Showing posts with label breakingnews. Show all posts
Showing posts with label breakingnews. Show all posts

KH. Lutfi El-Hakim bin KH. Fuad Hasyim Wafat

KH. Lutfi El-Hakim bin KH. Fuad Hasyim Wafat

Posted by Unknown  |  at  7:19 PM





Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun,
Telah Wafat KH. Lutfi El-Hakim bin KH. Fuad Hasyim, Buntet Pesantren Cirebon. Beliau adalah Pengasuh Pondok Pesantren Nadwatul Ummah Buntet Pesantren.
Semoga Allah menerima segala amal ibadah beliau dan menghapuskan segala kesalahan beliau. Kepada segenap alumni untuk bisa menyelenggarakan sholat ghaib di wilayahnya masing-masing.

Beliau wafat pada sekitar pukul 00.00 dinihari tadi di Rumah Sakit Harapan Kita, Jenazah KH.Lutfhi Elhakim Insya Allah akan di sholatkan ba'da dzuhur di Masjid Jami Buntet Pesantren. Untuk para santri,alumni Dan masyarakat semuanya, dimohon untuk bersama memberikan doa dan mengantarkan beliau ke peristirahatan terakhirnya.

Dimohon kepada segenap alumni untuk bisa menyelenggarakan sholat ghaib di wilayahnya masing-masing. Semoga Allah menerima segala amal ibdah beliau dan menghapuskan segala kesalahan beliau. dan dimohon ziyadah do'a untuk beliau dan semoga keluarga beliau diberikan kesabaran. Allahummaghfirlahu, Warkhamhu, Waafihi, Wa'fuanhu. Amin Ya Robbal Alamin. Al-Fatihah.

~ Mohon disebarkan, Terima Kasih



Berawal dari Kongres ke-7, FORSILA BPC Jakarta Raya Bakal Menusantara

Berawal dari Kongres ke-7, FORSILA BPC Jakarta Raya Bakal Menusantara

Posted by Unknown  |  at  5:51 PM

Pemaparan LPJ kepengurusan 2014-2015
Forsilawan Ade Syamsul Falah berhasil memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan ketua umum FORSILA BPC Jakarta Raya Masa Khidmat 2015-2016 mengungguli tiga kandidat lainnya yakni Forsilawan Arif Rofiuddin, Forsilawan Khozin, dan Forsilawan Muhammad Syakir Niamillah (10/5) pada puncak acara Kongres ke-7 FORSILA BPC Jakarta Raya di Yayasan Nuril Ula, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Ketua Umum IKLAB tengah memberikan sambutan
Kongres ke-7 FORSILA BPC Jakarta Raya yang diketuai oleh Forsilawan Arif Fadilah ini mengusung tema, Reaktualisasi Nilai-nilai Kesantrian untuk FORSILA Menusantara. Harapan besarnya, kepemimpinan baru ini dapat membawa FORSILA ke ranah nasional. Arti menusantarabukan cuma itu, tetapi juga terus menjaga tradisi keindonesiaan dalam FORSILA dengan kegiatan-kegiatannya.
Selain memilih ketua umum baru, kongres ini juga membahas kembali anggaran dasar, anggaran rumah tangga, garis-garis besar haluan organisasi, dan garis-garis besar haluan program kerja. Sebelum pembahasan semua itu dalam sidang komisi dan sidang paripurna, kongres membahas dan mengevaluasi kinerja kepengurusan FORSILA BPC Jakarta Raya masa khidmat 2014-2015 dengan laporan pertanggungjawabannya (LPJ).
Makan Bersama "ala santri"
di sela-sela Kongres
Dalam LPJ ini, pembahasan begitu alot. Ada beberapa peserta sidang yang memberi nilai “merah” pada aspek-aspek tertentu sehingga suasana sidang sempat “memanas”. Pada akhirnya, pandangan umum peserta sidang menyatakan bahwa laporan pertanggungjawaban kepengurusan FORSILA BPC Jakarta Raya masa khidmat 2014-2015 yang dipimpin oleh Forsilawan Ahmad Fabi Kriyan Ardani ini diterima dengan syarat untuk membagikan laporan pertanggungjawaban kepada seluruh anggota dan mengevaluasi aspek-aspek yang diberi tanda merah.
“Sebelum saya mengakhiri laporan ini, saya mengutip ungkapan yang cukup menarik sebagai landasan kinerja kepengurusan selanjutnya, Tangan terulur ikhlas tanpa sekalipun mengharap balas / Mengabdi pada kiai, mengabdi pada negeri.”, ucap Forsilawan Fabi mengakhiri laporannya sebelum dilanjutkan oleh pengurus lain.
Kongres ini dihadiri oleh Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Buntet Pesantren Cirebon (IKLAB), K.H. Masrur Ainun Najih beserta beberapa jajaran pengurus lainnya dan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Cirebon Jakarta Raya (HIMA-CITA). Kiai Masrur memberikan sambutan pada acara kongres ke-7 FORSILA BPC Jakarta Raya sesaat sebelum laporan pertanggungjawaban disampaikan oleh pengurus FORSILA BPC Jakarta Raya masa khidmat 2014-2015. Kiai yang juga sebagai pengurus pusat Rabithah Maahid Islamiyah ini berharap agar semua organisasi alumni Buntet Pesantren dapat bersinergi dengan baik. FORSILA menusantara yang diusung sebagai tema kongres kali ini sangat didukung oleh kiai yang sangat terkesan santunnya ini.

Para peserta Kongres ke-7 FORSILA BPC Raya
Forsilawan Ade Syamsul Falah yang terpilih sebagai nahkoda baru FORSILA BPC Jakarta Raya masa khidmat 2015-2016 dalam visi dan misinya akan membawa FORSILA menusantara dan menusantarakan FORSILA.

Hadapi Pasar Bebas ASEAN, Forsila BPC Jakarta Raya Bekali Santri Buntet Pesantren

Hadapi Pasar Bebas ASEAN, Forsila BPC Jakarta Raya Bekali Santri Buntet Pesantren

Posted by Unknown  |  at  7:18 AM

Tak kurang dari 500 santri ikuti seminar ekonomi yang diselenggarakan Forsila BPC Jakarta Raya di aula MANU Putra Buntet Pesantren. (31/1).
“Acara ini berawal dari obrolan pada kajian mingguan. Berkat niat dan tekad akhirnya acara ini dapat terlaksana. Ini juga merupakan wujud khidmat kami sebagai alumni terhadap almamater sendiri”, ucap Ahmad Fabi Kriyan Ardani, ketua umum Forsila BPC Jakarta Raya pada sambutannya.
Seminar yang bertemakan “membangun santri menjadi bangsa yang kompetitif dalam menghadapi pasar bebas ASEAN” ini diisi oleh K.H. Fahad A. Sadat, S.E., M.E.Sy. Beliau selain seorang kiai dan kepala SMK NU Mekanika Buntet Pesantren, juga sebagai pakar ekonomi syariah. Beliau banyak membahas bagaimana kesepakatan yang terjadi dan apa dampak bagi Indonesia atas adanya kesepakatan ini.
Selain itu, seminar ini juga menghadirkan Forsilawan –sebutan untuk anggota Forsila- Akhmad Ali Hasyim, S.Pd, seorang senior Forsila BPC Jakarta Raya yang kini tengah menyusun tesis s2 di pascasarjana FISIP Universitas Indonesia. Beliau berbicara bagaimana santri harus bertindak menghadapi ini dengan sejarah bagaimana santri dahulu sebagai tolok ukurnya.
Acara seminar ini juga diisi dengan training motivasi oleh kandidat doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, forsilawan M. Sofi Mubarok, S.S.I, M.H.I., seorang alumni MAN Buntet Pesantren yang sejak strata satu hingga strata tiga menerima beasiswa. Beliau memberikan pemahaman bagaimana pentingnya belajar dan berpikir. “dengan seringnya kita berpikir, maka akan timbul pemaham dan pikiran-pikiran baru”, ucap beliau setelah melakukan permainan sebagai analoginya.
Acara ini ditutup dengan pembagian doorprize, pengumuman dan pembagian hadiah perlombaan yang telah dilangsungkan sebelumnya, 21-29 Januari meliputi lomba menulis puisi, cerpen, dan opini. Selain itu juga lomba Miss Forsila dan turnamen futsal yang diikuti oleh santri Buntet Pesantren.

Acara ini didukung oleh IKAPB sebagai organisasi yang menaungi seluruh santri Buntet Pesantren dan juga didukung oleh organisasi alumni serupa yang seluruh anggotanya berdomisili di Semarang, Formasi BPC Semarang. Bersama Formasi BPC Semarang juga, Forsila BPC Jakarta Raya memberikan informasi tentang dunia kampus yang berada di wilayah Jabodetabek dan Semarang kepada seluruh siswa kelas XII Aliyah se-derajat di Buntet Pesantren (28-31/1).

Halal Bihalal Bani Muta'ad

Halal Bihalal Bani Muta'ad

Posted by Unknown  |  at  6:29 AM

Buntet Pesantren, Jum’at, 8 Agustus 2014 – Sekumpulan pemuda dan pemudi Buntet yang merupakan keturunan (Bani) Kiai Mutaad bin Kiai Raden Muridin mengadakan Halal Bihalal. Seperti yang sudah kita sama-sama ketahui bahwa selepas Mbah Muqooyim, Pondok Buntet Pesantren diasuh oleh Mbah Mutaad yang tak lain merupakan cucu menantu dari Mbah Muqooyim. Mbah Mutaad adalah keturunan ke 17 dari Syekh Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati, namun Mbah Mutaad begitu menekankan kepada anak cucunya untuk rendah hati dan menanggalkan gelar kebangsawanan (Raden).

Image preview

Acara yang diinisiasi oleh Moh. Akmal Abbas S. dan kawan-kawan ini sukses mengumpulkan sekitar 80 orang yang notabene masih satu keluarga dan kelak akan meneruskan perjuangan para sesepuh pondok Buntet Pesantren khususnya Mbah Mutaad. Tujuan diadakannya acara tersebut adalah agar sesama zurriyah bisa saling mengenal dan terus menjaga hubungan silaturrahim.

Acara yang dimulai Ba’da Isya ini dihadiri oleh KH. Ade Nasihul Umam yang secara gamblang, detil dan runtut memaparkan dinamika Buntet dari masa ke masa serta peran Buntet Pesantren dalam mengembangkan Pondok-pondok lain, tercatat Pondok-pondok seperti Gedongan, Benda Kerep, Balerante Tebu Ireng, Lirboyo, dan lain-lain tidak terlepas dari ikhtiar beberapa Kiai dari Buntet Pesantren. Selain itu, KH. Ade juga menekankan bahwa Pondok Buntet yang sudah berdiri sejak zaman Pangeran Diponegoro lahir atau tepatnya pada tahun 1758 M bisa tetap bertahan sampai sekarang karena adanya harmoni atau kerjasama antara para Kiai sepuh dan generasi muda. Beliau mencontohkan semasa LPI (sekarang YLPI) dipimpin oleh KH. Junaedi Anas, KH. Junaedi Anas dan para Kiai sepuh saat itu dibantu dan disokong betul oleh para Kiai muda seperti KH. Maufur, KH. Zuhdi, KH. Hisyam Mansyur, dan lain-lain. Oleh karena itu, peran generasi muda Buntet Pesantren khususnya yang hadir pada acara tersebut begitu diharapkan demi kebaikan ma’haduna, Ma’had Buntet Pesantren, tambah KH. Ade.

Meski malam sudah semakin larut, selepas pemaparan sejarah Buntet oleh KH. Ade, sejumlah orang yang tengah berkumpul di ruang pertemuan YLPI Buntet Pesantren masih antusias mendengarkan motivasi dari KH. Salman. KH. Salman menyampaikan sebuah cerita yang mengandung pesan moral bahwa tidak akan menyelesaikan masalah kalau kita hanya bisa berbicara atau menggerutu kesana kemari, yang dibutuhkan adalah action bersama agar masalah tersebut bisa selesai dengan cepat. KH. Salman juga mendorong agar semua yang hadir kelak akan melanjutkan dan menghidupkan kembali Ikatan Keluarga Asrama Pondok Buntet Pesantren yang akan mengadakan Musyawarah Besar pada pekan depan.



Sebelum acara diakhiri dengan foto bersama dan salam-salaman, KH. Nahdudin Royandi Abbas yang sudah rawuh di tengah-tengah peserta sejak awal acara berpesan agar para keturunan Kiai Mutaad agar Tawadlu. Menurut KH. Nahdudin, tawadlu kepada siapapun jaminannya adalah siapapun juga akan tawadlu atau hormat kepada kita. Selain berpesan agar tawadhu, KH. Nahdudin juga menantang semua yang hadir agar bisa lebih baik dari beliau. Beliau telah membuktikan bahwa beliau mampu “menaklukkan” dunia, berkelana dari mulai Timur Tengah sampai di London, Inggris dengan tujuan untuk belajar, belajar, dan terus belajar. Beliau juga berharap bahwa acara tersebut akan diadakan kembali di masa mendatang dan kelak Beliau akan menceritakan pengalaman-pengalamannya selama Beliau melanglangbuana ke berbagai tempat di belahan dunia.

Seusai foto bersama dan salam-salaman, diadakan diskusi yang intinya untuk menguatkan komitmen bersama bahwa IKAPB adalah tanggung jawab kita bersama, begitupun dengan Pondok yang sudah hidup ratusan tahun ini adalah menjadi ladang tempat kita berjuang bersama. Bismillah . . .

Anggota PK IPNU - IPPNU Buntet Pesantren Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Anggota PK IPNU - IPPNU Buntet Pesantren Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Posted by Unknown  |  at  7:34 AM

Pada tanggal 8-9 Maret 2014, Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon mengadakan Pelatihan Jurnalistik. Sasaran dari acara pelatihan yang bertempat di gedung NU Center, Sumber ini adalah para pelajar se-Kabupaten Cirebon baik putra maupun putri termasuk 8 anggota Pimpinan Komisariat Ikatan Pelajar NU – Ikatan Pelajar Putri NU (PK IPNU-IPPNU) Buntet Pesantren. Para peserta pelatihan tersebut tampak antusias dalam menyerap pengetahuan-pengetahuan baru tentang kejurnalistikan sehingga waktu dua hari dirasa kurang bagi mereka.


Dalam pelatihan tersebut, para peserta dibekali beberapa materi tentang dasar-dasar jurnalistik kemudian pengetahuan yang telah didapat mereka langsung mereka terapkan dengan menyusun berita sekaligus mendesain layout koran melalui aplikasi Adobe Page Maker.

Tujuan diadakan acara Pelatihan Jurnalistik tersebut adalah mencetak para jurnalis yang berwawasan Ahlusunnah Wal jama’ah sehingga mereka bisa lebih mewarnai dunia jurnalistik yang kini mulai banyak dirambah oleh kaum islam radikal dan ekstrem. Selain tujuan tersebut, Pelatihan Jurnalistik tersebut juga diadakan untuk memeriahkan Harlah NU yang puncak acaranya akan dilaksanakan pada Minggu, 16 Maret 2014 mendatang dengan bertempat di Lapangan Olahraga Ranggajati Sumber dan akan menghadirkan Habib Syekh Bin Abdul Qodir As-Segaf dari Solo dan beberapa penceramah lainnya dari Jakarta

 *Oleh Ahmad Dihya Hadi Sucipto, salah satu perwakilan PK IPNU - IPPNU Buntet Pesantren dalam acara Pelatihan Jurnalistik PCNU Kab. Cirebon

Rekaman Marhabanan Maulid Nabi 2014

Rekaman Marhabanan Maulid Nabi 2014

Posted by Unknown  |  at  9:55 PM

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah setelah "berjuang" dengan kuota internet yang terbatas, akhirnya kami dapat mengunggah rekaman acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan di Masjid Agung Buntet Pesantren beberapa waktu yang lalu.

File dari hasil rekaman mencapai 100 Mb, cukup besar memang. Karena itu kami sediakan dua pilihan, anda bisa langsung klik link "download" dan mendengarkannya di rumah, atau bisa juga didengarkan langsung dengan mengklik link "dengarkan".

Sebelumnya kami memohon maaf apabila anda merasa terganggu dengan adanya iklan dan proses yang berbelit untuk mengunduh file ini. Karena rencananya 100% hasil dari iklan tersebut akan digunakan untuk kepentingan operasional Website Buntet Pesantren yang kita cintai ini.

Kami akan jelaskan cara download file marhabanan ini.

1. Klik tautan yang kami sediakan di bawah
2. Di pojok kanan atas akan ada sebuah tombol berwarna abu-abu dengan tulisan "Loading..." dengan angka yang menghitung mundur
3. Tunggu hingga tombol diatas berwarna jingga / orange dengan tulisan "Skip This Ad"
4. Klik tombol di atas
5. Akan muncul halaman baru. 
6. Blok / seleksi tautan yang ada pada halaman tersebut lalu klik kanan
7. Bagi pengguna Mozilla Firefox, kira-kira tampilannya seperti ini. Klik menu "Open Link" atau "Buka Tautan"

8. Bagi pengguna Google Chrome kira-kira gambarnya seperti ini. Klik "Buka http://.." atau "Open http://..."
9. Halaman download akan muncul. Anda bisa langsung klik tombol "download"
 
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
 
 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Link Download ==> http://ebc4b737.tinylinks.co

Link Untuk Mendengarkan ==> http://46e86846.tinylinks.co


Santri-santri Buntet Berprestasi pada MTQ Kabupaten Cirebon 2013

Santri-santri Buntet Berprestasi pada MTQ Kabupaten Cirebon 2013

Posted by Unknown  |  at  8:02 AM

Foto: Alhamdulillah berhasil menjadi Terbaik ketiga di ajang Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Kabupaten Cirebon ke-42 cabang Murottal Qira'at Sab'ah Putra di Kecamatan Karang Sembung
M. Syakir Ni'amillah Imaduddin
Foto: ini dia sang Runner Up
Abu Dzar Al Ghifarri Khadzik

Prestasi gemilang diraih “Santri” Putra-putri Pondok Buntet Pesantren pada ajang MTQ Kabupaten Cirebon ke 42.

Bertempat di Alun-alun Karangsembung, Para Santri Buntet mengukir prestasi dengan menyabet gelar juara dari beberapa cabang.

Abu Dzar Al Ghifari dan M. Syakir Ni’amillah berturut-turut menjadi yang terbaik ke 2 dan ke 3 pada cabang Qiroat Sab’ah putra. Pada cabang Qiroat Sab’ah Putri, keponakan dari Kiai Abdul Matin (Pondok Almuwafi) yaitu Ismi Nur menjadi yang terbaik ke dua.

Foto
Panggung Utama MTQ Kab. Cirebon
Foto: Pawai peserta MTQ di siang Hari
Pawai Ta'aruf
Lalu nama M. Khadzik dan Wawan Shofwani, dua kakak beradik ini berurutan menjadi yang terbaik pada cabang Makalah Ilmiah Al Qur'an (M2IQ)

Dari cabang Syahril Qur'an baik Putra maupun Putri, juara 2 nya direbut oleh siswa MANU Putra dan MAN Buntet Pesantren

Menurut salah satu perwakilan Buntet yang meraih juara yaitu M. Syakir Ni'amillah, prestasi yang ditorehkan oleh "Putra-putri" Buntet Pesantren tidak lepas dari kegigihan Kiai Muhadditsirrifa'i atau yang lebih dikenal dengan Kang Haddits karena mayoritas peserta yang berasal dari Buntet Pesantren merupakan murid dari Kang Haddits

Santri Bernyanyi di Ponpes Al Mizan Ciborelang - Majalengka

Santri Bernyanyi di Ponpes Al Mizan Ciborelang - Majalengka

Posted by Unknown  |  at  7:41 AM

Sabtu, 2 November 2013, Pondok Pesantren Al-Mizan, Ciborelang, Majalengka mengadakan acara yang bertajuk "Santri Menyanyi"
Acara yang diisi dengan kegiatan-kegiatan positif ini diawali dengan kelas sharingpendokumentasian oleh mas jojo.
Kata @CandraMalik Al-Mizan itu tempat PSK: Pusat Sop Kikil..hee
Candra Malik pada acara Ramah Tamah
Puas sharing tentang dokumentasi, para peserta yang kebanyakan adalah santri langsung mengikuti kelas woskshop penciptaan lagu yang langsung dibimbing oleh Candra Malik dan Doddy Katamsi, keduanya memang pakar di bidang penciptaan lagu. Candra Malik terkenal dengan "Fatwa Rindu"nya sedangkan Doddy Katamsi sudah malang melintang bertanggung jawab pada tes vokal di ajang-ajang bergengsi, diantaranya X Factor, Indonesian Idol, dan Akademi Fantasi Indosiar.
Sama Doel Sumbang
Kiai Maman bersama Doel Sumbang
Kegiatan ke3 dari acara yang diadakan maraton dari pagi sampai malam ini adalah kelas talkshow public speaking oleh Soni Bebek Sanjaya.
Para peserta juga diikutkan dalam kelas Sharing Manajemen Pertunjkan oleh Rony Urban dan Tim Atap.
Foto: Bareng doddy katamsi.....
Sebagian perwakilan Buntet bersama Doddy Katamsi
Puncak acara diadakan di malam hari sekaligus penutup dari rangkaian acara "Santri Bernyanyi". Pentas seni yang di buka langsung oleh tuan rumah, yaitu Kiai Maman Imanulhaq  menjadi sajian inti dari "Santri Bernyanyi". Pada pentas seni sendiri selain menampilkan kreasi seni dari para peserta,juga dimeriahkan oleh Doel Sumbang, Candra Malik, dan Doddy Katamsi.
Selain diikuti oleh santri-santri perwakilan dari beberapa pesantren, peserta juga ada yang merupakan perwakilan dari komunitas penggemar Iwan Fals atau OI, Slanker, dan Komunitas Anjat (Anak Jalanan Jatiwangi) serta dari radio-radio komunitas.


Foto bersama Kiai Maman Imanulhaq
Santri yang mewakili Pondok Buntet Pesantren dan Radio Komunitas Best FM yaitu A.Dihya Hadi S, A. Subhan, M. Dzia Ulhaq, A. Fasya Al Fayad, Basmah Nisfina, Faisal Mujahid, dan Hamidah Nurul A menuturkan banyak manfaat yang mereka dapatkan dari acara tersebut, mereka diajarkan bahwa dakwah atau syi'ar islam juga bisa dilakukan melalui lirik-lirik lagu yang digubah sedemikian rupa. Mereka juga merasakan bahwa santri memang harus tampil menunjukkan kreatifitas dan ketrampilannya. Selain itu mereka juga masih mengingat dengan jelas ketika Kiai Maman Imanulhaq menyampaikan "Saat intelektual, pergerakan, politisi buntu, Santri bernyanyi, Kyai segarkan hati".

Buku Belum terlambat sebelum kiamat bukan karya Kyai Buntet Pesantren

Buku Belum terlambat sebelum kiamat bukan karya Kyai Buntet Pesantren

Posted by Unknown  |  at  11:43 PM

Cirebon - maraknya pemberitaan tentang Buku Belum terlambat sebelum kiamat yang di publikasikan oleh DPP PKB melalui website resminya, ternyata sempat membuat para santri dan alumni Buntet Pesantren resah. Selain buku tersebut menuliskan tentang siapa saja warga NU yang tidak memilik PKB tidak masuk syurga, di beberapa situs juga dituliskan bahwa pengarang buku tersebut adalah Kyai Buntet Pesantren.

Seperti yang ditemukan oleh tim website Buntetpesantren.org tentang pemberitaan buku tersebut di situs arrahmah.com. Dalam situs tersebut, redaksi Arrahmah.com menyimpulkan sendiri bahwa KH.Ushfuri adalah Kyai Buntet Pesantren. Informasi ini membuat para alumni dan santri Buntet Pesantren menanyakan kebenarannya melalui akun facebook Info Buntet Pesantren.
Beragam komentar juga muncul melalui jejaring social. Beberapa akun twitter juga meminta Arrahmah.com segera mengedit berita yang tidak benar tersebut.

“Kita hanya meminta arrahmah.com untuk menurunkan atau mengedit berita tersebut. Kalau KH.Usfhuri ditulis sebagai kyai Buntet Pesantren, maka dikhawatirkan buku tersebut dianggap sebagai tulisan Kyai Buntet Pesantren. Padahal setahu saya, kyai Buntet Pesantren tidak pernah membuat buku seperti yang diberitakan” Ujar Ahmad Rofahan admin Info Buntet Pesantren

Hal senada juga disampaikan oleh KH.Aris Ni'matullah, Kepala Sekolah MANU Putri Buntet Pesantren dan pengasuh Asrama Al-Inaroh ini mengatakan. Bahawa KH.Ushfuri tidak pernah mengakui sebagai Kyai Buntet Pesantren, namun sebagai alumni Buntet Pesantren.

“KH.Usfuri itu alumni Buntet pesantren dan dulu beliau berkhidmah di KH.Mustahdi Abbas. Beliau tidak pernah mengaku sebagai Kyai Buntet Pesantren. Hanya medianya saja yang menyimpulkan sendiri” Ujar Kang Imat

saat ini, berita tentag Buku belum terlambat sebelum kiamat yang dimuat dalam situs arrahmah.com sudah diperbaiki. Namun, masih banyak situs yang lainnya masih menggunakan redaksi yang sama seperti sebelum adanya pengeditan.

“kalau di situs arrahmah.com sudah ada ralat setelah kita minta mereka meralat pemberitaan tersebut. Namun, berita ini juga tersebar di beberapa situs lainnya dengan redaksi yang sama dengan apa yang diberitakan oleh arrahmah.com sebelum di revisi. Kami hawatir banyak media yang memanfaatkan momen ini untuk sengaja merusak citra Buntet Pesantren” Tambah Rofahan (AR)

Nurturing Tolerance in Pesantren

Nurturing Tolerance in Pesantren

Posted by Unknown  |  at  7:16 AM


Back five years ago in a pesantren (Islamic boarding school) in the small city of Jombang, East Java, amidst a tranquil crack of dawn a congregation of male santris (students of pesantren) was performing their morning prayer in the mosque. While they were absorbed in the rituals, a Dutch Catholic priest who had spent the previous night at the pesantren was observing them from behind. Sitting cross-legged at the outer part of the mosque, he was attentively watching them perform the rituals and patiently waiting for a dialogue with some santris to be scheduled after the prayer.

Later on that day, after a dialogue with santris, the priest had a warm, friendly conversation in the Arabic language with the kyai (leader of pesantren) on various religious and humanitarian issues. The Catholic priest, upon returning to his country, wrote that his stay at the pesantren and dialogues with the santris and kyai was one of the most beautiful moments in his life. He thanked the kyai and santris for their hospitality and warm welcome.

Three years later, the pesantren hosted a multi-religious delegation from a Norway-based inter-faith organization that came to Indonesia to see how religious pluralism is internalized and practiced here. The dialogue between the delegation and the santris was warm, open and sometimes filled with bursts of laughter. The santris enjoyed not only stories about far away life especially among its teenagers, but also the opportunity to practice their English. They had no prejudice at all to the delegation, moreover because one of them who happened to be the leader was a Norwegian Muslim lady with a headgear. The santris and the European guests exchanged views and perspectives on different topics especially relating to the lives of Muslims and Christians in Europe.

The above stories are just two ‘episodes’ in the activities of many pesantrens in Indonesia, including Jombang which is known as a city of thousand pesantrens. Countless Western and non-Muslim researchers and activists have visited and even lived in pesantren for different purposes. Some of them conducted anthropological studies using the popular method of participant observation; some others taught English, while others were interested in learning deeper about Islam. These direct encounters with ‘outsiders’ have been an invaluable experience for santris which has nurtured awareness and appreciation of differences and diversities. It is not surprising, therefore, that pesantrens in Indonesia have produced broad-minded and tolerant personalities and alumni such as Abdurrahman Wahid or Nurcholis Madjid, two out of quite a few Muslim intellectuals and scholars widely reputed for their integrity in religious pluralism.

When asked about religious justification on their openness to outsiders, including non-Muslims, some santris immediately referred to the Prophet Muhammad’s saying that whoever believes in God and in the hereafter, s/he has to respect her/his guest. This prophetic saying (hadith) is a strong religious basis for santris to be confident in respecting their non-Muslim guests. There is no limitation in this hadith as to whom the respect should be addressed in terms of religion, for example to Muslim guests only. The limitation applies in terms of time, which is three days. To a visitor of more than three days, the host is not obligated to give a special treatment.

Another santri refers to the teaching on brotherhood that is prevalent among members or followers of Nahdlatul Ulama or NU (Resurgence of Ulemas), the so-called largest Muslim organization in Indonesia. The teaching advocates three levels of brotherhood that need to be uplifted in pursuing peaceful coexistence of all humankind. First, is brotherhood among Muslims (ukhuwwah Islamiyah); second, is brotherhood among people of the same nation (ukhuwwah wathoniyah), and third, brotherhood among all human beings (ukhuwwah basyariyah) regardless of their race, ethnicity, religion and nationality.
The above illustration of tolerance and pluralism in pesantren might sound ‘awkward’ amongst the emerging stigmatization against pesantren in the aftermath of the JW Marriot bombing. The suicide bomber, Amsar, reportedly was an alumnus of a pesantren, the Al-Mukmin in Ngruki, which is led by the alleged cleric Abu Bakar Ba’asyir. This association of pesantren with a suicide bomber can obviously ruin the image of moderate and tolerant santris in thousands of pesantrens who have demonstrated these traits as their built-in characters as illustrated in the examples above. From outside, judged from the names or physical appearance, these two types of pesantren may look alike. But in terms of teachings and moral values nurtured they are completely contradictory, just like night and day. In a pesantren like Ngruki, a dialogue with ‘the other’ (people with different interpretations of Islam or those who are non Muslim) would not be possible. These people are regarded as ‘kafir’ or infidels and there is no point in dialoguing with them. Their blood is even considered ‘halal,’ meaning that it is allowable to shed their blood. So, one should never make any generalization when talking about pesantren. There are thousands of moderate pesantrens, but there are radical pesantrens, as few as five according to Sidney Jones, that appear like, to borrow the term used by Bassam Tibi in his book The Challenge of Fundamentalism, ‘a horse of another colour.’

One unique characteristic of moderate pesantrens which has enabled them to produce tolerant and pluralistic people is their balance in teaching Islamic legal aspects (Fikih) and the spirituality (Sufism). This approach can be traced back to derive from the nine saints (wali songo) who spread Islam on the island of Java peacefully. This spirituality dimension is what probably missing in radical pesantrens, who prefer to stand in a binary position: right/wrong, halal/haram, me/the other, heaven/hell, etc. As a result, they produce people with an exclusionary stance who see the world as black and white and who lack the beauty and inner meaning of the religion: peace, tolerance, respect, love and care for others, and other esoteric and humanitarian traits.

This type of Islam is not typical Indonesian. Islam in Indonesia has been known as tolerant, pluralistic and adaptable to local cultures. But the last three decades have witnessed the growing phenomenon of Islamic fundamentalism that tends to practice religious teachings in a rigid and exclusive way. Moderate pesantrens should be alert of this and enhance their teachings on pluralism to their santris.

Lily Zakiyah Munir 
Center for Pesantren and Democracy Studies (CePDeS)
From The Jakarta Post, 5 September 2003









Under Construction Web

Under Construction Web

Posted by Unknown  |  at  9:14 PM

Website Buntet Pesantren masih dalam proses pembuatan. Dengan segala keterbatasan, kami berusaha untuk bisa tampil kembali di hadapan publik, setelah website yang lama dirusak oleh seseorang sehingga semua data habis tak tersisa. Hikmahnya, kita perlu waspada terhadap dunia cyber, karena tidak semua perusak website itu adalah urusan profite. Dalam kasus rusaknya website buntetpesantren.org ini adalah karena iseng atau tanpa sengaja.

Basis website yang tengah dibuat ini, menggunakan Blogger dari Google sebagai interfacenya adapun hosting menggunakan server Indonesia.

Ada alasan tersendiri kenapa sudah beli hosting tetapi menggunakan platform Blogger dari Google. Hal ini tidak lain demi keamanan dan kemudahan. Ada beberapa alasan:
1. lebih aman di Google server
2. interfacenya lebih cepat
3. infrastrukturnya terjamin
4. keamanan lebih menentramkan dibanding server sendiri

Mohon saran dan masukan yang berguna bagi BuntetPesantren.org dan komunitasnya.

salam

Redaksi

Copyright © 2013 Blog Backup Buntet Pesantren. WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
back to top