Seri Mengenang Tokoh Buntet (4) : KH. Hamim

Seri Mengenang Tokoh Buntet (4) : KH. Hamim

Posted by Unknown  |  at  1:36 AM

sawah


Mimpi Kyai Hamim dan Dzikir Haddad



Mimpi seseorang kadangkala menjadi isyarat dalam kehidupan nyata, apalagi dialami oleh seorang ulama pasti membawa hikmah atau sebuah isyarat, hanya Allah yang Maha Tahu, sedangkan manusia tidak bisa memastikannya. Tetapi dari mimpi beliau, melahirkan sesuatu yang bermanfaat.



Pada suatu malam KH. Hamim ini bercerita seputar mimpi yang dialaminya kepada keluarganya. Katanya, ia seolah berjalan di pematang sawah bersama dua orang kyai yang mendampinginya.






Kyai yang pertama adalah KH. Siradj (kakek dari Prof. DR. Aqil Siradj) dari Pesantren Gedongan dan satunya lagi oleh KH. Dahlan dari Pesantren Benda Kerep. Ketiga Kiai ini memang memiliki hubungan keluarga yang amat dekat. KH. Hamim merupakan keponakan KH. Ahmad Said dari Pesantren Gedongan. KH. Ahmad Said hidup sezaman dengan KH. Abdul Djamil, Hadratus syekh KH. Hasyim Asy`ari dan Mbah Cholil Madura. Sementara KH. Siradj adalah putra dari KH. Ahmad Said.




Dalam mpimpinya ini, saat menikmati perjalanan meniti pematang sawah itu tiba-tiba KH. Hamim terpeleset kakinya dan terjatuh ke sawah. Anehnya, pada saat yang bersamaan kedua kyai yang mengiringinya itu ikut terpeset. Baik KH. Siradj maupun KH. Dahlan hampir berbarengan jatuhnya. Walhasil, ketiganya tercebur ke sawah. Itulah isi cerita yang dialami KH. Khamim seperti dituturkan kepada keluarganya.




Jika mimpi adalah tanda-tanda, maka tanda-tanda itu menjadi kenyataan selang beberapa hari kemudian. KH. Hamim benar-benar menderita sakit sampai akhirnya wafat. Pada hari wafatnya itu, Buntet Pesantren banyak sekali dikunjungi para tamu yang bertakziyah, terlebih keluarga besar dari pesantren Gedongan tumpah ruah ke Buntet. Hadir juga pada hari itu Habib Ali yang amat masyhur karomahnya dari Jatibarang Brebes. Jenazah Almarhum KH. Hamim dimandikan oleh KH. Ma`sum dan KH. Dimyati serta dishalatkan di Masjid Jami` Buntet Pesantren.




Seperti biasanya para ulama dan warga Buntet begitu selesai shalat, kemudian ada dzikir dan isyhad. Rupanya kepergian KH. Hamim ini menjadi perhatian banyak kalangan sebab yang hadir bukan saja dari Buntet tetapi dari keluarga besar Gedongan ikut hadir. Selesai shalat jenazah, Habib Ali dari Jatibarang memimpin pembacaan dzikir yang berbeda dari biasanya, tetapi amat menarik perhatian seluruh kiai dan warga Buntet. Dalam suasana duka dan hidmat dzikir itu dikumandangkan amat menyentuh rasa keimanan. Ajaran tauhid pada bait-baitnya menggugah dan menimbulkan kesadaran betapa fana dan rapuhnya seorang makhluq di hadapan Sang Khaliq. Lafadz demi lafadz dibacakan oleh Habib Ali membuat terkesima seluruh jama`ah.




Salah seorang kiai Buntet pada waktu itu, KH. Akyas Abdul Djamil sangat tertarik dengan dzikir tersebut. Beliau kemudian minta ijazah kepada Habib Ali untuk mengamalkannya. Hingga saat ini dzikir tersebut dikenal dengan “Dzikir Haddad” yang selalu dibacakan oleh KH. Abdullah Syifa putra dari KH. Akyas Abdul Djamil setiap selesai shalat jenazah bagi warga Buntet Pesantren.




Namun tiba-tiba belum selesai prosesi pengurusan jenazah kyai Hamim ini, ada berita yang amat mengejutkan yaitu wafatnya KH. Siradj Gedongan. Padahal keluarga besar Gedongan masih ta`ziah di Buntet. Suasana panik penuh haru menyelimuti keluarga Buntet dan Gedongan. Selang beberapa jam kemudian, ada lagi satu berita duka datangnya dari daerah Benda Kerep bahwa KH. Dahlan wafat. Innalillah wa innaa ilihi rajiun dalam satu hari ada 3 kiai bersaudara wafat bersamaan persis seperti yang dituturkan KH. Khamim dalam mimpinya, di mana beliau berjalan di sawah dan ketiganya jatuh bersamaan.




Semoga Allah memulyakan tiga orang Kiai yang bersaudara itu dan semoga pula Allah memperkokoh ikatan persaudaraan bagi keturunan-keturunannya. Amin. Wallahu a`lam. (Drs. H. Dhabas Rakhmat)






Seri Mengenang Tokoh Buntet (4) : KH. Hamim

Seri Mengenang Tokoh Buntet (4) : KH. Hamim

Posted by Unknown  |  at  1:36 AM

sawah


Mimpi Kyai Hamim dan Dzikir Haddad



Mimpi seseorang kadangkala menjadi isyarat dalam kehidupan nyata, apalagi dialami oleh seorang ulama pasti membawa hikmah atau sebuah isyarat, hanya Allah yang Maha Tahu, sedangkan manusia tidak bisa memastikannya. Tetapi dari mimpi beliau, melahirkan sesuatu yang bermanfaat.



Pada suatu malam KH. Hamim ini bercerita seputar mimpi yang dialaminya kepada keluarganya. Katanya, ia seolah berjalan di pematang sawah bersama dua orang kyai yang mendampinginya.






Kyai yang pertama adalah KH. Siradj (kakek dari Prof. DR. Aqil Siradj) dari Pesantren Gedongan dan satunya lagi oleh KH. Dahlan dari Pesantren Benda Kerep. Ketiga Kiai ini memang memiliki hubungan keluarga yang amat dekat. KH. Hamim merupakan keponakan KH. Ahmad Said dari Pesantren Gedongan. KH. Ahmad Said hidup sezaman dengan KH. Abdul Djamil, Hadratus syekh KH. Hasyim Asy`ari dan Mbah Cholil Madura. Sementara KH. Siradj adalah putra dari KH. Ahmad Said.




Dalam mpimpinya ini, saat menikmati perjalanan meniti pematang sawah itu tiba-tiba KH. Hamim terpeleset kakinya dan terjatuh ke sawah. Anehnya, pada saat yang bersamaan kedua kyai yang mengiringinya itu ikut terpeset. Baik KH. Siradj maupun KH. Dahlan hampir berbarengan jatuhnya. Walhasil, ketiganya tercebur ke sawah. Itulah isi cerita yang dialami KH. Khamim seperti dituturkan kepada keluarganya.




Jika mimpi adalah tanda-tanda, maka tanda-tanda itu menjadi kenyataan selang beberapa hari kemudian. KH. Hamim benar-benar menderita sakit sampai akhirnya wafat. Pada hari wafatnya itu, Buntet Pesantren banyak sekali dikunjungi para tamu yang bertakziyah, terlebih keluarga besar dari pesantren Gedongan tumpah ruah ke Buntet. Hadir juga pada hari itu Habib Ali yang amat masyhur karomahnya dari Jatibarang Brebes. Jenazah Almarhum KH. Hamim dimandikan oleh KH. Ma`sum dan KH. Dimyati serta dishalatkan di Masjid Jami` Buntet Pesantren.




Seperti biasanya para ulama dan warga Buntet begitu selesai shalat, kemudian ada dzikir dan isyhad. Rupanya kepergian KH. Hamim ini menjadi perhatian banyak kalangan sebab yang hadir bukan saja dari Buntet tetapi dari keluarga besar Gedongan ikut hadir. Selesai shalat jenazah, Habib Ali dari Jatibarang memimpin pembacaan dzikir yang berbeda dari biasanya, tetapi amat menarik perhatian seluruh kiai dan warga Buntet. Dalam suasana duka dan hidmat dzikir itu dikumandangkan amat menyentuh rasa keimanan. Ajaran tauhid pada bait-baitnya menggugah dan menimbulkan kesadaran betapa fana dan rapuhnya seorang makhluq di hadapan Sang Khaliq. Lafadz demi lafadz dibacakan oleh Habib Ali membuat terkesima seluruh jama`ah.




Salah seorang kiai Buntet pada waktu itu, KH. Akyas Abdul Djamil sangat tertarik dengan dzikir tersebut. Beliau kemudian minta ijazah kepada Habib Ali untuk mengamalkannya. Hingga saat ini dzikir tersebut dikenal dengan “Dzikir Haddad” yang selalu dibacakan oleh KH. Abdullah Syifa putra dari KH. Akyas Abdul Djamil setiap selesai shalat jenazah bagi warga Buntet Pesantren.




Namun tiba-tiba belum selesai prosesi pengurusan jenazah kyai Hamim ini, ada berita yang amat mengejutkan yaitu wafatnya KH. Siradj Gedongan. Padahal keluarga besar Gedongan masih ta`ziah di Buntet. Suasana panik penuh haru menyelimuti keluarga Buntet dan Gedongan. Selang beberapa jam kemudian, ada lagi satu berita duka datangnya dari daerah Benda Kerep bahwa KH. Dahlan wafat. Innalillah wa innaa ilihi rajiun dalam satu hari ada 3 kiai bersaudara wafat bersamaan persis seperti yang dituturkan KH. Khamim dalam mimpinya, di mana beliau berjalan di sawah dan ketiganya jatuh bersamaan.




Semoga Allah memulyakan tiga orang Kiai yang bersaudara itu dan semoga pula Allah memperkokoh ikatan persaudaraan bagi keturunan-keturunannya. Amin. Wallahu a`lam. (Drs. H. Dhabas Rakhmat)






Seri Mengenang Tokoh Buntet (4) : KH. Hamim

Seri Mengenang Tokoh Buntet (4) : KH. Hamim

Posted by Unknown  |  at  1:36 AM

sawah


Mimpi Kyai Hamim dan Dzikir Haddad



Mimpi seseorang kadangkala menjadi isyarat dalam kehidupan nyata, apalagi dialami oleh seorang ulama pasti membawa hikmah atau sebuah isyarat, hanya Allah yang Maha Tahu, sedangkan manusia tidak bisa memastikannya. Tetapi dari mimpi beliau, melahirkan sesuatu yang bermanfaat.



Pada suatu malam KH. Hamim ini bercerita seputar mimpi yang dialaminya kepada keluarganya. Katanya, ia seolah berjalan di pematang sawah bersama dua orang kyai yang mendampinginya.






Kyai yang pertama adalah KH. Siradj (kakek dari Prof. DR. Aqil Siradj) dari Pesantren Gedongan dan satunya lagi oleh KH. Dahlan dari Pesantren Benda Kerep. Ketiga Kiai ini memang memiliki hubungan keluarga yang amat dekat. KH. Hamim merupakan keponakan KH. Ahmad Said dari Pesantren Gedongan. KH. Ahmad Said hidup sezaman dengan KH. Abdul Djamil, Hadratus syekh KH. Hasyim Asy`ari dan Mbah Cholil Madura. Sementara KH. Siradj adalah putra dari KH. Ahmad Said.




Dalam mpimpinya ini, saat menikmati perjalanan meniti pematang sawah itu tiba-tiba KH. Hamim terpeleset kakinya dan terjatuh ke sawah. Anehnya, pada saat yang bersamaan kedua kyai yang mengiringinya itu ikut terpeset. Baik KH. Siradj maupun KH. Dahlan hampir berbarengan jatuhnya. Walhasil, ketiganya tercebur ke sawah. Itulah isi cerita yang dialami KH. Khamim seperti dituturkan kepada keluarganya.




Jika mimpi adalah tanda-tanda, maka tanda-tanda itu menjadi kenyataan selang beberapa hari kemudian. KH. Hamim benar-benar menderita sakit sampai akhirnya wafat. Pada hari wafatnya itu, Buntet Pesantren banyak sekali dikunjungi para tamu yang bertakziyah, terlebih keluarga besar dari pesantren Gedongan tumpah ruah ke Buntet. Hadir juga pada hari itu Habib Ali yang amat masyhur karomahnya dari Jatibarang Brebes. Jenazah Almarhum KH. Hamim dimandikan oleh KH. Ma`sum dan KH. Dimyati serta dishalatkan di Masjid Jami` Buntet Pesantren.




Seperti biasanya para ulama dan warga Buntet begitu selesai shalat, kemudian ada dzikir dan isyhad. Rupanya kepergian KH. Hamim ini menjadi perhatian banyak kalangan sebab yang hadir bukan saja dari Buntet tetapi dari keluarga besar Gedongan ikut hadir. Selesai shalat jenazah, Habib Ali dari Jatibarang memimpin pembacaan dzikir yang berbeda dari biasanya, tetapi amat menarik perhatian seluruh kiai dan warga Buntet. Dalam suasana duka dan hidmat dzikir itu dikumandangkan amat menyentuh rasa keimanan. Ajaran tauhid pada bait-baitnya menggugah dan menimbulkan kesadaran betapa fana dan rapuhnya seorang makhluq di hadapan Sang Khaliq. Lafadz demi lafadz dibacakan oleh Habib Ali membuat terkesima seluruh jama`ah.




Salah seorang kiai Buntet pada waktu itu, KH. Akyas Abdul Djamil sangat tertarik dengan dzikir tersebut. Beliau kemudian minta ijazah kepada Habib Ali untuk mengamalkannya. Hingga saat ini dzikir tersebut dikenal dengan “Dzikir Haddad” yang selalu dibacakan oleh KH. Abdullah Syifa putra dari KH. Akyas Abdul Djamil setiap selesai shalat jenazah bagi warga Buntet Pesantren.




Namun tiba-tiba belum selesai prosesi pengurusan jenazah kyai Hamim ini, ada berita yang amat mengejutkan yaitu wafatnya KH. Siradj Gedongan. Padahal keluarga besar Gedongan masih ta`ziah di Buntet. Suasana panik penuh haru menyelimuti keluarga Buntet dan Gedongan. Selang beberapa jam kemudian, ada lagi satu berita duka datangnya dari daerah Benda Kerep bahwa KH. Dahlan wafat. Innalillah wa innaa ilihi rajiun dalam satu hari ada 3 kiai bersaudara wafat bersamaan persis seperti yang dituturkan KH. Khamim dalam mimpinya, di mana beliau berjalan di sawah dan ketiganya jatuh bersamaan.




Semoga Allah memulyakan tiga orang Kiai yang bersaudara itu dan semoga pula Allah memperkokoh ikatan persaudaraan bagi keturunan-keturunannya. Amin. Wallahu a`lam. (Drs. H. Dhabas Rakhmat)






Isra Mi'raj dihadiri Ribuan Jamaah Santri dan Warga Buntet

Isra Mi'raj dihadiri Ribuan Jamaah Santri dan Warga Buntet

Posted by Unknown  |  at  9:46 AM

Dalam rangka memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, Dewan Khidmat Masjid (DKM) Buntet Pesantren bekerjasama dengan Ikatan Keluarga Asrama Pondok Buntet Pesantren (IKAPB) menyelenggarakan pengajian rutin ktab Qishotul Mi’raj sebuah kitab klasik karya Syeh Najmuddin Alghaythy yang membahas peristiwa-peristiwa dalam Isra Mi’raj. Acara yang bertempat di masjid Jami Buntet Pesantren ini dilangsungkan selama tiga malam berturut-turut mulai pada hari Jum’at (17/07) sampai dengan Ahad (19/07).

Ribuan santri serta warga sekitar Buntet Pesantren baik putra maupun putri tampak sangat antusias mengikuti pengajian yang diisi secara bergantian oleh kyai-kyai muda Buntet Pesantren seperti Kyai Tubagus Ahmad Rifqi Chowwas, KH. Cecep Nidzomuddin, KH. Salman Al Farisi, Ust. Ahmad Syauqi Chowwas, Ust. Nemi Mu’tashim Billah, Ust. Ammar Firman Maulana, Ust. Attabik Humaini, Ust. Muhammad Zaim.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan pengajian ini diselenggarakan di dua tempat yang berbeda, untuk santri putra pengajian bertempat di Masjid jami Buntet Pesantren sedangkan santri Putri bertempat di kediaman sesepuh Pondok Buntet Pesantren ( KH. Nahduddin Royandi Abbas). Tapi, pada penyelenggaraan tahun ini, terdapat sedikit perbedaan dengan tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini para santri dikumpulkan di Masjid dan halaman masjid untuk menghatamkan pengajian dan mengikuti acara penutupan yang diisi oleh KH. Abdul Hamid Anas.

Dalam sambutannya, KH. Abdul Hamid Anas menyampaikan pentingnya menjaga tradisi pesantren seperti cara menulis bahasa arab melayu atau yang dikenal dengan tulisan arab Pegon untuk memberikan makna pada kitab kuning. Beliau juga menyampaikan tentang pentingnya mengikuti pengajian baik Bandungan  (mengaji secara bersama-sama) maupun sorogan (pengajian yang dilakukan dengan satu – persatu).

Warga Buntet Pesantren yang tidak mengikuti pengajian pun tidak kalah antusiasnya untuk berpartisipasi dalam acara ini dengan mengirimkan Ambeng (Nasi beserta lauk-pauk yang biasanya ditempatkan dalam nampan/baki), nasi bungkus, buah-buahan, dll sebagai konsumsi untuk para santri maupun warga yang mengikuti pengajian. Sebagai penutup acara, ditampilkan kesenian tradisional Buntet Pesantren yaitu Genjring yang dimainkan oleh warga Buntet Pesantren.

Ribuan Santri dan Warga Buntet Pesantren Memperingati Isra' Miraj

Ribuan Santri dan Warga Buntet Pesantren Memperingati Isra' Miraj

Posted by Unknown  |  at  9:46 AM

Dalam rangka memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, Dewan Khidmat Masjid (DKM) Buntet Pesantren bekerjasama dengan Ikatan Keluarga Asrama Pondok Buntet Pesantren (IKAPB) menyelenggarakan pengajian rutin ktab Qishotul Mi’raj sebuah kitab klasik karya Syeh Najmuddin Alghaythy yang membahas peristiwa-peristiwa dalam Isra Mi’raj. Acara yang bertempat di masjid Jami Buntet Pesantren ini dilangsungkan selama tiga malam berturut-turut mulai pada hari Jum’at (17/07) sampai dengan Ahad (19/07).

Ribuan santri serta warga sekitar Buntet Pesantren baik putra maupun putri tampak sangat antusias mengikuti pengajian yang diisi secara bergantian oleh kyai-kyai muda Buntet Pesantren seperti Kyai Tubagus Ahmad Rifqi Chowwas, KH. Cecep Nidzomuddin, KH. Salman Al Farisi, Ust. Ahmad Syauqi Chowwas, Ust. Nemi Mu’tashim Billah, Ust. Ammar Firman Maulana, Ust. Attabik Humaini, Ust. Muhammad Zaim.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan pengajian ini diselenggarakan di dua tempat yang berbeda, untuk santri putra pengajian bertempat di Masjid jami Buntet Pesantren sedangkan santri Putri bertempat di kediaman sesepuh Pondok Buntet Pesantren ( KH. Nahduddin Royandi Abbas). Tapi, pada penyelenggaraan tahun ini, terdapat sedikit perbedaan dengan tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini para santri dikumpulkan di Masjid dan halaman masjid untuk menghatamkan pengajian dan mengikuti acara penutupan yang diisi oleh KH. Abdul Hamid Anas.

Dalam sambutannya, KH. Abdul Hamid Anas menyampaikan pentingnya menjaga tradisi pesantren seperti cara menulis bahasa arab melayu atau yang dikenal dengan tulisan arab Pegon untuk memberikan makna pada kitab kuning. Beliau juga menyampaikan tentang pentingnya mengikuti pengajian baik Bandungan  (mengaji secara bersama-sama) maupun sorogan (pengajian yang dilakukan dengan satu – persatu).

Warga Buntet Pesantren yang tidak mengikuti pengajian pun tidak kalah antusiasnya untuk berpartisipasi dalam acara ini dengan mengirimkan Ambeng (Nasi beserta lauk-pauk yang biasanya ditempatkan dalam nampan/baki), nasi bungkus, buah-buahan, dll sebagai konsumsi untuk para santri maupun warga yang mengikuti pengajian. Sebagai penutup acara, ditampilkan kesenian tradisional Buntet Pesantren yaitu Genjring yang dimainkan oleh warga Buntet Pesantren.

Tabarruk itu tidak Bidah

Tabarruk itu tidak Bidah

Posted by Unknown  |  at  4:10 AM

Tabarruk adalah mashdar (asal kata) dari tabarroka, akar kata dari albarokah. Albarokah sendiri berarti: Ziyadatulkhoir al ilahy (tambahan kebaikan dari Tuhan). Lalau diartikan ke bahasa kita mungkin berarti "ngalap barokah" atau mencari keberkahan (mencari kebaikan Tuhan, red). Memang semua tahu bahwa al fail fil haqiqoh hua Allah swt (pelaku sebenarnya adalah Allah), seperti dalam alquran surat al mulk ayat satu:tabarokalladzi biyadihi almulku(maha berkah Allah swt...)

Namun dlm bhs Arab kita mengenal dua arti dari satu lafadz.Arti haqiqat dan arti majaz.Sekarang mari kita telusuri majaz.Mungkin 40% dari bhs manusia terdiri dari majaz(idiom)dan kita menganggap sbg hal yg wajar2 saja.Contoh:kyai Zaid adalah Alim.Kata alim atau pandai pada Zaid itu majaz,sbb yg alim sebenarnya adalah Allah swt dan manusia siapapun orang nya adalah BODOH sekalipun itu mujaddid.Contoh lagi:Nabi saw pemberi petunjuk kpd kita,itu juga majaz dan diakui oleh qur'an sendiri..."wa innaka latahdii ilaa shirotin mustaqiim"(sungguh engkau Muhammad adalah org yg memberi petunjuk kpd jalan lurus),tentu ayat ayat ini tdk ta'arud dg ayat "wallahu alhady ila sawaissabiil" Allah adalah pemberi petunjuk kpd jalan yg lurus.Sebab ayat pertama berma'na majaz dan yg ke dua berma'na haqiqat,pemberi petunjuk sebenarnya adalah ALLAH swt.Sekalipun kita tidak boleh menuduh orang sbg MUSYRIK lantaran ia berucap Nabi saw adalah pemberi petunjuk,sbb qur'an sendiri menyatakan demikian spt yg diatas.

DI MANAKAH BAROKAH..?

Kita tahu Allah swt maha pemberi barokah,kalau kata albarokah kita artikan alkhoirulkatsiir(kebaikan yg banyak)spt apa yg terdapat di berbagai kamus Arab,maka sudah tentu letak barokah itu terdapat di Makhluq Allah swt,sekalipun asalnya tentu dari Allah swt yg maha memberkati.Dan adanya barokah itu pada makhluq Allah swt tdk DIPUNGKIRI Alqur'an,Allah swt berfirman;Alladzi baarokna haulahu..(al isro' ayat 1)yg kami barokahi sekelilingnya.Tentu tidak MUSYRIK bukan..?Kalau ada org bermukim di Makkah atau Palestina dg tujuan tabarruk dg tanah yg diberkati Allah swt.Dalam ayat lain Allah swt berfirman: inna anzalnaahu fi lailatin mubarokah(addukhon ayat 3)kami turunkan alqur'an pada malam yg penuh barokah.Tentu sangat bodoh kalau kita menganggap bid'ah kpd orang yg tabarruk atau mencari keberkahan malam Ramadhan atu lailatulqadr dg beribadah,bermunajat,tadarus dan lain2.

Fiman Allah yg lain:....Min Syajarotin mubarokatin...(annur 35)dari pohon yg diberkahi.Maka kita tahu pohon Zaitun menjadi barokah krn Allah swt.

Alhasil ma'na barokah itu banyak,dan dapat diartikan berbeda2 sesuai maqamnya yg pantas.Lafadz barokah bagi makhluq Allah swt dalam teks2 hadits sangat banyak kita jumpai.Misalkan ada sebuah hadits Shohih masyhur: inna filghonami la barokatan(sungguh dlm kambing trdpt barokah)maka jgn sekali2 kita mengkafirkan org islam yg memelihara kambing krn mencari keberkahan usahanya (tabarruk)karena menjalankan dan percaya kpd petunjuk Nabi saw,kecuali org yg dungu saja yg beranggapan spt itu....

Begitulah, kalau kita telusuri lafadz barokah dari teks2 qur'an dan hadits banyak terdapat pada "dzat"atau materi yg mempunyai keutamaan,seperti makanan,minuman,tempat,harta,anak2 sesuai yg terdapat dalam sebuah do'a yg ma'tsur:Allahumma barik fi maalihi wa aulaadihi wa umrihi (ya Allah berkatilah pada Hartanya,anak2nya dan umurnya).

Kalau kt cermati di kitab2 hadits apalagi bab al ath'imah beragam lafadz barokah dapat kt temukan baik secara eksplsit maupun implisit.Tentunya ada perbedaan yg jelas atara barokah Allah swt sang Khaliq dg barokah yg ada pada makhluqNya.Sebab barokah sang Kholiq bersifat "dzaty" ya'ni ada dg sendirinya,sedangkan pada Makhluq bersifat a'rodhy atau musta'aar(diadakan atau pinjaman).

TRADISI(sunnah)TABARRUK pada SALAFUSSHOLIH...

Tentu sebagai kaum Ahlussunnah waljama'ah kita masyarakat pesantren,tidak mau melakukan perbuatan yg dilarang ajaran Agama,maka dalam berbagai hal kita mesti menteladani al-salaf al-shalih ya'ni para Shahabat,ulama dari kalangan Tabi'ien,aimmatul Madzahib dan murid2 mereka.Supaya jangan terjebak di lingkaran "bid'ah munkaroh" atau bid'ah qobihah.

Contoh bertabarruk:

1-bertabarruk dg rambut RosuliLLAH saw:

dari utsman bin Abdillah bin Mauhib dia berkata;kelurga menyuruhku untuk mengambil wadah air ke Ummu Salamah ra,maka dia datang dg membawa semangkuk perak berisi rambut Rosulillah saw,dan adalah jika ada seseorang terkena penyakit ain atau suatu penyakit diberikannya wadah air tadi(untuk minum),kemudian aku melihat wadah tsb terdapat beberapa rambut merah(hr.al Bukhory,kitab allibas).2.Tabarruk dg keringat Nabi saw:

suatu hari Nabi saw masuk ke rumah kami dan beliau tidur siang,kemudian ibuku(umu sulem)datang dg membawa botol dan mewadahi keringatnya dg botol tsb,lalu Nabi saw terbangun dan Nabi berkata:sedang apa hai Ummu Sulem,dia menjawab;ini keringatmu mau kami campurkan dg minyak wangi.Ternyata minyak wangi tsb terwangi dr yg lainya(hr.Muslim)

bersambung....


Tabarruk itu tidak Bid'ah

Tabarruk itu tidak Bid'ah

Posted by Unknown  |  at  4:10 AM

Tabarruk adalah mashdar (asal kata) dari tabarroka, akar kata dari albarokah. Albarokah sendiri berarti: Ziyadatulkhoir al ilahy (tambahan kebaikan dari Tuhan). Lalau diartikan ke bahasa kita mungkin berarti "ngalap barokah" atau mencari keberkahan (mencari kebaikan Tuhan, red). Memang semua tahu bahwa al fail fil haqiqoh hua Allah swt (pelaku sebenarnya adalah Allah), seperti dalam alquran surat al mulk ayat satu:tabarokalladzi biyadihi almulku(maha berkah Allah swt...)

 

Namun dlm bhs Arab kita mengenal dua arti dari satu lafadz.Arti haqiqat dan arti majaz.Sekarang mari kita telusuri majaz.Mungkin 40% dari bhs manusia terdiri dari majaz(idiom)dan kita menganggap sbg hal yg wajar2 saja.Contoh:kyai Zaid adalah Alim.Kata alim atau pandai pada Zaid itu majaz,sbb yg alim sebenarnya adalah Allah swt dan manusia siapapun orang nya adalah BODOH sekalipun itu mujaddid.Contoh lagi:Nabi saw pemberi petunjuk kpd kita,itu juga majaz dan diakui oleh qur'an sendiri..."wa innaka latahdii ilaa shirotin mustaqiim"(sungguh engkau Muhammad adalah org yg memberi petunjuk kpd jalan lurus),tentu ayat ayat ini tdk ta'arud dg ayat "wallahu alhady ila sawaissabiil" Allah adalah pemberi petunjuk kpd jalan yg lurus.Sebab ayat pertama berma'na majaz dan yg ke dua berma'na haqiqat,pemberi petunjuk sebenarnya adalah ALLAH swt.Sekalipun kita tidak boleh menuduh orang sbg MUSYRIK lantaran ia berucap Nabi saw adalah pemberi petunjuk,sbb qur'an sendiri menyatakan demikian spt yg diatas.

 

DI MANAKAH BAROKAH..?

 

Kita tahu Allah swt maha pemberi barokah,kalau kata albarokah kita artikan alkhoirulkatsiir(kebaikan yg banyak)spt apa yg terdapat di berbagai kamus Arab,maka sudah tentu letak barokah itu terdapat di Makhluq Allah swt,sekalipun asalnya tentu dari Allah swt yg maha memberkati.Dan adanya barokah itu pada makhluq Allah swt tdk DIPUNGKIRI Alqur'an,Allah swt berfirman;Alladzi baarokna haulahu..(al isro' ayat 1)yg kami barokahi sekelilingnya.Tentu tidak MUSYRIK bukan..?Kalau ada org bermukim di Makkah atau Palestina dg tujuan tabarruk dg tanah yg diberkati Allah swt.Dalam ayat lain Allah swt berfirman: inna anzalnaahu fi lailatin mubarokah(addukhon ayat 3)kami turunkan alqur'an pada malam yg penuh barokah.Tentu sangat bodoh kalau kita menganggap bid'ah kpd orang yg tabarruk atau mencari keberkahan malam Ramadhan atu lailatulqadr dg beribadah,bermunajat,tadarus dan lain2.

 

Fiman Allah yg lain:....Min Syajarotin mubarokatin...(annur 35)dari pohon yg diberkahi.Maka kita tahu pohon Zaitun menjadi barokah krn Allah swt.

 

Alhasil ma'na barokah itu banyak,dan dapat diartikan berbeda2 sesuai maqamnya yg pantas.Lafadz barokah bagi makhluq Allah swt dalam teks2 hadits sangat banyak kita jumpai.Misalkan ada sebuah hadits Shohih masyhur: inna filghonami la barokatan(sungguh dlm kambing trdpt barokah)maka jgn sekali2 kita mengkafirkan org islam yg memelihara kambing krn mencari keberkahan usahanya (tabarruk)karena menjalankan dan percaya kpd petunjuk Nabi saw,kecuali org yg dungu saja yg beranggapan spt itu....

 

Begitulah, kalau kita telusuri lafadz barokah dari teks2 qur'an dan hadits banyak terdapat pada "dzat"atau materi yg mempunyai keutamaan,seperti makanan,minuman,tempat,harta,anak2 sesuai yg terdapat dalam sebuah do'a yg ma'tsur:Allahumma barik fi maalihi wa aulaadihi wa umrihi (ya Allah berkatilah pada Hartanya,anak2nya dan umurnya).

 

Kalau kt cermati di kitab2 hadits apalagi bab al ath'imah beragam lafadz barokah dapat kt temukan baik secara eksplsit maupun implisit.Tentunya ada perbedaan yg jelas atara barokah Allah swt sang Khaliq dg barokah yg ada pada makhluqNya.Sebab barokah sang Kholiq bersifat "dzaty" ya'ni ada dg sendirinya,sedangkan pada Makhluq bersifat a'rodhy atau musta'aar(diadakan atau pinjaman).

 

TRADISI(sunnah)TABARRUK pada SALAFUSSHOLIH...

 

Tentu sebagai kaum Ahlussunnah waljama'ah kita masyarakat pesantren,tidak mau melakukan perbuatan yg dilarang ajaran Agama,maka dalam berbagai hal kita mesti menteladani al-salaf al-shalih ya'ni para Shahabat,ulama dari kalangan Tabi'ien,aimmatul Madzahib dan murid2 mereka.Supaya jangan terjebak di lingkaran "bid'ah munkaroh" atau bid'ah qobihah.

 

Contoh bertabarruk:

 

1-bertabarruk dg rambut RosuliLLAH saw:

 

dari utsman bin Abdillah bin Mauhib dia berkata;kelurga menyuruhku untuk mengambil wadah air ke Ummu Salamah ra,maka dia datang dg membawa semangkuk perak berisi rambut Rosulillah saw,dan adalah jika ada seseorang terkena penyakit ain atau suatu penyakit diberikannya wadah air tadi(untuk minum),kemudian aku melihat wadah tsb terdapat beberapa rambut merah(hr.al Bukhory,kitab allibas).2.Tabarruk dg keringat Nabi saw:

 

suatu hari Nabi saw masuk ke rumah kami dan beliau tidur siang,kemudian ibuku(umu sulem)datang dg membawa botol dan mewadahi keringatnya dg botol tsb,lalu Nabi saw terbangun dan Nabi berkata:sedang apa hai Ummu Sulem,dia menjawab;ini keringatmu mau kami campurkan dg minyak wangi.Ternyata minyak wangi tsb terwangi dr yg lainya(hr.Muslim)

 

3.Kejadian Ummu Aiman:

Copyright © 2013 Blog Backup Buntet Pesantren. WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
back to top