KREDO GENDENG

KREDO GENDENG

Posted by Unknown  |  at  11:23 AM

Oleh : Edy Prawiradirja


Sudah menjadi rahasia umum di negeri ini, hukum dan undang-undang dalam prakteknya bisa dibeli. Hanya ideal dalam tataran teori, tapi mandul ketika sampai di tingkat implementasi. Ini penyakit mendasar sejak lama, tapi herannya tetap dipelihara, bahkan terkadang dengan bangga, sampai sekarang.


 


Hukum dan peraturan dibuat dengan bahasa multitafsir, sehingga bisa menjadi bahan permainan aparat birokrasi. Kita bisa melihat bagaimana Nenek Soetarti Soekarno dan Roekmini dipermainkan oleh peraturan. Menurut PP No 40/1994, kedua nenek ini sudah bisa membeli rumah dinas yang telah mereka tempati sejak puluhan tahun, Tapi menurut Perum Pegadaian, mereka ditudauh menyerobot rumah negara.


 


Andaikan kedua nenek ini punya uang banyak, mungkin kasus ini tidak akan mencuat ke permukaan.


 


Tapi kasus rumah dinas ini hanyalah puncak gunung es dari kesukaan kita mempermainkan peraturan. Betapa banyak rumah dinas yang ditempati oleh mereka yang tidak berhak dan mereka tetap merasa berhak menempati walau sudah tidak berdinas lagi. Sedangkan mereka yang berhak tidak bisa menempati karena tidak mampu mengeluarkan uang, yang tidak sedikit, untuk menyuap petugas. Ini seperti lingkaran setan yang tidak hanya kita temukan pada persoalan rumah dinas, tapi juga hampir di semua instansi yang menyangkut perizinan.


 


Lihatlah juga penggusuran demi penggusuran yang dilakukan oleh penguasa, yang pada prakteknya di lapangan sering dilakukan secara tidak manusiawi. Dulunya penguasamemberi izin, karena sesuatu dan lain hal. Lalu ketika pedagang semakin banyak dan tak terkendali, dilakukan upaya paksa, dan sering tanpa melakukan pendekatan persuasif.


 


Jadi kita tidak kaget ketika negeri ini kembali merebut " tahtanya " -nya sebagai kampiun negara terkorup di Asia Pasifik, berdasarkan survai PERC, HONGKONG. Ya, rupanya kita tetap konsisten mempertahankan kebobrokan kita.


 


Tampaknya belum ada tindakan signifikan penguasa dalam melakukan reformasi birokrasi. Birokrasi tetap dengan " KREDO " lamanya: kalau bisa dipersulit, mengapa harus dipermudah. Hasrat untuk menjadi manusia yang baik, dengan cara memberikan pelayanan terbaik, dan kemudahan kepada sesama, benar-benar tidak ada sedikit pun dalam benak mereka.


 


Ironosnya, kita ini mayoritas pemwluk Islam, agama agung yang selalu mengajarkan kesucian dan berkomunikasi dengan Allah minimal lima kali sehari semalam, tapi anehnya nilai-nilai itu tidak pernah teraktualisai dalam praktek sehari-hari.....

KREDO GENDENG

KREDO GENDENG

Posted by Unknown  |  at  11:23 AM

Oleh : Edy Prawiradirja


Sudah menjadi rahasia umum di negeri ini, hukum dan undang-undang dalam prakteknya bisa dibeli. Hanya ideal dalam tataran teori, tapi mandul ketika sampai di tingkat implementasi. Ini penyakit mendasar sejak lama, tapi herannya tetap dipelihara, bahkan terkadang dengan bangga, sampai sekarang.


 


Hukum dan peraturan dibuat dengan bahasa multitafsir, sehingga bisa menjadi bahan permainan aparat birokrasi. Kita bisa melihat bagaimana Nenek Soetarti Soekarno dan Roekmini dipermainkan oleh peraturan. Menurut PP No 40/1994, kedua nenek ini sudah bisa membeli rumah dinas yang telah mereka tempati sejak puluhan tahun, Tapi menurut Perum Pegadaian, mereka ditudauh menyerobot rumah negara.


 


Andaikan kedua nenek ini punya uang banyak, mungkin kasus ini tidak akan mencuat ke permukaan.


 


Tapi kasus rumah dinas ini hanyalah puncak gunung es dari kesukaan kita mempermainkan peraturan. Betapa banyak rumah dinas yang ditempati oleh mereka yang tidak berhak dan mereka tetap merasa berhak menempati walau sudah tidak berdinas lagi. Sedangkan mereka yang berhak tidak bisa menempati karena tidak mampu mengeluarkan uang, yang tidak sedikit, untuk menyuap petugas. Ini seperti lingkaran setan yang tidak hanya kita temukan pada persoalan rumah dinas, tapi juga hampir di semua instansi yang menyangkut perizinan.


 


Lihatlah juga penggusuran demi penggusuran yang dilakukan oleh penguasa, yang pada prakteknya di lapangan sering dilakukan secara tidak manusiawi. Dulunya penguasamemberi izin, karena sesuatu dan lain hal. Lalu ketika pedagang semakin banyak dan tak terkendali, dilakukan upaya paksa, dan sering tanpa melakukan pendekatan persuasif.


 


Jadi kita tidak kaget ketika negeri ini kembali merebut " tahtanya " -nya sebagai kampiun negara terkorup di Asia Pasifik, berdasarkan survai PERC, HONGKONG. Ya, rupanya kita tetap konsisten mempertahankan kebobrokan kita.


 


Tampaknya belum ada tindakan signifikan penguasa dalam melakukan reformasi birokrasi. Birokrasi tetap dengan " KREDO " lamanya: kalau bisa dipersulit, mengapa harus dipermudah. Hasrat untuk menjadi manusia yang baik, dengan cara memberikan pelayanan terbaik, dan kemudahan kepada sesama, benar-benar tidak ada sedikit pun dalam benak mereka.


 


Ironosnya, kita ini mayoritas pemwluk Islam, agama agung yang selalu mengajarkan kesucian dan berkomunikasi dengan Allah minimal lima kali sehari semalam, tapi anehnya nilai-nilai itu tidak pernah teraktualisai dalam praktek sehari-hari.....

Madrasah Tsanawiyah NU II (Putera)

Madrasah Tsanawiyah NU II (Putera)

Posted by Unknown  |  at  6:29 AM

Dalam Perbaikan

Madrasah Tsanawiyah NU II (Putera)

Madrasah Tsanawiyah NU II (Putera)

Posted by Unknown  |  at  6:29 AM

Dalam Perbaikan

MA NU Puteri

MA NU Puteri

Posted by Unknown  |  at  6:24 AM

Tulisan untuk profil lembaga pendidikan


MA NU Puteri


 

MA NU Puteri

MA NU Puteri

Posted by Unknown  |  at  6:24 AM

Tulisan untuk profil lembaga pendidikan


MA NU Puteri


 

Guru Belum Terapkan Pendidikan Karakter

Guru Belum Terapkan Pendidikan Karakter

Posted by Unknown  |  at  1:54 PM

suasana belajar

Pendidikan karakter di sekolah umum masih belum diterapkan secara menyeluruh/efektif. Hal itu tidak terlepas dari peran guru bimbingan dan penyuluhan (BP). Bentuk pendidikan itu berupa konseling oleh guru BP sehingga belum menyentuh secara optimal dalam kurikulum. Hal tersebut sulit dimungkiri, karena guru BP memang tidak bisa meraih semuanya sehari-hari di sekolah. Istilahnya, kalau ada masalah datang, kalau tidak, ya, tidak.Selain itu, tidak jarang keberadaan guru BP dirangkap oleh guru mata pelajaran. Akhirnya, konsep pendidikan karakter sampai sejauh ini tidak pernah optimal.
"Mayoritas guru belum punya kemauan untuk melakukan itu. Kesadaran sudah ada, hanya saja belum menjadi sebuah aksi nyata".
-- Anita Lie/Praktisi Pendidikan
"Padahal seharusnya semua guru bisa menerapkan pendidikan karakter itu, tetapi mereka harus bisa meneguhkan dulu, bahwa di kelas itu mereka juga mendidik, bukan cuma mengajar," ujar praktisi pendidikan, Dr Anita Lie, di Jakarta, Jumat (15/1/12010), seperti di kutip kompas.com
Anita mengatakan, untuk menerapkan pendidikan karakter seluruh sekolah harus memiliki kesepakatan tentang nilai-nilai karakter yang akan dikembangkan di sekolahnya. Unsur-unsur pengembangan karakter itu pun harus diintegrasikan di semua mata pelajaran.
"Masalahnya, mayoritas guru belum punya kemauan untuk melakukan itu. Kesadaran sudah ada, hanya saja belum menjadi sebuah aksi nyata," ujarnya.
Pesantren
Dari pendapat dan uraian ahli pendidikan di atas terungkap bahwa ketergantungan kepada personal guru BP sangat besar. Peran guru lain yang sebenarnya berpotensi mengajar morality, tidak dapat berperan banyak.
Padahal jiga Kenapa guru agama tidak bisa berperan banyak, hal ini tidak lain karena apa yang diajarkan di sekolah berupa how to know "agama" bkan Untunglah pesantren masih tetap setia menerapkan pendidikan perilaku. bahkan pendidikan karakter ini berlangsung sedara "long life education" ketika santri-santri berada di pondok pesantren.








Copyright © 2013 Blog Backup Buntet Pesantren. WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
back to top