan mengeluarkan bungkusan kain putih dr kantong bajunya seraya
berbisik "jangan dibuka kecuali didepan anak2 dan menantu".

Setelah
mbah Hasan pamitan,kyai Anas membuka bungkusan tsb,ternyata berisi
minyak wangi dan kapas. Kyai Anas mengerti isyarat tsb dan
berucap,"anak2ku ketahuilah,bapak sebentar lagi meninggal dunia" kyai
Anas mengucapkannya sambil berderai air mata haru dan bahagia sambil
terus menerus menciumi kapas dan minyak wangi pemberian mbah wali
Hasan. Benar saja,beberapa minggu kemudian kyai Anas wafat dg
Husnulkhotimah berpulang ke rahmatullah dg damai dan tenang, yg
kuburannya sudah tergali seminggu sebelum beliau wafat. Rodhiyallahu
anhu wa askanahu 'alaa farodisiljinan,amien. Bahkan juga Almarhum
almaghfur lah Kyai haji Anas sempat mimpi bertemu Rosullah saw dan
Sayidah Fathimah Azzahro seminngu sebelum wafat,dalam mimpi itu Kyai
Anas mencium tangan mulia Baginda Rosul saw dan tangan Sayyidah
Fathimah Azzahro ra. Anehnya siti fathimah memberi isyarat dg 7 buah
jari tangannya. Bangun dr mimpi,Kyai Anas terperanjat tiba2 tangan
beliau harum wangi semerbak hingga hari ke tujuh,ribuan santri dan
kerabatpun terheran heran dg bau wangi yg khas dan beraroma lain dr
minyak wangi pada umumnya. SUBHAANALLOH.....Bersambun
g.



Karomah Mbah Hasan

Karomah Mbah Hasan

Posted by Unknown  |  at  7:39 AM

Mbah Hasan adalah kyai kharismatik  Akhirnya beliau menjadi kyai sepuh dan meninggal dunia ketika beliau
sedang melaksanakan Sholat dalam keadaan bersujud kepada Allah swt.
Kyai Abd Mun'im meninggalkan keturunan para kyai dan ulama dan nyai nyai yg shalihah. Diantaranya adalah MBAH HASAN.

Pada Zaman revolusi fisik, di Buntet pesantren ada seorang Kyai Sepuh
bernama KH.Abdul Mun'im. Beliau adalah adik KH. Abdul Jamil dan mertua
KH.Abbas.


Di masa muda Abd Mun'im kecil melanglang buana menuntut ilmu
diantaranya di Bangkalan Madura di bawah asuhan Syaikhuna Kholil.
Sehingga beliau menjadi ulama besar yg kharismatik dan sempat
menggantikan posisi kakaknya menjadi pengasuh pondok Buntet pesantren
sebelum akhirnya diserahkan kepada keponakannya yg nota bene adalah
menantunya sendiri yaitu : KH.Abbas bin KH.Abdul Jamil.

Akhirnya beliau menjadi kyai sepuh dan meninggal dunia ketika beliau
sedang melaksanakan Sholat dalam keadaan bersujud kepada Allah swt.
Kyai Abd Mun'im meninggalkan keturunan para kyai dan ulama dan nyai nyai yg shalihah. Diantaranya adalah MBAH HASAN.

Beliau semasa kecil dipanggil dg nama Mas'ud, namun sepulang dari Mukim
di tanah suci Mekkah di kenal dg nama Mbah Hasan. Selama Puluhan tahun
beliau menimba ilmu di tanah suci dan praktis tdk bertemu keluarga,pada
akhirnya beliau pulang ke tanah air untuk melepaskan rindu yg terpendam
bertahun tahun. Namun setelah pulang ke Buntet,beliau lebih memilih
tinggal diluar Buntet yg mungkin dirasakan oleh beliau telah banyak
kyai dan ulama di Buntet pesantren. Kemudian Mbah Hasan memilih daerah
Ciledug Cirebon ( _+ 25 km dr Buntet Pesantren) untuk menetap dan
berda'wah.

Di Ciledug,beliau berda'wah dg santun dan sopan dg menggunakan
AKHLAQULKARIMAH,sehingga masyarakat menyambut da'wahnya dg sukacita.
Beliau berda'wah dg halnya yg baik(da'wah bilhal) dan beliau beternak
puluhan ekor sapi. Masyarakat Ciledug pada sa'at itu tidak habis
fikir,mengapa sapi sapi mbah Hasan tidak digembalakan. Bahkan dibiarkan
berkeliaran mencari makan sendiri. Namun anehnya sapi sapi mbah Hasan
cukup beretika dan beradab,dikarenakan tidak pernah memakan dan merusak
tanaman masyarakat,sehingga masyarakat berterima kasih kegirangan bila
melihat sapi sapi Mbah Hasan yg hanya membersihkan rumput rumput yg
mengganggu tanaman.

Beberapa tahun kemudian Mbah Hasan pergi entah kemana,namun sebelum
pergi beliau sempat membagi-bagikan seluruh sapi-sapinya kepada
masyarakat.

Tahun demi tahun berlalu,akhirnya mbah Hasan yg sebaya dg sepupunya
KH.Abbas bin Ky.Abduljamil(wafat th 1947 di usia 60 tahunan) dg
mengejutkan datang di Buntet pesantren. Beberapa orang kyai sempat
cemas dg kedatangan beliau,sbb kedatangannya adalah pertanda akan ada
mushibah(kematian kyai besar atau serangan Belanda) di Buntet. Meskipun
begitu sanak famili dan masyarakat saling berebut cium tangan barokah
mbah Hasan. Mbah Hasan mengunjungi beberapa kyai dan kerabat.
Diantaranya beliau berkunjung ke KH.Anas bin Kyai Abd Jamil kakak
sepupunya. Kyai Anas menyambut gembira dg kedatangan mbah Hasan yg sdh
lama tdk ada khabar beritanya, hingga Kyai Anas mengumpulkan seluruh
anggota keluarga untuk menyambut kedatangannya.

Mbah Hasan, menurut
penuturan para kyai Buntet adalah seorang Kyai yg Shomut(pendiam)
beliau tdk berkata apapun kecuali 2 kata saja: enggih dan boten (ia dan
tidak) meskipun begitu,mulutnya selalu mengulum senyuman yg menyejukkan
hati.


Mbah Hasan bertemu dg kyai Anas sepupunya yg menjadi Muqaddam(guru
besar)thariqah tijaniyah dan org yg pertama kali membawa Thariqah
Tijaniyah di Indonesia,sebuah pertemuan yg mengharukan dan merapatkan
'alaqah ruhiyah dan jasadiyah diantara dua orang wali tsb. Pertemuan
terakhir di dunia.

Saat itu kyai Anas meminta oleh2 kenang2an dr mbah
Hasan,dia berkata "kang Hasan,mana oleh2nya dr Banyu wangi ?,namun mbah
Hasan tdk menjawab sepatah katapun,hanya senyuman san Wali yg menghiasi
wajah mbah Hasan. Ketika Kyai Anas berkali kali memohon,akhirnya mbah
Hasan mengeluarkan bungkusan kain putih dr kantong bajunya seraya
berbisik "jangan dibuka kecuali didepan anak2 dan menantu".

Setelah
mbah Hasan pamitan,kyai Anas membuka bungkusan tsb,ternyata berisi
minyak wangi dan kapas. Kyai Anas mengerti isyarat tsb dan
berucap,"anak2ku ketahuilah,bapak sebentar lagi meninggal dunia" kyai
Anas mengucapkannya sambil berderai air mata haru dan bahagia sambil
terus menerus menciumi kapas dan minyak wangi pemberian mbah wali
Hasan. Benar saja,beberapa minggu kemudian kyai Anas wafat dg
Husnulkhotimah berpulang ke rahmatullah dg damai dan tenang, yg
kuburannya sudah tergali seminggu sebelum beliau wafat. Rodhiyallahu
anhu wa askanahu 'alaa farodisiljinan,amien. Bahkan juga Almarhum
almaghfur lah Kyai haji Anas sempat mimpi bertemu Rosullah saw dan
Sayidah Fathimah Azzahro seminngu sebelum wafat,dalam mimpi itu Kyai
Anas mencium tangan mulia Baginda Rosul saw dan tangan Sayyidah
Fathimah Azzahro ra. Anehnya siti fathimah memberi isyarat dg 7 buah
jari tangannya. Bangun dr mimpi,Kyai Anas terperanjat tiba2 tangan
beliau harum wangi semerbak hingga hari ke tujuh,ribuan santri dan
kerabatpun terheran heran dg bau wangi yg khas dan beraroma lain dr
minyak wangi pada umumnya. SUBHAANALLOH.....Bersambun
g.



Karomah Mbah Hasan

Karomah Mbah Hasan

Posted by Unknown  |  at  7:39 AM

Mbah Hasan adalah kyai kharismatik  Akhirnya beliau menjadi kyai sepuh dan meninggal dunia ketika beliau
sedang melaksanakan Sholat dalam keadaan bersujud kepada Allah swt.
Kyai Abd Mun'im meninggalkan keturunan para kyai dan ulama dan nyai nyai yg shalihah. Diantaranya adalah MBAH HASAN.

Pada Zaman revolusi fisik, di Buntet pesantren ada seorang Kyai Sepuh
bernama KH.Abdul Mun'im. Beliau adalah adik KH. Abdul Jamil dan mertua
KH.Abbas.


Di masa muda Abd Mun'im kecil melanglang buana menuntut ilmu
diantaranya di Bangkalan Madura di bawah asuhan Syaikhuna Kholil.
Sehingga beliau menjadi ulama besar yg kharismatik dan sempat
menggantikan posisi kakaknya menjadi pengasuh pondok Buntet pesantren
sebelum akhirnya diserahkan kepada keponakannya yg nota bene adalah
menantunya sendiri yaitu : KH.Abbas bin KH.Abdul Jamil.

Akhirnya beliau menjadi kyai sepuh dan meninggal dunia ketika beliau
sedang melaksanakan Sholat dalam keadaan bersujud kepada Allah swt.
Kyai Abd Mun'im meninggalkan keturunan para kyai dan ulama dan nyai nyai yg shalihah. Diantaranya adalah MBAH HASAN.

Beliau semasa kecil dipanggil dg nama Mas'ud, namun sepulang dari Mukim
di tanah suci Mekkah di kenal dg nama Mbah Hasan. Selama Puluhan tahun
beliau menimba ilmu di tanah suci dan praktis tdk bertemu keluarga,pada
akhirnya beliau pulang ke tanah air untuk melepaskan rindu yg terpendam
bertahun tahun. Namun setelah pulang ke Buntet,beliau lebih memilih
tinggal diluar Buntet yg mungkin dirasakan oleh beliau telah banyak
kyai dan ulama di Buntet pesantren. Kemudian Mbah Hasan memilih daerah
Ciledug Cirebon ( _+ 25 km dr Buntet Pesantren) untuk menetap dan
berda'wah.

Di Ciledug,beliau berda'wah dg santun dan sopan dg menggunakan
AKHLAQULKARIMAH,sehingga masyarakat menyambut da'wahnya dg sukacita.
Beliau berda'wah dg halnya yg baik(da'wah bilhal) dan beliau beternak
puluhan ekor sapi. Masyarakat Ciledug pada sa'at itu tidak habis
fikir,mengapa sapi sapi mbah Hasan tidak digembalakan. Bahkan dibiarkan
berkeliaran mencari makan sendiri. Namun anehnya sapi sapi mbah Hasan
cukup beretika dan beradab,dikarenakan tidak pernah memakan dan merusak
tanaman masyarakat,sehingga masyarakat berterima kasih kegirangan bila
melihat sapi sapi Mbah Hasan yg hanya membersihkan rumput rumput yg
mengganggu tanaman.

Beberapa tahun kemudian Mbah Hasan pergi entah kemana,namun sebelum
pergi beliau sempat membagi-bagikan seluruh sapi-sapinya kepada
masyarakat.

Tahun demi tahun berlalu,akhirnya mbah Hasan yg sebaya dg sepupunya
KH.Abbas bin Ky.Abduljamil(wafat th 1947 di usia 60 tahunan) dg
mengejutkan datang di Buntet pesantren. Beberapa orang kyai sempat
cemas dg kedatangan beliau,sbb kedatangannya adalah pertanda akan ada
mushibah(kematian kyai besar atau serangan Belanda) di Buntet. Meskipun
begitu sanak famili dan masyarakat saling berebut cium tangan barokah
mbah Hasan. Mbah Hasan mengunjungi beberapa kyai dan kerabat.
Diantaranya beliau berkunjung ke KH.Anas bin Kyai Abd Jamil kakak
sepupunya. Kyai Anas menyambut gembira dg kedatangan mbah Hasan yg sdh
lama tdk ada khabar beritanya, hingga Kyai Anas mengumpulkan seluruh
anggota keluarga untuk menyambut kedatangannya.

Mbah Hasan, menurut
penuturan para kyai Buntet adalah seorang Kyai yg Shomut(pendiam)
beliau tdk berkata apapun kecuali 2 kata saja: enggih dan boten (ia dan
tidak) meskipun begitu,mulutnya selalu mengulum senyuman yg menyejukkan
hati.


Mbah Hasan bertemu dg kyai Anas sepupunya yg menjadi Muqaddam(guru
besar)thariqah tijaniyah dan org yg pertama kali membawa Thariqah
Tijaniyah di Indonesia,sebuah pertemuan yg mengharukan dan merapatkan
'alaqah ruhiyah dan jasadiyah diantara dua orang wali tsb. Pertemuan
terakhir di dunia.

Saat itu kyai Anas meminta oleh2 kenang2an dr mbah
Hasan,dia berkata "kang Hasan,mana oleh2nya dr Banyu wangi ?,namun mbah
Hasan tdk menjawab sepatah katapun,hanya senyuman san Wali yg menghiasi
wajah mbah Hasan. Ketika Kyai Anas berkali kali memohon,akhirnya mbah
Hasan mengeluarkan bungkusan kain putih dr kantong bajunya seraya
berbisik "jangan dibuka kecuali didepan anak2 dan menantu".

Setelah
mbah Hasan pamitan,kyai Anas membuka bungkusan tsb,ternyata berisi
minyak wangi dan kapas. Kyai Anas mengerti isyarat tsb dan
berucap,"anak2ku ketahuilah,bapak sebentar lagi meninggal dunia" kyai
Anas mengucapkannya sambil berderai air mata haru dan bahagia sambil
terus menerus menciumi kapas dan minyak wangi pemberian mbah wali
Hasan. Benar saja,beberapa minggu kemudian kyai Anas wafat dg
Husnulkhotimah berpulang ke rahmatullah dg damai dan tenang, yg
kuburannya sudah tergali seminggu sebelum beliau wafat. Rodhiyallahu
anhu wa askanahu 'alaa farodisiljinan,amien. Bahkan juga Almarhum
almaghfur lah Kyai haji Anas sempat mimpi bertemu Rosullah saw dan
Sayidah Fathimah Azzahro seminngu sebelum wafat,dalam mimpi itu Kyai
Anas mencium tangan mulia Baginda Rosul saw dan tangan Sayyidah
Fathimah Azzahro ra. Anehnya siti fathimah memberi isyarat dg 7 buah
jari tangannya. Bangun dr mimpi,Kyai Anas terperanjat tiba2 tangan
beliau harum wangi semerbak hingga hari ke tujuh,ribuan santri dan
kerabatpun terheran heran dg bau wangi yg khas dan beraroma lain dr
minyak wangi pada umumnya. SUBHAANALLOH.....Bersambun
g.



Seri Mengenang Tokoh Buntet (4) : KH. Hamim

Seri Mengenang Tokoh Buntet (4) : KH. Hamim

Posted by Unknown  |  at  1:36 AM

sawah


Mimpi Kyai Hamim dan Dzikir Haddad



Mimpi seseorang kadangkala menjadi isyarat dalam kehidupan nyata, apalagi dialami oleh seorang ulama pasti membawa hikmah atau sebuah isyarat, hanya Allah yang Maha Tahu, sedangkan manusia tidak bisa memastikannya. Tetapi dari mimpi beliau, melahirkan sesuatu yang bermanfaat.



Pada suatu malam KH. Hamim ini bercerita seputar mimpi yang dialaminya kepada keluarganya. Katanya, ia seolah berjalan di pematang sawah bersama dua orang kyai yang mendampinginya.






Kyai yang pertama adalah KH. Siradj (kakek dari Prof. DR. Aqil Siradj) dari Pesantren Gedongan dan satunya lagi oleh KH. Dahlan dari Pesantren Benda Kerep. Ketiga Kiai ini memang memiliki hubungan keluarga yang amat dekat. KH. Hamim merupakan keponakan KH. Ahmad Said dari Pesantren Gedongan. KH. Ahmad Said hidup sezaman dengan KH. Abdul Djamil, Hadratus syekh KH. Hasyim Asy`ari dan Mbah Cholil Madura. Sementara KH. Siradj adalah putra dari KH. Ahmad Said.




Dalam mpimpinya ini, saat menikmati perjalanan meniti pematang sawah itu tiba-tiba KH. Hamim terpeleset kakinya dan terjatuh ke sawah. Anehnya, pada saat yang bersamaan kedua kyai yang mengiringinya itu ikut terpeset. Baik KH. Siradj maupun KH. Dahlan hampir berbarengan jatuhnya. Walhasil, ketiganya tercebur ke sawah. Itulah isi cerita yang dialami KH. Khamim seperti dituturkan kepada keluarganya.




Jika mimpi adalah tanda-tanda, maka tanda-tanda itu menjadi kenyataan selang beberapa hari kemudian. KH. Hamim benar-benar menderita sakit sampai akhirnya wafat. Pada hari wafatnya itu, Buntet Pesantren banyak sekali dikunjungi para tamu yang bertakziyah, terlebih keluarga besar dari pesantren Gedongan tumpah ruah ke Buntet. Hadir juga pada hari itu Habib Ali yang amat masyhur karomahnya dari Jatibarang Brebes. Jenazah Almarhum KH. Hamim dimandikan oleh KH. Ma`sum dan KH. Dimyati serta dishalatkan di Masjid Jami` Buntet Pesantren.




Seperti biasanya para ulama dan warga Buntet begitu selesai shalat, kemudian ada dzikir dan isyhad. Rupanya kepergian KH. Hamim ini menjadi perhatian banyak kalangan sebab yang hadir bukan saja dari Buntet tetapi dari keluarga besar Gedongan ikut hadir. Selesai shalat jenazah, Habib Ali dari Jatibarang memimpin pembacaan dzikir yang berbeda dari biasanya, tetapi amat menarik perhatian seluruh kiai dan warga Buntet. Dalam suasana duka dan hidmat dzikir itu dikumandangkan amat menyentuh rasa keimanan. Ajaran tauhid pada bait-baitnya menggugah dan menimbulkan kesadaran betapa fana dan rapuhnya seorang makhluq di hadapan Sang Khaliq. Lafadz demi lafadz dibacakan oleh Habib Ali membuat terkesima seluruh jama`ah.




Salah seorang kiai Buntet pada waktu itu, KH. Akyas Abdul Djamil sangat tertarik dengan dzikir tersebut. Beliau kemudian minta ijazah kepada Habib Ali untuk mengamalkannya. Hingga saat ini dzikir tersebut dikenal dengan “Dzikir Haddad” yang selalu dibacakan oleh KH. Abdullah Syifa putra dari KH. Akyas Abdul Djamil setiap selesai shalat jenazah bagi warga Buntet Pesantren.




Namun tiba-tiba belum selesai prosesi pengurusan jenazah kyai Hamim ini, ada berita yang amat mengejutkan yaitu wafatnya KH. Siradj Gedongan. Padahal keluarga besar Gedongan masih ta`ziah di Buntet. Suasana panik penuh haru menyelimuti keluarga Buntet dan Gedongan. Selang beberapa jam kemudian, ada lagi satu berita duka datangnya dari daerah Benda Kerep bahwa KH. Dahlan wafat. Innalillah wa innaa ilihi rajiun dalam satu hari ada 3 kiai bersaudara wafat bersamaan persis seperti yang dituturkan KH. Khamim dalam mimpinya, di mana beliau berjalan di sawah dan ketiganya jatuh bersamaan.




Semoga Allah memulyakan tiga orang Kiai yang bersaudara itu dan semoga pula Allah memperkokoh ikatan persaudaraan bagi keturunan-keturunannya. Amin. Wallahu a`lam. (Drs. H. Dhabas Rakhmat)






Copyright © 2013 Blog Backup Buntet Pesantren. WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
back to top