Tarif Puskesmas di Cirebon Naik 100%

Tarif Puskesmas di Cirebon Naik 100%

Posted by Unknown  |  at  10:03 AM


TARIF
pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di Kota Cirebon naik 100% dari
semula Rp 2.000/pasien rawat jalan jadi Rp4.000. Kenaikan tarif
puskesmas dan tarif pelayanan kesehatan lainnya itu terungkap dalam
rapat paripurna pembahasan dan pengesahan Peraturan Daerah (Perda)
tentang Perubahan atas Perda No 4/2001 tentang Retribusi Pelayanan
Kesehatan.



 



Dalam rapat paripurna tersebut, seluruh fraksi di
DPRD Kota Cirebon telah menyepakati atas laporan hasil panitia khusus
dalam pembahasan Raperda No 4/2001 yang menyatakan tarif puskesmas di
Kota Cirebon harus naik hingga 100%.



 



Wali Kota
Cirebon Subardi mengungkapkan, kenaikan retribusi merupakan langkah
yang tidak populer, tapi hal itu tidak bisa dihindari. Sebab, objeknya
sangat berkaitan dengan komoditas barang dan jasa yang harganya
mengikuti fluktuasi pasar.



 



’’Kami menyadari
sepenuhnya segmen pelayanan kesehatan di puskesmas dan Dinas Kesehatan
(Dinkes) sebagian besar adalah warga masyarakat menengah ke bawah.
Karena itu, penentuan retribusi yang baru harus menjadi tolok ukur
perhitungan kemampuan masyarakat,’’ jelas Subardi.



 



Sementara
itu, Ketua Pansus Perubahan Perda Retribusi Pelayanan Kesehatan DPRD
Kota Cirebon Ali Rachman menegaskan, raperda tentang kenaikan tarif
retribusi puskesmas sudah melalui proses kajian dan konsultasi dengan
pemerintah pusat, dalam hal ini Depkes. (ant) 

Tarif Puskesmas di Cirebon Naik 100%

Tarif Puskesmas di Cirebon Naik 100%

Posted by Unknown  |  at  10:03 AM


TARIF
pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di Kota Cirebon naik 100% dari
semula Rp 2.000/pasien rawat jalan jadi Rp4.000. Kenaikan tarif
puskesmas dan tarif pelayanan kesehatan lainnya itu terungkap dalam
rapat paripurna pembahasan dan pengesahan Peraturan Daerah (Perda)
tentang Perubahan atas Perda No 4/2001 tentang Retribusi Pelayanan
Kesehatan.



 



Dalam rapat paripurna tersebut, seluruh fraksi di
DPRD Kota Cirebon telah menyepakati atas laporan hasil panitia khusus
dalam pembahasan Raperda No 4/2001 yang menyatakan tarif puskesmas di
Kota Cirebon harus naik hingga 100%.



 



Wali Kota
Cirebon Subardi mengungkapkan, kenaikan retribusi merupakan langkah
yang tidak populer, tapi hal itu tidak bisa dihindari. Sebab, objeknya
sangat berkaitan dengan komoditas barang dan jasa yang harganya
mengikuti fluktuasi pasar.



 



’’Kami menyadari
sepenuhnya segmen pelayanan kesehatan di puskesmas dan Dinas Kesehatan
(Dinkes) sebagian besar adalah warga masyarakat menengah ke bawah.
Karena itu, penentuan retribusi yang baru harus menjadi tolok ukur
perhitungan kemampuan masyarakat,’’ jelas Subardi.



 



Sementara
itu, Ketua Pansus Perubahan Perda Retribusi Pelayanan Kesehatan DPRD
Kota Cirebon Ali Rachman menegaskan, raperda tentang kenaikan tarif
retribusi puskesmas sudah melalui proses kajian dan konsultasi dengan
pemerintah pusat, dalam hal ini Depkes. (ant) 

Otokritik

Otokritik

Posted by Unknown  |  at  9:48 AM



Oleh : H.Abdul Aziz Affandy



 



Di sekitar tahun 1870 di Amerika Serikat, disebuah kota kecil namanya
New Orleans dekat dengan kota Houston disana ada pelabuhan kecil yang
kurang ramai bahkan sangat jarang kapal-kapal yang merapat dan
melakukan aktivitas bongkar muat disana, maklum karena sarana penunjang
untuk refreshing (penyegaran) untuk crew kapal-kapal dan tamu disana
sangatlah kurang seperti: saloon, night club, motel, tempat
perjudian (amusement centre ) dan tempat-tempat lokalisasi PSK, serta
tempat hiburan/maksiat tidak terdapat disana kecuali peralatan bongkar
muat barang.



 




Hal itu disebabkan hampir semua penduduk disana tua, muda,
laki-laki, perempuan, anak adalah orang-orang yang taat menjalankan
ibadah agama Kristen protestan yang fanatik dan setiap minggu
gereja-gereja mereka penuh sekali dengan jemaat-jemaatnya sehingga
sulit sekali mendirikan tempat-tempat mesum tersebut, karena pasti akan
ditentang oleh masyarakat sekitar dan ini berjalan ber-puluh tahum
lamanya, sehingga kota pelabuhan tersebut jauh tertinggal dengan
pelabuhan lain di Amerika Serikat.



 





Suatu hari datanglah seorang kaya raya/milyuner keturunan Yahudi
yang mengaku atheis (tidak beragama apapun) dan datang ke kota
pelabuhan ini dengan mengantongi surat ijin yang diperoleh dari yang
berwewenang di USA akan mendirikan tempat maksiat tersebut.



 





Setelah negosiasi yang lama dengan alot akhirnya penduduk setempat
menyetujuinya asalkan tempat-tempat hiburan tersebut tidak mengganggu
masyarakat di kota ini dan tidak lupa untuk menyenangkan penduduk
setempat si Yahudi-pun setuju membangun infrastruktur dan apa saja yang
diminta oleh masyarakat sekitarnya.



 





Setelah berjalan bertahun-tahun,akhirnya para petinggi gereja di
sana menyadari bahwa pemba ngunan tempat /fasilitas tersebut sangat
berdampak buruk, karena generasi muda mereka, bahkan orang-orang tua,
sudah terseret dengan kemajuan maksiat kota tersebut: berjudi,
minum-minuman keras, bermain dengan tuna susila & lupa bekerja,
sudah merupakan pemandangan sehari-hari, bahkan mereka sudah tidak
pergi ke gereja lagi. Walhasil gereja kosong dan sangat sedikit
jemaatnya.



 





Kemudian suatu hari para petinggi gereja dan masayarakat yang masih
taat beribadah mengadakan rapat membahas masalah dekadensi moral
tersebut dan di dalam rapat diputuskan kepada seluruh masyarakat
setempat agar berkumpul gereja di malam minggu dan berdo’a kepada
Tuhanya semalam suntuk agar semua tempat maksiat-maksiat di atas
terbakar.





Apa yang terjadi..?? mulai jam 03 pagi semua
tempat-tempat tersebut terbakar di mulai dari kamar yang dihuni oleh
pemilik tempat maksiat tersebut..luar biasa..!! semua habis terbakar.





Atas laporan kejadian kebakaran tersebut, Polisi melakukan
penyelidikan yang sangat lama namun tak memba wa hasil apapun, bahkan
Polisi berkesimpulan bahwa kebakaran tersebut tidak adanya unsur
kesengajaan maupun krimininal lainnya.





Merasa tidak puas ..Si Yahudi pun melakukan penyelidikan sendiri bersama pengacaranya akhirnya berkesimpulan
bahwa kebaran tersebut disebabkan oleh Doa semalam suntuk yang
dilakukan oleh semua penduduk disekitar kota New Orleans.





Kemudian Si Yahudipun mengajukan gugatan kepengadilan dan meminta
ganti rugi kepada gereja dan seluruh masyarakat kota New Orleans untuk
membayar ganti rugi kebakaran yg besar.



 





Kemudian digelarlah sidang, yang dipimpin oleh Hakim yang benarbenar
terpilih. Sangat bijak sana, pintar dan mengusai soal agama karena
masalahnya sangat pelik dan benar-benar sangat sulit. Begitu juga para
juri-juri merupakan orang-orang pilihan dari luar daerah..



 





Si yahudi dan pengacaranya dengan lantang mengatakan bahwa ia sudah
menjadi seorang yang Atheis ( tidak beragama ) dan menuntut agar Gereja
dan seluruh masayrakat New–Orleans membayar ganti rugi atas kebakaran
propertinya, yang disebabkan doa-doa mereka dikabulkan oleh Tuhannya.





 



Gereja dan masyarakat setempat menolak untuk membayar ganti rugi
karena dia tidak pernah merasa membakar maupun melakukan perbuatan
kriminal lainya selain hanya berdoa dan berdoa digereja serta memohon
kepada Tuhannya agar semua tempat maksiat di daerahnya cepat
dimusnahkan titik.



 





Si Yahudipun tetap berkelit bahwa dari dulu sejak berdirinya tempat
mesum, tidak pernah terjadi kebakaran karena tidak pernah ada do’a
massal sebelumya dan si Yahudi juga –berkesimpulan bahwa pasti do’a
mereka dikabulkan dan terjadilah kebarakan.



 





Giliran gereja dan masyarakat setempat menolak argumentasi si yahudi
dengan dalih mereka hanya berdo’a dan berdo’a dan mereka tidak tahu
apakah do’anya dikabulkan apa tidak, jadi mereka masih ragu-ragu dan
ragu tentang dikabukanya do’anya.



 





Setelah ber-argumentasi terus menerus berhari-hari dan tidak ada
jalan tengahnya, akhirnya Hakim yang sangat arif dan bijaksana
memutuskan bahwa gereja dan masyaraka setempat harus membayar ganti
rugi kepada si Yahudi dengan alasan “ SI YAHUDI YANG ATHEIS





“SAJA PERCAYA BAHWA KEBAKARAN TERSEBUT ADALAH AKIBAT
DO’A ANDA DIKABULKAN OLEH TUHAN ANDA, MENGAPA ANDA-ANDA YANG BERDO’A
SAMA SEKALI TIDAK PERCAYA, LALU KAPAN ANDA AKAN PERCAYA DO’ANYA AKAN
DITERIMA DAN ANDA SEMUA TERMASUK ORANG YANG TIDABERSYUKUR. UNTUK ITU
PENGADILAN MEMERINTAHKAN ANDA SEMUA MEMBA YAR GANTI RUGI “





***





Apa yang dapat kita tarik dari fenomena diatas..?
Sekarang banyak sekali umat Islam/ kaum muslimin/muslimah yang
bertabiat seperti mereka, tidak pernah bersyukur, tidak pernah puas
atas nikmat ALLAH yang diberikan kepada kita. bahkan saking rakusnya
mereka berpacu mencari kekayaan dengan menbarak koridor agama, korupsi
berjamaah, lupa kepada fakir miskin, anak yatim/piatu, anak terlantar..
Naudzubilahi min dzalik.



 





Ini akibat kita semua kurang menghayati rasa syukur itu dan itu terjadi di semua sektor, ambilah contoh :



 





Di bidang perdangangan yang erat hubunganya dengan kebutuhan primer,
beras sudah dipalsukan dengan mencampur bahan kimia untuk mendapatkan
kwalitet no.1, berapa ribu pompa bensin yang berbuat curang dengan
menguraNgi isi ( beli 20 liter ternya hanya 18/19 liter), mencapur
daging celeng/babi ke dalam daging sapi..??



 





Di bidang hukum..? lihat kasus BLBI yang ditangani oleh 35 Jaksa
pilihan yang terbaik apa jadinya, ternyata buntutnyapun ada kasus suap,
lebih dai 75% para jaksa tersebut beragama Islam.



 





Dibidang agamapun demikian.., Agama dipolitisir untuk mendapatkan
kedudukan dan penghasilan, tidak jarang para Da’i, para Ustadz dengan
seenaknya menapsirkan ayat2 Al’ Quran, Al Hadist menurut pesan sponsor
apalagi menjelang pemilu nanti..?.



 





Begitu juga dengan bidang2 lainya,kesemuanyan itu karena tidak ada rasa syukur kepada ALLAH SWT.





Surat AN Nahl (16) ayat 78, ALLAH Berfirman :





“Dan ALLAH mengeluarkan kamu dari perut Ibumu dalam
keaadan tidak mengetahui sesuatu apapun.Dan dia memberi kamu
pendengaran,pengelihatan dan hati agar kamu bersyukur “





As-Syukr ? artinya berterima kasih dalm
ucapan,bersujud dihadapan ALLAH atas nikmat yang telah diberikan dan
ketegasan untuk tidak akan melaksanakan tindakan maksiat.



 





Maqam/Station dari syukur itu lebih tinggi dari pada Sabar dan Khauf
/takut, oleh karena itu balasan dari pengingkaran terhadap syukur pun
lebih dasyat.



 





Mari kita tengok ke belakang kaum nabi Nuh ditenggelamkan dengan
banjirnya, kaum Nabi Luth diazab dengan suara gemuruh yang menggelegar.
Kroni-kroni Firaun yang ditenggelamkan di laut merah, kaum Tsamud
dijaman Nabi Saleh juga diazab dengan halilintar yang menggelegar
setelah raut muka berubah warna dalam tiga hari. Kaum Aad dizaman Nabi
Hud disapu dihancurkan oleh ALLAH SWT dengan angin topan dan suara yang
mnggelegar, juga gempa yang ditimpakan kepada kaum madyan dizaman Nibi
Syu’aib yang kesemuanya di atas adalah kaum yang tidak pernah bersyukur
kepada ALLAH.



 





Demikian juga di negara yang kita cintai,Republik Indonesia apa yang
sering terjadi..? Tanah longsor, Banjir, Gempa bumi, penyakit yang
tiada henti-hentinya yang dapat kita saksikan tiap hari. Jadi benar
kata penyanyi EBIT “ mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
yang selalu bangga dengan Dosa-dosa “



 





Semua kejadian diatas bukan hanya fenomena alam belaka, tetapi AZAB dari ALLAH yang tidak pernah kita sadari bersama. Mari kita koreksi/kritik pribadi kita
sendiri (otokritik) agar dapat terhindar dari azab selanjutnya.





 



Wassalaamu'alaikum Wr. Wb. 

Otokritik

Otokritik

Posted by Unknown  |  at  9:48 AM



Oleh : H.Abdul Aziz Affandy



 



Di sekitar tahun 1870 di Amerika Serikat, disebuah kota kecil namanya
New Orleans dekat dengan kota Houston disana ada pelabuhan kecil yang
kurang ramai bahkan sangat jarang kapal-kapal yang merapat dan
melakukan aktivitas bongkar muat disana, maklum karena sarana penunjang
untuk refreshing (penyegaran) untuk crew kapal-kapal dan tamu disana
sangatlah kurang seperti: saloon, night club, motel, tempat
perjudian (amusement centre ) dan tempat-tempat lokalisasi PSK, serta
tempat hiburan/maksiat tidak terdapat disana kecuali peralatan bongkar
muat barang.



 




Hal itu disebabkan hampir semua penduduk disana tua, muda,
laki-laki, perempuan, anak adalah orang-orang yang taat menjalankan
ibadah agama Kristen protestan yang fanatik dan setiap minggu
gereja-gereja mereka penuh sekali dengan jemaat-jemaatnya sehingga
sulit sekali mendirikan tempat-tempat mesum tersebut, karena pasti akan
ditentang oleh masyarakat sekitar dan ini berjalan ber-puluh tahum
lamanya, sehingga kota pelabuhan tersebut jauh tertinggal dengan
pelabuhan lain di Amerika Serikat.



 





Suatu hari datanglah seorang kaya raya/milyuner keturunan Yahudi
yang mengaku atheis (tidak beragama apapun) dan datang ke kota
pelabuhan ini dengan mengantongi surat ijin yang diperoleh dari yang
berwewenang di USA akan mendirikan tempat maksiat tersebut.



 





Setelah negosiasi yang lama dengan alot akhirnya penduduk setempat
menyetujuinya asalkan tempat-tempat hiburan tersebut tidak mengganggu
masyarakat di kota ini dan tidak lupa untuk menyenangkan penduduk
setempat si Yahudi-pun setuju membangun infrastruktur dan apa saja yang
diminta oleh masyarakat sekitarnya.



 





Setelah berjalan bertahun-tahun,akhirnya para petinggi gereja di
sana menyadari bahwa pemba ngunan tempat /fasilitas tersebut sangat
berdampak buruk, karena generasi muda mereka, bahkan orang-orang tua,
sudah terseret dengan kemajuan maksiat kota tersebut: berjudi,
minum-minuman keras, bermain dengan tuna susila & lupa bekerja,
sudah merupakan pemandangan sehari-hari, bahkan mereka sudah tidak
pergi ke gereja lagi. Walhasil gereja kosong dan sangat sedikit
jemaatnya.



 





Kemudian suatu hari para petinggi gereja dan masayarakat yang masih
taat beribadah mengadakan rapat membahas masalah dekadensi moral
tersebut dan di dalam rapat diputuskan kepada seluruh masyarakat
setempat agar berkumpul gereja di malam minggu dan berdo’a kepada
Tuhanya semalam suntuk agar semua tempat maksiat-maksiat di atas
terbakar.





Apa yang terjadi..?? mulai jam 03 pagi semua
tempat-tempat tersebut terbakar di mulai dari kamar yang dihuni oleh
pemilik tempat maksiat tersebut..luar biasa..!! semua habis terbakar.





Atas laporan kejadian kebakaran tersebut, Polisi melakukan
penyelidikan yang sangat lama namun tak memba wa hasil apapun, bahkan
Polisi berkesimpulan bahwa kebakaran tersebut tidak adanya unsur
kesengajaan maupun krimininal lainnya.





Merasa tidak puas ..Si Yahudi pun melakukan penyelidikan sendiri bersama pengacaranya akhirnya berkesimpulan
bahwa kebaran tersebut disebabkan oleh Doa semalam suntuk yang
dilakukan oleh semua penduduk disekitar kota New Orleans.





Kemudian Si Yahudipun mengajukan gugatan kepengadilan dan meminta
ganti rugi kepada gereja dan seluruh masyarakat kota New Orleans untuk
membayar ganti rugi kebakaran yg besar.



 





Kemudian digelarlah sidang, yang dipimpin oleh Hakim yang benarbenar
terpilih. Sangat bijak sana, pintar dan mengusai soal agama karena
masalahnya sangat pelik dan benar-benar sangat sulit. Begitu juga para
juri-juri merupakan orang-orang pilihan dari luar daerah..



 





Si yahudi dan pengacaranya dengan lantang mengatakan bahwa ia sudah
menjadi seorang yang Atheis ( tidak beragama ) dan menuntut agar Gereja
dan seluruh masayrakat New–Orleans membayar ganti rugi atas kebakaran
propertinya, yang disebabkan doa-doa mereka dikabulkan oleh Tuhannya.





 



Gereja dan masyarakat setempat menolak untuk membayar ganti rugi
karena dia tidak pernah merasa membakar maupun melakukan perbuatan
kriminal lainya selain hanya berdoa dan berdoa digereja serta memohon
kepada Tuhannya agar semua tempat maksiat di daerahnya cepat
dimusnahkan titik.



 





Si Yahudipun tetap berkelit bahwa dari dulu sejak berdirinya tempat
mesum, tidak pernah terjadi kebakaran karena tidak pernah ada do’a
massal sebelumya dan si Yahudi juga –berkesimpulan bahwa pasti do’a
mereka dikabulkan dan terjadilah kebarakan.



 





Giliran gereja dan masyarakat setempat menolak argumentasi si yahudi
dengan dalih mereka hanya berdo’a dan berdo’a dan mereka tidak tahu
apakah do’anya dikabulkan apa tidak, jadi mereka masih ragu-ragu dan
ragu tentang dikabukanya do’anya.



 





Setelah ber-argumentasi terus menerus berhari-hari dan tidak ada
jalan tengahnya, akhirnya Hakim yang sangat arif dan bijaksana
memutuskan bahwa gereja dan masyaraka setempat harus membayar ganti
rugi kepada si Yahudi dengan alasan “ SI YAHUDI YANG ATHEIS





“SAJA PERCAYA BAHWA KEBAKARAN TERSEBUT ADALAH AKIBAT
DO’A ANDA DIKABULKAN OLEH TUHAN ANDA, MENGAPA ANDA-ANDA YANG BERDO’A
SAMA SEKALI TIDAK PERCAYA, LALU KAPAN ANDA AKAN PERCAYA DO’ANYA AKAN
DITERIMA DAN ANDA SEMUA TERMASUK ORANG YANG TIDABERSYUKUR. UNTUK ITU
PENGADILAN MEMERINTAHKAN ANDA SEMUA MEMBA YAR GANTI RUGI “





***





Apa yang dapat kita tarik dari fenomena diatas..?
Sekarang banyak sekali umat Islam/ kaum muslimin/muslimah yang
bertabiat seperti mereka, tidak pernah bersyukur, tidak pernah puas
atas nikmat ALLAH yang diberikan kepada kita. bahkan saking rakusnya
mereka berpacu mencari kekayaan dengan menbarak koridor agama, korupsi
berjamaah, lupa kepada fakir miskin, anak yatim/piatu, anak terlantar..
Naudzubilahi min dzalik.



 





Ini akibat kita semua kurang menghayati rasa syukur itu dan itu terjadi di semua sektor, ambilah contoh :



 





Di bidang perdangangan yang erat hubunganya dengan kebutuhan primer,
beras sudah dipalsukan dengan mencampur bahan kimia untuk mendapatkan
kwalitet no.1, berapa ribu pompa bensin yang berbuat curang dengan
menguraNgi isi ( beli 20 liter ternya hanya 18/19 liter), mencapur
daging celeng/babi ke dalam daging sapi..??



 





Di bidang hukum..? lihat kasus BLBI yang ditangani oleh 35 Jaksa
pilihan yang terbaik apa jadinya, ternyata buntutnyapun ada kasus suap,
lebih dai 75% para jaksa tersebut beragama Islam.



 





Dibidang agamapun demikian.., Agama dipolitisir untuk mendapatkan
kedudukan dan penghasilan, tidak jarang para Da’i, para Ustadz dengan
seenaknya menapsirkan ayat2 Al’ Quran, Al Hadist menurut pesan sponsor
apalagi menjelang pemilu nanti..?.



 





Begitu juga dengan bidang2 lainya,kesemuanyan itu karena tidak ada rasa syukur kepada ALLAH SWT.





Surat AN Nahl (16) ayat 78, ALLAH Berfirman :





“Dan ALLAH mengeluarkan kamu dari perut Ibumu dalam
keaadan tidak mengetahui sesuatu apapun.Dan dia memberi kamu
pendengaran,pengelihatan dan hati agar kamu bersyukur “





As-Syukr ? artinya berterima kasih dalm
ucapan,bersujud dihadapan ALLAH atas nikmat yang telah diberikan dan
ketegasan untuk tidak akan melaksanakan tindakan maksiat.



 





Maqam/Station dari syukur itu lebih tinggi dari pada Sabar dan Khauf
/takut, oleh karena itu balasan dari pengingkaran terhadap syukur pun
lebih dasyat.



 





Mari kita tengok ke belakang kaum nabi Nuh ditenggelamkan dengan
banjirnya, kaum Nabi Luth diazab dengan suara gemuruh yang menggelegar.
Kroni-kroni Firaun yang ditenggelamkan di laut merah, kaum Tsamud
dijaman Nabi Saleh juga diazab dengan halilintar yang menggelegar
setelah raut muka berubah warna dalam tiga hari. Kaum Aad dizaman Nabi
Hud disapu dihancurkan oleh ALLAH SWT dengan angin topan dan suara yang
mnggelegar, juga gempa yang ditimpakan kepada kaum madyan dizaman Nibi
Syu’aib yang kesemuanya di atas adalah kaum yang tidak pernah bersyukur
kepada ALLAH.



 





Demikian juga di negara yang kita cintai,Republik Indonesia apa yang
sering terjadi..? Tanah longsor, Banjir, Gempa bumi, penyakit yang
tiada henti-hentinya yang dapat kita saksikan tiap hari. Jadi benar
kata penyanyi EBIT “ mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
yang selalu bangga dengan Dosa-dosa “



 





Semua kejadian diatas bukan hanya fenomena alam belaka, tetapi AZAB dari ALLAH yang tidak pernah kita sadari bersama. Mari kita koreksi/kritik pribadi kita
sendiri (otokritik) agar dapat terhindar dari azab selanjutnya.





 



Wassalaamu'alaikum Wr. Wb. 

Generasi Hibrid Pasca NU-Muhammadiyah

Generasi Hibrid Pasca NU-Muhammadiyah

Posted by Unknown  |  at  9:18 AM



Oleh Agus Iswanto




Apa yang saya sebut sebagai generasi muslim hibrid di sini adalah genarasi yang lahir dari sebuah percangkokan. Generasi yang lahir di persilangan budaya urban. Generasi yang lahir di tengah hiruk pikuk arus perebutan ideologi-ideologi global. Generasi hibrid ini juga bisa dikatakan sebagai anak-anak zaman yang menyusuri relung-relung arus modernitas dan trend globalisme.



 




Dari mana datangnya generasi hibrid ini? Mereka datang dari pelosok-pelosok negeri ini. Mereka datang atas nama orang-orang tua mereka yang kebanyakan petani dan nelayan, pun juga sebagai pegawai-pegawai, guru, atau bahkan pejabat desa. Mereka datang dari “desa”.



 






 






More…Namun, generasi hibrid ini bukan sekadar generasi yang lahir dari pencangkokan antara budaya kota dan desa. Generasi hibrid juga muncul atas dasar ketidakpuasan-ketidakpuasan dari pakem-pakem “orang-orang tua” mereka. Bagi anak-anak NU, mereka sudah jemu dengan ke-NU-annya, dan bagi anak-anak Muhammadiyah, mereka sudah muak dengan puritanisme Muhammadiyah. Kalau Kuntowijoyo menyebut generasi ini sebagai generasi Muslim tanpa Masjid, maka saya menyebut generasi hibrid pasca NU-Muhammadiyah. Kata “pasca” ini menyarankan pada generasi yang sudah melampui NU-Muhammadiyah.



 






Siapa yang mengira, Muhammadiyah yang di awal lahirnya sangat dinamis dengan mengusung ijtihad, kini akhirnya terperosok dalam kubangan konservatisme? Siapa yang dapat menyangka pula, orang-orang NU, yang dulu dipandang jumud, tradisional, dan eksotis seperti orang-orang yang dekat dengan penghuni kuburan, kini anak-anak mereka mampu berpikir dekonstruktif? Di luar NU dan Muhammdiyah, ada Persis (persatuan Islam), yang dulu gandrung mendendangkan semangat ijtihad, kini tenggelam dan tidak bersuara dalam suara-suara kancah pergulatan intelektual.



 






Dengan ini, saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa generasi hibrid adalah generasi yang lahir dari “orang tua” NU-Muhammadiyah. Saya hanya mengatakan bahwa generasi-generasi muda NU-Muhammadiyah, sebagiannya adalah generasi yang hibrid dan generasi yang tidak puas. Kita bisa melihat, teman-teman yang aktif dalam gerakan-gerakan Islamisme, seperti Laskar Jihad, Salafi, Jama’ah Tabligh, yang kemudian berujung pada munculnya organisasi semacam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), lalu menjadi akar munculnya PKS, bisa ditelusuri lebih jauh bahwa sesungguhnya mereka adalah generasi yang masih terkait dengan Muhammadiyah, yang memang pada awalnya bersemangat puritan, selain pembaruan.



 






Mereka tidak puas dengan gerakan-gerakan Muhammadiyah yang sudah tidak lagi memperjuangkan ide-ide Islam murni. Namun di sayap kiri, kita bisa melihat kumpulan-kumpulan generasi Muhammadiyah yang maju dan liberal, yang kemudian tergabung dalam IMM dan JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah), yang dipelopori oleh Moeslim Abdurahman. Di arus NU pun kita dapat temukan, di sayap tradisional tentu masih ada, tapi yang menarik adalah dari anak-anak muda NU yang tidak puas dengan gerakan NU yang cendrung politis, untuk membangun gerakan-gerakan intelektual dan sosial, semacam LKIS dan JIL. Mereka adalah anak-anak muda NU-Muhammadiyah yang lahir dari ketidakpuasaan.



 






Di luar NU-Muhammadiyah, tentu kita dapat dengan banyak menemukan generasi hibrid. Kita dapat lihat generasi yang tidak amibil pusing dengan hingar bingar geliat pemikiran dan persoalan bangsa serta negara. Mereka adalah generasi Mall, generasi pesolek, generasi penonton. Saya tidak mengklaim mereka generasi yang keropos, hingga seandainya saja Indonesia runtuh pun tidak tahu.



 






Sebagai anak muda tentu saya memaklumi gairah-gairah anak muda, dan secara psikologis itu wajar. Lagi pula untuk merubah Indonesia, tidak perlu jumlah yang banyak, hanya lima orang pemuda, begitu Soekarno pernah berkata. Saya heran, kita terkadang “bebas” dalam “ketidakbebasan.” Dalam masa yang bebas, semuanya kita mudah untuk raih secara bebas, sejatinya kita sedang dalam tidak bebas. Kita tidak terbebas dalam belenggu ideologi kapitalisme global. Dan anehnya, kita sebagai anak muda tidak sadar. Maka, seandainya saja Indonesia dijual pada persuhanaan multinasional pun, jangan-jangan kita masih bisa tersenyum dan merasa bebas.



 






Dari perubahan-perubahan itu, sebenarnya kita mengambil sebuah pelajaran bahwa setiap ide atau komunitas akan ditentukan oleh gerak penerusnya. Kalau penerusnya mandeg, meskipun pada awalnya ide atau komunitas itu dinamis, maka akan mandeg pula ide tersebut, sehingga akan mencapai titik balik yang pasif. Sebaliknya, jika penerusnya aktif, maka ide atau komunitas itu akan mencapai titik balik yang kreatif. Dari sini pula, kita dapat menyadari, bahwa sejarah adalah sebuah perubahan, dan akan terus berubah.



 



Pertanyaannya adalah apakah kita dapat membaca tanda-tanda zaman atau tidak?






Jika kita meyakini bahwa sejarah akan terus berubah, maka tentu mengabaikan generasi-generasi ini, yang mempunyai potensi menentukan perubahan di Indonesia, adalah sebuah tindak yang gegabah.



 



Dengan mengabaikannya, kita akan kehilangan satu generasi yang mampu menciptakan keislaman, kebangsaan, dan keIndonesiaan. Mereka adalah generasi baru yang muncul dari kelompok-kelompok kecil, baik dari yang paling kanan, hingga yang paling kiri, yang liberal sampai yang paling literal, dari yang borjouis hingga yang pembebasan.



 



Kita memang dihadapkan oleh sebuah pilihan. Tentu saja, pilihan-pilihan kita haruslah mempunyai dasar dan rasionalitas yang baik dan memihak. Memihak siapa? Tentu saja memihak kebangsaan dan kerakyatan.

Generasi Hibrid Pasca NU-Muhammadiyah

Generasi Hibrid Pasca NU-Muhammadiyah

Posted by Unknown  |  at  9:18 AM



Oleh Agus Iswanto




Apa yang saya sebut sebagai generasi muslim hibrid di sini adalah genarasi yang lahir dari sebuah percangkokan. Generasi yang lahir di persilangan budaya urban. Generasi yang lahir di tengah hiruk pikuk arus perebutan ideologi-ideologi global. Generasi hibrid ini juga bisa dikatakan sebagai anak-anak zaman yang menyusuri relung-relung arus modernitas dan trend globalisme.



 




Dari mana datangnya generasi hibrid ini? Mereka datang dari pelosok-pelosok negeri ini. Mereka datang atas nama orang-orang tua mereka yang kebanyakan petani dan nelayan, pun juga sebagai pegawai-pegawai, guru, atau bahkan pejabat desa. Mereka datang dari “desa”.



 






 






More…Namun, generasi hibrid ini bukan sekadar generasi yang lahir dari pencangkokan antara budaya kota dan desa. Generasi hibrid juga muncul atas dasar ketidakpuasan-ketidakpuasan dari pakem-pakem “orang-orang tua” mereka. Bagi anak-anak NU, mereka sudah jemu dengan ke-NU-annya, dan bagi anak-anak Muhammadiyah, mereka sudah muak dengan puritanisme Muhammadiyah. Kalau Kuntowijoyo menyebut generasi ini sebagai generasi Muslim tanpa Masjid, maka saya menyebut generasi hibrid pasca NU-Muhammadiyah. Kata “pasca” ini menyarankan pada generasi yang sudah melampui NU-Muhammadiyah.



 






Siapa yang mengira, Muhammadiyah yang di awal lahirnya sangat dinamis dengan mengusung ijtihad, kini akhirnya terperosok dalam kubangan konservatisme? Siapa yang dapat menyangka pula, orang-orang NU, yang dulu dipandang jumud, tradisional, dan eksotis seperti orang-orang yang dekat dengan penghuni kuburan, kini anak-anak mereka mampu berpikir dekonstruktif? Di luar NU dan Muhammdiyah, ada Persis (persatuan Islam), yang dulu gandrung mendendangkan semangat ijtihad, kini tenggelam dan tidak bersuara dalam suara-suara kancah pergulatan intelektual.



 






Dengan ini, saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa generasi hibrid adalah generasi yang lahir dari “orang tua” NU-Muhammadiyah. Saya hanya mengatakan bahwa generasi-generasi muda NU-Muhammadiyah, sebagiannya adalah generasi yang hibrid dan generasi yang tidak puas. Kita bisa melihat, teman-teman yang aktif dalam gerakan-gerakan Islamisme, seperti Laskar Jihad, Salafi, Jama’ah Tabligh, yang kemudian berujung pada munculnya organisasi semacam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), lalu menjadi akar munculnya PKS, bisa ditelusuri lebih jauh bahwa sesungguhnya mereka adalah generasi yang masih terkait dengan Muhammadiyah, yang memang pada awalnya bersemangat puritan, selain pembaruan.



 






Mereka tidak puas dengan gerakan-gerakan Muhammadiyah yang sudah tidak lagi memperjuangkan ide-ide Islam murni. Namun di sayap kiri, kita bisa melihat kumpulan-kumpulan generasi Muhammadiyah yang maju dan liberal, yang kemudian tergabung dalam IMM dan JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah), yang dipelopori oleh Moeslim Abdurahman. Di arus NU pun kita dapat temukan, di sayap tradisional tentu masih ada, tapi yang menarik adalah dari anak-anak muda NU yang tidak puas dengan gerakan NU yang cendrung politis, untuk membangun gerakan-gerakan intelektual dan sosial, semacam LKIS dan JIL. Mereka adalah anak-anak muda NU-Muhammadiyah yang lahir dari ketidakpuasaan.



 






Di luar NU-Muhammadiyah, tentu kita dapat dengan banyak menemukan generasi hibrid. Kita dapat lihat generasi yang tidak amibil pusing dengan hingar bingar geliat pemikiran dan persoalan bangsa serta negara. Mereka adalah generasi Mall, generasi pesolek, generasi penonton. Saya tidak mengklaim mereka generasi yang keropos, hingga seandainya saja Indonesia runtuh pun tidak tahu.



 






Sebagai anak muda tentu saya memaklumi gairah-gairah anak muda, dan secara psikologis itu wajar. Lagi pula untuk merubah Indonesia, tidak perlu jumlah yang banyak, hanya lima orang pemuda, begitu Soekarno pernah berkata. Saya heran, kita terkadang “bebas” dalam “ketidakbebasan.” Dalam masa yang bebas, semuanya kita mudah untuk raih secara bebas, sejatinya kita sedang dalam tidak bebas. Kita tidak terbebas dalam belenggu ideologi kapitalisme global. Dan anehnya, kita sebagai anak muda tidak sadar. Maka, seandainya saja Indonesia dijual pada persuhanaan multinasional pun, jangan-jangan kita masih bisa tersenyum dan merasa bebas.



 






Dari perubahan-perubahan itu, sebenarnya kita mengambil sebuah pelajaran bahwa setiap ide atau komunitas akan ditentukan oleh gerak penerusnya. Kalau penerusnya mandeg, meskipun pada awalnya ide atau komunitas itu dinamis, maka akan mandeg pula ide tersebut, sehingga akan mencapai titik balik yang pasif. Sebaliknya, jika penerusnya aktif, maka ide atau komunitas itu akan mencapai titik balik yang kreatif. Dari sini pula, kita dapat menyadari, bahwa sejarah adalah sebuah perubahan, dan akan terus berubah.



 



Pertanyaannya adalah apakah kita dapat membaca tanda-tanda zaman atau tidak?






Jika kita meyakini bahwa sejarah akan terus berubah, maka tentu mengabaikan generasi-generasi ini, yang mempunyai potensi menentukan perubahan di Indonesia, adalah sebuah tindak yang gegabah.



 



Dengan mengabaikannya, kita akan kehilangan satu generasi yang mampu menciptakan keislaman, kebangsaan, dan keIndonesiaan. Mereka adalah generasi baru yang muncul dari kelompok-kelompok kecil, baik dari yang paling kanan, hingga yang paling kiri, yang liberal sampai yang paling literal, dari yang borjouis hingga yang pembebasan.



 



Kita memang dihadapkan oleh sebuah pilihan. Tentu saja, pilihan-pilihan kita haruslah mempunyai dasar dan rasionalitas yang baik dan memihak. Memihak siapa? Tentu saja memihak kebangsaan dan kerakyatan.

Warga Buntet se-Jabodetabek Mengadakan Dzikrumaulid

Warga Buntet se-Jabodetabek Mengadakan Dzikrumaulid

Posted by Unknown  |  at  3:43 PM

H. Deni Danuri, Pak Jauhari dan Kang Anas Arsyad saat bertemu sebelum acara.

Oleh: Muhammad Kurtubi

Dalam sejarah silaturahmi yang melibatkan ratusan orang warga Buntet Pesantren di perantauan, maka peristiwa pada Minggu, 16 Maret 2008 patut mendapat catatan khusus. Sebab disamping dihadiri ratusan orang dari berbagai lapisan profesi, beberapa kali silaturahmi yang digagas oleh orang-orang Buntet selama ini belum pernah hadir sebanyak itu.

More...

Tenda hijau daun menghiasi jalan Rasamala Raya yang menghubungkan antara Jalan Gatot Subroto dan Tebet Barat Dalam. Pagi itu saya saya pun ikut menghadiri acara ini. Pagi itu,  masih sekitar pukul setengah sembilan, namun di bawah tenda mewah itu sudah tertata rapih kursi berwarna merah berjejer memenuhi jalan Rasamala, depan kantor CBC. Ketiak masuk memasuki halaman kantor, kursi sudah dipenuhi oleh tamu-tamu yang datang lebih awal. Ada rombongan dari Ciputat, ada yang dari Tanjung Priok dan lain-lain.

 

Pukul 9 tepat, acara dimulai. Masing-masing hadirin berkumpul di samping kantor. Rupanya, sohibul bait sudah mengantisipasi, sebab acara hataman quran yang biasanya dilaksanakan di dalam kantor rupanya tidak mampu menampung tamu sebanyak itu. Para wanita dan anak-anak menempati kursi-kursi yang sudah tertata rapih di bawah tenda hijau di luar kantor, sedangkan anak muda dan orang tua laki-laki memasuki ruang acara.

 

Sebelum acara dimulai, para tamu lain berdatangan dan langsung menempati ruang acara. Tidak disangka-sangka ada pula seorang tamu yang spesial di pagi itu. Ia adalah Drs. H. Ahmad Jauhari, menurut KH. Anas Arsyad, beliau bersedia datang, pada pertemuan alumni Buntet Pesantren dari Kantor Departemen Agama RI, meskipun ada tugas di tempat lain. Oang Buntet hampir semuanya menganal Kang Jauhari yang pernah menjabat sebagai Biro Kepegawaian di Depag RI.

 

dzikromaulidinnabi-008_resize.jpgSetelah Pak Jauhari dipersilahkan duduk, Ust. H. Najmuddin Muzayyin, menyampaikan prakata sekaligus menjadi protokol acara Dzikro Maulidin Nabi saw.

 

Tepat pukul 9.00 WIB acara dimulai. Selanjutnya Kang Mudin memeberitahuan isi acara pada hari itu.

"Mari kita isi diisi acara hari ini dengan Hataman quran 30 juz, masing-masing yang memegang al quran dipersilahkan membacanya, dan bagi yang tidak memegang al quran dimohon membaca surat Al Ikhlas dan berhenti saat pembaca quran berhenti. Setelah hataman quran, akan dilanjutkan dengan pembacaan syair barzanji, yang akan dipimpin oleh Ust. H. Ifroyim, Ust. Syahid, S.Ag. dan Drs. Jaelani."

Di samping itu, acara silaturahmi ini sebagai bagian dari menyambut Maulid Nabi Muhamamd saw sekaligus sebagai forum kangen-kangenan antara saudara di perantauan. Bayangkan sudah hampir puluhan tahun kita tidak bertemu maka kesempatan ini sangat baik untuk saling bersilaturahmi. Tutur kang Mudin sekaligus membuka acara dengan ummul kitab.

 

H. Deni Danuri, shohibul bait acara iniTujuan Acara
Akhirnya pertanyaan saya terjawab maksud dan tujuan dari acara di pagi Ahad itu. Sebab H. Deni Danuri, sebagai shohibul bait melontarkan maksud dan tujuan dari acara tersebut. Sebelumnya saat saya bersalaman dengan H. Deni, ditanyakan kepada beliau mengapa mengundang orang-orang Buntet sebanyak ini dan untuk tujuan apakah gerangan. Saat itu H. Deni tidak sempat menjawab karena tamu-tamu berdatangan dan menyalaminya.

 

"Saya memiliki sejarah yang baik dengan Buntet Pesantren dimana saya banyak belajar dengan KH. Abdullah Abbas, dengan Kang Anas Arsyad. Karenanya, dengan Buntet Pesantren saya sangat terkesan. Agaknya, hari ini saya sangat berbahagia sekali bisa berkumpul dengan Bapak-bapak dan ibu beserta keluarga berkenan hadir di sini." Kata H. Deni mengawali kata sambutan di depan hadirin.

 

Acara hari ini berkaitan pula dengan bulan maulid Nabi Muhammad saw. Kita berharap semoga "Nur Muhammad saw" yang luar biasa itu menjadi wahana untuk kita bisa terus mencintai perjuangan beliau dan tetap teguh memegang risalahnya dan tentu saja semoga kita bisa mendapatkan syafatnya di hari akhir nanti. Lanjut H. Deni mengahiri kata sambutan.

 

Drs. H. Ahmad JauhariPengalaman Unik
Setelah H. Deni menyampaikan maksud acara, giliran Pak Jauhari didaulut untuk memberikan pidato singkat. Oleh Kang Mudin sebagai pembawa acara dimintalah ia untuk memberikan sambutan. Tidak banyak yang disampaikan namun sangat berkesan sekali dimana beliau bercerita tentang pengalaman unik yang pernah dijalani selama menjadi biro kepegawaian di Depag RI.

 

"Saya memiliki dua orang yang sangat unik sebagai pembelajaran hidup.

 

Pertama, orang ini datang ke saya untuk meminta tolong agar dipindahkan jabatannya dari Kalimantan ke Jawa Tengah. Singkat cerita, orang ini saya tolong. Namun hingga bertahun-tahun tidak mengabarkan bagaimana kelanjutan proses setelah SK ditandatangani oleh saya. Minimal berterima kasih atau mengabarkan tugasnya sudah pindah atau apalah, namun ujug-ujug 4 tahun kemudian orang ini datang lagi ke Jakarta. Saya pikir mau mengucapkan terima kasih yang tertunda. Namun ternyata, ia datang hanya ingin meminta tolong kepada saya untuk kedua kalinya. Katanya, ia berkeinginan agar keluarganya diangkat menjadi pegawai negeri semua." Cerita pertama Kang Jauhari.

 

Orang tersebut saya tidak akan menyebut namanya, karena saya anggap berprilaku tidak baik. Ia hanya meminta terus, berterima kasih pun tidak. Kedua, saya ingin menyebut pegawai saya di kantor yang telah menemani tugas-tugas saya selama tujuh tahun. Namanya Joko. Orang ini tidak pernah sedikitpun mengeluh. Keloyalan kepada pimpinan ia tunjukkan kepada saya misalnya meskipun ada tugas di luar kantor ia dengan senang hati melakukannya walaupun harus mengantarkan dokumen ke rumah di luar jam kantor.

 

Yang menarik dari orang ini, kata kang Jauhari, ia tidak pernah meminta sesuatu pada saya. Suatu ketika saya ditegur oleh Allah SWT dimana saya berketatapan hati untuk menanyakan padanya.

 

"Joko, apakah kamu punya keluarga yang menjadi pegawai negeri?"

 

"Anu Pak, boten wonten."

 

"Loh, kenapa tidak kamu mintakan pada saya. Orang dari mana-mana meminta tolong pada saya agar masuk pegawai negeri, tapi kamu orang yagn saya anggap dekat dan bagus dalam tugas, tetapi tidak pernah meminta. Ada apa man?"

 

"Nganu Pak, saya malu"

 

"Ya sudah! nanti saya bantu. Seandainya ada "asobah" nanti saya bantu." kata kang Jauhari.

 

Perbanyak Ingat ketimbang Meminta
Dua pengalaman pegawai Depan yang unik ini, kang Jauhari sampaikan sebagai pelaran hidup bahwa manusia sebaiknya lebih banyak berkonsentrasi kepada tugas ketimbang meminta.

Hal ini berlaku kepada kita dalam hal berhubungan dengan Allah. Menurut kang Jauhari yang pintar menirukan dalang pada tiap ceramahnya, mengatakan bahwa jika manusia lebih banyak ingat kepada Allah, maka niscaya Allah swt akan memberikan balasan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan apa yang ia minta dalam doanya. Kata Kang Jauhari sembari melafalkan hadits yang dimaksud.

 

Hal yang menarik lainnya dari uangkapan Kang Jauhari adalah logika sederhana terhadap tugas dan tanggung jawab. Dimana menurut beliau, bangsa Indonesia khususnya umat Islamnya, masih banyak yang tidak memperdulikan tugas dan kewajibannya. Salah satu hal ajaran agama yang sering kali dilalaikan adalah masalah sholat. Katanya, tidak sedikit diantara kita apabila mendengarkan seruan adzan dianggap angin lalu saja padahal menurutnya, itu adalah panggilan dari Allah swt.

 

Bayangkan jika Pak Deni memiliki supir, sambil menatap Pak H. Deni. Seandainya supir itu ingin dibutuhkan tepat pada jam 8 pagi, namun tiba-tiba si supir bilang "natar dulu pak, tanggung nih saya sedang nonton bola." kata Kang Jauhari mencontohkan.

  

Maka apa yang terjadi dengan si supir bila majikan menginginkan tugasnya dikerjakan namun dilalaikan bahakn ditunda-tunda, tentu saja resikonya bisa dipecat dan tidak dianggap lagi sebagai supirnya. kata Kang Jauhari mengahiri ceramahnya.

 

Syahdu
Setelah ceramah Pak Jauhari, acara hataman dimulai, masing-masing membaca quran satu juz. Tampak dalam vedo, kang Ni (Drs. Jaelani) paling akhir karena bacaanya berbeda dengan jamaah lain yang lebih dulu selesai. Sebab yang lain membaca dengan bacaan cepat.

Satelah hataman selesai, doa hataman dipimpin oleh KH. Anas Arsyad dan pembacaan syair barzanji dilakukan bersama-sama dengan khusu dan antusias. Terlihat misalnya Kang Nur, pimpinan pondok pesantren Tapak Sunan di Condet Jakarta, begitu terlihat khusu bahkan beliaulah yang diminta kang Anas Arsyad untuk menutup bacaan syair barzanji.

 

dimanfaatkan untuk Reuni Kecil-kecilan dari kiri kanan (depan) Nurjannah dan Yuni Mir'ati; belakang Subhan, Ahmad Baehaqi, Muhamad Kurtubi dan Ahmad RoyandiReuni Kecil-kecilan
Bagi saya (M. Kurtubi), Baehaqi, Ahmad Royandi, Siti Nurjanah, Nuruddin, Subhan dan Yuni Mir'ati, kesempatan silaturahmi kemarin itu dimanfaatkan untuk bertemu. Kami sudah puluhan tahun tidak bertemu apalagi setelah merantau di Jakarta. Maka teman-teman sewaktu SD waktu di Buntet Pesatnren itu kini sudah tua-tua.

 

Karenanya, pertemuan itu sangat dinikmati sebagai bagian dari rasa untuk saling menyatukan kembali orang-orang sejenis. Akhirnya reuni kecil itu bisa sempat berfoto bersama. Maaf fotonya ikut terdokumentasikan di sini.

 

Karenanya, secara pribadi saya mengucapkan terima kasih kepada H. Deni dan Kang Anas Arsyad yang telah memberi kesempatan kepada orang-orang Buntet bertemu dan bersilaturahmi. Apalagi momen maulidan ini sangat tepat sekali. Ditambah dengan nuansa acara yang dikemas apa adanya tanpa rekayasa itu berjalan bagaikan air mengalir.

 

Akhirnya, tidak sia-sialah semangat H. Deni yang mengeluarkan biaya cukup besar untuk acara ini. Konon menurut sumber yang dipercaya, harga sewa tenda hijau mewah itu seharga 7 juta dan katering 12 juta. Itu belum terhitung sewa kursi yang jumlahnya ratusan dan biaya lain-lainnya. Semua itu semoga tidak sia-sia namun dengan keikhlasan dan semangat untuk berbagi, maka semoga mendapat balasan dari Allah swt. Juga semoga anak H. Deni yang tengah dirawat di Rumah Sakit Singapura selama dua minggu dan kini tengah menjalani perawatan jalan bolak-balik Singapura-Jakarta, semoga cepat sembuh. Amin.

Copyright © 2013 Blog Backup Buntet Pesantren. WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
back to top