Walikota lan DPRD Crebon Ditagih Duit

Walikota lan DPRD Crebon Ditagih Duit

Posted by Unknown  |  at  3:05 PM



 



demoOleh: Engku



MAU ESOK ning Crebon remee por. Rame-rame kuen dudu tawuran atawa
demo apamaning gulet antara tukang beca karo tukang ojek sing pernah
rusuh di kota Cerbon. Tapi wong sing pada demo kuen wong kang dadi
pegawe atawa guru bli tetap pada nekani Walikota lan DPRD Crebon. Jumlahe blikira-kira akehe ana 379 Pegawai Tidak
Tetap (PTT) di lingkungan
pemerintah Kota Cirebon.




 



 




Tapi hebate wong Crebon, beda karo
wong Jakarta-an. Demo sih demo akeh sih akeh, tapi wong sing jumlahe 379
kuen mung diwakili  cuma 12 uwong sing ngadep penggede DPRD lan Wakil
Walikota Cirebon ning tempat kerjae.


 



Nah, mau
esok Rebo, 2 Juli kuh, wong rolas kuen nunjuk tukang ngomonge (juru
bicara ya dudu juru kunci) sing diarani Forum PTT Kota Cirebon, araane
mang Edi
Sumitro. Deweka kuh toli ngomong ning wartawan,  jareene jeh, tekae
ning instansi DPRD kuh, kanggo nakoni dasar hukum ngapa jeh, gaji
kaping telulas (gaji ke-13) kuh durung ditrima ning PTT, sementara PNS
sih wis nrima.



 



"Tahun-tahun sedurunge kita wis pada nrima gaji kaping telulas. Padahal jumlahe ana 1500
PTT. Toli jeh, sekie kuh, cuma 379 PTT kang kesisa,
Pemkot Cirebon kuh bli ngetokaken gaji ke-13," jarene mang Edi Sumitro.



 



Terusan maing  Mang Edi ngarepaken pisang jeh, para PTT kuh kih  ana
kebijakan sing walikota ambiran gaji
ke-13 kuh bisa mudun lan dibagiaken. Sebabe, sekie kuh lagi dibutuhaken
pisan kanggo ngadepi munggae rega-rega sing pada mencelat menduwur,
beli sih.




"Ari tahun-tahun bengien sih, dana gaji ke-13 bagi PTT kuh bisa
dijukut ning pos endi bae seperti kota/ kabupaten kang wis cair, tapi
jeh, Kota Cirebon
bae kang durung mettu kuh, lah kejendelan ning endi kieh kuh. " imbuh
mang Edi.




Ya melas yah wong semono akehe kujeh bli bisa oli gaji ke-13.
Meskipun angka 13 kuh jare angka sial tapi ya tetep bae jeh arane gan
gaji. Kan seperti kanggo sate, lamon langka gajie kan blenak. Nah,
mangkae Walikota aja mengkonon sih, melas kujeh ning wong kang wis
berbakti kanggo nusa lan bangsa terus gajie bli diupai. Apa beli weruh
tah ning sabdae Kanjeng Nabi Muhammad saw, upaena ongkose wong kang
kerja sedurunge kringete garing... :)




 



 


Walikota lan DPRD Crebon Ditagih Duit

Walikota lan DPRD Crebon Ditagih Duit

Posted by Unknown  |  at  3:05 PM



 



demoOleh: Engku



MAU ESOK ning Crebon remee por. Rame-rame kuen dudu tawuran atawa
demo apamaning gulet antara tukang beca karo tukang ojek sing pernah
rusuh di kota Cerbon. Tapi wong sing pada demo kuen wong kang dadi
pegawe atawa guru bli tetap pada nekani Walikota lan DPRD Crebon. Jumlahe blikira-kira akehe ana 379 Pegawai Tidak
Tetap (PTT) di lingkungan
pemerintah Kota Cirebon.




 



 




Tapi hebate wong Crebon, beda karo
wong Jakarta-an. Demo sih demo akeh sih akeh, tapi wong sing jumlahe 379
kuen mung diwakili  cuma 12 uwong sing ngadep penggede DPRD lan Wakil
Walikota Cirebon ning tempat kerjae.


 



Nah, mau
esok Rebo, 2 Juli kuh, wong rolas kuen nunjuk tukang ngomonge (juru
bicara ya dudu juru kunci) sing diarani Forum PTT Kota Cirebon, araane
mang Edi
Sumitro. Deweka kuh toli ngomong ning wartawan,  jareene jeh, tekae
ning instansi DPRD kuh, kanggo nakoni dasar hukum ngapa jeh, gaji
kaping telulas (gaji ke-13) kuh durung ditrima ning PTT, sementara PNS
sih wis nrima.



 



"Tahun-tahun sedurunge kita wis pada nrima gaji kaping telulas. Padahal jumlahe ana 1500
PTT. Toli jeh, sekie kuh, cuma 379 PTT kang kesisa,
Pemkot Cirebon kuh bli ngetokaken gaji ke-13," jarene mang Edi Sumitro.



 



Terusan maing  Mang Edi ngarepaken pisang jeh, para PTT kuh kih  ana
kebijakan sing walikota ambiran gaji
ke-13 kuh bisa mudun lan dibagiaken. Sebabe, sekie kuh lagi dibutuhaken
pisan kanggo ngadepi munggae rega-rega sing pada mencelat menduwur,
beli sih.




"Ari tahun-tahun bengien sih, dana gaji ke-13 bagi PTT kuh bisa
dijukut ning pos endi bae seperti kota/ kabupaten kang wis cair, tapi
jeh, Kota Cirebon
bae kang durung mettu kuh, lah kejendelan ning endi kieh kuh. " imbuh
mang Edi.




Ya melas yah wong semono akehe kujeh bli bisa oli gaji ke-13.
Meskipun angka 13 kuh jare angka sial tapi ya tetep bae jeh arane gan
gaji. Kan seperti kanggo sate, lamon langka gajie kan blenak. Nah,
mangkae Walikota aja mengkonon sih, melas kujeh ning wong kang wis
berbakti kanggo nusa lan bangsa terus gajie bli diupai. Apa beli weruh
tah ning sabdae Kanjeng Nabi Muhammad saw, upaena ongkose wong kang
kerja sedurunge kringete garing... :)




 



 


Kemiskinan dan Kekuatan

Kemiskinan dan Kekuatan

Posted by Unknown  |  at  1:02 PM

kemiskinanOleh: Man Khozin dkk.
(Komunitas Banyu Bening)



Berdasarkan data jumlah keluarga miskin di seluruh Indonesia adalah 15, 5 juta  kk atau setara dengan 62 juta orang (Media Indonesia, September 2005). Berdasar data BPS , jumlah penduduk miskin di Indonesia per Maret 2008 mencapai 34,96 juta jiwa (15,42%), Sedangkan menurut Bank Dunia (data orang luar nih yah)) tingkat kemiskinan di Indonesia yakni sekitar 49,5%. Fantastis! Tapi kemiskinan itu bisa menjadi kekuatan yang tersembunyi. Faktanya, banyak dari mereka lebih tahan terhadap godaan keserakahan dan menerima apa adanya.




Di saat kemiskinan masih menjadi hiasan dunia ini, maka sebenarnya jika
kita telusuri, orang-orang yang dianggap marjinal ini sebenarnya
memiliki kekuatan yang luar biasa. Daya tahan hidupnya, semangat
mempertahankan pekerjaanya bahkan dengan kemiskinan itu seakan mereka
tak terpengaruh dengan segudang orasi pengentasan kemiskinan dari
pemerintah namun masih memble.


Ungkapan bijak: "Kaadal fakru an yakunal kufra" seakan-akan dekat sekali orang miskin
itu dengan kekufuran. Mencermati hadits tersebut, kita sebenarnya tidak
perlu kemudian mengutuk kemiskinan adalah bagian dari sebuah kenistaan.
Faktanya, bukankah sebagian dari masyarakat Indonesia adalah miskin,
apalagi mereka-mereka yang tinggal di pedesaan. Namun mereka hidup
biasa-biasa saja, tidak mempertontonkan kemiskinan baik melalui protes
kepada pemerintah maupun menjadi peminta-minta.

Sebaliknya, bila kita menengok kehidupan kota, justru orang-orang yang
jahat, yang akrab dengan dunia hitam lahir bukan dari kalangan miskin
tetapi orang-orang yang kadang hidup bergelimpangan harta. Bukankah
contoh nyata, saat ini tengah dicecar oleh KPK bagaiman anggota dewan
yang terhormat juga terlibat korupsi, belum lagi para mafia peradilan,
para cukong BLBI dan lain-lain. Apakah mereka orang-orang miskin?
Bohong kalau mereka itu miskin.

Lalu dimana letak hakekat "kemiskinan" yang dimaksud ungkapan bahwa
orang miskin dekat dengan kekufuran. Menurut keterangan beberapa kyai
bahwa kemiskinan dan kekayaan merupakan dua sisi mata uang. Saat miskin
berarti tengah dicoba dengan ketidakadaan materi, sementara saat kaya,
maka kekayaan itu juga sebagai sebuah cobaan.

Karenaanya lanjut kyai kami di Buntet mengatakan bahwa Rasulullah saw
justru memuji orang-orang yang beriman dimana dalam sebuah hadits
shoheh diceritakan:

"Suatu ketika Rasulullah saw duduk bersama para sahabatnya tiba-tiba
tertawa. Beliau bertanya: "Ada yang mau tau  mengapa saya tertawa?"
Lalu para sahabat bertanya: "Kenapa Rasulullah tertawa?" "Aku kagum
dengan orang beriman; semua perbuatannya dijadikan kebaikan: Jika
mereka mendapatkan kebaikan (kenikmatan) mereka memuji Allah; Jika
tekena musibah (kemiskinan dll) yang tidak disukainya, mereka bersabar,
maka jadi kebaikan buatnya. Sehingga semua  masalah yang menimpa
orang-orang mukmin semuanya menjadi kebaikan."
(Kitab Sunan Ahmad hadits no. 22804)

Dari ungkapan hadits tersebut benarlah ungkapan para kyai di sini,
bahwa dalam ajaran agama Islam antara kemiskinan dan kekayaan bukankah
dua sisi yang berbeda melainkan dua sisi yang saling melengkapi. Tidak
ada kaitannya antara keimanan dengan kekuatan harta itu sendiri. Miskin
hanyalah sebuah roda yang tengah berada di bawah sementara kaya berarti
tengah berada di atas. Masing-masing kemudian akan berganti dengan
siklusnya apakah di dunia ataupun diakahirat.



Miskin dan Serakah

Sebenarnya kemiskinan itu menjadi masalah, dimana letak masalahnya.
Pemerintah gencar sekali mengusahakan agar kemiskinan berkurang. Sejak
krisis BBM 2005 harga BBM naik sudah terasa sekali daya beli masyarakat
rendah. Kemudian BLT dibuatkan prioritas untuk mereka, namun ternyata
keserakahan yang memainkan harga sehingga BLT, BOSS (bantuan
pendidikan) ataupun JPS (jaring pengaman sosial) tetapi tidak mampu
melawan keserakahan orang-orang yang bermain di bidang makanan yang
berurusan dengan orang miskin.

Upaya pemerintah dalam mengentaskan kemiksinan memang tidak
setengah-setengah namun juga tidak pernah penuh alias masih tanggung.
Tidak setengah-setenah karena memang benar BLT dibagikan, kesehatan
dibantu kemudian sekolah digratiskan. Namun dibilang tidak penuh, alias
setengah-setenah juga, karena pemerintah tidak berhasil mengatasi
spekulan-spekulan yang memainkan harga-harga kaum marginal. Akibatnya
bisa ditebak, semakin miskinlah mereka.

Lalu apa gunanya pemerintah dalam hal ini? apakah dengan naiknya BBM
kemudian konpensasi dibagikan ke semua orang miskin itu tuntas? tidak!
betapa banyaknya warga miskin semakin terpuruk dan terpukul dengan
keadaan ini. Saat gas dibagikan sebagai konversi dari minyak tanah,
namun kini buru-buru para spekulan menaikkan harga Gas hingga
pemerintahpun tidak mampu mengatasi. Jadi makin apatis saja rakyat yang
"dimiskinkan" ini.

Keserakahan justru akan memiskinkan bukan justru memperkaya.
Keserakahan mau tidak mau harus diberantas. Apakah itu di pemerintahan
sendiri maupun di kalangan pebisnis yang menggoyang ekonomi negara.


Miskin dan Kekuatan

Sekali lagi kami katakan orang-orang miskin di desa seperti di sini,
memiliki kekuatan mental yang luar biasa. Mereka meski kembang kempis
tetapi bekerja mencangkul, menarik becak menarik ojek atau pekerjaan
sambilan seperti para janda mencuci pakaian keluarga kyai, atau
keluarga lainnya. Mereka tetap bertahan meskipun tidak pernah tersentuh
dengan BLT, JPS maupun BOSS. Mereka bahwa tidak mengerti apakah punya
pemerintah ataupun tidak. Apakah presiden itu lanang atawa wadon,
presiden itu dari tentara ataupun dari kyai. Mereka selalu menjadi
untouchtable.

Dalama arti lain, tanpa pemerintahpun sebenarnya mereka sudah "kaya
raya". Jadi ada keanehan. Kaum miskin yang harusnya butuh pemerintah tapi kenyataan
berkata lain, justru kaum miskinlah yang dibutuhkan oleh pemerintah.
Untuak apa pemerintah membutuhkan orang miskin. Lihat saja saat  mereka ramai-ramai sebelum menjadi bagian dari pemerintah. Mereka awalnya berkampanye dengan sederatan nama-nama partai baru yang berjanji akan bekerja untuk
menbatu rakyat miskin.

Visi misinya dibuat sedemikian rupa sehingga seolah-olah mereka ada untuk rakyat Indonesia. Sayangnya begitu menang, tetap saja si miskin yang telah memilih itu tak
berubah nasibnya.  Namun yang berubah nasib adalah sang politikus itu sendiri. Jadi benar kan, kalau si miskin itulah yang
membantu orang-orang yang duduk di pemerintahan. Dalam kata lain mereka
memiliki kekuatan, sementara para politikus justru miskin dan
menghiba-hiba agar dipilih sebagai pemimpin mereka.

Bahkan bila sudah selesai pesta politik yang hingar-bingar itu, mereka
bekerja tanpa jaminan apa-apa dari pemerintah. Mereka tetap
mencangkul,  menarik becak, nyupir berdagang kaki-lima dan lain-lain.
Sementara bila mereka sakit tetap harus mengeluarkan ongkos biaya yang
besar. Sementara lihat saja, orang-orang yang duduk di pemerintahan
atau para pegawainya, mereka dijamin bebas berbelanja, berobat dan
mendapatkan fasilitas negara dengan begitu saja. Belum lagi saat
meninggal, maka jaminan untuk keluarganya tetap mendapat warisan jatah
hingga tujuh turunan.


Miskin Faktual dan Hakekat
Dalam tradisi pengajian yang diadakan dipesantrten kita bisa melihat apa definisi kemiskinan dalam ajaran agama.

 “Sesungguhnya orang yang miskin adalah orang yang tak pernah merasa
cukup”. Banyak orang yang berpotensi atau berpeluang memperkaya diri,
tapi tidak mau melakukannya. Rasulullah dan khalifah, adalah teladan
umatnya. Muhammad SAW, sang pemimpin dunia malah berdoa pada Allah agar
“dimiskinkan”. Kebanyakan penduduk surga kata Rosul adalah kalangan
miskin. “Dan beliau bersama merka bagaikan dua jari yang saling
berdekatan”. “Kalau kemiskinan  berwujud seperti manusia, akan dibunuh”
kata Saydina Ali seorang imam dan pemimpin negara yang tetap miskin,
tapi benci kemiskinan. Kenapa? Ya, karena hakekat kemiskinan adalah
merasa kurang cukup.  Khalifah Umar, pemimpin negara penakluk Romawi,
hidup dengan roti kering dan pakaian penuh tambalan. Secara faktual
beliau miskin, tapi hakikatnya kaya. Toh beliau merasa cukup dan tidak
berupaya memperkaya diri dengan kekuasaan.

Sebaliknya, para konglomerat pada hakikatnya miskin. Sebab, nafsu
serakahnya selalu merasa kekurangan. Tak puas dengan mengisap bumi, air
dan kekayaan yang terkandung di dalamnya, mereka pun menghisap darah,
keringat dan air mata manusia. BBM diselundupkan, hutan dilalap, pulau
dijual, dsb.

Rasulullah bersabda:
“Akan datang suatu jaman dimana orang tak peduli apakah harta yang diperolehnya halal atau haram” (HR. Bukhari).
“Barang siapa mengumpulkan harta dengan cara tidak benar, Allah akan
memusnahkannya dengan banjir dan tanah longsor”(HR. Al-Baihaqi).

“Jangan kagum terhadap orang yang memperoleh harta secara haram.
Sesungguhnya bila dia bersedekah atau menafkahkannya, itu tidak
diterima Allah, dan bila disimpan tidak berkah. Bila tersisa pun
hartanya akan jadi bekalnya di neraka” (HR. Abu Dawud)

Akhirnya, meski mereka itu miskin dan pemerintah meneng bae, jangan kaget kalau mereka itu baik hati, fikir dan dzikirnya tetap hidup seiring dengan nafas kehidupan mereka. Karenanya, layak kita ungkapkan Subhanallah....
HIDUP RAKYAT INDONESIA..MERDEKA

----------------------------------------------------------------------------------------------

eningKomunitas Banyu Bening adalah kumpulan warga Muda di Buntet Pesantren yang peduli terhadap komunitas warga yang sangat membutuhkan. Programnya adalah mereka membantu para fuqoro masakin saat mereka sakit, meninggal dan juga kebutuhan-kebutuhan yang langsung menyentuh mereka.

KOMUNITAS BANYU BENING berawal dari rasa keprihatinan tentang sampah yang ada di Buntet Pesantren yang tidak terkelola dengan baik, sampah asrama, dan sampah warga yang dibuang di kebon-kebon, dan bntaran sungai yg cukup mengganggu pemandangan, penciumn, dan kesehatan.

Kegiatan lain yang akan dilakukn KOMUNITAS BANYU BENING seperti : pengobatan gratis untuk balita untuk yang tidak mampu ke bidan, pemeberian pinjaman untuk pedagang kecil di Buntet Pesantren Cirebon. Juga mengusahakan dana kerohiman untuk penajaga makbaroh (kuburan), membikin usaha dagangan dan keuntunganya untuk mendanai kegiatan. Contoh membuat counter HP utk membiayai kesehatan balita.

BANYU BENING bekerja sama dengan YLPI BPC. Personilnya terdiri dari
Man Khozin, Man Munir, Man Asep, Man Syamsudin becak, Maksus dan Adi.

Kami ingin terus eksis dalam menangani masalah sosial kemasyarakatan karenanya dukungan moral, dana dan apapun kami sangat membutuhkan. Silahkan hubungi langsung personil BanyuBening atau YLPI BPC, atau email ke banyubeningbpc.komunitas45@gmail.com










Kemiskinan dan Kekuatan

Kemiskinan dan Kekuatan

Posted by Unknown  |  at  1:02 PM

kemiskinanOleh: Man Khozin dkk.
(Komunitas Banyu Bening)



Berdasarkan data jumlah keluarga miskin di seluruh Indonesia adalah 15, 5 juta  kk atau setara dengan 62 juta orang (Media Indonesia, September 2005). Berdasar data BPS , jumlah penduduk miskin di Indonesia per Maret 2008 mencapai 34,96 juta jiwa (15,42%), Sedangkan menurut Bank Dunia (data orang luar nih yah)) tingkat kemiskinan di Indonesia yakni sekitar 49,5%. Fantastis! Tapi kemiskinan itu bisa menjadi kekuatan yang tersembunyi. Faktanya, banyak dari mereka lebih tahan terhadap godaan keserakahan dan menerima apa adanya.




Di saat kemiskinan masih menjadi hiasan dunia ini, maka sebenarnya jika
kita telusuri, orang-orang yang dianggap marjinal ini sebenarnya
memiliki kekuatan yang luar biasa. Daya tahan hidupnya, semangat
mempertahankan pekerjaanya bahkan dengan kemiskinan itu seakan mereka
tak terpengaruh dengan segudang orasi pengentasan kemiskinan dari
pemerintah namun masih memble.


Ungkapan bijak: "Kaadal fakru an yakunal kufra" seakan-akan dekat sekali orang miskin
itu dengan kekufuran. Mencermati hadits tersebut, kita sebenarnya tidak
perlu kemudian mengutuk kemiskinan adalah bagian dari sebuah kenistaan.
Faktanya, bukankah sebagian dari masyarakat Indonesia adalah miskin,
apalagi mereka-mereka yang tinggal di pedesaan. Namun mereka hidup
biasa-biasa saja, tidak mempertontonkan kemiskinan baik melalui protes
kepada pemerintah maupun menjadi peminta-minta.

Sebaliknya, bila kita menengok kehidupan kota, justru orang-orang yang
jahat, yang akrab dengan dunia hitam lahir bukan dari kalangan miskin
tetapi orang-orang yang kadang hidup bergelimpangan harta. Bukankah
contoh nyata, saat ini tengah dicecar oleh KPK bagaiman anggota dewan
yang terhormat juga terlibat korupsi, belum lagi para mafia peradilan,
para cukong BLBI dan lain-lain. Apakah mereka orang-orang miskin?
Bohong kalau mereka itu miskin.

Lalu dimana letak hakekat "kemiskinan" yang dimaksud ungkapan bahwa
orang miskin dekat dengan kekufuran. Menurut keterangan beberapa kyai
bahwa kemiskinan dan kekayaan merupakan dua sisi mata uang. Saat miskin
berarti tengah dicoba dengan ketidakadaan materi, sementara saat kaya,
maka kekayaan itu juga sebagai sebuah cobaan.

Karenaanya lanjut kyai kami di Buntet mengatakan bahwa Rasulullah saw
justru memuji orang-orang yang beriman dimana dalam sebuah hadits
shoheh diceritakan:

"Suatu ketika Rasulullah saw duduk bersama para sahabatnya tiba-tiba
tertawa. Beliau bertanya: "Ada yang mau tau  mengapa saya tertawa?"
Lalu para sahabat bertanya: "Kenapa Rasulullah tertawa?" "Aku kagum
dengan orang beriman; semua perbuatannya dijadikan kebaikan: Jika
mereka mendapatkan kebaikan (kenikmatan) mereka memuji Allah; Jika
tekena musibah (kemiskinan dll) yang tidak disukainya, mereka bersabar,
maka jadi kebaikan buatnya. Sehingga semua  masalah yang menimpa
orang-orang mukmin semuanya menjadi kebaikan."
(Kitab Sunan Ahmad hadits no. 22804)

Dari ungkapan hadits tersebut benarlah ungkapan para kyai di sini,
bahwa dalam ajaran agama Islam antara kemiskinan dan kekayaan bukankah
dua sisi yang berbeda melainkan dua sisi yang saling melengkapi. Tidak
ada kaitannya antara keimanan dengan kekuatan harta itu sendiri. Miskin
hanyalah sebuah roda yang tengah berada di bawah sementara kaya berarti
tengah berada di atas. Masing-masing kemudian akan berganti dengan
siklusnya apakah di dunia ataupun diakahirat.



Miskin dan Serakah

Sebenarnya kemiskinan itu menjadi masalah, dimana letak masalahnya.
Pemerintah gencar sekali mengusahakan agar kemiskinan berkurang. Sejak
krisis BBM 2005 harga BBM naik sudah terasa sekali daya beli masyarakat
rendah. Kemudian BLT dibuatkan prioritas untuk mereka, namun ternyata
keserakahan yang memainkan harga sehingga BLT, BOSS (bantuan
pendidikan) ataupun JPS (jaring pengaman sosial) tetapi tidak mampu
melawan keserakahan orang-orang yang bermain di bidang makanan yang
berurusan dengan orang miskin.

Upaya pemerintah dalam mengentaskan kemiksinan memang tidak
setengah-setengah namun juga tidak pernah penuh alias masih tanggung.
Tidak setengah-setenah karena memang benar BLT dibagikan, kesehatan
dibantu kemudian sekolah digratiskan. Namun dibilang tidak penuh, alias
setengah-setenah juga, karena pemerintah tidak berhasil mengatasi
spekulan-spekulan yang memainkan harga-harga kaum marginal. Akibatnya
bisa ditebak, semakin miskinlah mereka.

Lalu apa gunanya pemerintah dalam hal ini? apakah dengan naiknya BBM
kemudian konpensasi dibagikan ke semua orang miskin itu tuntas? tidak!
betapa banyaknya warga miskin semakin terpuruk dan terpukul dengan
keadaan ini. Saat gas dibagikan sebagai konversi dari minyak tanah,
namun kini buru-buru para spekulan menaikkan harga Gas hingga
pemerintahpun tidak mampu mengatasi. Jadi makin apatis saja rakyat yang
"dimiskinkan" ini.

Keserakahan justru akan memiskinkan bukan justru memperkaya.
Keserakahan mau tidak mau harus diberantas. Apakah itu di pemerintahan
sendiri maupun di kalangan pebisnis yang menggoyang ekonomi negara.


Miskin dan Kekuatan

Sekali lagi kami katakan orang-orang miskin di desa seperti di sini,
memiliki kekuatan mental yang luar biasa. Mereka meski kembang kempis
tetapi bekerja mencangkul, menarik becak menarik ojek atau pekerjaan
sambilan seperti para janda mencuci pakaian keluarga kyai, atau
keluarga lainnya. Mereka tetap bertahan meskipun tidak pernah tersentuh
dengan BLT, JPS maupun BOSS. Mereka bahwa tidak mengerti apakah punya
pemerintah ataupun tidak. Apakah presiden itu lanang atawa wadon,
presiden itu dari tentara ataupun dari kyai. Mereka selalu menjadi
untouchtable.

Dalama arti lain, tanpa pemerintahpun sebenarnya mereka sudah "kaya
raya". Jadi ada keanehan. Kaum miskin yang harusnya butuh pemerintah tapi kenyataan
berkata lain, justru kaum miskinlah yang dibutuhkan oleh pemerintah.
Untuak apa pemerintah membutuhkan orang miskin. Lihat saja saat  mereka ramai-ramai sebelum menjadi bagian dari pemerintah. Mereka awalnya berkampanye dengan sederatan nama-nama partai baru yang berjanji akan bekerja untuk
menbatu rakyat miskin.

Visi misinya dibuat sedemikian rupa sehingga seolah-olah mereka ada untuk rakyat Indonesia. Sayangnya begitu menang, tetap saja si miskin yang telah memilih itu tak
berubah nasibnya.  Namun yang berubah nasib adalah sang politikus itu sendiri. Jadi benar kan, kalau si miskin itulah yang
membantu orang-orang yang duduk di pemerintahan. Dalam kata lain mereka
memiliki kekuatan, sementara para politikus justru miskin dan
menghiba-hiba agar dipilih sebagai pemimpin mereka.

Bahkan bila sudah selesai pesta politik yang hingar-bingar itu, mereka
bekerja tanpa jaminan apa-apa dari pemerintah. Mereka tetap
mencangkul,  menarik becak, nyupir berdagang kaki-lima dan lain-lain.
Sementara bila mereka sakit tetap harus mengeluarkan ongkos biaya yang
besar. Sementara lihat saja, orang-orang yang duduk di pemerintahan
atau para pegawainya, mereka dijamin bebas berbelanja, berobat dan
mendapatkan fasilitas negara dengan begitu saja. Belum lagi saat
meninggal, maka jaminan untuk keluarganya tetap mendapat warisan jatah
hingga tujuh turunan.


Miskin Faktual dan Hakekat
Dalam tradisi pengajian yang diadakan dipesantrten kita bisa melihat apa definisi kemiskinan dalam ajaran agama.

 “Sesungguhnya orang yang miskin adalah orang yang tak pernah merasa
cukup”. Banyak orang yang berpotensi atau berpeluang memperkaya diri,
tapi tidak mau melakukannya. Rasulullah dan khalifah, adalah teladan
umatnya. Muhammad SAW, sang pemimpin dunia malah berdoa pada Allah agar
“dimiskinkan”. Kebanyakan penduduk surga kata Rosul adalah kalangan
miskin. “Dan beliau bersama merka bagaikan dua jari yang saling
berdekatan”. “Kalau kemiskinan  berwujud seperti manusia, akan dibunuh”
kata Saydina Ali seorang imam dan pemimpin negara yang tetap miskin,
tapi benci kemiskinan. Kenapa? Ya, karena hakekat kemiskinan adalah
merasa kurang cukup.  Khalifah Umar, pemimpin negara penakluk Romawi,
hidup dengan roti kering dan pakaian penuh tambalan. Secara faktual
beliau miskin, tapi hakikatnya kaya. Toh beliau merasa cukup dan tidak
berupaya memperkaya diri dengan kekuasaan.

Sebaliknya, para konglomerat pada hakikatnya miskin. Sebab, nafsu
serakahnya selalu merasa kekurangan. Tak puas dengan mengisap bumi, air
dan kekayaan yang terkandung di dalamnya, mereka pun menghisap darah,
keringat dan air mata manusia. BBM diselundupkan, hutan dilalap, pulau
dijual, dsb.

Rasulullah bersabda:
“Akan datang suatu jaman dimana orang tak peduli apakah harta yang diperolehnya halal atau haram” (HR. Bukhari).
“Barang siapa mengumpulkan harta dengan cara tidak benar, Allah akan
memusnahkannya dengan banjir dan tanah longsor”(HR. Al-Baihaqi).

“Jangan kagum terhadap orang yang memperoleh harta secara haram.
Sesungguhnya bila dia bersedekah atau menafkahkannya, itu tidak
diterima Allah, dan bila disimpan tidak berkah. Bila tersisa pun
hartanya akan jadi bekalnya di neraka” (HR. Abu Dawud)

Akhirnya, meski mereka itu miskin dan pemerintah meneng bae, jangan kaget kalau mereka itu baik hati, fikir dan dzikirnya tetap hidup seiring dengan nafas kehidupan mereka. Karenanya, layak kita ungkapkan Subhanallah....
HIDUP RAKYAT INDONESIA..MERDEKA

----------------------------------------------------------------------------------------------

eningKomunitas Banyu Bening adalah kumpulan warga Muda di Buntet Pesantren yang peduli terhadap komunitas warga yang sangat membutuhkan. Programnya adalah mereka membantu para fuqoro masakin saat mereka sakit, meninggal dan juga kebutuhan-kebutuhan yang langsung menyentuh mereka.

KOMUNITAS BANYU BENING berawal dari rasa keprihatinan tentang sampah yang ada di Buntet Pesantren yang tidak terkelola dengan baik, sampah asrama, dan sampah warga yang dibuang di kebon-kebon, dan bntaran sungai yg cukup mengganggu pemandangan, penciumn, dan kesehatan.

Kegiatan lain yang akan dilakukn KOMUNITAS BANYU BENING seperti : pengobatan gratis untuk balita untuk yang tidak mampu ke bidan, pemeberian pinjaman untuk pedagang kecil di Buntet Pesantren Cirebon. Juga mengusahakan dana kerohiman untuk penajaga makbaroh (kuburan), membikin usaha dagangan dan keuntunganya untuk mendanai kegiatan. Contoh membuat counter HP utk membiayai kesehatan balita.

BANYU BENING bekerja sama dengan YLPI BPC. Personilnya terdiri dari
Man Khozin, Man Munir, Man Asep, Man Syamsudin becak, Maksus dan Adi.

Kami ingin terus eksis dalam menangani masalah sosial kemasyarakatan karenanya dukungan moral, dana dan apapun kami sangat membutuhkan. Silahkan hubungi langsung personil BanyuBening atau YLPI BPC, atau email ke banyubeningbpc.komunitas45@gmail.com










Kebudayaan Berbasis Selebriti

Kebudayaan Berbasis Selebriti

Posted by Unknown  |  at  9:13 AM

selebritiOleh: Agus Iswanto



21st century society is all about celebrity

(Thomas C.O Guinn)





 



Di Indonesia, belakangan fenomena jurnalisme selebritis benar-benar sedang mengalami kebangkitan dengan tumbuhnya industri televisi swasta yang semakin memperpanjang jam tayangnya. Karenanya ada semacam keranjingan untuk memberitakan apa pun hal yang dilakukan oleh sosok yang dinamakan selebriti ini, meski, sayangnya, persaingan "industri selebritis" ini tidak disertai kreatifitas insan pertelevisiannya, karena terkesan hanya mengulang-ulang saja dengan isi yang sama. Bahkan ada kecendrungan untuk menayangkan atau membesar-besarkan hal yang remeh-temeh pola para selebriti ini. Siapakah "selebriti" itu?



 









Selebriti adalah suatu kategori sosiologis yang bisa dikatakan unik,
mengapa? Karena mereka dapat menjadi ekspresi diri yang pada saat yang
sama pula mampu menjadi pembangkit aspirasi bagi para konsumen,
sehingga bisa dikatakan sebagai "heroic image"sebagaimana kata Daniel
Boorstin.





 



Para selebriti bisa membantu dalam pembentukan identitas dari para
konsumen. Sedangkan dalam sebuah budaya konsumen, identitas menjadi
landasan sebuah aksesori. Sehingga kita dapat dengan mudah menyaksikan
para anak muda dengan gaya yang diimajinasi para selebritis itu.





 



Maka, tak heran, orang menjadi keranjingan untuk selalu gonta-ganti
mode, dari masalah pakaian hingga model handphone, bahkan budaya
hangout atau budaya "mengisi waktu luang" menjadi sangat booming di
kalangan anak-anak muda, malah bukan hanya anak muda. Inilah yang
kemudian melahirkan generasi yang diilhami oleh selebriti
(celebrity-inspired identity), sehingga memunculkan apa yang disebut
dengan budaya berbasiskan selebriti (celebrity-based culture).





 



Selebriti dalam budaya konsumen adalah sebagai agen public
relations, yang sengaja diciptakan oleh media populer, utamanya
televisi. Sehingga selebriti adalah juga sebuah pencitraan produk atau
sebuah image yang diciptakan. Media sekarang lebih senang untuk
menciptakan tokoh-tokoh, bintang-bintang, atau para selebritis
tersebut, yang kemudian lalu dapat sewaktu-waktu bisa dihempaskan
begitu saja seiring pergantian gaya atau mode yang baru. Implikasinya
apa? Jarang sekali perhatian diberikan kepada para ilmuan, sastrawan,
atau seorang pendidik, karena profesi-profesi ini tidak menghasilkan
keuntungan bagi media yang menciptakan.





 




Pembebasan Gaya Hidup



Apa yang saya uraiakan di atas sekadar memberikan sebuah fenomena
yang sedang terjadi. Yakni sebuah fenomena dari akibat lain mata rantai
masa yang dinamakan dengan era posmodern, yang ditandai salah satunya
dengan ciri subjektifitas individu.





 



Subjektifitas inilah yang kemudian menyemaikan gaya hidup seseorang.
Tak lebih dari itu, masalahnya kemudian adalah jika subjektifitas itu
lalu ditentukan oleh hegemoni kapitalis media demi meraup keuntungan.
Citra diri sengaja diciptakan untuk menyetir gaya hidup, sehingga gaya
hidup menjadi ladang eksploitasi ranah sifat-sifat kemanusiaan itu
sendiri. Pada titik ini, maka bagi sebagian orang lalu berseru untuk
menolak posmodern yang memang sengaja diciptakan dan didengungkan oleh
hegemoni kapitalisme.





 



Apa yang mungkin dilakukan untuk mengembalikan nilai-nilai
kemanusiaan dalam konteks persemaian gaya hidup itu? Yakni
mengembalikan gaya hidup sebagai sebuah upaya eksistensial ketimbang
sebagai alat pemenuhan pasar. Pengembalian gaya hidup sebagai upaya
eksistensial, berarti juga mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan
kembali. Dan itu pula sebagai upaya pembebasan gaya hidup.






 



A gus Iswanto, alumni Buntet Pesantren Cirebon, tinggal dan belajar di Yogyakarta


Kebudayaan Berbasis Selebriti

Kebudayaan Berbasis Selebriti

Posted by Unknown  |  at  9:13 AM

selebritiOleh: Agus Iswanto



21st century society is all about celebrity

(Thomas C.O Guinn)





 



Di Indonesia, belakangan fenomena jurnalisme selebritis benar-benar sedang mengalami kebangkitan dengan tumbuhnya industri televisi swasta yang semakin memperpanjang jam tayangnya. Karenanya ada semacam keranjingan untuk memberitakan apa pun hal yang dilakukan oleh sosok yang dinamakan selebriti ini, meski, sayangnya, persaingan "industri selebritis" ini tidak disertai kreatifitas insan pertelevisiannya, karena terkesan hanya mengulang-ulang saja dengan isi yang sama. Bahkan ada kecendrungan untuk menayangkan atau membesar-besarkan hal yang remeh-temeh pola para selebriti ini. Siapakah "selebriti" itu?



 









Selebriti adalah suatu kategori sosiologis yang bisa dikatakan unik,
mengapa? Karena mereka dapat menjadi ekspresi diri yang pada saat yang
sama pula mampu menjadi pembangkit aspirasi bagi para konsumen,
sehingga bisa dikatakan sebagai "heroic image"sebagaimana kata Daniel
Boorstin.





 



Para selebriti bisa membantu dalam pembentukan identitas dari para
konsumen. Sedangkan dalam sebuah budaya konsumen, identitas menjadi
landasan sebuah aksesori. Sehingga kita dapat dengan mudah menyaksikan
para anak muda dengan gaya yang diimajinasi para selebritis itu.





 



Maka, tak heran, orang menjadi keranjingan untuk selalu gonta-ganti
mode, dari masalah pakaian hingga model handphone, bahkan budaya
hangout atau budaya "mengisi waktu luang" menjadi sangat booming di
kalangan anak-anak muda, malah bukan hanya anak muda. Inilah yang
kemudian melahirkan generasi yang diilhami oleh selebriti
(celebrity-inspired identity), sehingga memunculkan apa yang disebut
dengan budaya berbasiskan selebriti (celebrity-based culture).





 



Selebriti dalam budaya konsumen adalah sebagai agen public
relations, yang sengaja diciptakan oleh media populer, utamanya
televisi. Sehingga selebriti adalah juga sebuah pencitraan produk atau
sebuah image yang diciptakan. Media sekarang lebih senang untuk
menciptakan tokoh-tokoh, bintang-bintang, atau para selebritis
tersebut, yang kemudian lalu dapat sewaktu-waktu bisa dihempaskan
begitu saja seiring pergantian gaya atau mode yang baru. Implikasinya
apa? Jarang sekali perhatian diberikan kepada para ilmuan, sastrawan,
atau seorang pendidik, karena profesi-profesi ini tidak menghasilkan
keuntungan bagi media yang menciptakan.





 




Pembebasan Gaya Hidup



Apa yang saya uraiakan di atas sekadar memberikan sebuah fenomena
yang sedang terjadi. Yakni sebuah fenomena dari akibat lain mata rantai
masa yang dinamakan dengan era posmodern, yang ditandai salah satunya
dengan ciri subjektifitas individu.





 



Subjektifitas inilah yang kemudian menyemaikan gaya hidup seseorang.
Tak lebih dari itu, masalahnya kemudian adalah jika subjektifitas itu
lalu ditentukan oleh hegemoni kapitalis media demi meraup keuntungan.
Citra diri sengaja diciptakan untuk menyetir gaya hidup, sehingga gaya
hidup menjadi ladang eksploitasi ranah sifat-sifat kemanusiaan itu
sendiri. Pada titik ini, maka bagi sebagian orang lalu berseru untuk
menolak posmodern yang memang sengaja diciptakan dan didengungkan oleh
hegemoni kapitalisme.





 



Apa yang mungkin dilakukan untuk mengembalikan nilai-nilai
kemanusiaan dalam konteks persemaian gaya hidup itu? Yakni
mengembalikan gaya hidup sebagai sebuah upaya eksistensial ketimbang
sebagai alat pemenuhan pasar. Pengembalian gaya hidup sebagai upaya
eksistensial, berarti juga mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan
kembali. Dan itu pula sebagai upaya pembebasan gaya hidup.






 



A gus Iswanto, alumni Buntet Pesantren Cirebon, tinggal dan belajar di Yogyakarta


Sejarah Wahabi (Bagian 1)

Sejarah Wahabi (Bagian 1)

Posted by Unknown  |  at  10:49 AM

sejarah Oleh: M. Zaim Nugroho


MENULIS sejarah Wahabi tidak terlepas dari negara asalanya aliran ini berasal,
yaitu Arab Saudi. Arab Saudi adalah satu-satunya negeri di mana para
ulama masih mendominasi peran perubahan masyarakat. Di negeri ini,
nasionalisme, Pan-Arabisme, Pan-Islamisme, sosialisme Islam, yang
memainkan peran di negeri-negeri Muslim lainnya, tidak punya gaung.
Satu-satunya doktrin yang ditoleransi adalah paham Wahhabiyah. Dengan
itu, Arab Saudi menjadi sebuah kerajaan yang totalitarian, tak kenal
kompromi.



Tidak mengherankan jika kerajaan Saudi memandang
nasionalisme Nasser di Mesir sebagai ancaman langsung terhadap
keberadaannya. Untuk menahan pengaruh Nasser yang makin menguat,
kerajaan Saudi mengulurkan tangannya kepada para aktivis Ikhwanul
Muslimin – tidak saja mereka yang terusir dari Mesir, tetapi juga dari
negara-negara Arab sekular lainnya seperti Syria dan Irak.

Nama
“Wahabisme” dan “Wahabi” berasal dari Muhammad ibn Abd al Wahhab
(1703-1792). Nama ini diberikan orang-orang yang berada di luar gerakan
tersebut, dan kerap kali dengan makna yang terkesan buruk. Kaum Wahabi
sendiri lebih suka istilah al-Muwahhidun atau Ahl al-Tawhid sebagai
nama kelompok mereka. Menurut Algar, penggunaan nama-nama ini
mencerminkan keinginan untuk menggunakan secara eksklusif prinsip
tawhid, yang merupakan landasan Islam itu sendiri.

Pada saat yang sama,
mereka membedakan diri dari seluruh umat Islam yang lain, yang mereka
cap telah melakukan syirik. Akan tetapi, tidak ada alasan menerima
monopoli atas prinsip tawhid tersebtu, dan karena gerakan yang menjadi
pokok pembahasan ini merupakan karya seorang manusia, yakni Muhammad b.
‘Abd al-Wahhab, maka cukup beralasan dan lazim untuk menyebut mereka
“Wahabisme” dan “kaum Wahabi” (Algar, 2003: 1-2).

Dalam sejarah
pemikiran Islam yang telah berlangsung lama dan sangat kaya, Wahabisme
tidak menempati tempat yang begitu penting. Secara intelektual gerakan
ini adalah marjinal, tetapi bernasib baik karena muncul di Semenanjung
Arab (meski di Najd, yang relatif jauh dari semenanjung itu) dan karena
itu dekat dengan Haramayn, yang secara geografis merupakan jantung
dunia Muslim.

Selain itu, dinasti Saudi, yang menjadi patron gerakan
Wahabisme, bernasib baik ketika pada abad keduapuluh mereka memperoleh
kekayaan minyak yang luar biasa, yang sebagiannya digunakan
menyebarluaskan Wahabisme. Jika tidak ada dua faktor tersebut,
Wahabisme mungkin saja hanya dicatat dalam sejarah sebagai gerakan
sektarian yang marjinal dan berumur pendek. Kedua faktor yang sama
pula, yang diperkuat dengan adanya sejumlah kesamaan dengan
kecenderungan-kecenderungan kontemporer lainnya di dunia Islam, telah
menyebabkan Wahabisme dapat bertahan lama. (Algar, 2003: 2)

Sebagai
aliran pemikiran atau sekte tersendiri, Wahabi dicirikan, khususnya
oleh para pengamat non-Muslim yang mencari deskripsi ringkas
mengenainya, sebagai kaum Sunni yang “ekstrem” atau sebagai kaum Sunni
yang “konservatif,” dengan kata-kata sifat seperti “keras” atau “ketat”
ditambahkan di belakangnya, untuk memberikan gambaran yang lebih pasti.
Namun, kalangan Sunni mengamati bahwa kaum Wahabi, sejak pertama kali
aliran mereka dikumandangkan, tidak bisa dimasukkan sebagai bagian dari
Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah. Hal itu karena hampir semua praktik,
tradisi dan keyakinan yang dikecam oleh Muhammad b. `Abd al-Wahhab
sudah lama diakui sebagai bagian integral dari Islam Sunni, diuraikan
dalam banyak sekali literatur dan diterima oleh sebagian besar kaum
Muslim.

Karena alasan ini, banyak ulama yang hidup pada masa ketika
Wahabisme pertama kali dikampanyekan mengecam pendukungnya sebagai
bukan bagian dari Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah. Bahwa sekarang Wahabisme
dipandang sebagai bagian dari Sunni, hal itu menunjukkan bahwa istilah
“Sunni” mulai memperoleh makna yang luar biasa longgar. (Algar, 2003:
2-3)

Karena ketertarikan yang ditunjukkan Muhamad b. ‘Abd al-Wahhab
pada karya-karya Ibn Taymiyah, Wahabisme senantiasa diklaim
mencerminkan kemunculan yang tertunda dari warisan Ibn Taymiyah. Klaim
ini sulit dipertahankan. Apapun pendapat orang tentang posisi atau
sikap Ibn Taymiyah, tidak diragukan bahwa ia adalah pemikir yang jauh
lebih canggih dan produktif dibandingkan dengan Muhammad b. ‘Abd
al-Wahhab. Lebih dari itu, perbedaan kunci antara kedua orang ini
adalah: kendati Ibn Taymiyah menentang aspek-aspek tertentu Sufisme
pada zamannya yang ia pandang keliru atau menyimpang, ia tidak menolak
Sufisme secara keseluruhan. Ia sendiri adalah pelopor tarikat
Qadiriyyah. Sebaliknya, Muhammad b. ‘Abd al-Wahhab menolak tasawuf
secara lebih luas, akar maupun cabangnya, bukan hanya manifestasi
tertentu tasawuf. (Algar, 9-10)


Ekspansi Wahabi

Wahhabisme atau
Wahhabiyah diambil dari Syeikh Muhammad ibn `Abd al-Wahhab (1703-1792),
pendiri gerakan puritanisme keagamaan di Semenanjung Arabia yang pada
akhirnya berujung pada pembentukan negara Islam Arab Saudi. Ia
dilahirkan pada tahun 1703 di Uyaina, sebuah kota yang sekarang ini
sudah tidak ada lagi, di wilayah Najd, Arabia. Ia memperoleh pendidikan
agama, dan pernah belajar di Madinah. Ia kemudian berkelana ke
mana-mana, berkunjung dan belajar ke tempat-tempat seperti Syria, Irak,
Kurdistan, dan Persia. Ketika kembali ke Arabia, ia mulai mengajarkan
bentuk Islam yang puritan, yang menyerukan kaum Muslim untuk kembali
kepada dasar-dasar Islam seperti yang dikemukakan dalam al-Qur’an dan
hadis, tentunya sebagaimana yang ia sendiri pahami dan tafsirkan.

Pada
sekitar tahun 1777, ia tinggal di Dariyah, Arabia, dan di sana ibn
al-Wahhab menjadi “pemimpin spiritual” keluarga besar Sa`ud. Pada masa
itu, klan Sa`ud adalah sebuah kelompok pembesar atau elite lokal yang
sedang berusaha untuk memperluas pengaruh dan wewenang. Wahhab lalu
menandatangani semacam “perjanjian kerja sama” dengan Muhammad ibn
Sa`ud, pemimpin klan di atas. Ibn al-Wahhab dan pengikut-pengikutnya
akan mendukung upaya-upaya keluarga ibn al-Sa`ud untuk memperluas
pengaruh dan wewenang mereka, dan keluarga al-Sa`ud – sebagai
konpensasinya – akan menyebarkan versi Islam Wahhabi yang puritan itu.
Tentang pertemuan keduanya di Oasis Dir`iyyah. Menurut Abu Hakimah, salah satu penulis sejarah ibn al-Wahhab:

Muhammad
ibn Sa`ud menyambut Muhammad ibn al-Wahhab dan berkata, “Oasis ini
milikmu, dan jangan takut kepada musuh-musuhmu. Dengan nama Allah,
bahkan jika semua [orang] Najd dipanggil untuk menyingkirkan kamu, kami
tidak akan pernah setuju untuk mengusirmu.” Muhammad ibn `Abd al-Wahhab
menjawab, “Anda adalah pemimpin mereka yang menetap di sini dan Anda
adalah seorang yang bijak. Saya ingin Anda menyatakan sumpah Anda
kepada saya bahwa Anda akan melaksanakan jihad (perang suci) terhadap
orang-orang kafir. Sebagai imbalannya, Anda akan menjadi imam, pemimpin
masyarakat Muslim, dan saya akan menjadi pemimpin dalam masalah-masalah
keagamaan. (dikutip dalam al-Rasheed, 2002: 17).

Dengan
terbentuknya koalisi antara Ibn Sa`ud dan `Abd al-Wahhab, Wahhabiyah
menjadi ideologi keagamaan bagi suatu unifikasi antarsuku di Arabia
Tengah dan apa yang dapat disebut sebagai gerakan Wahhabiyah pun
dimulai. Sebagai imam kembar gerakan Wahhabiyah, Ibn Sa`ud dan `Abd
al-Wahhab menjadi pemimpin spiritual dan temporal wilayah itu.
Banyak
deskripsi mengenai keberhasilan ekspansi Wahhabi-Saudi yang awal
menekankan fakta bahwa raid sejalan dengan praktik-praktik kesukuan
yang dominan kala itu. Sekalipun mengandung kebenaran, hal ini
menyepelekan pentingnya dimensi spiritual koalisi itu, yang menjadi
daya tarik sedikitnya bagi sebagian pengikut Wahhabi yang awal. Selain
keuntungan material, Wahhabisme juga menawarkan penyelamatan bukan saja
di dunia ini, melainkan juga di akhirat kelak. Menurut sejarawan Madawi
al-Rasheed (2002: 20), al-Wahhab membawa sesuatu yang baru, yakni
pentingnya tawhid, ke dalam tradisi keislaman Najd yang sebelumnya
didominasi fiqh.

Mereka dengan sengaja mengaitkan gerakan mereka
dengan kaum Khawarij, kelompok puritan dan ekstremis pertama dalam
sejarah Islam, dan seperti kelompok pendahulunya yang fanatik itu,
mereka memfokuskan kemarahan mereka pertama-tama ke dalam, untuk
menghancurkan apa yang mereka pandang sebagai sebab-sebab kemunduran
kaum Muslim. Karena itu, mereka mulai memerangi suku-suku yang ada di
sekeliling mereka dan memaksa suku-suku tersebut untuk mengikuti versi
Islam mereka.

Di bawah kepemimpinan militer `Abd al-`Aziz, anak
Muhammad ibn Sa`ud, mereka mulai ekspansi mereka ke Riyadh, Kharj, dan
Qasim di wilayah Arabia Tengah pada 1792. Setelah berhasil menduduki
wilayah itu, mereka melanjutkan ekspansi ke timur ke Hasa, dan
menghancurkan kekuasaan Banu Khalid di wilayah itu. Para pengikut
Syi`ah di kawasan ini, yang jumlahnya cukup banyak, dipaksa untuk
menyerah dan mengikuti Wahhabisme atau dibunuh. Lalu, ekspansi
dilanjutkan ke Teluk Persia dan Oman: Qatar mengakui kekuasaan
Saud-Wahhabi pada 1797, dan Bahrain menyusul tak lama kemudian. Mereka
semua diwajibkan untuk membayar zakat ke Dir`iyyah.

Ekspansi awal
Wahhabi-Saudi yang menentukan berlangsung ke barat, khususnya ke Hijaz,
di mana dua kota suci Islam, Mekkah dan Madinah, berada. Dalam ekspansi
ini mereka berhadapan dengan otoritas keagamaan yang lain, yakni Syarif
Mekkah, yang memperoleh legitimasinya dari Khalifah Turki Usmani.
Terlepas dari upaya keras orang-orang Hijaz untuk bertahan, koalisi
Wahhabi-Saud berhasil memantapkan hegemoni mereka di Ta’if pada 1802,
Mekkah pada 1803, dan Madinah setahun kemudian. Setelah kemenangan itu,
para ulama Wahhabi memerintahkan penghancuran kubah yang ada di
makam-makam Nabi Muhammad dan para sahabatnya di Madinah.

Kemenangan
di Hijaz mendorong koalisi Wahhabi-Sa`ud untuk meneruskan ekspansi ke
wilayah selatan ke `Asir, di mana para pemimpin lokalnya segera memeluk
Wahhabisme dan ikut serta dalam ekspansi selanjutnya ke Yaman. Kuatnya
pertahanan orang-orang Yaman, ditambah dengan kondisi geografis yang
kurang dikuasai pasukan Wahhabi, membuat Yaman tidak berhasil
ditundukkan sepenuhnya.

Ekspansi lain mencapai ladang subur
Mesopotamia, sekaligus mengancam bagian-bagian penting daerah kekuasaan
Turki Usmani, Pada 1802, di hari suci `Asyura, mereka melabrak tembok
Karbala dan membunuh 2.000-an pengikut Syi`ah yang sedang bersehbahyang
sambil merayakan Muharram. Dengan kemarahan yang tak terkontrol, mereka
menghancurkan makam-makam Ali, Husayn, imam-imam Syi`ah, dan khususnya
kepada makam puteri Nabi, Fatimah.

Pada tahun 1803-1804, pasukan
Wahabi juga menyerbu Mekkah dan Medinah. Mereka membunuh syekh dan
orang awam yang tidak bersedia masuk Wahabi. Perhiasan dan perabotan
yang mahal dan indah – yang disumbangkan oleh banyak raja dan pangeran
dari seluruh dunia Islam untuk memperindah banyak makam wali di seputar
Mekkah dan Madinah, makam Nabi, dan Masjidil Haram – dicuri dan
dibagi-bagi. Pada 1804, Mekkah jatuh ke tangah Wahabi. Dunia Islam
guncang, lebih-lebih karena mendengar kabar bahwa makam nabi telah
dinodai dan dijarah, rute jamaah haji ditutup, dan segala bentuk
peribadatan yang tidak sejalan dengan praktik Wahabi dilarang (Allen,
2006: 64).

Abd al-Aziz, yang setelah kematian Muhammad ibn Abd
al-Wahhab memegang dua gelar amir dan imam sekaligus, wafat pada 1806.
Ia dibunuh ketika sedang sembahyang di masjid Dir`iyyah. Pembunuhnya
adalah pengikut Syiah dari Karbala yang memburunya dalam rangka
membalas dendam terhadap perbuatan pasukan Wahabi di Karbala. Ia
digantikan oleh putranya, Sa`ud ibn Sa`ud yang berkuasa sampai 1814,
yang digantikan putranya bernama Abdullah ibn Sa`ud.

Reaksi Konstantinopel
Dominasi
Wahabi di tanah suci juga menjadi tantangan langsung terhadap otoritas
Khalifah di Turki. Beberapa kali serangan dilancarkan oleh Khalifah
dari Baghdad tetapi gagal. Muhammad Ali Pasya, wazir atau wakil
Khalifah di Mesir, diserahi tanggungjawab mengambil alih Hijaz dan
tanah suci dan mengembalikannya kepada Khalifah sebagai khadimul
haramayn. Setelah gagal di tahun 1811, pada 1812 pasukan kekhalifahan
Usmani dari Mesir tersebut berhasil menduduki Madinah. Pada tahun 1815,
kembali pasukan dari Mesir menyerbu Riyadh, Mekkah, dan Jeddah. Kali
ini pasukan Wahhabi kucar-kacir.

Ibrahim Pasya, putra sang
penguasa Mesir, datang dengan kekuatan sekitar 8000 pasukan kavaleri
dan infantri dari Mesir, Albania, dan Turki. Ibrahim menawarkan enam
keping perak untuk setiap kepala pengikut Wahabi yang berhasil dibunuh.
Di akhir pertempuran, lapangan di depan markasnya berdiri piramida
kepala pengikut Wahhabi. Pada 1818, pertahanan terakhir Wahabi yang
dipimpin Abdullah ibn Sa`ud di Dir`iyyah diserbu dan setelah beberapa
bulan dikepung, mereka menyerah.

Ibrahim Pasya mengumpulkan semua
ulama Wahabi yang bisa didapat, kira-kira lima ratusan ulama, dan
menggiring mereka ke masjid besar. Di sana, selama tiga hari, ia
memimpin debat keagamaan dalam rangka meyakinkan ulama Wahabi bahwa
ajaran mereka sesat. Di akhir hari keempat, kesabarannya habis dan ia
memerintahkan pengawalnya supaya membunuh mereka sehingga masjid
Dir`iyyah, dalam kata-kata pengelana William Palgrave, ‘menjadi kuburan
berdarah teologi Wahabi.’

Abdullah ibn Sa`ud sendiri beserta
beberapa anggota keluarganya ditawan dan dibawa ke Kairo dan kemudian
ke Konstantinopel. Di ibukota Khilafah Usmani itu dia dipermalukan,
diarak keliling kota di tengah cemoohan penonton selama tiga hari.
Kemudian kepalanya dipenggal dan tubuhnya dipertontonkan kepada
kerumunan yang marah. Sisa-sisa keluarga Sa`udi-Wahabi menjadi tawanan
di Kairo.

Kehancuran Wahabi disambut gembira di banyak negeri
Muslim. Seorang ulama mazhab Hanafi bernama Muhammad Amin ibn Abidin
yang hidup di awal abad XIX mengatakan, “Ia mengaku pengikut mazhab
Hanbali, tapi dalam pemikirannya hanya dia saja yang Muslim dan semua
orang lain adalah musyrik. Ia mengatakan bahwa membunuh Ahlussunnah
adalah halal, sampai akhirnya Allah menghancurkannya pada tahun 1233
Hijriah (1818) melalui pasukan Muslim.” (Allen, 2006: 68).

Demikianlah,
fase pertama aliansi Wahabi-Saudi, yang juga dikenal dengan Negara
Saudi I, berhenti secara brutal, sekejam serbuan dan penaklukan yang
mereka lakukan sejak aliansi terbentuk. (Bersambung)

Zaim Nugroho, keluarga dari Buntet Pesantren, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah. Kini aktif di salah satu Lembaga Penelitian Pemilu.


Copyright © 2013 Blog Backup Buntet Pesantren. WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
back to top