Perbedaan dan Keragaman di Mata Pesantren

Perbedaan dan Keragaman di Mata Pesantren

Posted by Unknown  |  at  2:18 AM



ali_mursyid.pngOleh: Ali Mursyid



Beberapa waktu yang lalu, dunia pesantren di tanah air digegerkan oleh rencana pendataan melalui sidik jari. Meski rencana itu tidak terelisasi, namun terkesan adanya dugaan bahwa pesantren-pesantren di Indonesia merupakan gudang teroris.

Dugaan ini bersumber dari dua hal; Pertama, pandangan sebagian besar masyarakat dan media Barat terhadap umat Islam belakangan ini. Di mana umat Islam dituduh sebagai biang terorisme, terutama sejak penyerangan terhadap gedung WTC Amerika Serikat.  Kedua, adanya kenyataan bahwa para pelaku ‘teror bom’ di tanah air, beberapa diantaranya adalah orang pesantren, seperti Amroji dan kawan-kawan. 





Sungguh kurang bijak, jika hanya segelintir orang pesantren terlibat ‘pengeboman’, lalu muncul tuduhan bahwa pesantren dan orang-orang di dalamnya adalah atau berpotensi menjadi teroris. Sebagaimana tidak bijaknya media Barat, yang karena ulah sekelompok ekstrimis, lalu dengan mudah menuduh seluruh umat Islam sebagai teroris.

Asumsi bahwa pesantren menjadi sarang teroris, tidak relevan jika merujuk pada pesantren-pesantren nahdhiyin yang berjumlah ribuan dan menyebar di seantero nusantara. Pesantren-pesantren yang terkenal dengan kajian kitab kuningnya (al-kutub al-mu’tabarah) ini mewarisi tradisi dakwah Islam yang damai dan akomodatif terhadap berbagai kearifan lokal (al-’urf).

Tradisi ini adalah warisan dari perjuangan dan metode dakwah walisongo.
Cirebon sendiri, yang secara historis pernah menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa, dipenuhi pesantren-pesantren. Di Cirebon bagian Timur terdapat ‘kampung pesantren’ Buntet, sebuah kompleks pesantren yang berlokasi di desa Mertapada Kulon. Tidak jauh dari situ, terdapat pesantren Gedongan yang berlokasi di desa Ender.

Sementara di wilayah Cirebon Barat bagian Selatan terdapat ‘kampung pesantren’ Babakan Ciwaringin. Di wilayah Cirebon Barat bagian Utara terdapat pesantren Dar Al-Tauhid di desa Arjawinangun, dan pesantren Al-Anwariyah di desa Tegalgubug. Terbentang di antara di antara wilayah Barat bagian Utara dan bagian Selatan, dapat ditemui dua pesantren; pesantren Tahsinul Akhlaq di desa Winong dan ’kampung pesantren’ di desa Kempek Ciwaringin.

Ke Selatan sedikit, kita dapat menjumpai pesantren Balerante, Palimanan. Dari Palimanan ke arah Timur, di wilayah Plered, kita juga dapat menjumpai beberapa pesantren. Di Cirebon Kota, juga terdapat banyak pesantren. Sebut saja beberapa diantaranya adalah pesantren Jagasatru, pesantren Istiqomah, dan pesantren Siti Fatimah. Di bagian lain dari Kota Cirebon terdapat pesantren Benda Kerep. Nama-nama dan lokasi pesantren itu hanya sebagian dari yang ada, masih banyak nama dan lokasi pesantren yang sesungguhnya belum disebutkan.

Sebagaimana para walisongo yang bijak dalam berdakwah, kiai-kiai pesantren Cirebon pun mendakwahkan Islam dengan pendekatan rahmatan lil ’alamin. Salah satu bentuk kebijakan tersebut adalah pandangan-pandangan inklusif dalam beragama. Sikap ini bukan hanya berkembang sekarang, tetapi sejak dahulu. Salah satu bukti yang bisa disaksikan adalah beberapa peninggalan sejarah, seperti Kereta Paksi Naga Liman yang terdapat di keraton Kesepuhan Cirebon. Dari bentuknya menyiratkan penghargaan akan agama dan budaya yang ada di masyarakat.

Dalam newsletter Mashalih Ar-Raiyyah (edisi Okt-Nov 2003), Al-Marhum KH. Fuad Hasyim -pengasuh pesantren Nadwatul Ummah- mengungkapkan penghargaannya terhadap segala bentuk keragaman. Menurutnya, perbedaan harus disyukuri, karena merupakan sunnatullah yang tidak bisa dihilangkan kecuali oleh Allah sendiri.

Untuk ini beliau menyitir sebuah hadits yang berbunyi; ”Lâ yazâl an-nâsu fi khaîrin mâ tabâyanû, wa in tasâwû halakû” (Jika berbeda-beda atau dalam keragaman maka manusia senantiasa dalam keadaan baik, tetapi jika sama, mereka akan binasa).

Senada dengan KH. Fuad Hasyim, ketua MUI kab. Cirebon, KH. Ja’far Aqiel Siraj, dalam Mashalih Ar-Raiyyah (edisi Sept-Okt 2003) menyatakan bahwa; ”Dalam konteks kehidupan demokrasi, kita harus menerima perbedaan”. Lebih jauh ia menyatakan, bahwa, meski terkadang menimbulkan permusuhan diam-diam, perbedaan harus tetap dihargai.

Masih dalam newsletter yang sama, Al-Maghfrullah KH. Yahya Masduki –salah seorang pengasuh pesantren Babakan Ciwaringin- menganjurkan sikap inklusif dalam hidup. Mengutip KH. Ahmad Siddiq, beliau menyatakan bahwa dalam pergaulan, kita jangan hanya mejaga hubungan baik antar sesama muslim (ukhuwah Islamiyah), tetapi juga hubungan baik antar warga bangsa (ukhuwah wathaniyah) dan antar sesama manusia (ukhuwah insaniyah). Ungkapan ini menyiratkan sikap yang santun dan toleran dalam hidup dan kehidupan.

Sementara itu pesantren Dar Al-Tauhid Arjawinangun telah lama hidup damai berdampingan dengan non-muslim dan etnis Tionghoa. Di sana terlihat betapa masyarakat hidup dengan saling menghargai perbedaan yang ada, di mana Masjid, Gereja Vihara bisa berdiri berdekatan dengan damai. Menurut salah seorang penghasuh pesantren, KH. Ahsin Sakho, bahwa KH. Syathori (Wafat 1969 M) –pendiri pesantren Dar Al-Tauhid- dari dahulu mempraktekan hidup damai dengan non-muslim dan etnis Tionghoa. Ini teutama pada bulan puasa, di mana etnis Tionghoa mengirimkan makanan ke pesantren dan masjid untuk berbuka (ta’jil). KH. Syathori tidak melarang sumbangan tersebut. Beliau juga menyekolahkan anak-anaknya di SMP tempat anak-anak Tionghoa dan non-muslim sekolah.

Tradisi damai ini terus berlanjut. Ahmad –santri pesantren Dar Al-Tauhid- menceritakan bahwa, ketika terjadi reformasi 1998, dimana keamanan etnis Tionghoa terancam, beberapa orang Tionghoa setempat meminta perlindungan ke KH. Ibnu Ubaidillah –putra dan penerus KH. Syathori- sebagai pucuk pimpinan pesantren Dar Al-Tauhid.

Ke Barat sedikit dari Arjawinangun, tepatnya di desa Tegalgubug, ditemukan fakta bahwa Tionghoa dan kalangan non-muslim adalah mitra bisnis sebagian besar pedagang di sana. Padahal kebanyakan mereka adalah para santri dan kiai alumnus pesantren-pesantren besar di Jawa Timur, seperti Lirboyo. Mereka telah berpuluh tahun menjalin kerja sama bisnis dengan non-muslim dan Tionghoa.

Di Kempek -di mana terdapat pesantren-pesantren ’salaf’ sebagaimana di Babakan Ciwaringin- paling tidak ada dua tokoh yang menjunjung tinggi perbedaan, yaitu: KH. Said Aqiel Siraj dan KH. Syarief Utsman Yahya (Ayip Utsman). KH. Said, secara nasional dikenal sebagai ulama NU yang toleran dan bersahabat dengan non-muslim. Sedangkan Ayip Utsman selain dikenal sebagai Bapak gerakan anak muda NU Cirebon, beliau juga pernah membidani berdirinya Forum Lintas Iman Cirebon pada th. 2001.

Tidak hanya di Kabupaten, di Kota Cirebon juga terdapat tokoh-tokoh pesantren yang berpandangan bijak, damai dan bersahabat. Inilah terutama sikap yang ditunjukkan Al-Magfrullah KH. Syarief Muhammad bin Syekh (Ayip Muh) dalam kehidupan sehari-hari. Selain tegas dalam membimbing umat, beliau juga selalu menunjukkan sikap bijak dalam menghadapi setiap persoalan masyarakat. Karenanya, hampir semua pihak bersahabat dengan ulama Cirebon yang kharismatik ini.

Selain itu, KH. Slamet Firdaus dan KH. Fathoni adalah diantara ulama Kota Cirebon yang ramah terhadap perbedaan. Kedua tokoh ini aktif dalam jajaran kepengurusan NU Kota Cirebon. Dalam suatu kesempatan KH. Slamet Firdaus mengemukakan bahwa: ”Dalam tafsir Al-Qur’an, kaum lemah (mustadhafîn) haruslah dibela, tidak peduli apakah ia muslim atau non-muslim”. Dalam membela kaum lemah, tidak boleh membeda-bedakan agama atau yang lainnya, tambahnya lebih lanjut.

Sementara KH. Fathoni meski tidak banyak bicara, beliau melakukan pembelaan terhadap LSM kaum muda NU di Cirebon yang dituduh ’sesat’ oleh sebagian kecil masyarakat. Beliau juga mendukung calon legislatif dari non-muslim di PKB kota Cirebon.

Bukan hanya kiai-kiai senior, generasi yang lebih muda pun nampaknya mewarisi sikap toleran dan menghargai perbedaan ini. Sebut saja mubaligh muda dari Buntet, KH. Babas Fuad Hasyim – putra KH. Fuad Hasyim- dalam satu kesempatan ia menegaskan : ”Dalam persoalan keyakinan (’aqîdah), tidak ada paksaan. Tetapi dalam soal hidup bertetangga (mujâwarah) maka kita harus saling menghormati satu sama lain”.

Salah seorang pimpinan Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren, KH. Wawan Arwani, dalam Mashalih Ar-Raiyah (edisi Des 2003) menyatakan bahwa dalam Al-Qur’an kita dilarang memaki, apalagi atas nama Tuhan dan agama.”Janganlah kamu memaki sembahan-sembahan selain Allah, karena mereka akan memaki Allah tanpa batas” (QS., Al-An’am: 108): Berdasarkan ayat ini, KH. Wawan menyatakan bahwa kekerasan tidak akan meyelesaikan masalah, bahkan hanya akan melahirkan kekerasan baru.

Meski para kiai sepuh menunjukkan sikap toleran dan menghargai perbedaan. Meski sikap inklusif itu diwarisi juga oleh generasi penerusnya, namun masyarakat Cirebon tidak terlepas dari trend keberagamaan dewasa ini, dimana agama cenderung dipahami ekslusif, formal dan kurang menghargai perbedaan.

Dalam suatu kesempatan KH. Luthful Hakim (Kang Aim) pengasuh pesantren Nadwatul Ummah Buntet, berkomentar kenapa akhir-akhir ini Islam cenderung ekslusif? Ini karena kendangkalan ilmu. “Formalisasi Islam atau ingin menjadikan negara ini negara Islam jelas mempersempit Islam. Islam itu universal, sementara negara membatasi orang atas kebangsaan semata. Adapun ayat mengenai berhukum dengan hukum Allah, bila di lihat asbâb nuzulnya tidak diturunkan untuk orang Islam, melainkan untuk Yahudi dan non-muslim yang menyimpang dari ketentuan Allah SWT”, jelas Kang Aim.

Lebih jauh mengenai ketidaksetujuan akan formalisasi ini, salah seorang pengasuh pesantren Dar Al-Tauhid Arjawinangun, KH.Chozin Nasuha, menyatakan bahwa: ”Yang diperlukan sekarang adalah syariah yang inklusif. Yaitu syariah yang diterapkan secara terbuka dengan mengadopsi unsur-unsur luar, seperti budaya lokal (’urf) dan beberapa pemikiran positif”. Terlepas dari setuju atau tidaknya formalisasi Islam, sebagai orang pesantren penulis berharap agar kita semua tidak meninggalkan ilmu dan kearifan yang diwariskan para ulama, kiai dan guru kita semua. Wallahu a’lam bi al-shawab.
________________
Tulisan ini dimuat di media local Cirebon (Mitra Dialog) atas kerjasama Fahmina Institute dengan Wahid Institute Dalam Rangka Advokasi dan Monitoring Pluralisme dan Diskriminasi

Perbedaan dan Keragaman di Mata Pesantren

Perbedaan dan Keragaman di Mata Pesantren

Posted by Unknown  |  at  2:18 AM



ali_mursyid.pngOleh: Ali Mursyid



Beberapa waktu yang lalu, dunia pesantren di tanah air digegerkan oleh rencana pendataan melalui sidik jari. Meski rencana itu tidak terelisasi, namun terkesan adanya dugaan bahwa pesantren-pesantren di Indonesia merupakan gudang teroris.

Dugaan ini bersumber dari dua hal; Pertama, pandangan sebagian besar masyarakat dan media Barat terhadap umat Islam belakangan ini. Di mana umat Islam dituduh sebagai biang terorisme, terutama sejak penyerangan terhadap gedung WTC Amerika Serikat.  Kedua, adanya kenyataan bahwa para pelaku ‘teror bom’ di tanah air, beberapa diantaranya adalah orang pesantren, seperti Amroji dan kawan-kawan. 





Sungguh kurang bijak, jika hanya segelintir orang pesantren terlibat ‘pengeboman’, lalu muncul tuduhan bahwa pesantren dan orang-orang di dalamnya adalah atau berpotensi menjadi teroris. Sebagaimana tidak bijaknya media Barat, yang karena ulah sekelompok ekstrimis, lalu dengan mudah menuduh seluruh umat Islam sebagai teroris.

Asumsi bahwa pesantren menjadi sarang teroris, tidak relevan jika merujuk pada pesantren-pesantren nahdhiyin yang berjumlah ribuan dan menyebar di seantero nusantara. Pesantren-pesantren yang terkenal dengan kajian kitab kuningnya (al-kutub al-mu’tabarah) ini mewarisi tradisi dakwah Islam yang damai dan akomodatif terhadap berbagai kearifan lokal (al-’urf).

Tradisi ini adalah warisan dari perjuangan dan metode dakwah walisongo.
Cirebon sendiri, yang secara historis pernah menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa, dipenuhi pesantren-pesantren. Di Cirebon bagian Timur terdapat ‘kampung pesantren’ Buntet, sebuah kompleks pesantren yang berlokasi di desa Mertapada Kulon. Tidak jauh dari situ, terdapat pesantren Gedongan yang berlokasi di desa Ender.

Sementara di wilayah Cirebon Barat bagian Selatan terdapat ‘kampung pesantren’ Babakan Ciwaringin. Di wilayah Cirebon Barat bagian Utara terdapat pesantren Dar Al-Tauhid di desa Arjawinangun, dan pesantren Al-Anwariyah di desa Tegalgubug. Terbentang di antara di antara wilayah Barat bagian Utara dan bagian Selatan, dapat ditemui dua pesantren; pesantren Tahsinul Akhlaq di desa Winong dan ’kampung pesantren’ di desa Kempek Ciwaringin.

Ke Selatan sedikit, kita dapat menjumpai pesantren Balerante, Palimanan. Dari Palimanan ke arah Timur, di wilayah Plered, kita juga dapat menjumpai beberapa pesantren. Di Cirebon Kota, juga terdapat banyak pesantren. Sebut saja beberapa diantaranya adalah pesantren Jagasatru, pesantren Istiqomah, dan pesantren Siti Fatimah. Di bagian lain dari Kota Cirebon terdapat pesantren Benda Kerep. Nama-nama dan lokasi pesantren itu hanya sebagian dari yang ada, masih banyak nama dan lokasi pesantren yang sesungguhnya belum disebutkan.

Sebagaimana para walisongo yang bijak dalam berdakwah, kiai-kiai pesantren Cirebon pun mendakwahkan Islam dengan pendekatan rahmatan lil ’alamin. Salah satu bentuk kebijakan tersebut adalah pandangan-pandangan inklusif dalam beragama. Sikap ini bukan hanya berkembang sekarang, tetapi sejak dahulu. Salah satu bukti yang bisa disaksikan adalah beberapa peninggalan sejarah, seperti Kereta Paksi Naga Liman yang terdapat di keraton Kesepuhan Cirebon. Dari bentuknya menyiratkan penghargaan akan agama dan budaya yang ada di masyarakat.

Dalam newsletter Mashalih Ar-Raiyyah (edisi Okt-Nov 2003), Al-Marhum KH. Fuad Hasyim -pengasuh pesantren Nadwatul Ummah- mengungkapkan penghargaannya terhadap segala bentuk keragaman. Menurutnya, perbedaan harus disyukuri, karena merupakan sunnatullah yang tidak bisa dihilangkan kecuali oleh Allah sendiri.

Untuk ini beliau menyitir sebuah hadits yang berbunyi; ”Lâ yazâl an-nâsu fi khaîrin mâ tabâyanû, wa in tasâwû halakû” (Jika berbeda-beda atau dalam keragaman maka manusia senantiasa dalam keadaan baik, tetapi jika sama, mereka akan binasa).

Senada dengan KH. Fuad Hasyim, ketua MUI kab. Cirebon, KH. Ja’far Aqiel Siraj, dalam Mashalih Ar-Raiyyah (edisi Sept-Okt 2003) menyatakan bahwa; ”Dalam konteks kehidupan demokrasi, kita harus menerima perbedaan”. Lebih jauh ia menyatakan, bahwa, meski terkadang menimbulkan permusuhan diam-diam, perbedaan harus tetap dihargai.

Masih dalam newsletter yang sama, Al-Maghfrullah KH. Yahya Masduki –salah seorang pengasuh pesantren Babakan Ciwaringin- menganjurkan sikap inklusif dalam hidup. Mengutip KH. Ahmad Siddiq, beliau menyatakan bahwa dalam pergaulan, kita jangan hanya mejaga hubungan baik antar sesama muslim (ukhuwah Islamiyah), tetapi juga hubungan baik antar warga bangsa (ukhuwah wathaniyah) dan antar sesama manusia (ukhuwah insaniyah). Ungkapan ini menyiratkan sikap yang santun dan toleran dalam hidup dan kehidupan.

Sementara itu pesantren Dar Al-Tauhid Arjawinangun telah lama hidup damai berdampingan dengan non-muslim dan etnis Tionghoa. Di sana terlihat betapa masyarakat hidup dengan saling menghargai perbedaan yang ada, di mana Masjid, Gereja Vihara bisa berdiri berdekatan dengan damai. Menurut salah seorang penghasuh pesantren, KH. Ahsin Sakho, bahwa KH. Syathori (Wafat 1969 M) –pendiri pesantren Dar Al-Tauhid- dari dahulu mempraktekan hidup damai dengan non-muslim dan etnis Tionghoa. Ini teutama pada bulan puasa, di mana etnis Tionghoa mengirimkan makanan ke pesantren dan masjid untuk berbuka (ta’jil). KH. Syathori tidak melarang sumbangan tersebut. Beliau juga menyekolahkan anak-anaknya di SMP tempat anak-anak Tionghoa dan non-muslim sekolah.

Tradisi damai ini terus berlanjut. Ahmad –santri pesantren Dar Al-Tauhid- menceritakan bahwa, ketika terjadi reformasi 1998, dimana keamanan etnis Tionghoa terancam, beberapa orang Tionghoa setempat meminta perlindungan ke KH. Ibnu Ubaidillah –putra dan penerus KH. Syathori- sebagai pucuk pimpinan pesantren Dar Al-Tauhid.

Ke Barat sedikit dari Arjawinangun, tepatnya di desa Tegalgubug, ditemukan fakta bahwa Tionghoa dan kalangan non-muslim adalah mitra bisnis sebagian besar pedagang di sana. Padahal kebanyakan mereka adalah para santri dan kiai alumnus pesantren-pesantren besar di Jawa Timur, seperti Lirboyo. Mereka telah berpuluh tahun menjalin kerja sama bisnis dengan non-muslim dan Tionghoa.

Di Kempek -di mana terdapat pesantren-pesantren ’salaf’ sebagaimana di Babakan Ciwaringin- paling tidak ada dua tokoh yang menjunjung tinggi perbedaan, yaitu: KH. Said Aqiel Siraj dan KH. Syarief Utsman Yahya (Ayip Utsman). KH. Said, secara nasional dikenal sebagai ulama NU yang toleran dan bersahabat dengan non-muslim. Sedangkan Ayip Utsman selain dikenal sebagai Bapak gerakan anak muda NU Cirebon, beliau juga pernah membidani berdirinya Forum Lintas Iman Cirebon pada th. 2001.

Tidak hanya di Kabupaten, di Kota Cirebon juga terdapat tokoh-tokoh pesantren yang berpandangan bijak, damai dan bersahabat. Inilah terutama sikap yang ditunjukkan Al-Magfrullah KH. Syarief Muhammad bin Syekh (Ayip Muh) dalam kehidupan sehari-hari. Selain tegas dalam membimbing umat, beliau juga selalu menunjukkan sikap bijak dalam menghadapi setiap persoalan masyarakat. Karenanya, hampir semua pihak bersahabat dengan ulama Cirebon yang kharismatik ini.

Selain itu, KH. Slamet Firdaus dan KH. Fathoni adalah diantara ulama Kota Cirebon yang ramah terhadap perbedaan. Kedua tokoh ini aktif dalam jajaran kepengurusan NU Kota Cirebon. Dalam suatu kesempatan KH. Slamet Firdaus mengemukakan bahwa: ”Dalam tafsir Al-Qur’an, kaum lemah (mustadhafîn) haruslah dibela, tidak peduli apakah ia muslim atau non-muslim”. Dalam membela kaum lemah, tidak boleh membeda-bedakan agama atau yang lainnya, tambahnya lebih lanjut.

Sementara KH. Fathoni meski tidak banyak bicara, beliau melakukan pembelaan terhadap LSM kaum muda NU di Cirebon yang dituduh ’sesat’ oleh sebagian kecil masyarakat. Beliau juga mendukung calon legislatif dari non-muslim di PKB kota Cirebon.

Bukan hanya kiai-kiai senior, generasi yang lebih muda pun nampaknya mewarisi sikap toleran dan menghargai perbedaan ini. Sebut saja mubaligh muda dari Buntet, KH. Babas Fuad Hasyim – putra KH. Fuad Hasyim- dalam satu kesempatan ia menegaskan : ”Dalam persoalan keyakinan (’aqîdah), tidak ada paksaan. Tetapi dalam soal hidup bertetangga (mujâwarah) maka kita harus saling menghormati satu sama lain”.

Salah seorang pimpinan Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren, KH. Wawan Arwani, dalam Mashalih Ar-Raiyah (edisi Des 2003) menyatakan bahwa dalam Al-Qur’an kita dilarang memaki, apalagi atas nama Tuhan dan agama.”Janganlah kamu memaki sembahan-sembahan selain Allah, karena mereka akan memaki Allah tanpa batas” (QS., Al-An’am: 108): Berdasarkan ayat ini, KH. Wawan menyatakan bahwa kekerasan tidak akan meyelesaikan masalah, bahkan hanya akan melahirkan kekerasan baru.

Meski para kiai sepuh menunjukkan sikap toleran dan menghargai perbedaan. Meski sikap inklusif itu diwarisi juga oleh generasi penerusnya, namun masyarakat Cirebon tidak terlepas dari trend keberagamaan dewasa ini, dimana agama cenderung dipahami ekslusif, formal dan kurang menghargai perbedaan.

Dalam suatu kesempatan KH. Luthful Hakim (Kang Aim) pengasuh pesantren Nadwatul Ummah Buntet, berkomentar kenapa akhir-akhir ini Islam cenderung ekslusif? Ini karena kendangkalan ilmu. “Formalisasi Islam atau ingin menjadikan negara ini negara Islam jelas mempersempit Islam. Islam itu universal, sementara negara membatasi orang atas kebangsaan semata. Adapun ayat mengenai berhukum dengan hukum Allah, bila di lihat asbâb nuzulnya tidak diturunkan untuk orang Islam, melainkan untuk Yahudi dan non-muslim yang menyimpang dari ketentuan Allah SWT”, jelas Kang Aim.

Lebih jauh mengenai ketidaksetujuan akan formalisasi ini, salah seorang pengasuh pesantren Dar Al-Tauhid Arjawinangun, KH.Chozin Nasuha, menyatakan bahwa: ”Yang diperlukan sekarang adalah syariah yang inklusif. Yaitu syariah yang diterapkan secara terbuka dengan mengadopsi unsur-unsur luar, seperti budaya lokal (’urf) dan beberapa pemikiran positif”. Terlepas dari setuju atau tidaknya formalisasi Islam, sebagai orang pesantren penulis berharap agar kita semua tidak meninggalkan ilmu dan kearifan yang diwariskan para ulama, kiai dan guru kita semua. Wallahu a’lam bi al-shawab.
________________
Tulisan ini dimuat di media local Cirebon (Mitra Dialog) atas kerjasama Fahmina Institute dengan Wahid Institute Dalam Rangka Advokasi dan Monitoring Pluralisme dan Diskriminasi

Dua Kali Matahari Persis di Atas Ka`bah

Dua Kali Matahari Persis di Atas Ka`bah

Posted by Unknown  |  at  6:16 AM


Jakartta
(MCH). Sepanjang tahun 2008 ini, matahari akan tepat di atas Kakbah
selama dua kali. Dengan demikian, bagi umat Islam yang aman membangun
masjid atau mushalla bisa mencocokkan dengan melihat bayang-bayang
semua benda pada saat tersebut.





Menurut data Lajnah Falakiyah PBNU tahun 2008, matahari akan tepat
persis di atas matahari pada tanggal 27 Mei 2008 dan 15 Juli 2008. Pada
27 Mei 2008 mendatang, matahari akan tepat di atas Kakbah pada pukul
16.18 WIB. Sementara pada 15 Juli akan terjadi pada 16.27 WIB.




Dengan demikian, umat Islam yang akan mencocokkan arah kiblat bisa
menyiapkan alat sederhana pada saat tersebut. Yaitu, dengan mengambil
tongkat yang ditancapkan di atas permukaan. Kemudian, bayang-bayang
pada saat itu menjadi arah yang tepat menuju Kakbah. Saat tersebut
secara falak disebut dengan nama Yawma Rashdil Kiblat. (Musthafa Helmy)

Dua Kali Matahari Persis di Atas Ka`bah

Dua Kali Matahari Persis di Atas Ka`bah

Posted by Unknown  |  at  6:16 AM


Jakartta
(MCH). Sepanjang tahun 2008 ini, matahari akan tepat di atas Kakbah
selama dua kali. Dengan demikian, bagi umat Islam yang aman membangun
masjid atau mushalla bisa mencocokkan dengan melihat bayang-bayang
semua benda pada saat tersebut.





Menurut data Lajnah Falakiyah PBNU tahun 2008, matahari akan tepat
persis di atas matahari pada tanggal 27 Mei 2008 dan 15 Juli 2008. Pada
27 Mei 2008 mendatang, matahari akan tepat di atas Kakbah pada pukul
16.18 WIB. Sementara pada 15 Juli akan terjadi pada 16.27 WIB.




Dengan demikian, umat Islam yang akan mencocokkan arah kiblat bisa
menyiapkan alat sederhana pada saat tersebut. Yaitu, dengan mengambil
tongkat yang ditancapkan di atas permukaan. Kemudian, bayang-bayang
pada saat itu menjadi arah yang tepat menuju Kakbah. Saat tersebut
secara falak disebut dengan nama Yawma Rashdil Kiblat. (Musthafa Helmy)

Ilmu Padi

Ilmu Padi

Posted by Unknown  |  at  3:03 AM

Kroyokan tidak Selamanya Jelek

Padi Rojo LeleOleh: SantriBuntet

MENJADI bijak seseorang, ada yang mengatakan tidak harus tua. Artinya, sedari mudapun bisa. Banyak sudah memberikan teori misalnya seorang Profesor ahli SDM Sjafri Mangkuprawira mengemukakan 11 point menjadi bijak. Ada pula yang hanya 5 cara menjadi bijak. Tapipikiran nyeleneh saya mulai kambuh lagi, loh mengapa tidak belajar daripadi-gabah untuk menjadi bijak sana dan bijak sini. :) Sehingga jika jadi pemimpin muda sekalipun, kesalahan pemimpin bisa dihindari.

Namanya pikiran aneh, tidak perlu dihiraukan tapi cukup waspadaikeanehannya. Begini saat saya melihat penggilan padi, prosespenggilingan itu kira-kira sebagai berikut:

Penggilingan padiPadi gabah itu kan sebelum menjadi beras dia digiling terlebih dahulu dalam mesin. Coba bayangkan jika yang digiling itu hanya satu gabah, kan tidak mungkin. Karenanya, proses gabah menjadi beras itu meski bergerombolan. Mula-mula masuk di cerobong wadah, kemudian gabah-gabah itu bersama-sama saling menggencet diri mereka masing-masing. Baru pekerjaan genjet-menggenjet dalam ruangan mesin gilingan itu selesai, berasa yang sudah bersih putih mengkilap dan wangi itu keluar dengan bebas dan diap untuk dilahap.

Kalau begitu, setiap orang yang ingin menjadi “beras”, ya tentu sajatidak mungkin akan hidup sendirian. Sebab kalau sendirian akan tetapjadi gabah namun mersasa benar sendiri. Tidak ada yang mengoreksi,membantah apalagi menggencetnya.


Mencari ilmu pengetahuan sendirian pasti akan berbeda jikabareng-bareng dan bergerombol. Saudara saya pernah saat masuk perguruantinggi, ia tidak bisa belajar sendirian melainkan ia ajak sekitar 5orang untuk belajar bersama-sama menyelesaikan soal-soal yang akandiujikan di kampusnya.


Dari padi jadi nasiTernyata cespeleng! kawan-kawannya yang sendirian belajar banyak yang gagalditerima, sementara dia dan kelompoknya berhasil dengan mengagumkan.Ini berarti mirip team management, tim sepak bola, gang motor, simponi musik dan berbagai macam tim yang tergabung dalam organisasi apapun.


Dunia Blog saya kira sangat bagus untuk dijadikan sebagai saranauntuk memproses menjadi beras. Para penulis blog yang apa adanya, jujurdan semangat tentu saja akan bermanfaat jika dikoreksi, dibantah dll.Tetapi juga masing-masing saling mengoreksi dan tidak bisa merasamenjadi beras sendiri.


Jadi ternyata menjadi pintar, bijak di sana dan bijak di sini ,tidak perlu injak saja injak sini. Cukup  belajar dari padi gabah. Jadiorang yang merasa tidak butuh dengan komunitas lain yang berbeda paham,beda idiologi, dan semacamnya, orang/golongan itu hanyalah gabah-gabahyang bergelenteran. Siapa sih yang mau makan gabah, paling-palingburung dara :) . Jadi benar bahwa keroyokan itu tidak selamanya jelak bukan… wallahu a’lam.


Bagaimana menurut sampean?


---------
Penulis adalah alumni MANU Buntet Pesantren 1988

Ilmu Padi

Ilmu Padi

Posted by Unknown  |  at  3:03 AM

Kroyokan tidak Selamanya Jelek

Padi Rojo LeleOleh: SantriBuntet

MENJADI bijak seseorang, ada yang mengatakan tidak harus tua. Artinya, sedari mudapun bisa. Banyak sudah memberikan teori misalnya seorang Profesor ahli SDM Sjafri Mangkuprawira mengemukakan 11 point menjadi bijak. Ada pula yang hanya 5 cara menjadi bijak. Tapipikiran nyeleneh saya mulai kambuh lagi, loh mengapa tidak belajar daripadi-gabah untuk menjadi bijak sana dan bijak sini. :) Sehingga jika jadi pemimpin muda sekalipun, kesalahan pemimpin bisa dihindari.

Namanya pikiran aneh, tidak perlu dihiraukan tapi cukup waspadaikeanehannya. Begini saat saya melihat penggilan padi, prosespenggilingan itu kira-kira sebagai berikut:

Penggilingan padiPadi gabah itu kan sebelum menjadi beras dia digiling terlebih dahulu dalam mesin. Coba bayangkan jika yang digiling itu hanya satu gabah, kan tidak mungkin. Karenanya, proses gabah menjadi beras itu meski bergerombolan. Mula-mula masuk di cerobong wadah, kemudian gabah-gabah itu bersama-sama saling menggencet diri mereka masing-masing. Baru pekerjaan genjet-menggenjet dalam ruangan mesin gilingan itu selesai, berasa yang sudah bersih putih mengkilap dan wangi itu keluar dengan bebas dan diap untuk dilahap.

Kalau begitu, setiap orang yang ingin menjadi “beras”, ya tentu sajatidak mungkin akan hidup sendirian. Sebab kalau sendirian akan tetapjadi gabah namun mersasa benar sendiri. Tidak ada yang mengoreksi,membantah apalagi menggencetnya.


Mencari ilmu pengetahuan sendirian pasti akan berbeda jikabareng-bareng dan bergerombol. Saudara saya pernah saat masuk perguruantinggi, ia tidak bisa belajar sendirian melainkan ia ajak sekitar 5orang untuk belajar bersama-sama menyelesaikan soal-soal yang akandiujikan di kampusnya.


Dari padi jadi nasiTernyata cespeleng! kawan-kawannya yang sendirian belajar banyak yang gagalditerima, sementara dia dan kelompoknya berhasil dengan mengagumkan.Ini berarti mirip team management, tim sepak bola, gang motor, simponi musik dan berbagai macam tim yang tergabung dalam organisasi apapun.


Dunia Blog saya kira sangat bagus untuk dijadikan sebagai saranauntuk memproses menjadi beras. Para penulis blog yang apa adanya, jujurdan semangat tentu saja akan bermanfaat jika dikoreksi, dibantah dll.Tetapi juga masing-masing saling mengoreksi dan tidak bisa merasamenjadi beras sendiri.


Jadi ternyata menjadi pintar, bijak di sana dan bijak di sini ,tidak perlu injak saja injak sini. Cukup  belajar dari padi gabah. Jadiorang yang merasa tidak butuh dengan komunitas lain yang berbeda paham,beda idiologi, dan semacamnya, orang/golongan itu hanyalah gabah-gabahyang bergelenteran. Siapa sih yang mau makan gabah, paling-palingburung dara :) . Jadi benar bahwa keroyokan itu tidak selamanya jelak bukan… wallahu a’lam.


Bagaimana menurut sampean?


---------
Penulis adalah alumni MANU Buntet Pesantren 1988

Refleksi Hari Film Nasional

Refleksi Hari Film Nasional

Posted by Unknown  |  at  6:27 AM

kh_salahuddin_wahid.jpg
Oleh: KH. Salahuddin Wahid



Medio Maret 2008 saya menonton film Ayat-Ayat Cinta (AAC) bersama istri saya. Banyak sekali yang tertarik untuk menonton film itu,termasuk Pak Habibie dan Pak Jusuf Kalla.

Setahun lalu saya menonton film Nagabonar Menjadi 2. Kedua film itu
adalah film yang bagus sekaligus laris.Bahkan film AAC menjadi film
Indonesia yang paling banyak penontonnya sepanjang sejarah, mencapai
angka 2,9 juta sampai 22 Maret 2008.Angka 4 juta tampaknya bisa
tercapai.






Mengapa jumlah penonton AAC bisa melonjak demikian
tinggi? Pertama, tentu karena buku AAC karya Habiburrahman el-Shirazy
adalah buku yang baik dan terjual dalam jumlah amat besar, konon di
atas 400.000 buah. Kedua,filmnya sendiri juga cukup bagus dan enak
untuk ditonton.










Ketiga, ada kebutuhan akan munculnya film yang
baik.Artinya masyarakat sudah menunggu hadirnya film yang baik dan
laku.Coba kalau hal yang sama terjadi 10 tahun lalu, belum tentu
hasilnya akan seperti itu. Apakah ini merupakan awal dari bangkitnya
dunia film Indonesia sehingga bisa tidak menjadi tamu di negeri
sendiri?










Apakah insan perfilman Indonesia sudah siap mengikuti
jejak rekannya di dunia musik Indonesia yang sudah menjadi tuan rumah
di negeri sendiri? Bahkan lebih jauh lagi, mampukah kita mengekspor
film Indonesia, paling tidak ke Malaysia, seperti para musisi kita?
Kita perlu melihat dunia perfilman India sebagai perbandingan atau
contoh.










***










Film Ayat-ayat Cinta
Kita menyaksikan banyak sekali film India diputar
di hampir semua stasiun TV di Indonesia. Di bioskopbioskop di hampir
seluruh kota di Indonesia film layar lebar India sejak 50 tahun lalu
menjadi kegemaran masyarakat kelas menengah ke bawah. Masyarakat
menengah ke atas Indonesia memandang film India dengan sebelah mata.










Seumur
hidup saya hanya pernah menonton film India berjudul Boot Polish pada
akhir 1950-an.Tanpa disangka pada minggu ketiga Januari 2007 saya
menonton dua film India yang baru diputar. Dua film itu panjangnya tiga
dan tiga setengah jam. Saya menonton film tersebut di New Delhi saat
saya dan istri berkunjung ke India (Januari 2007) diajak salah seorang
kawan saya, Dalpat Mirchandani.










Kami ditraktir menonton film
pertama oleh seorang kawan Pak Dani (Mirchandani), bernama SK Ghai,
seorang penerbit buku yang sukses.Artinya berasal dari kelas
menengah.Selesai makan malam, seisi rumah,Pak Ghai dan istri serta
kedua anak dan istrinya, Pak Dani dan istrinya,Maya, serta seorang anak
mereka,Anub,dan saya bersama istri menonton film itu.



Sejak
makan malam mereka mulai membicarakan film itu yang baru mulai diputar
setelah dua minggu dan telah lama ditunggu masyarakat. Penonton di
bioskop penuh. Banyak yang memesan karcis bioskop sehari sebelumnya.
Pemutaran perdana film-film India box-office dilakukan serentak di
India dan luar negeri.



Di India ada lebih dari 100 saluran pada
TV kabel. Sebagian besar diisi stasiun TV India yang memutar filmfilm
India lama.Film India di masa lalu banyak yang diputar terus-menerus
bertahun-tahun. Kini mulai berkurang jumlah film seperti itu. Setiap
hari diproduksi 3 film baru, berarti dalam setahun diproduksi lebih
dari 1.000 film baru. Sebagian besar diekspor ke Amerika, Eropa, dan
Asia.










Sebenarnya hasil ekspor tadi hanya sebagai pelengkap dari
pasar dalam negeri. Industri film yang berpusat di Mumbai (dulu Bombai,
karena itu disebut Bollywood) itu mampu memberi penghidupan bagi
puluhan juta rakyat India.Para artis India,terutama yang papan atas,
bisa memperoleh penghasilan yang aduhai.







Bisa mencapai belasan
miliar per film. Shah Rukh Khan untuk menjadi pemandu Crore Pati –versi
India dari Who Wants To Be A Millionaire– dibayar Rp1,6 miliar rupiah
per tayang. Perhatikan, India memakai judul bahasa India untuk program
itu. Empat orang mantan Ratu Dunia asal India terjun ke dunia film:
Lara Dutta, Sushmita Sen,Aishwarya Rai, Priyanka Chopra.Aishwarya Rai
telah ikut bermain di dalam film Hollywood.










Sebelumnya beberapa aktor
dan aktris India juga telah bermain di Hollywood. Satyajit Ray,
sutradara film Father Panchali dan Aparajito,telah lama menempati
posisi terhormat di dunia film internasional.










***










Bagaimana
dengan keadaan dunia perfilman kita? Industri film kita telah mengalami
beberapa kali pasang surut. Dari era Usmar Ismail ke era Asrul Sani,
Syuman Djaja,Wim Umboh, Teguh Karya,Slamet Raharjo, Sophan
Sophian,Garin Nugroho hingga era Rudi Sujarwo. Dari era Raden Mohtar,
Bambang Hermanto, Chitra Dewi,Titin Sumarni,ke era Sukarno M Noor,
Rahmat Hidayat, Lenny Marlina, Widyawati, Benyamin, Deddy Mizwar,
Christine Hakim,Warkop hingga ke era Rano Karno,Tora Sudiro, dan Dian
Sastrowardoyo.











Cukup lama film layar lebar istirahat karena
dikalahkan oleh sinetron. Ada beberapa sinetron yang bagus dan
menghibur serta mendidik seperti serial Losmen, serial Si Doel Anak
Sekolahan, Mahkamah.Namun,kini sinetron yang ada umumnya tidak bermutu.
Film layar lebar yang bagus adalah produksi era masa lalu yang cukup
lama seperti November 1828, Cut Nyak Dien, Apa Yang Kau Cari Palupi?,
Nagabonar, dan Kejarlah Daku Kau Kutangkap.










Film-film tahun
1950-an juga banyak yang bagus. Sayangnya secara komersial film-film
itu tidak semua menggembirakan sehingga produser sulit untuk bertahan.
Beberapa tahun terakhir film layar lebar mulai mendapat pasar yang
lumayan dengan munculnya film Jelangkung, Ada Apa Dengan Cinta?,
Petualangan Sherina, Gie, Berbagi Suami, dan beberapa film lain.










Terakhir
ialah film AAC yang fenomenal. Beberapa film diikutsertakan di dalam
festival bergengsi di luar negeri, tetapi belum berhasil.Usaha itu
patut dihargai. Perkembangan terakhir yang menyedihkan ialah
pertengkaran dan konflik antara insan muda perfilman Indonesia dengan
para seniornya berkaitan dengan penyelenggaraan festival film Indonesia
sehingga para insan muda industri film itu beramairamai mengembalikan
Piala Citra yang telah mereka terima.Peristiwa itu sungguh membuat kita
prihatin. Perlu ada win-win solution.










***










Kita perlu kerja
keras bersamasama untuk mengembangkan industri film Indonesia sehingga
dapat menjadi salah satu industri yang memberi sumbangsih nyata bagi
kemajuan ekonomi Indonesia. Pemerintah perlu memberi dukungan nyata
terhadap industri film nasional kita. Kita harus memulai langkah nyata
untuk membuat film yang baik lalu kita ekspor.










Saya yakin kita
punya kemampuan untuk itu tetapi mengalami hambatan kurangnya
pendanaan.Kita punya banyak materi yang dapat menjadi bahan cerita yang
baik. Untuk membuat skenario bisa dikerahkan tenaga terbaik yang
ada,kalau perlu dengan meminta asistensi dari luar negeri supaya bisa
memenuhi selera pasar.Sutradara dan tenaga lain juga cukup tersedia.










Secara
bertahap kita mulai memproduksi, dari lima film per tahun hingga
akhirnya mencapai puluhan film per tahun. Industri film Indonesia
selama ini tidak mendapat bantuan dana dari pemerintah.Tidak ada
salahnya pemerintah membantunya seperti membantu dunia olahraga.
Bantuan bisa diberikan 50 miliar per tahun untuk memproduksi sekitar
lima film dan 10 miliar untuk upaya memasarkan.










Kalau ada hasil
positif bisa ditingkatkan secara bertahap.Salah satu nilai positif
manusia Indonesia menurut Mohtar Lubis ialah jiwa seni. Kita bisa
memanfaatkan hal itu seoptimal mungkin.Kita harus bekerja profesional,
tidak boleh ada KKN atau sistem koneksi.Semua harus terbuka dan
transparan. Industri film India maju karena masyarakat India mendukung
dan mencintai film nasional mereka.










Film Barat menjadi tamu di
India. Tuan rumahnya ialah film India.Apakah mungkin menumbuhkan
dukungan, apresiasi, dan rasa cinta masyarakat Indonesia terhadap film
Indonesia seperti mereka mencintai tim bulutangkis yang meraih Piala
Thomas? Sulit untuk menjawab pertanyaan itu.(*)








KH. Salahuddin Wahid
Budayawan, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang  
Kliping dari Koran SINDO

Copyright © 2013 Blog Backup Buntet Pesantren. WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
back to top