Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Mengenang Sang Kyai - Haul 2 Tahun Kyai Abdullah Syifa Akyas

Mengenang Sang Kyai - Haul 2 Tahun Kyai Abdullah Syifa Akyas

Posted by Unknown  |  at  7:37 AM

Belum habis dari ingatan kita, saat pagi hari yang diwarnai hujan, Kita dikejutkan dengan sebuah kabar yang Kita harap itu tidak benar, entah Kita salah dengar atau apapun. Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un, sesepuh Kita, KH. Abdullah Syifa Akyas yang merupakan milikNya dan kekasihNya, telah kembali kepadaNya.

Beliau adalah seorang  ‘alim yang santun,  tawadhu, dan bersahaja.  Dengan Keilmuwan, loyalitas, kepemimpinan, dan jasa-jasa serta banyak hal dari Beliau membuat beliau dipercaya oleh para Kiai menjadi salah satu dari Dewan Sesepuh (Pembina) bersama KH. Hasanudin Kriyani dan KH. Abdul Hamid Anas serta KH. Nahdudin Royandi Abbas selaku Ketua Dewan Sesepuh.

Setiap tahunnya, beliau senantiasa istiqomah memimpin tahlil pada acara Ziarah umum pada haul Buntet Pesantren. Ini merupakan sebuah pengakuan yang luar biasa dari masyarakat Buntet khusunya Para Kiai akan ke'aliman beliau. Sudah belasan atau mungkin puluhan tahun beliau rutin mengimami Tahlil pada Haul termasuk Haul dua tahun lalu, tahun 2013, Beliau masih menjadi Imam dari ribuan peziarah yang hadir di Maqbaroh Buntet Pesantren, dan siapa yang menyangka bahwa Haul tahun itu adalah Haul terakhir kita bersama Beliau.

Rasanya baru kemarin kita masih diayomi oleh sosok yang begitu ikhlas dan tak kenal lelah dalam berdakwah dan beribadah bahkan hingga akhir hayatnya. Menurut salah satu anggota keluarganya, malam hari sebelum wafatnya, beliau masih memimpin tawassul (doa) di salah satu selametan puputan di rumah tetangganya, setelah itu Beliau juga masih sempat berkumpul dan bercengkrama (rapat) dengan sepupunya, Sesepuh Buntet Pesantren, KH. Nahdudin Royandi Abbas beserta para Kyai Buntet yang lain di ndalem Kyai Nahdudin. Subuh keesokan harinya,beliau mengimami sholat di pondoknya, Al Inayah Buntet Pesantren. Tak ada isyarat yang gamblang bahwa Beliau akan “pergi” dari kita. Namun setelah mengimami, Beliau merasakan sesak nafas dan tidak sanggup untuk nguruk ngaji sehingga beliau mengamanahkan kepada salah satu putranya untuk membadalkan Beliau.

Siapa  yang menyangka kalau tahun 2012, saat Kita semua melepas keberangkatan haji beliau adalah momen terakhir kita melepas keberangkatan Haji beliau, hanya beberapa bulan sebelum beliau yang “jujur lan wani” meninggalkan kita.

Kyai Syifa yang sehari-hari lisannya seakan tidak pernah berhenti menyebut nama Allah dan bersholawat, Kyai Syifa yang istiqomah menjalankan puasa sunnah Senin Kamis dan Solat malam serta solat dhuha, Kyai Syifa yang selalu menjaga wudhu, silaturrahim dan ukhuwah,  Kyai Syifa yang begitu telaten mengajari kita Sholawat Fatih, serta amalan-amalan Thoriqoh Tijaniyah, Kyai Syifa yang selalu memimpin harapan-harapan (doa-doa) kita telah kembali kepada yang dikasihinya, Kyai Syifa yang selalu ikhlas ngeladeni semua kalangan tanpa pandang bulu, Kyai Syifa  . . .  Kita semua dan semua amal sholihmu akan menjadi isyhad bahwa Kau adalah benar-benar kekasihNya.
Kurang lebih dua tahun lalu, beberapa saat sebelum Engkau kembali kepadaNya engkau berpesan kepada salah satu anakmu agar selalu menyempatkan “mampir” ke maqbaroh gurumu, KH. M. Ma’shoem Ahmad Lasem setiap kali ziarah  Wali Songo. Kami menganggap pesan itu juga untuk kami semua, para muridmu. Insya Allah Kyai, kami akan sering mengunjungi  tempat peristirahatan terakhirmu...

Mari sama-sama berdoa dan mengirim fatihah untuk beliau . . .

Kyai Ahmad Tidjani Umar Anas

Kyai Ahmad Tidjani Umar Anas

Posted by Unknown  |  at  7:47 PM

Buntet Pesantren dengan umurnya yang sudah mencapai beberapa generasi membuatnya telah mencetak para ulama ‘alim, salah satunya adalah Kyai Anas yang tak lain merupakan adik kandung dari Kyai Abbas, sesepuh Buntet Pesantren saat itu (Sesepuh Buntet Pesantren yang ke 4). Beliau bersama Kyai-Kyai yang lain yang masih kerabatnya bahu membahu membantu sesepuh Buntet Pesantren dalam mengembangkan Pesantren yang didirikan oleh Mbah Muqoyyim ini.

Bapa Ahmad Zaeni Hasan, Ayah dari Bapak Helmi Faisal Zaeni (Mentri Pemberdayaan Daerah Tertinggal) dalam buku “Perlawanan dari Tanah Pengasingan Kyai Abbas, Pesantren Buntet dan Bela Negara (Jakarta: eLSAS, 2000) menganalogikan waktu itu “sinar” Kyai Abbas benar-benar terang sehingga Kyai-Kyai yang lain tampak kurang/tidak bersinar. Lebih lanjut Bapa Zaeni Hasan menyebutkan bahwa salah satu Kyai yang sebenarnya “bersinar terang” adalah Kyai Anas. Kyai Anas dikenal begitu tawadlu, beliau lebih memilih menjadi “orang di balik layar” kesuksesan Buntet Pesantren dibanding menjadi yang tampil di muka. Bahkan akhirnya beliau lebih memilih uzlah, menyingkir dari Buntet Pesantren dan mendirikan Pesantren Sidamulya di daerah yang berbatasan dengan Buntet Pesantren,

Permalink gambar yang terpasang
Kyai Ahmad Tidjani beserta istri saat ziarah di Panjalu,
beberapa hari sebelum beliau wafat
Sifat-sifat Kyai Anas yang ‘alim dan tawadlu ternyata menurun ke anak cucunya, salah satunya adalah Kyai Ahmad Tidjani bin Kyai Umar bin Kyai Anas, yang satu pekan kemarin dipundut Allah SWT.
Jasa-jasa Kyai Ahmad Tidjani untuk Buntet Pesantren sudah tidak terhitung, beliau menjadi pengasuh Pondok Darul Hijroh, beliau juga menjadi pengurus YLPI Buntet Pesantren selama beberapa periode dan salah satu yang dapat dengan jelas terlihat adalah Gedung MTs NU Putra 1 Buntet Pesantren yang sekarang berdiri megah, beliaulah salah satu orang yang begitu gedubugan demi terwujudnya renovasi gedung sekolah yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan saat itu.

Sewaktu Buntet Pesantren dipimpin oleh Kyai Dulah, beliaulah salah satu “tangan kanan” Kyai Dulah. Sifat Kyai Ahmad yang jujur dan ikhlas membuat Kyai Dulah begitu mempercayakan banyak hal dan urusan kepada Kyai Ahmad Tidjani. Sifatnya yang benar-benar tawadlu dan tidak mau “tampil” mungkin membuat banyak orang kurang faham dengan peran beliau yang sangat vital untuk Buntet Pesantren.

Setiap ada acara besar atau tamu besar yang datang, hampir bisa dipastikan Kyai Ahmad tidak ada di tengah-tengah acara tersebut atau turut menemui tamu tersebut. Kalaupun datang, mungkin beliau sengaja kari-karian agar tidak “tersorot” oleh khalayak.

Suatu kali, Buntet Pesantren kedatangan Hamzah Haz dan saat itu diantara yang nuai Pengurus Yayasan adalah Kang Soleh Suaedi Busyrol Karim (Kang Ale) dan Kyai Ahmad Tidjani. Karena itu, Kang Ale yang faham dengan sifat Kyai Ahmad -yang tidak mau tampil- berinisiatif ngampiri Kyai Ahmad Tidjani. Berbagai argumen dikeluarkan oleh Kang Ale untuk membujuk Kyai Ahmad agar berkenan turut serta menyambut kedatangan Hamzah Haz, dan berbagai alasan pula yang diungkapkan Kyai Ahmad agar Kang Ale pergi duluan (pergi tanpa bersamanya).

 “Kulae dereng siram, dereng siap-siap”. Ujar Kyai Ahmad sebagai salah satu alasan agar beliau tidak perlu ikut dengan Kang Ale.

Ketika Kyai Nahdudin, sesepuh Buntet Pesantren yang sekarang rawuh di Buntet, beliau enggan untuk singgah di ndalemnya yang lama karena ndalem tersebut begitu dekat dengan ndalem Kyai Nahdudin. Sekali lagi, beliau tidak ingin “tampil” di sekitar pamannya (Kyai Nahdudin) saat banyak tamu mengunjungi Kyai Nahdudin.

Yang masih terkini, beberapa saat sebelum diadakan Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Cirebon, salah satu bakal calon datang ke ndalem Kyai Ahmad. Seperti biasa, bakal calon tersebut showan, minta petunjuk, restu, dan (mungkin juga) dukungan. Namun dari sejak bakal calon tersebut datang sampai bakal calon tersebut mau pamit, Kyai Ahmad tidak berkenan menemui tamu tersebut dan lebih memilih diam di kamarnya.

Semua kehilangannya
Kepergian Kyai Ahmad menghadap Sang Kholiq membuat begitu banyak kalangan kehilangannya. Beliau dikenal begitu ngladeni terhadap santri dan jamaahnya. Saat isyhad jenazah Nyai Ghumaeshoh (satu hari setelah Jenazah Kyai Ahmad dikebumikan), Kyai Hasanudin Kriyani menuturkan bahwa Kyai Ahmad kapanpun dan kemanapun beliau selalu memenuhi permintaan siapapun orang/jamaah yang minta dipimpin ziarah oleh beliau. Beberapa hari sebelum wafat, beliau memimpin rombongan ibu-ibu yang rutin mengikuti pengajiannya ke Panjalu dan Pamijahan. Bahkan Hanya beberapa jam, belum sampai satu hari (24 jam) setibanya dari ziarah Panjalu-Pamijahan, beliau berziarah ke daerah Sumber.

Beliau juga dikenal begitu menjaga ukhuwah dan silaturrahim baik kepada keluarga, rekan-rekan guru, bahkan para santri dan/atau alumninya kerap beliau kunjungi. Beberapa hari sebelum berangkat ziarah ke Panjalu dan Pamijahan, beliau masih menyempatkan diri ke Tegal untuk menemui para alumninya. Kalaupun tidak sanggup bertatap muka secara langsung, beliau pasti akan menghubunginya lewat telpon.

“Ya syukur ari sehat sih, nyongan jeh beli pernah kedeleng, dadi ya biasa bae “wong tua” sih kelangan”. Ucap Kyai Ahmad kepada salah satu rekan guru -yang menceritakan kepada kami- yang ditelponnya. Beliau menganggap dirinya adalah orang tua yang punya tanggung jawab terhadap orang-orang di sekitarnya.

Para santrinya yang sudah tidak mondok (alumni) juga rutin dihubungi oleh beliau. Beliau menanyakan kualitas, kuantitas, dan intensitas ibadah santri-santrinya.
“Priben sholat bengie? Masih rutin kan? Dongana bapa keding”
“Lamon bisa dirutinna puasa sunnah, apa senen-kemis, apa Nabi Daud.”
Hal-hal di atas, diantara yang diucapkan Kyai Ahmad saat menelpon santrinya, seperti yang dituturkan oleh salah satu alumni santri Darul Hijroh II (Al Arifah)
Kepada keluarga, beliau begitu ngaku dan menjaga ikatan silaturrahim. Menurut Ust. Syauqi (Kang Ugi), sejak Ibunya yaitu Nyai Maesoh jatuh sakit, Kyai Ahmad rutin menjenguk dan mendoakan beliau. Bahkan sampai malam jum’at seminggu yang lalu, atau satu malam sebelum Kyai Ahmad kembali ke sisi Allah, Kyai Ahmad masih menyempatkan diri melakukan rutinitas malam jumatnya. Padahal kamis dini hari, beliau baru sampai dari ziarah Pamijahan-Panjalu, dan hari kamis itu, beliau juga ada agenda ziarah ke Sumber.
Kegiatan pembacaan Manaqib At-tijani yang di pelopori oleh KH. Abdullah Toha (Pengasuh PonPes Raudlatul 'Ulum) dan KH. Ahmad Tidjani yang dilaksanakan di Pondok PonPes Raudlatul 'Ulum, Terisi Indramayu yang rutin dilaksanakan stiap bulan -malam jum'at minggu terakhir- dan di pelopori oleh KH. Abdullah Toha (Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul 'Ulum) dan KH. Ahmad Tidjani Umar Anas.
Thoriqot tijani berkembang di Indonesia,salah satunya di Buntet dan dirintis oleh Kakek K. Ahmad :K. Anas
Rasa tanggung jawabnya terhadap tugas dan jamaahnya membuat beliau terus beramal baik sampai akhir umurnya. Dengan aktifitas yang begitu padat (Tegal, Pamijahan-Panjalu, Ziarah ke Sumber, Menjenguk Nyai Maesoh), Jum’at pagi beliau masih memenuhi tanggung jawabnya sebagai guru di salah satu sekolah, beliau mengajar murid-muridnya meskipun tidak “penuh”. Kepada murid-muridnya, beliau merasakan kurang enak badan, kemudian beliau pamit, semua muridnya pun menyalaminya saat itu. Dengan badan yang tidak fit, beliau masih memenuhi kewajibannya menjalankan sholat Jum’at. Selepas sholat Jum’at, beliau dibawa ke Rumah Sakit Ciremai dan langsung masuk ruang ICU hingga wafat di sana. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rooji’un.

Nasihat-nasihat Kyai Ahmad Tidjani
Selain memiliki sifat yang mirip dengan kakeknya, banyak kerabat dan kolega yang mengatakan bahwa beliau memiliki sifat mirip pamannya, Kyai Abdullah Abbas yang sangat irit bicara, karena itu perkataan-perkataan yang keluar dari lisannya hampir semuanya adalah kebaikan baik ilmu, nasihat, motivasi, dan sebagainya. Bahkan menurut Pa Ubed (salah satu teman seperjuangannya) guyonan yang sesekali keluar juga gaya guyonnya sangat mirip dengan gaya guyonnya Kyai Abdullah Abbas.
Berikut, kami cantumkan beberapa nasihat-nasihat beliau yang kami dapat dari anaknya, Ust. Nemi Mu’tashim Billah. Dari beberapa nasihat ini, kita juga dapat melihat sedikit sosok Kyai Ahmad Tidjani Umar Anas.

1.      “Nggak perlu gila jabatan. karena jabatan itu sifatnya sementara”.

2.      “Nggak perlu kirim-kirim Proposal. Proposal utama yg perlu diajukan adalah proposal ke Allah SWT”.

3.      “Iqra' tidak hanya membaca buku tapi juga membaca diri”.

4.      “Memelihara silaturrahim jauh lebih susah daripada membangunnya”.

5.      “Bapa tidak membutuhkan sertifikasi Guru. Bapa lebih membutuhkan Sertifikasi Allah SWT”.

6.      “Apa yg benar menurut kita, belum tentu benar menurut orang lain”.

7.      “Orang-orang itu berhak utk memeluk Agamanya sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing”.

8.      “Biarlah mereka meyakini surga menurut versi mereka sendiri. Kita tidak boleh memaksakan kehendak soal keyakinan masing2”.

9.      “Apa yg terjadi pada diri kita itu adalah karena perilaku kita sendiri”.

10.   “Orang itu tidak semua senang (ke kita) tidak semua benci (ke kita”.

11.   “Ciri-ciri ikhlas itu adalah ketika kita bisa tersenyum kepada orang yg kita benci”.

12.   "Janganlah menjadi seperti lilin yg bisa memberi manfaat kepada lainnya tapi tidak bisa bermanfaat untuk diri sendiri".

13.   "Kebaikan jangan diucapkan tapi cukup untuk di dalam hati saja".

14.   “Hati adalah singgasana yg diperebutkan oleh ilham Allah dan ilham setan”.

15.    “Tapi jika hati dikuasai ilham setan maka niscaya orang menjadi fasiq”.

16.   “Ingin agar doa itu di kabul Allah... 1. Jangan su'udzon kepada Allah 2. Jangan suka berbohong”.

17.   “Bersyukur itu ada 2 1. Bersyukur qouliyah dan bersyukur fi'liyah”.

Telah Meninggal Dunia Ny. Hj. Ghumaeso Binti KH. Mustamid Abbas

Telah Meninggal Dunia Ny. Hj. Ghumaeso Binti KH. Mustamid Abbas

Posted by Unknown  |  at  5:07 PM


Innalillahi wainna ilaihi roji'un, telah berpulang ke rohmatulloh Ny. Hj. Ghumaeso Binti KH. Mustamid Abbas. Beliau adalah istri dari KH. Chowwas Nuruddin, ibunda KH. Tb. Ahmad Rifqi Chowwas Pengasuh Asrama Daarussalaam Buntet Pesantren.

Semoga amal ibadah almarhumah diterima oleh Allah SWT, diampuni segala dosanya dan diberikan ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan. Amin... Alfatihah.

Jenazah Nyai Hajjah Ghumaisoh binti KH. Mustamid Abbas disemayamkan di Maqbaroh gajah ngambung,Buntet Pesantren.
Beliau berputera 7 orang dan hidup tidak lepas dari Al Qur'an, mungkin sudah ribuan santriwati atau ada juga santriwan (saudara sendiri) yang mengkhatamkan Qur'an melalui bacaannya yang terkenal Fasih dan merdu...beliau juga pernah ngaji langsung kepada alm KH.Hasyim Manshur (hafidz Qur'an dan ahli qiro'at sab'ah),KH.Moh Zen, Nyai Asiyah binti KH Anas dan al maghfur lah Mbah Abd Wahab Hasbullah.

Foto dan keterangan dari FB salah satu putra beliau, Kang Tb. Rifqi Chowas. Beliau disholatkan,diberi penghormatan terakhir di Masjid Jami Buntet Pesantren.

~Kepada para alumni diharap menyelenggarakan sholat ghoib di daerah masing-masing.



Siapakah "kyai"? Apa yang kau ketahui tentang "kyai"?

Siapakah "kyai"? Apa yang kau ketahui tentang "kyai"?

Posted by Unknown  |  at  9:02 PM


Hari Minggu, 25 Agustus 2013, Gus Mus melalui akun @gusmusgusmu menyiarkan serangkaian twit yang menarik --dalam khazanah twitter lazim disebut TL, yang mana saya sendiri tidak tahu itu singkatan apa.

"Sering kita TIDAK (bisa) MEMBEDAKAN sesuatu yg BERBEDA dan tidak jarang kita MEMBEDAKAN sesuatu yang (sebenarnya) SAMA", demikian Gus Mus membuka TL-nya. Kemudian beliau memberikan contoh-contoh, "USTADZ dan DA'I tidak sama. Malah USTADZ dengan GURU itu semakna... USTADZ dan KIAI itu berbeda sebagaimana KIAI dan ULAMA itu tidak sama...", dan seterusnya... --silahkan telusuri sendiri akun twitter beliau.

Dalam berbagai kesempatan, Gus Mus juga kerap membeberkan hasil penelitian beliau menyangkut kategorisasi kyai,

"Ada kyai rekomendasi masyarakat, seperti Kyai Mimoen Zubair; ada kyai rekomendasi Pemerintah, yakni MUI", beliau merinci, "ada kyai rekomendasi media massa, contohnya saya sendiri; ada kyai dukungan dunia maya...; ada kyai artis..."

Jadi, siapakah kyai?

Di kalangan masyarakat pesantren, gelar "kyai" pada mulanya disematkan kepada sesiapa yang diakui keunggulan ilmunya dan diyakini kematangan ruhaninya serta mengasuh pondok pesantren. Sedemikian krusialnya gelar itu sampai-sampai pada sekitar tahun 1930-an pernah diadakan bahtsul masail diantara para ulama Indonesia yang bermukim di Makkah pada waktu itu, dengan pokok bahasan: "Bolehkah memanggil atau memberi gelar 'kyai' kepada orang tidak berhak?" Jawaban hasil pembahasannya: "Tidak boleh"!

Tapi penetapan hasil bahtsul masail di Makkah itu tidak lama pengaruhnya. Makin lama, kriteria ke-kyai-an cenderung makin longgar. Di kampung-kampung, orang yang dituakan asalkan sudah bisa memimpin tahlil, dipanggillah ia kyai. Semua muballigh dipanggil kyai, tak perduli kalaupun profesi utamanya yang asli adalah penyanyi atau pelawak. Bahkan ada yang dipanggil kyai hanya karena "kepaten bapak" (ditinggal mati bapaknya). Contohnya saya sendiri. Begitu ayah saya meninggal, sekelompok orang langsung memanggil saya "kyai", tanpa "fit and proper test" sama sekali!

Dalam jam'iyyah Nahdlatul Ulama sendiri, orang yang walaupun bukan ahli agama tapi bisa menjabat Ketua Tanfidziyah dalam waktu cukup lama, bisa lantas dipanggil kyai. Maka dewasa ini tak sedikit kita jumpai mantan Ketua Tanfidziyah di berbagai tingkatan yang sesudah habis masa baktinya kemudian masuk jajaran Syuriyah, bahkan menjadi Rois! 

Yah... disebut dengan panggilan "kyai" memang menyenangkan, walaupun kau sendiri menyadari belum maqom-mu. Apalagi kalau kemudian orang-orang berebut menciumi tanganmu bolaik-balik. Hanya yang sungguh-sungguh orang baik saja yang merasa jengah karenanya.

Barangkali hanya ada satu orang di dunia fana ini yang walaupun sudah menjadi Ketua Tanfidziyah PBNU sekaligus pengurus MUI pusat tapi justru sakit hati kalau dipanggil dengan embel-embel kyai. Yaitu: Pak Slamet (Drs. H. Slamet Efendi Yusuf).

Adapun yang sekedar enggan saja tapi tidak sampai sakit hati juga ada. Yakni: Gus Dur. Menurut Gus Mus, sebutan "gus" itu aslinya diperuntukkan bagi putera kyai yang belum pantas disebut kyai. Tapi Gus Dur yang sudah jauh melebihi batas kepantasan pun tetap saja dipanggil dengan "Gus".

Akino Wewe meriwayatkan, suatu kali salah seorang pengasuh Ponsok Pesantren Lirboyo, Kediri, menanyakan langsung kepada Gus Dur tentang hal itu. Apa jawaban Gus Dur?

"Saya sih lebih seneng dipanggil 'Gus'! Sebutan 'kyai' terlalu berat buat saya. Kyai itu kan harus kuat tirakat: makan sedikit, tidur sedikit, ngomongnya juga sedikit... Nggak kuat saya.... Enakan jadi gus saja: dikit-dikit makan, dikit-dikit tidur, dikit-dikit ngomong..."



disadur dari fanpage terong gosong

Perbedaan Hisab Rukyat di Indonesia “Menganalisis Mengenai Perbadaan Penentuan Awal Bulan Qomariyah”

Perbedaan Hisab Rukyat di Indonesia “Menganalisis Mengenai Perbadaan Penentuan Awal Bulan Qomariyah”

Posted by Unknown  |  at  6:49 AM

 Oleh : K.H. Ahmad Manshur
KH. Ahmad Manshur yang duduk di tengah
dengan Baju Koko Hitam
saat Munas Hisab-Rukyat
(Pengasuh Pon-Pes Falak Al-Maufuri, Buntet Pesantren)

A. Perbedaan Penentuan awal Bulan Qomariah
Pada dasarnya persoalan hisab rukyah tidak hanya persoalan penentuan awal bulan qomariyah (dalam hal ini penentuan awal Ramadhan, Syawal, Dzulhijjah). Namun karena persoalan penentuan awal Bulan qomariyah ini lebih mempunyai "Greget" – lebih berpotensi menimbulkan perbedaan – maka wajar jika ia lebih mendapatkan perhatian dan lebih dikenal sebagai persoalan hisab rukyah dari pada persoalan lainnya.

Muara perbedaan pemikiran Hisab Rukyah di Indonesia pada dasarnya tidak berbeda dengan muara perbedaan pemikiran para fuqaha (terdahulu) yakni pada perbedaan pemahaman hadis-hadis hisab rukyah. Hanya saja dalam wacana pemikiran hisab rukyah di Indonesia, ragam pemikirannya lebih majemukj disbanding ragam pemikiran dalam wacana hisab rukyah pada kalangan fuqaha (terdahulu).

Hal ini karena sentuhan Islam sebagai Great tradition dan budaya lokal atau little tradition yang sering menimbulkan corak budaya tersendiri yang diluar dugaan. Dalam konteks ini disebut sebagai paham keislaman yang bersifat lokal.

B. Madzhab Hisab Rukyah Di Indonesia
Pemikiran-pemikiran Hisab Rukyah Di Indonesia diantaranya :

Madzhab Tradisional Islam Jawa
Pemikiran Hisab Rukyah atau madzhab tradisional ala Islam Jawa ini sering disebut pemikiran “aboge” atau “asapon” yakni cara penentuan awal romadhon, syawal dan dzulhijjah dengan berdasarkan pada perhitungan tahun jawa lama (khuruf Aboge atau Khuruf Asapon)

Dalam pemikiran “aboge” ada beberapa prinsip utama, yakni : pertama, prinsip penentuan tanggal selain berdasarkan kalender Hindu-Muslim-Jawa, adalah “dina niku tukule enjing lan ditanggal dalu” (hari itu lahirnya pagi dan diberi tanggal pada malam harinya).
Kedua, bahwa jumlah hari dari bulan puasa menurut cara perhitungan “Aboge” selalu genap 30 hari, tidak pernah 29 hari seperti pada cara perhitungan hari falak (versi pemerintah).

Madzhab Rukyah
Dalam wacana pemikiran Hisab Rukyah di Indonesia “Madzhab” ini selalu diidentikan dengan pemikiran Hisab Rukyah NU. Namun pengidentikan ini kiranya tidak dapat diterima seratus persen kebenarannya. Karena pada dasarnya dalam “Madzhab Rukyah” terdapat madzhab-madzhab kecil yang mempunyai perbedaan-perbedaan yang prinsipil, dan NU sendiri termasuk salah satu dari Madzhab kecil tersebut.

Dalam Pemahaman Mathla’ ada yang berpendapat bahwa hasil Rukyah di suatu tempat berlaku untuk seluruh dunia. Dengan argumentasi bahwa hadis-hadis hisab rukyah khitbahnya ditujukan pada seluruh umat Islam di dunia, tidak dibedakan oleh perbedaan geografis dan batas-batas daerah kekuasaan. Pemikiran inilah yang terkenal dengan “rukyatul Internasional yang dipegang oleh Komisi Penyatuan Kalender Internasional, dimana dalam konteks ke – Indonesia-an adalah kelompok Hizbut Tahrir.

Disamping itu, adapula yang berpendapat bahwa hasil rukyah di suatu tempat hanya berlaku bagi suatu daerah kekuasaan hakim yang mengisbatkan hasil Rukyah tersebut. Pemikiran ini terkenal dengan “rukyah fi wilayatil hukmi” sebagaimana pemikiran yang selama ini dipegangi oleh Nahdlatul Ulama secara institusi.

Madzhab Hisab
Di Indonesia sistem Hisab yang berkembang pada dasarnya banyak sekali, hanya saja jika ditilik dari dasar pijakannya terbagi dalam dua macam yakni hisab urfi dan hisab hakiki. Hisab Urfi adalah system hisab penentuan awal bulan qomariyah yang didasarkan pada waktu rata-rata peredaran bulan. Hisab Hakiki adalah system hisab yang didasarkan pada peredaran bulan dan bumi yang sebenarnya.

Hisab Urfi dalam konteks ke – Indonesia – an sebagaimana dalam pemikiran hisab rukyah “madzhab” tradisional ala Islam Jawa yang terekam dalam sistem aboge dan sistem asapon. Sedangkan mengenai hisab hakiki dapat dipilah pada pendirian yang mendasarkan pada ijtima’ yakni system yang berpendapat bahwa hakekat bulan Qomariyah itu sejak dimulai terjadinya ijtima’. Dalam kalangan pemikir hisab terkenal dengan istilah “ijtima’un Nayyirain Isbatun Bainasy-Syahrain”, yang sesuai dengan ketentuan astronomi bahwa konjungsi merupakan batas antar dua lunar months. Oleh karena itu ijtima’ itu hanya terjadi sekali dalam sebulan dan tidak ada hubungannya dengan tempat-tempat dimuka bumi, maka saat ijtima’ dialami secara berlainan menurut perhitungan waktu setempat. Ijtima’ dialami secara berlainan menurut perhitungan waktu setempat. Ijtima; bias terjadi pada siang hari pada suatu tempat, yang dalam waktu bersamaan saat itu sedang siang hari atau malam hari ditempat lain.
Sistem hisab yang mendasarkan pada posisi hilal, yakni penentuan awal Bulan qomariyah tidak hanya didasarkan pada ijtima’ melainkan harus diperhatikan posisi hilal diatas ufuk saat terbenam setelah terjadinya ijtima’.

Dalam sistem ini terbagi menjadi tiga, yakni :
Sistem yang berpedoman pada ufuk hakiki yakni ufuk yang berjarak 900 dari titik zenith. Prinsip utama dalam system ini adalah sudah termasuk bulan baru, bila hasil hisab menyatakan hilal sudah diatas ufuk hakiki (positif) walaupun tidak imkanurukyah. Sehingga system ini ini dikenal dengan hisab wujudul hilal sebagaimana prinsip yang dipegang oleh Muhamadiyah secara institusi. (Pimpinan Pusat Muhamadiyah, Himpunan Putusan Majlis Tarjih : Muhamadiyah, Cet. III, hal 291-292.)

Sistem yang berpedoman pada ufuk mar’I yakni ufuk hakiki dengan mempertimbangkan refleksi (bias cahaya) dan tinggi tempat observasi.

Sistem yang berpedoman pada imkanurrukyah dalam posisi hilal sudah wujud diatas ufuk hakiki atau mar’I, maka awal bulan Qomariyah masih tetap belum dapat ditetapkan, kecuali apabila hilal sudah mencapai posisi yang dinyatakan dapat dilihat.

C. Menyamakan Persepsi Penentuan Awal Romadhon
Menyikapi masalah perbedaan mengenai penetapan awal bulan Qomariyah, pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama berusaha untuk menengahi dengan menjadi hakim terhadap keputusan-keputusan dari berbagai pihak Ormas – Ormas Islam dan lembaga/instansi terkait. Untuk untuk mengantisipasi mengenai perbedaan penentuan awal bulan qomariyah, pemerintah sebagai Agent of Control memberikan suatu jaminan mengenai kisruh perbedaan tersebut, diantaranya :

Merevitalisasi badan yang selama ini menangani hisab dan rukyat (BHR) agar lebih legitimated sehingga keputusannya mempunyai daya ikat kepada ormas yang diwakilinya.
Melakukan tindak lanjut kajian secara intensif untuk melakukan upaya pendekatan di wilayah pandangan dan metode sehingga tercapai satu kriteria bersama dengan melibatkan pakar dan fuqoha.

Melakukan penelitian observasi hilal secara kontinyu untuk kepentingan kriteria penetapan awal bulan qomariyah.

Mengadakan musyawarah bersama secara intensif untuk menetapkan Takwim secara musyawarah mufakat.

Selama kesatuan takwim itu belum tercapai, semua pihak hendaknya bisa menahan diri untuk menjaga kemaslahatan umat dengan mengedepankan toleransi.

Pahlawan-Pahlawan Dari Pesantren

Pahlawan-Pahlawan Dari Pesantren

Posted by Unknown  |  at  10:00 AM

Oleh : Sobih Adnan
Kiprah dan peran pesantren dalam sejarah perjuangan kemerdekaan tidak dapat disangsikan lagi, pun dalam mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Beberapa catatan sejarah pesantren dapat dijadikan kunci kuat keabsahan perlawanan mereka terhadap kaum penjajah, atau terhadap siapapun yang juga dapat mengancam keberadaan bangsa dan negara.

Lebih dari itu, dalam sejarahnya, beberapa pesantren justru dibangun berdasarkan respon dan reaksi perlawanan terhadap segala bentuk penindasan, oleh karena itu tak jarang jika keberadaan pesantren dinilai sebagai simbol perlawanan paling diperhitungkan oleh bangsa penjajah, termasuk Pesantren Buntet, Cirebon, Jawa Barat. Semenjak berdirinya, pesantren ini diwarnai dengan pelbagai peristiwa yang bersinggungan dengan perjuangan kaum sarungan untuk  mewujudkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

“Kisah-kisah dari Buntet Pesantren” adalah pilihan tepat untuk menelusuri peta perjuangan para kiai dan santri. Dalam buku ini, dimuat banyak catatan menarik mengenai tokoh-tokoh kunci dalam beberapa peristiwa penting sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia, selain itu, buku ini juga menceritakan tentang simpul-simpul jaringan pesantren, serta mengupas segenap ciri khas dunia pesantren seperti istilah karomah, berkah, laduni, dan sisi-sisi lain dunia pesantren yang wajib diketahui oleh para pembaca secara umum, bisa dikatakan, selain berupa catatan sejarah pesantren, buku ini juga dapat dijadikan semacam kamus untuk mengetahui lebih banyak tentang dunia pesantren dan segala identitas lainnya.

Pesantren Buntet Cirebon didirikan oleh seorang ulama bernama Kiai Muqayyim, sosok yang arif ini secara ikhlas melepas status sosialnya yang dinilai bergengsi pada saat itu, demi melakukan perlawanan keras terhadap segala bentuk ketidak-adilan yang dilakukan oleh penjajah Belanda.

“Maka dengan kebencian dan kekesalan yang mendalam terhadap penjajah Belanda, pada tahun 1770 Kiai Muqayyim meninggalkan Keraton Kanoman dan pergi ke bagian Cirebon Timur Selatan untuk mencari perkampungan yang cocok dengan hati nuraninya”. (Hal. 5).

Selain kisah perlawanan dan perjuangan Kiai Muqayyim, dalam buku ini juga dimunculkan tentang sosok kunci terjadinya peristiwa “10 November 1945” di Surabaya. Dalam peristiwa tersebut dikisahkan “Menurut Hadaratussyekh KH Hasyim Asy’ari, perlawanan akan dimulai nanti kalau sudah datang ulama dari Cirebon”. Dan ulama yang dimaksud adalah KH. Abbas Abdul Jamil, penerus Kiai Muqayyim dalam mengasuh dan mengembangkan Pondok Pesantren Buntet, Cirebon, saat itu. (Hal.49).

Dalam jati diri pesantren, perjuangan tidak hanya berupa melancarkan perlawanan terhadap bangsa penjajah, namun juga kepada gerakan apapun yang dinilai dapat mengancam persatuan dan kesatuan negara. Oleh karena itu, “Ketika DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) mengadakan pemberontakan dan hendak mendirikan negara di wilayah Negara Republik Indonesia, Buntet Pesantren termasuk pesantren yang menentang DI/TII dan harus diperangi karena dihukumi bughat (makar). (Hal. 58).

Kisah-kisah kepahlawanan kiai sepuh pesantren Buntet terus berlangsung, kepahlawanan dimaknai secara tak terbatas, dalam arti, perjuangan untuk kepentingan umat dan bangsa menjadi muatan penuh dalam sejarah panjang pesantren ini. Buku ini juga mengenalkan tentang bentuk perjuangan dan kepahlawanan yang dilakukan oleh para kiai meski dalam keadaan negara yang sudah merdeka.

Buku setebal 94 halaman ini akan mengenalkan pembaca kepada tokoh-tokoh penting lain seperti  Kiai Kriyan, Kiai Mujahid, Kiai Imam, Kiai Akyas, hingga Kiai Fuad Hasyim dengan segala keistimewaan dan bentuk-bentuk perjuangannya.

Sayangnya, dalam membaca buku ini akan dijumpai beberapa kekurangan, diantaranya adalah pendeskripsian peristiwa yang dapat dinilai kurang begitu menggoda dan tanpa menggunakan pendekatan sastra sama sekali, karena penarasian buku ini cenderung menggunakan tradisi penulisan berita juga pemaparan hasil wawancara dengan pelbagai sumber. Namun hal tersebut dirasa tidak mengurangi pentingnya keberadaan buku ini; sebagai salah satu dari sejuta cara untuk mencintai pesantren, para kiai, dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Selamat membaca.

Judul: Kisah-kisah Dari Buntet Pesantren
Penulis: Munib Rowandi Amsal Hadi
Penerbit: KALAM (Komunikatif dan Islami)
Tahun : II, 2012
Tebal: x + 94 Halaman
Harga : Rp. 25.000,-
Peresensi: Sobih Adnan, Santri Pondok Pesantren Buntet dan Kempek, Cirebon.

Sumber sobihadnan.net sebelumnya dimuat di NU Online

Mengenang KH. Mahfudz Bakri

Mengenang KH. Mahfudz Bakri

Posted by Unknown  |  at  2:57 AM

Cirebon berduka, wabil khusus keluarga Buntet Pesantren Cirebon, karena ulama kharismatik keluarga Buntet Pesantren, mantan Ketua MUI Kota Cirebon, KH. Mahfudz Bakri telah meninggalkan kita semua dalam usia 71 tahun. Tokoh NU itu akan dikebumikan di lingkungan Pondok Pesantren Buntet, hari ini (Senin, 17/12).

Putra kedua KH Mahfudz, Muhammad Nidzon menjelaskan, sang ayah memang sudah dirawat di RSUD Gunung Jati sejak Sabtu (8/12) lalu. Namun saat ditanya sakit apa, Nidzon enggan memberitahu. “Memang sudah sakit dan dirawat di RSUD Gunung Jati selama 8 hari,” ujarnya saat ditemui di rumah duka, Jl Kasepuhan, kemarin.

Rencananya, KH Mahfudz Bakri dikebumikan di Pesantren Buntet, sekitar pukul 09.00 WIB hari ini. “Terima kasih untuk masyarakat dan pihak yang selama ini bersama-sama dengan bapak, semoga bapak mendapat tempat yang sesuai. Saya juga atas nama keluarga meminta maaf apabila selama ini bapak punya kesalahan,” ujarnya.

Rumah duka berapa di Jl Kasepuhan, sekitar seratusan orang datang berbondong-bondong untuk melayat. Masyarakat sekitar dan sejumlah anak didik KH Mahfudz turut hadir dan berduka. Bahkan sejumlah tokoh seperti Buya Yahya, Sekretaris Daerah Kota Cirebon, Drs H Hasanudin Manap MM dan Anggota DPRD Kota Cirebon, H Ahmad Azrul Zuniarto SSi Apt pun hadir untuk melayat. “Beliau adalah guru yang sangat konsisten mengajarkan Alquran, seorang kiai yang sangat bersahaja dan tokoh yang sangat bijak,” ujar Azrul Zuniarto, kemarin.

Salah satu nasehat beliau yang banyak diketahui masyarakat adalah ungkapan yang terkenal: "Al Imaanu motorun wareemun..." iman adalah motor sekaligus juga rem bagi seseorang. Miliki dan tetap biarkan hidup menyubur di hamparan taman nurani kita." Begitulah pesan haul beliau kepada kita saat ceramah Haul Buntet Pesantren Cirebon beberapa waktu lalu. (R CRB)


Perjalanan Haul Buntet Pesantren 2011

Perjalanan Haul Buntet Pesantren 2011

Posted by Unknown  |  at  11:21 PM

Desain Podium Haul 2010
Buntet Pesantren Cirebon mengandung kenangan yang tidak bisa dilupakan. Dalam moment 2011 senantiasa diadakan Haul Sesepuh dan Warga Buntet Pesantren, Cirebon. Perhelatan ini sangat menarik pengunjung dari berbagai pelosok tanah air. Ribuan yang hadir bukan saja dari kalangan undangna, tetapi dari kampung sekitar Buntet Pesantren.

Haul merupakan tradisi tahunan yang telah diselenggarakan setiap tahun. Sudah ratusan tahun lalu. Konon sudah dimulai sejak Pondok Pesantren ini berdiri sekitar abad ke-18 lalu.


Setiap tahun yang biasanya diselenggarakan pada bulan April ini, juga tidak berubah dari tahun ke tahun. Pengunjung memadati perkampungan ini. Para pedagangan yang menjajakan bisnisnya mendirikan tenda-tenda dagangan. Pengunjung dari penduduk sekitar kampung pesantren ini pun akhirnya menikmati suasana keramaian setiap tahun. Tidak dipungkiri, aliran uang dalam perhelatan tahun ini membawa berkah bagi pedagang.

Pada tahun ini, Buntet Pesantren mengadakan haul dengan mengambil rangkaian acara dimulai sejak 4 hari sebelum acara inti, 2 April 2011. Sejak awal bulan ini, berturut-turut diadakan seminar keagamaan, pengobatan gratis untuk 100 pasien, sunatan massal, ziarah ke makbaroh Gajah Ngambung dan diakhiri oleh pengajian akbar di alun-alun Pesantren.

Tamu dari berbagai kalanganpun hadir, mulai dari pejabat, presiden, tokoh masyarakat dan dari kalangan ulama serta undangan untuk para orang tua santri, alumni dan sanak keluarganya.

 Yang menarik dari peristiwa haul tahunan di Buntet Pesantren ini adalah hadirnya semua presiden RI, para menteri dan juga pejabat daerah. Memang tidak dipungkiri kehadiran mereka adalah ajang yang sangat tepat tidak saja untuk mempromosikan kedudukanya, juga untuk bertatap muka dengan masyarakat.

Tidak dipungkiri, haul yang dikunjungi ratusan bahkan ribuan ini, akhirnya menjadi haul akbar yang melibatkan semua komponen.

Tujuan utama dari peristiwa haul ini tidak lain untuk menjalin silaturahmi yang intens antara pesantren sebagai komunitas keagamaan. Silaturahmi yang dibangung lewat haul ini sangat tepat dan bisa menjadi ajang silaturahmi yang alami dan bermanfaat.

Bagi orang tua santri dapat berkunjung dan menemui anak-anaknya serta keluarga santri. Di samping itu, berkumpulnya para orang tua santri dengan anak-anaknya ini dapat memberikan nuansa keakraban dan sharing antar orang tua yang biasanya datang setiap bulan tanpa bertemu dengan orang tua santri lainnya. Dengan Haul dapat berkumpul bersama, menggagas program dan berbagai bentuk curah ide bagi kemajuan lainnya.

Sedangkan bagi para alumni Pondok, saat haul adalah saat tepat untuk berbagai dan bertemu dengan alumni lainnya. Dengan berkumpul dari rumah kyai, alumni dari berbagai penjuru kampung ini, bisa bertatap muka kembali dengan mereka, berdiskusi dan memberikan secercah harapan melalui temu alumni.

Bagi keluarga Kyai tentu saja memberikan suasa yang membahagiakan karena dihadiri oleh tamu-tamu yang tentu saja membawa keberkahan tersendiri. Mereka yang datang biasanya bertemu, bersalaman dan bercengkarama. Selanjutnya para tamu dihidangkan berbagai suguhan yang istimewa.

Intinya, keakraban dapat terciptakan lewat jalinan silaturahmi yang intensfi karena bertemunya semua komponen santri dan juga para orang tuanya.

Haul sebagai tradisi karenanya, dipertahankan di Buntet Pesantren ini, karena membawa hal-hal kebaikan dan  manfaat yang tidak kecil.

Karomah Mbah Hasan

Karomah Mbah Hasan

Posted by Unknown  |  at  7:39 AM

Mbah Hasan adalah kyai kharismatik  Akhirnya beliau menjadi kyai sepuh dan meninggal dunia ketika beliau
sedang melaksanakan Sholat dalam keadaan bersujud kepada Allah swt.
Kyai Abd Mun'im meninggalkan keturunan para kyai dan ulama dan nyai nyai yg shalihah. Diantaranya adalah MBAH HASAN.

Pada Zaman revolusi fisik, di Buntet pesantren ada seorang Kyai Sepuh
bernama KH.Abdul Mun'im. Beliau adalah adik KH. Abdul Jamil dan mertua
KH.Abbas.


Di masa muda Abd Mun'im kecil melanglang buana menuntut ilmu
diantaranya di Bangkalan Madura di bawah asuhan Syaikhuna Kholil.
Sehingga beliau menjadi ulama besar yg kharismatik dan sempat
menggantikan posisi kakaknya menjadi pengasuh pondok Buntet pesantren
sebelum akhirnya diserahkan kepada keponakannya yg nota bene adalah
menantunya sendiri yaitu : KH.Abbas bin KH.Abdul Jamil.

Akhirnya beliau menjadi kyai sepuh dan meninggal dunia ketika beliau
sedang melaksanakan Sholat dalam keadaan bersujud kepada Allah swt.
Kyai Abd Mun'im meninggalkan keturunan para kyai dan ulama dan nyai nyai yg shalihah. Diantaranya adalah MBAH HASAN.

Beliau semasa kecil dipanggil dg nama Mas'ud, namun sepulang dari Mukim
di tanah suci Mekkah di kenal dg nama Mbah Hasan. Selama Puluhan tahun
beliau menimba ilmu di tanah suci dan praktis tdk bertemu keluarga,pada
akhirnya beliau pulang ke tanah air untuk melepaskan rindu yg terpendam
bertahun tahun. Namun setelah pulang ke Buntet,beliau lebih memilih
tinggal diluar Buntet yg mungkin dirasakan oleh beliau telah banyak
kyai dan ulama di Buntet pesantren. Kemudian Mbah Hasan memilih daerah
Ciledug Cirebon ( _+ 25 km dr Buntet Pesantren) untuk menetap dan
berda'wah.

Di Ciledug,beliau berda'wah dg santun dan sopan dg menggunakan
AKHLAQULKARIMAH,sehingga masyarakat menyambut da'wahnya dg sukacita.
Beliau berda'wah dg halnya yg baik(da'wah bilhal) dan beliau beternak
puluhan ekor sapi. Masyarakat Ciledug pada sa'at itu tidak habis
fikir,mengapa sapi sapi mbah Hasan tidak digembalakan. Bahkan dibiarkan
berkeliaran mencari makan sendiri. Namun anehnya sapi sapi mbah Hasan
cukup beretika dan beradab,dikarenakan tidak pernah memakan dan merusak
tanaman masyarakat,sehingga masyarakat berterima kasih kegirangan bila
melihat sapi sapi Mbah Hasan yg hanya membersihkan rumput rumput yg
mengganggu tanaman.

Beberapa tahun kemudian Mbah Hasan pergi entah kemana,namun sebelum
pergi beliau sempat membagi-bagikan seluruh sapi-sapinya kepada
masyarakat.

Tahun demi tahun berlalu,akhirnya mbah Hasan yg sebaya dg sepupunya
KH.Abbas bin Ky.Abduljamil(wafat th 1947 di usia 60 tahunan) dg
mengejutkan datang di Buntet pesantren. Beberapa orang kyai sempat
cemas dg kedatangan beliau,sbb kedatangannya adalah pertanda akan ada
mushibah(kematian kyai besar atau serangan Belanda) di Buntet. Meskipun
begitu sanak famili dan masyarakat saling berebut cium tangan barokah
mbah Hasan. Mbah Hasan mengunjungi beberapa kyai dan kerabat.
Diantaranya beliau berkunjung ke KH.Anas bin Kyai Abd Jamil kakak
sepupunya. Kyai Anas menyambut gembira dg kedatangan mbah Hasan yg sdh
lama tdk ada khabar beritanya, hingga Kyai Anas mengumpulkan seluruh
anggota keluarga untuk menyambut kedatangannya.

Mbah Hasan, menurut
penuturan para kyai Buntet adalah seorang Kyai yg Shomut(pendiam)
beliau tdk berkata apapun kecuali 2 kata saja: enggih dan boten (ia dan
tidak) meskipun begitu,mulutnya selalu mengulum senyuman yg menyejukkan
hati.


Mbah Hasan bertemu dg kyai Anas sepupunya yg menjadi Muqaddam(guru
besar)thariqah tijaniyah dan org yg pertama kali membawa Thariqah
Tijaniyah di Indonesia,sebuah pertemuan yg mengharukan dan merapatkan
'alaqah ruhiyah dan jasadiyah diantara dua orang wali tsb. Pertemuan
terakhir di dunia.

Saat itu kyai Anas meminta oleh2 kenang2an dr mbah
Hasan,dia berkata "kang Hasan,mana oleh2nya dr Banyu wangi ?,namun mbah
Hasan tdk menjawab sepatah katapun,hanya senyuman san Wali yg menghiasi
wajah mbah Hasan. Ketika Kyai Anas berkali kali memohon,akhirnya mbah
Hasan mengeluarkan bungkusan kain putih dr kantong bajunya seraya
berbisik "jangan dibuka kecuali didepan anak2 dan menantu".

Setelah
mbah Hasan pamitan,kyai Anas membuka bungkusan tsb,ternyata berisi
minyak wangi dan kapas. Kyai Anas mengerti isyarat tsb dan
berucap,"anak2ku ketahuilah,bapak sebentar lagi meninggal dunia" kyai
Anas mengucapkannya sambil berderai air mata haru dan bahagia sambil
terus menerus menciumi kapas dan minyak wangi pemberian mbah wali
Hasan. Benar saja,beberapa minggu kemudian kyai Anas wafat dg
Husnulkhotimah berpulang ke rahmatullah dg damai dan tenang, yg
kuburannya sudah tergali seminggu sebelum beliau wafat. Rodhiyallahu
anhu wa askanahu 'alaa farodisiljinan,amien. Bahkan juga Almarhum
almaghfur lah Kyai haji Anas sempat mimpi bertemu Rosullah saw dan
Sayidah Fathimah Azzahro seminngu sebelum wafat,dalam mimpi itu Kyai
Anas mencium tangan mulia Baginda Rosul saw dan tangan Sayyidah
Fathimah Azzahro ra. Anehnya siti fathimah memberi isyarat dg 7 buah
jari tangannya. Bangun dr mimpi,Kyai Anas terperanjat tiba2 tangan
beliau harum wangi semerbak hingga hari ke tujuh,ribuan santri dan
kerabatpun terheran heran dg bau wangi yg khas dan beraroma lain dr
minyak wangi pada umumnya. SUBHAANALLOH.....Bersambun
g.



Seri Mengenang Tokoh Buntet (4) : KH. Hamim

Seri Mengenang Tokoh Buntet (4) : KH. Hamim

Posted by Unknown  |  at  1:36 AM

sawah


Mimpi Kyai Hamim dan Dzikir Haddad



Mimpi seseorang kadangkala menjadi isyarat dalam kehidupan nyata, apalagi dialami oleh seorang ulama pasti membawa hikmah atau sebuah isyarat, hanya Allah yang Maha Tahu, sedangkan manusia tidak bisa memastikannya. Tetapi dari mimpi beliau, melahirkan sesuatu yang bermanfaat.



Pada suatu malam KH. Hamim ini bercerita seputar mimpi yang dialaminya kepada keluarganya. Katanya, ia seolah berjalan di pematang sawah bersama dua orang kyai yang mendampinginya.






Kyai yang pertama adalah KH. Siradj (kakek dari Prof. DR. Aqil Siradj) dari Pesantren Gedongan dan satunya lagi oleh KH. Dahlan dari Pesantren Benda Kerep. Ketiga Kiai ini memang memiliki hubungan keluarga yang amat dekat. KH. Hamim merupakan keponakan KH. Ahmad Said dari Pesantren Gedongan. KH. Ahmad Said hidup sezaman dengan KH. Abdul Djamil, Hadratus syekh KH. Hasyim Asy`ari dan Mbah Cholil Madura. Sementara KH. Siradj adalah putra dari KH. Ahmad Said.




Dalam mpimpinya ini, saat menikmati perjalanan meniti pematang sawah itu tiba-tiba KH. Hamim terpeleset kakinya dan terjatuh ke sawah. Anehnya, pada saat yang bersamaan kedua kyai yang mengiringinya itu ikut terpeset. Baik KH. Siradj maupun KH. Dahlan hampir berbarengan jatuhnya. Walhasil, ketiganya tercebur ke sawah. Itulah isi cerita yang dialami KH. Khamim seperti dituturkan kepada keluarganya.




Jika mimpi adalah tanda-tanda, maka tanda-tanda itu menjadi kenyataan selang beberapa hari kemudian. KH. Hamim benar-benar menderita sakit sampai akhirnya wafat. Pada hari wafatnya itu, Buntet Pesantren banyak sekali dikunjungi para tamu yang bertakziyah, terlebih keluarga besar dari pesantren Gedongan tumpah ruah ke Buntet. Hadir juga pada hari itu Habib Ali yang amat masyhur karomahnya dari Jatibarang Brebes. Jenazah Almarhum KH. Hamim dimandikan oleh KH. Ma`sum dan KH. Dimyati serta dishalatkan di Masjid Jami` Buntet Pesantren.




Seperti biasanya para ulama dan warga Buntet begitu selesai shalat, kemudian ada dzikir dan isyhad. Rupanya kepergian KH. Hamim ini menjadi perhatian banyak kalangan sebab yang hadir bukan saja dari Buntet tetapi dari keluarga besar Gedongan ikut hadir. Selesai shalat jenazah, Habib Ali dari Jatibarang memimpin pembacaan dzikir yang berbeda dari biasanya, tetapi amat menarik perhatian seluruh kiai dan warga Buntet. Dalam suasana duka dan hidmat dzikir itu dikumandangkan amat menyentuh rasa keimanan. Ajaran tauhid pada bait-baitnya menggugah dan menimbulkan kesadaran betapa fana dan rapuhnya seorang makhluq di hadapan Sang Khaliq. Lafadz demi lafadz dibacakan oleh Habib Ali membuat terkesima seluruh jama`ah.




Salah seorang kiai Buntet pada waktu itu, KH. Akyas Abdul Djamil sangat tertarik dengan dzikir tersebut. Beliau kemudian minta ijazah kepada Habib Ali untuk mengamalkannya. Hingga saat ini dzikir tersebut dikenal dengan “Dzikir Haddad” yang selalu dibacakan oleh KH. Abdullah Syifa putra dari KH. Akyas Abdul Djamil setiap selesai shalat jenazah bagi warga Buntet Pesantren.




Namun tiba-tiba belum selesai prosesi pengurusan jenazah kyai Hamim ini, ada berita yang amat mengejutkan yaitu wafatnya KH. Siradj Gedongan. Padahal keluarga besar Gedongan masih ta`ziah di Buntet. Suasana panik penuh haru menyelimuti keluarga Buntet dan Gedongan. Selang beberapa jam kemudian, ada lagi satu berita duka datangnya dari daerah Benda Kerep bahwa KH. Dahlan wafat. Innalillah wa innaa ilihi rajiun dalam satu hari ada 3 kiai bersaudara wafat bersamaan persis seperti yang dituturkan KH. Khamim dalam mimpinya, di mana beliau berjalan di sawah dan ketiganya jatuh bersamaan.




Semoga Allah memulyakan tiga orang Kiai yang bersaudara itu dan semoga pula Allah memperkokoh ikatan persaudaraan bagi keturunan-keturunannya. Amin. Wallahu a`lam. (Drs. H. Dhabas Rakhmat)






Copyright © 2013 Blog Backup Buntet Pesantren. WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
back to top