Prediksi Awal Ramadhan 1434 H/2013 M

Prediksi Awal Ramadhan 1434 H/2013 M

Posted by Unknown  |  at  8:04 AM

Banyak beredar informasi bahwa awal puasa Ramadhan 1434 H akan bertepatan dengan hari Selasa, 9 Juli 2013. Selain itu, banyak juga informasi lain menyatakan bahwa awal shaum Ramadhan kemungkinan akan dimulai pada Rabu, 10 Juli 2013. Mendapati berbedanya informasi itu, sebagian kita mungkin bingung harus mengikuti yang mana. Untuk menguraikan penyebab adanya dua informasi yang berbeda itulah, pada tulisan ini akan dibahas informasi astronomis Hilal dan penerapannya pada kriteria hisab yang berbeda serta prediksi kemungkinan teramati atau tidaknya Hilal penentu awal Ramadhan 1434 H nanti.
Informasi Astronomis Hilal
Dalam memahami pergantian awal bulan Hijriah, setidaknya beberapa informasi astronomis Hilal berikut harus diketahui:
  1. Waktu Ijtima’ atau Konjungsi atau fase Bulan Baru atau fase Bulan Mati.
  2. Waktu terbenam Matahari di lokasi yang ditinjau.
  3. Posisi Bulan saat Matahari terbenam di lokasi yang ditinjau.
Mari kita bahas ketiga poin di atas dengan memanfaatkan Informasi Hilal Ramadhan yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Secara umum, ijtima’ adalah peristiwa “berkumpul/berdekatannya” Bulan dengan Matahari, saat dilihat dari Bumi. Istilah ini dalam astronomi dikenal dengan nama konjungsi, yaitu ketika bujur ekliptika (garis edar) Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari dengan pengamat diandaikan berada di pusat Bumi. Bujur ekliptika adalah salah satu bagian dari tata koordinat ekliptika; salah satu tata koordinat dalam astronomi yang digunakan untuk menentukan posisi objek-objek tata surya. Padanan bujur ekliptika adalah bujur geografis, yang bersama lintang geografis dapat digunakan untuk menentukan posisi suatu kota di permukaan Bumi.
Berbeda dengan posisi bujur geografis suatu kota di permukaan Bumi yang relatif tetap, setiap hari nilai bujur ekliptika Bulan dan Matahari akan selalu berbeda. Penyebab utamanya perbedaan ini adalah laju gerak keduanya yang tidak seragam. Hanya setelah mencapai waktu sekitar 29,5 hari-lah keduanya akan kembali berada pada bujur ekliptika yang sama, meskipun nilainya berbeda dari sekitar 29,5 hari sebelumnya. Waktu 29,5 hari ini dikenal dengan siklus sinodis Bulan atau waktu dari satu fase ke fase yang sama di bulan berikutnya, misalnya dari fase bulan Baru ke bulan Baru berikutnya.
Berdasarkan perhitungan kejadian ini diprediksikan akan terjadi kembali pada Senin, 8 Juli 2013, jam 7:14 UT atau 14:14 WIB. Pada saat itu nilai bujur ekliptika Bulan dan Matahari akan sama, yaitu 106,299º. Kita juga dapat menghitung periode sinodis Bulan terhitung sejak konjungsi sebelumnya hingga konjungsi yang akan datang ini adalah 29 hari 15 jam 18 menit. Ini artinya, satu siklus sinodis Bulan tidaklah tepat 29,5 hari namun mungkin akan lebih kecil atau lebih besar dari nilai tersebut.
Mengingat pergantian hari dan tanggal dalam kalender Islam terjadi saat Matahari terbenam, kita juga harus meninjau waktu terbenam Matahari pada hari terjadinya konjungsi tersebut atau sehari sesudahnya. Hal ini diperlukan untuk membandingkan apakah waktu konjungsi tersebut terjadi sebelum Matahari terbenam di wilayah yang ditinjau ataukah setelahnya. Berdasarkan perhitungan, Matahari terbenam di Indonesia pada 8 Juli 2013 paling awal terjadi pada pukul 17 : 33 WIT di Merauke, Papua, dan paling akhir terjadi pada pukul 18 : 57 WIB di Sabang, Aceh. Sebagai tambahan, kita juga dapat menghitung waktu terbenamnya Matahari di kota Yogyakarta (kota yang dijadikan sebagai kota acuan dalam hisab yang digunakan oleh Muhammadiyah) dan kota Pelabuhan Ratu (kota yang dijadikan sebagai kota acuan dalam hisab yang digunakan oleh Pemerintah dan sejumlah organisasi). Di kota Yogyakarta Matahari terbenam pukul 17 : 34 WIB. Adapun di kota Pelabuhan Ratu Matahari terbenam pukul 17 : 51 WIB. Dari perbandingan antara waktu konjungsi dan waktu Matahari terbenam di semua kota di atas, kita ketahui bahwa bahwa konjungsi terjadi sebelum Matahari terbenam tanggal 8 Juli 2013 di seluruh wilayah Indonesia.
Data astronomis Bulan yang penting untuk diketahui saat Matahari terbenam adalah tinggi Bulan/Hilal, Elongasi atau jarak sudut antara Bulan dan Matahari, Umur Bulan yaitu selisih waktu antara Matahari terbenam di suatu lokasi dengan saat konjungsi, Lag yaitu selisih waktu terbenam Bulan dan Matahari, dan fraksi Illuminasi Bulan. Data tersebut dirangkum sebagai berikut:
  1. Tinggi Hilal di Indonesia antara -0,96º sampai dengan 0,45º.
  2. Elongasi di Indonesia antara 4,45º sampai dengan 4,92º.
  3. Umur Bulan di Indonesia antara 1,31 jam sampai dengan 4,71 jam.
  4. Lag di Indonesia antara -3,33 menit sampai dengan 3,38 menit.
  5. Fraksi Illuminasi Bulan di Indonesia antara 0,15 % sampai dengan 0,18 %.
Selain kelima data di atas, sebenarnya ada satu lagi informasi lain yang penting, namun kurang dikenal di Indonesia pada saat ini, yaitu lebar sabit Hilal. Istilah ini, misalnya, digunakan oleh M.S. Odeh dalam kajian visibilitas Hilalnya dan perangkat lunak Accurate Times-nya  dan sangat berguna untuk digunakan dalam memprediksikan kemungkinan teramati tidaknya Hilal.
Sebagaimana diuraikan di atas dalam penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia sendiri, tinggi Hilal-lah yang sangat dikenal hingga saat ini. Peta ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam tanggal 8 Juli 2013 dapat dilihat pada Gambar 1. 
Gambar 1. Peta Ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam tanggal 8 Juli 2013. Kredit: BMKG
Gambar 1. Peta Ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam tanggal 8 Juli 2013. Kredit: BMKG
Tinggi Hilal yang pada Gambar 1 di atas bisa jadi berbeda dengan tinggi Hilal yang dimaksud oleh yang lain. Hal ini tentu saja akan menambah kebingungan kita dalam memahami penyebab perbedaan awal bulan Hijriah, jika kita tidak hati-hati.
Gambar 2. Ilustrasi Piringan Bulan dan Hilal. Istilah untuk titik A, B, C, dan D dijelaskan dalam tulisan
Gambar 2. Ilustrasi Piringan Bulan dan Hilal. Istilah untuk titik A, B, C, dan D dijelaskan dalam tulisan
Perbedaan paling utama dalam hal ini adalah titik acuan tinggi Hilal pada piringan Bulan, sebagaimana diilustrasikan pada Gambar 2. Hingga saat ini titik acuan tinggi Bulan yang digunakan secara standar oleh astronom di dunia,  adalah titik tengah piringan Bulan, yaitu titik A, terlepas dari apapun fase Bulan saat itu. Adapun titik acuan tinggi Hilal yang digunakan oleh banyak ormas di Indonesia dan Pemerintah (berdasarkan Keputusan Lokakarya Mencari Format Kriteria Awal Bulan Hijriah di Indonesia Tahun 2011 di Cisarua, Bogor) adalah titik terbawah pada piringan bawah Bulan, yaitu titik B. Sementara titik acuan tinggi Hilal yang digunakan oleh Muhammadiyah adalah piringan teratas Bulan, yaitu titik C. Sementara titik D digunakan sebagai acuan oleh para pemburu Hilal dengan teleskop dan detektornya. .
Sebagaimana kita tahu, Bulan adalah benda bulat dan dari kejauhan akan tampak berupa piringan, terlepas ia dalam fase apapun. Satu piringan Bulan yang tampak dari Bumi (jarak sudut antara titik B dan C di ilustrasi di atas) adalah sekitar 0,5º. Karena itu dengan mudah dapat dikatakan bahwa jarak sudut antara titik A ke titik B, C atau D adalah sekitar 15’ atau sekitar 0,25º. Dengan memperhatikan ilustrasi di atas juga kita akan mengetahui bahwa tinggi Hilal yang dinyatakan oleh Muhammadiyah akan berbeda sekitar 0,5º dari tinggi Hilal yang dinyatakan oleh ormas lain, misalnya Nahdatul Ulama (NU). Meskipun nilai di atas kecil, namun akan sangat menentukan awal awal bulan Hijriah; khususnya jika ketinggian Hilal berada pada nilai yang kritis.
Aplikasi Informasi Astronomis Hilal Pada Berbagai Hisab Dengan Kriteria yang Berbeda
Saat ini dikenal beragam kriteria hisab dan tiga diantaranya dikenal dan diterapkan oleh sejumlah organisasi di Indonesia. Kini kita akan membahas aplikasi informasi astronomis Hilal yang dibahas pada bagian sebelumnya pada tiga kriteria hisab yang digunakan di Indonesia. Ketiga kriteria tersebut adalah Wujudul Hilal yang digunakan oleh Muhammadiyah, kriteria Imkanurrukyat MABIMS yang digunakan oleh sejumlah organisasi dan Pemerintah, dan kriteria Imkanurrukyat LAPAN yang digunakan oleh Persatuan Islam (Persis).
a. Wujudul Hilal
Kriteria Wujudul Hilal ini dapat dilihat pada  Pedoman Hisab Muhammadiyah [6: hlm. 78]. Isinya adalah:
  1. telah terjadi ijtimak (konjungsi)
  2. ijtimak (konjungsi) itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan
  3. pada saat terbenamnya matahari piringan atas Bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud).
Dengan memperhatikan informasi astronomis Hilal pada bagian sebelumnya, dapat kita katakan bahwa kedua unsur pertama dalam kriteria wujudul hilal Muhammadiyah di atas sudah terpenuhi. Adapun untuk unsur yang ketiga, kita harus meninjau ketinggian Hilal menurut Muhammadiyah, yaitu piringan atas Bulan, untuk lokasi Yogyakarta (φ = – 07° 48′ LS dan λ = 110° 21′ BT, ketinggian 90 m. Berdasarkan perhitungan, ketinggian Hilal versi Muhammadiyah saat Matahari terbenam di Yogyakarta adalah 0º 51,92’. Dengan demikian unsur ketiga dalam kriteria wujudul hilal pun terpenuhi, karena ketinggian Hilal versi Muhammadiyah sudah lebih dari 0º. Sebagai catatan, Hasil ini masih untuk titik Yogyakarta, belum Indonesia secara keseluruhan.
Karena Muhammadiyah menyatakan bahwa pada saat terbenamnya Matahari piringan atas Bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud), sesungguhnya secara astronomis hal ini setara dengan pernyataan bahwa “Bulan terbenam lebih lambat daripada terbenamnya Matahari”. Saat Bulan terbenam sama dengan saat terbenamnya Matahari itulah yang dinyatakan dengan Lag = 0. Jadi, kita dapat mengetahui di daerah mana saja yang Lag-nya 0 atau positif atau negatif dari peta Lag. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 3 berikut. Pada Gambar 3 tersebut, kita lihat bahwa garis wujudul hilal (setara dengan Lag = 0) membelah Indonesia. Hal inilah yang memaksa kita untuk memahami suatu konsep yang disebut “Wilayatul Hukmi” yang diterapkan oleh Muhammadiyah. Sederhananya, konsep ini adalah jika di suatu daerah (dalam hal ini kota Yogyakarta) Lag-nya sudah > 0, maka daerah lain yang masih satu wilayah hukum (dalam hal ini satu negara Indonesia) dianggap mengikuti daerah acuan tersebut, walaupun daerah lain itu Lag-nya < 0. Dengan demikian, pada saat Matahari terbenam di Indonesia, ketiga unsur dalam kriteria wujudul hilal di atas terpenuhi hasil-hasil sudah terpenuhi di Indonesia secara keseluruhan.
Gambar 3. Peta Lag di Indonesia saat Matahari terbenam tanggal 8 Juli 2013. Kredit: BMKG
Gambar 3. Peta Lag di Indonesia saat Matahari terbenam tanggal 8 Juli 2013. Kredit: BMKG
Konsekuensi dari uraian di atas adalah pada saat Matahari terbenam di Indonesia tanggal 8 Juli 2013, bulan Hijriah telah berganti dari bulan Sya’ban ke bulan Ramadhan 1434 H. Dengan demikian, menurut Muhammadiyah, shalat Tarawih dimulai pada 8 Juli 2013 malam tersebut dan shaum Ramadhan dimulai pada 9 Juli 2013.
b. Imkanurrukyat MABIMS
Kriteria Imaknurrukyat MABIMS atau yang dikenal juga dengan kriteria 2-3-8 dapat dilihat pada hasil Keputusan Lokakarya Mencari Format Kriteria Awal Bulan Hijriah di Indonesia Tahun 2011 [5]. Isinya adalah:
  1. tinggi hilal minimal 2º dan,
  2. jarak sudut Matahari dan Bulan minimal 3º atau umur Bulan minimal 8 jam. (Syarat pertama wajib dan syarat kedua opsional).
Berbeda dengan tinggi Hilal yang dimaksud oleh Muhammadiyah, tinggi Hilal yang dimaksud di sini adalah bagian terbawah pada piringan Bulan. Kota yang menjadi acuan dalam perhitungan pun adalah Pelabuhan Ratu, tepatnya di Pos Observasi Bulan (POB) Pelabuhan Ratu (106º 33′ 27.8” BT, -7° 01′ 44.6” LS dan tinggi tempat 52.685 m). Tinggi Hilal yang dimaksud di sini, yaitu tinggi piringan bawah Bulan, di POB pelabuhan Ratu saat Matahari terbenam tanggal 8 Juli 2013 adalah 0º 25,78’. Dengan membandingkan hasil ini dan informasi astronomis Hilal pada uraian sebelumnya dengan isi kriteria MABIMS di atas, dapat kita simpulkan bahwa saat Matahari terbenam di POB Pelabuhan Ratu, kriteria MABIMS belumlah terpenuhi. Hal inipun berlaku di seluruh Indonesia, karena tinggi Hilal tertinggi, elongasi terbesar dan umur Bulan terlama belum memenuhi kriteria MABIMS di seluruh Indonesia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa saat Matahari terbenam di Indonesia tanggal 8 Juli 2013, berdasarkan kriteria MABIMS ini, bulan Hijriah belum berganti dari bulan Sya’ban ke bulan Ramadhan 1434 H. Dengan demikian, bulan Sya’ban akan diistikmalkan (dibulatkan) menjadi 30 hari. Konsekuensinya, shalat Tarawih dimulai pada 9 Juli 2013 malam dan shaum Ramadhan dimulai pada 10 Juli 2013.
c. Imkanurrukyat LAPAN
Kriteria Imkanurrukyat LAPAN ini diusulkan oleh Prof. Thomas Djamaluddin dan diterapkan oleh Persis. Isi kriterianya adalah:
  1. Jarak sudut Bulan-Matahari > 6,4º.
  2. Beda tinggi Bulan-Matahari > 4º.
Berbeda dengan dua kriteria sebelumnya yang mengacu pada tinggi Hilal (meskipun definisi keduanya berbeda) pada kriteria ini yang diacu adalah beda tinggi  antara pusat piringan Bulan dan pusat piringan Matahari. Berdasarkan perhitungan standar di astronomi, saat Matahari terbenam tinggi pusat piringan Matahari adalah – 50’. Dengan demikian, tinggi Hilal minimal yang dimaksud dalam kriteria ini adalah 3º 10’.  Jika kita bandingkan kriteria ini dengan informasi astronomis Hilal di atas, maka akan kita simpulkan bahwa di seluruh Indonesia kriteria ini belum terpenuhi. Konsekuensinya, sebagaimana kriteria MABIMS, shalat Tarawih dimulai pada 9 Juli 2013 malam dan shaum Ramadhan dimulai pada 10 Juli 2013.
Prediksi Kemungkinan Teramati Tidaknya  Hilal Penentu Awal Ramadhan 1434 H
Selain prediksi awal Ramadhan 1434 H, prediksi lain yang juga penting untuk diketahui, khususnya bagi para perukyat, adalah prediksi teramati tidaknya Hilal penentu awal Ramadhan 1434 H. Berdasarkan uraian di atas, kita sebenarnya sudah bisa mengetahui kemungkinan teramati tidaknya Hilal setelah Matahari terbenam pada tanggal 8 Juli 2013 nanti. Sebagai catatan, dalam hal ini kita tidak bisa menggunakan kriteria wujudul hilal untuk memprediksikan kemungkinan teramatinya Hilal. Dalam hal ini dapat menggunakan kriteria Imkanurrukyat MABIMS atau kriteria Imkanurrukyat LAPAN; terlepas dari ilmiah tidaknya masing-masing kriteria tersebut.  Ini karena imkanurrukyat sendiri adalah kemungkinan teramati tidaknya Hilal. Secara astronomis, istilah ini dikenal dengan nama visibilitas Hilal dan kriterianya dikenal dengan nama kriteria visibilitas Hilal.
Berdasarkan uraian pada bagian sebelumnya, kita ketahui bahwa kriteria imkanurrukyat MABIMS dan kriteria imkanurrukyat LAPAN belum terpenuhi saat Matahari terbenam pada tanggal 8 Juli 2013 nanti. Jika saat Matahari terbenam saja sudah tidak terpenuhi apakah lagi setelah Matahari terbenam. Ini karena ketinggian Bulan yang rendah saat Matahari terbenam. Semakin bertambahnya waktu, ketinggiannya pun akan semakin rendah dan akhirnya terbenam. Karena itulah berdasarkan kedua kriteria di atas, kemungkinan Hilal untuk teramati sangatlah kecil, jika tidak dikatakan tidak bisa.
Catatan penting: Tulisan ini hanya memaparkan hasil perhitungan astronomis tentang Hilal dan penggunaannya pada kriteria hisab yang berbeda serta prediksi kemungkinan teramati atau tidaknya Hilal penentu awal Bulan Ramadhan 1434 H. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menentukan awal bulan Ramadhan 1434 H, karena yang berwenang untuk menentukan hal itu adalah pihak yang berwenang.
disadur dari langitselatan.com dengan sedikit penyesuaian

Bal-balan ning Buntet

Bal-balan ning Buntet

Posted by Unknown  |  at  10:43 PM

Bal-balan, sapa sih wong buntet sing beli kenal dolanan atawa olahraga kie. Bahkan bisa dianggep lamon bal-balan iku “menu wajib” sedina-dina. Kondisi mengkenen cukup didukung karo fasilitas bal-balan ning Buntet sing masih mencukupi, lapangan e ana pirang-pirang. Ana lapangan Bunen ning samping rel (Samrel), ana maning lapangan asem ning Buntet lor sing persisse ana ning samping sungai (samsung) , toli ana Blodog ning “Ujung” Kulon, ning latar masjid ana lapangan sing dikenal asbes atawa pondok, sampe teka ning pinggir makam kah ya ana lapangan kuh arane lapangan bata soale ning pinggir-pinggir e diwates bata, malahan lapangan sekolah gan dadi lapangan sing nyaman go bal-balan embuh pas jam istirahat, “nyolong-nyolong” waktu pas langka guru, atawa pas pelajaran Olahraga : pasti bae bocah lanang-lanang pada jaluke bal-balan. Ditambah maning sekie wis ana lapangan futsal “siji-siji”e sing cukup “terjangkau”, dadi kalangan ekonomi menengah-menduwur sih beli jarang milih lapangan kie sambir beli kepanasan, beli keudanan, beli nendang oyod, bolae beli nyeblung kali tah cemboran, lan kenyamanan-kenyamanan sejene (kie dudu lagi promosi ya).
Para Kiai Muda selepas bermain bola di Stadion Blodog

Toli lapangan-lapangan mau kah biasae wis didekki dadi kandange tim-tim sing ana ning Buntet. Tuan Kandang (T-Kad) ya ngaku Bunen kah kandang e, Albaz (Albasiyah) ngaku lapangan asem, Garesado atawa Persebar ning Blodog, Ankid (Anak Kidul) ning Lapangan Bata lan beli jarang kadang lapangane dianggep barengan karo tim-tim sejen kaya Glampok, Gand lan seliane.
Bal-balan ari lawane batur dewek atawa wong kue-kue bae ya bosen, ana kalane ngejak diddu (ngadu) karo tim-tim sejen, sisteme embuh sering e wis ngadopsi “Home-Away”. Bahkan sambir luwih rahat, sesekali dianaaken turnamen, kaya turnamen Kambing Cup, turnamen antar asrama, bahkan taun wingi ana turnamen antar lembaga-lembaga pendidikan. Toli ya arane dolanan angger bae ana sing kalah lan ana sing menang, ana sing sportif ana sing bulit, bagen jargon “my game is fair play” wis dadi aturan wajib ning dunia bal-balan tapi ya angger bae kadang ana tim sing main bulit atawa kasar, toli ari wis mengkonon tim lawane beli terima, dadi bae urusan, tapi ya tetep kaya pemain profesional bagen urusan ning lapangan, tapi ari peragat bal-balan e ya bebaturan maning.

Semono populer e bal-balan kah ya ana bae sing beli seneng lan ngelarang, sing ngelarang ya ana wong tua, Kiai, sampe tekang guru. Soale apa, ya bocah dolanan bal-balan embuh seringe klalen waktu, embuh waktu ngaji, waktu sholat, waktu belajar, durung maning resiko-resiko negatif kaya korengan, kecetit, abuh, keceklek,lan seliane, durung maning sawis e ana tragedi Aji Masaid, para rabi atawa anak kadang sok watir lamon laki atawa bapae bal-balan terlalu diporsir, ya nyong priben maning ari masalah umur kuh beli bisa bebodo. Namun beda wong ya tentu beda cara go ngebatasi, nyegah, sampe ngelarang anak, santri, atawa murid go bal-balan.

Sapa sing beli weruh cerita Kyai Akyas ngelarang bal-balan, jare Kyai Akyas bal-balan iku bertentangan karo syariat lan haram hukumme. Ning endi bae ana bal-balan toli Kyai Akyas liwat apa maning sampe kerungu suarae Kyai Akyas “Mariiiiiiiii …… aja dolanan baaaaal, Bubar kabeh…. Nguntap ……!!! .” pasti bocah sing bal-balan langsung bubar, langka sing gelem ditotok karo teken e. Siji waktu malah ana siji bocah malah tenang-tenang bae beli melayu, padahal keweruan bal-balan, bocah kue langsung ampun-ampunan sawise ditotok Kiai karo teken e. Pas kue, Kyai Akyas malah nakon “endi tepakke”. Kyai Akyas niate arep ngerampas tepak sing dinggo bal-balan, Kyai Akyas nganggeppe yen bal-balan kuh nganggo tepak kaya minton.

Sejen Kyai Akyas sejen Kang Mamad (Kyai Ahmad Mansur), siji waktu kiyambekke deleng bocah pada bal-balan ning asbes, padahal pas kue adzan ashar sing mesjid wis arep peragat. Kang Mamad sing maune ngadeg bae ning teras masjid terus manjing bae ning masjid, peragat adzan bener kerungu nada suara wong nyewot sing spiker mesjid, “Bocah nguntappp, anang ana adzan kujeh masih bae bal-balan!!!”, mendadak bocah sing bal-balan ning asbes temu wis langka bae, embuh pada mendi?.

Bengian, lagi kantor MANU Putra masih ning asbes, ning gedung sing sekie jadi Gedung Guest House  (Kantor Yayasan), saban dina ana bae bocah sing bal-balan ning arep gedung kue padahal guru-guru MANU embuh sering e mbloliih sampe ngerampas bal sing dinggo. Siji dina, KH. Hasanudin Kriyani, Kepala MANU Putra waya kue, delengaken bae bocah sing bal-balan, mungkin maksude sih ngongkon bubar, tapi ya arane bocah, kadang ari durung disewoti ya durung nurut. Bocah-bocah kuh angger bae bal-balan, sampe temu-temu ana siji bocah nendang bal. Langka sing nyangka lamon bal tendangan bocah mau bakal ngarah ning Kyai Hasan, “tep” bae, bal e ditangkep ning Kyai Hasan. Bocah sing bal-balan pada melongo bae, wis mikir macem-macem. Toli apa nyeng?.  Kyai Hasan malah balangaken kuh bola ning bocah sing bal-balan, bocah-bocah mau toli malah ngelanjutaken bal-balane. Duuuh, ari bocah kuh ya??!

Sejen Kyai Hasan, sejen Kang Anas. Salah siji Putu Kyai Akyas kie mungkin nuruni sifat e Kyai Akyas sing keras lan teges. Bagen Kang Anas seneng bal-balan, tapi Kang Anas sing sering ngurus Gedung Guest House kuh beli seneng ari ana sing bal-balan ning arep Guest House . Ya gawe mledug lah, ya kadang ganggu kegiatan lah, lan alesan-alesan sejenne. Baka ana sing bal-balan ning kono, pasti bae bolae dijaluk, toli bolae digawa manjing ning Gedung Guest House terus dibalikaken maning ning bocah sing bal-balan karo kondisi wis dadi loro (tes dibelek). Barang anu ana beberapa bocah sing angel “digusah”e, soale ning kelompok bocah sing bal-balan kue, ana Gusman, anak paling cilik e KH. Hasyim Abkari. Kang Anas mungkin mikir ari dilarang bal-balan bokat dadi masalah, ari beli dilarang gan pada bae masalah. Akhire sawisse mikir suwe, siji waktu pas Gusman lanbatur-bature bal-balan, Kang Anas mareki Gusman,
“Cung pengen due bal bliter beli?” nakone Kang Anas ning Gusman
“Enggih kang, pengen pindah” jawab Gusman
“Engko, Kang Anas tukuaken bal bliter cung, tapi ana syaratte”. Jare Kang Anas e
“Enggih kang, siap, punapa kuh syaratte?” Gusman nakon
“Syaratte baka wis ditukuaken bal bliter, Gusman karo batur-batur aja bal-balan ning kene maning”. Kang Anas karo mantep pisan ngomong mengkenen.
Gusman temu manggut-manggut bae karo pesam-pesem, seneng beli kira-kira songan arep due bal bliter anyar.

Ya sawisse perjanjian asbes kue, Gusman lan batur-bature beli pernah kedeleng bal-balan ning arep Gedung Guest House maning. Dakate sih kelompok sing sejen ya masih angger sok jebal-jebol lan bal-balan ning kono. Tapi setidake Kang Anas beli usah keder kudu nyediana Bal Bliter, padu nyediana cutter (lading) gan beres.

Priben bae bal-balan ya bal-balan, dolanan sing duwe dampak positif lan dampak negatif, sing penting sing arep bal-balan kudu weruh waktu, ngati-ngati, lan aja bulit. :)

Demo Anti Islam di Inggris Batal

Demo Anti Islam di Inggris Batal

Posted by Unknown  |  at  6:50 PM

Sekelompok orang sayap kanan Liga Pertahanan Inggris (English Defence League/ EDL) gagal melakukan demonstrasi anti-Islam yang semula akan mereka lakukan di depan sebuah masjid di kawasan York, Inggris.

Kantor berita BBC edisi bahasa Arab (27/5) mengatakan penyebab gagalnya aksi demonstrasi itu cukup unik, yaitu karena pihak pengurus masjid yang hendak didemo justru menyambut hangat para demonstran. Pengurus masjid juga mempersilahkan pendemo itu masuk dan berbincang-bincang sambil meminum teh dan memakan biskuit.

Tak hanya itu saja, pihak pengurus masjid itu juga mengajak para demonstran untuk bermain bola.

Uskup Gereja kota York, John Sentanu, mengungkapkan kekagumannya terhadap sikap para pengurus masjid itu. Ia menyebut sikap tersebut fantastik.

"Teh, biskuit, dan bermain bola bola adalah perpaduan yang khas di York. Ini cara ampuh untuk menghadapi pandangan yang keras dan ekstrem," kata Sentanu.

Seorang pengurus gereja lainnya, mengatakan bahwa sikap tersebut menunjukkan kecerdasan dan keluhuran moral orang Muslim.

"Ini juga menunjukkan mereka orang-orang yang berani dan memiliki standar moral yang tinggi," ujar pendeta tersebut.

Imam Abid Salik, pengurus masjid di York, mengatakan ia memang sengaja mengundang masuk para pendukung EDL ke dalam masjid.

"Jamaah datang membawa teh dan biskuit. Mereka mengobrol selama 30 hingga 40 menit dan kemudian mereka masuk. Ini kejadian yang sungguh indah," kata Imam Salik.


Penulis: Ahmad Syifa
dari nu.or.id

Posted by Unknown  |  at  8:17 PM

1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text 1st div text

DISKUSI FILM SANG KIAI DI UIN JAKARTA

DISKUSI FILM SANG KIAI DI UIN JAKARTA

Posted by Unknown  |  at  8:48 AM

oleh : Dedi Muhadi

Kamis, 16 mei 2013, Garda Bangsa bekerja sama dengan PMII Cabang Ciputat, BEM Fakultas Dirasat Islamiyah, BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, dan BEM Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan diskusi film dan behind the scene Film Hadratussyaikh SANG KIAI di Auditorium Harun Nasution UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Diskusi film SANG KIAI goes to kampus di UIN Syarif Hidayatullah adalah yang pertama dan akan di laksanakan di kampus-kampus lainnya. 

Diskusi film SANG KIAI yang disambut antusias oleh mahasiswa, 500 lebih mahasiswa memenuhi Auditorium Harun Nasution melebihi kuota yang di tentukan oleh panitia. Diskusi ini menghadirkan para pemeran utama dan pembuat film antara lain: Sunil G Samtani (Eksekutif Produser), Rako Prijanto (Sutradara), Ikranegara (pemeran Sang Kiai) dan Dayat Simbaia (aktor).

Hanif Dhakhiri ketua DKN Garda Bangsa mengatakan, film SANG KIAI merupakan film sejarah yang penting bagi generasi muda. Film ini menceritakan perjuangan tokoh nasional NU, KH. Hasyim Asy'ari menegakkan NKRI. Bagi Garda Bangsa, KH Hasyim Asy’ari adalah peletak dasar semangat kebangsaan. Hasyim Asy'ari berperan besar dalam mendorong semangat perlawanan rakyat Indonesia pada 10 November 1945. Sang Kiai membangkitkan semangat juang melalui fatwa resolusi jihad mempertahankan kemerdekaan Indonesia. "Tanpa peristiwa resolusi jihad, tidak akan pernah ada Negara Kesatuan Republik Indonesia", ujarnya.

Pemutaran film SANG KIAI di jadwalkan pada tanggal 31 mei 2013 di bioskop-bioskop seluruh Indonesia.

Sulitkah Membaca Kitab Kuning?

Sulitkah Membaca Kitab Kuning?

Posted by Unknown  |  at  10:30 AM

Membaca kitab ulama dikatakan sulit, salah besar, karena begitu banyak santri yang menguasainya. Dikatakan gampang, tidak semua santri berhasil menguasai dan memahami kitab kuning. Lalu dimana letak sulit mudahnya belajar membaca kitab kuning itu?

Apakah kitab kuning itu, sebelum dijawab, mari kita coba perhatikan gambar di tulisan ini. Kitab yang ada dalam foto itu  judulnya kitab Mi'raj. Dalam sebuah acara kajian Mi'raj yang diselenggarakan setiap tahun di Buntet Pesantren. Para santri dan semua warga Buntet berkumpul di Masjid Jam'i dan masing-masing santri dan warga Buntet membawa kitab Mi'raj. Untuk apakah kitab itu, tidak lain untuk menyimak sang kyai yang tengah membacanya.

Tradisi membaca tulisan karya para ulama salaf  (intelektual muslim masa lalu) menjadi tradisi kuat di pesantren. Tradisi para salafussoleh yang terus berkembang dan ditiru oleh pesantren adalah mengkaji karya-karya tulisan para ulama sebelumnya. hampir semuanya berkisar tentang ajaran Al Quran (tafsir) Hadits Rasulullah dan penjelasan-penjelasan tafsir dan hadits dari para ulama serta tulisan-tulisan nasehat seperti akhlaq dan kehidupan praktek kehidupan beragama yang bersih.

Ulama Tidak terkecuali  santri  putri dalam kajian Mi'raj di masjid Jam'i Buntet Pesantren setiap tahun bila mengadakan peringatan Isra Mi'raj. Berbeda dengan di kota besar atau tempat lain, diisi dengan ceramah, tetapi di Buntet Pesantren ini adalah membaca tulisan karya Ulama tentang Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Kitab yang disebut kitab gundul atau kitab kuning, adalah berisi tulisan  berbahasa arab biasa tetapi kalau diperhatikan lebih dekat, tidak ada harakat dan tanpa paragraph. Hampir semua tulisan berbahasa Arab yang beredar di dunia ini adalah tidak berharakat. Persis dengan budaya penulisan yang ada di sumber negara berbahasa Arab. Bahkan dari zaman dulu hingga sekarang tulisan arab umumnya tanpa harakat. 

Koran dan majalah yang terbit di negara berbahasa Arab itupun tidak berharakat. Demikian juga buku-buku ilmiyah dan buku fiksi tidak berharakat. Itulah karakter yang melekat pada bahasa Arab dalam bentuk tulisan. 

Para santri dikenalkan terus menerus dengan Islam ltu lewat tradisi ilmiyah: tradisi membaca, mengkaji, memahami dan mendalami step-

Tulisan tak beraharakat di pesantren itu 

Kiai Abdullah Syifa Akyas Wafat

Kiai Abdullah Syifa Akyas Wafat

Posted by Unknown  |  at  8:54 PM

KH. Abdullah Syifa Akyas
Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun. KH.Abdullah Syifa Bin Akyas itu wafat di usia 71 tahun, Senin 22 April 2013 pukul 07.30 WIB. Beliau merupakan salah satu Dewan Sesepuh Pondok Buntet Pesantren Cirebon juga merupakan Moqoddam Thariqat Tijani Indonesia. 

Kiai yang kesehariannya sangat bersahaja ini wafat setelah sebelumnya mengeluh sesak napas sehabis mengimami jamaah subuh di kediamannya. Seperti yang disampaikan Abdul Karim Malik Amrullah Putra bungsu beliau 

" Sehabis mengimami jamaah sholat shubuh, Bapak mengeluh sesak nafas kemudian langsung tidak sadarkan diri dan wafat pukul 07.30 WIB " Jenazah akan dikebumikan di Makbarah Buntet Pesantren Besok Selasa (23/04) pukul 10.00 WIB. 

Segenap Tim Website Buntet Pesantren menyampaikan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian beliau. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala dosa beliau, dan diberikan tempat yang luhur di sisiNya. Amin Ya Rabbal 'Alamin.

Copyright © 2013 Blog Backup Buntet Pesantren. WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
back to top